Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 72


__ADS_3

Kuntilanak merah.


Makhluk itu yang membuat kematian Pak Rahmat menjadi tak wajar, membikin jenazah Pak Rahmat miris untuk di lihat. Apa makhluk itu juga yang datang ke kamar kost-ku kemarin malam? Tapi menurut ibu Kemala, yang ku lihat itu hanya halusinasi belaka. Apa makhluk itu yang menjadi sekutu Nek Iyah? Entahlah, makhluk apa pun yang menjadi sekutu bagi Nek Iyah tentu itu perbuatan yang sangat jahat. Dan menurut almarhum Pak Rahmat yang bertemu denganku setelah menyalatkan jenazah Mbak Wati, sudah menjadi rahasia umum kalau Nek Iyah memang mempraktekkan ilmu hitam sekaligus bersekutu dengan iblis.


Kang Ujang tak jadi melanjutkan ceritanya, kami mengobrol dengan Hendra anak Pak Rahmat. Hendra pun memberitahu pada kami saudara yang datang dari Cirebon. Mereka duduk berkelompok, ada sekitar enam orang lelaki dewasa, semua memakai kemeja hitam yang sengaja tak di kancing, dan mengenakan kaus. Batu cincin berbentuk bulat dan ukurannya yang jumbo menghiasi jari-jari mereka.


Hendra berkata, "Yang saya dengar lagi dari paman, malam ini mereka akan melakukan ritual balas dendam kepada kuntilanak merah itu."


"Mereka mau melakukan ritual di mana Dra?" tanya Kang Ujang.


"Wah, kalau tempatnya saya kurang tahu kang. Memang kenapa kang?" tanya Hendra.


"Kang Ujang mau nonton ritualnya ya?" sambarku.


"Hehehehehe. Iya, habis saya penasaran seperti apa ritualnya dek. Siapa tahu seru, apalagi mau ada pertempuran." jawab Kang Ujang.


"Saya rasa sih ini pertempuran gaib kang. Bukan pertempuran kayak biasa, jadi kemungkinan kita nggak bisa lihat juga mereka bertempurnya seperti apa." aku menambahkan.


"Iya, saya pikir juga gitu. Kita yang awam mana ngerti hal-hal gaib begitu, iya kan." sahut Hendra. Kang Ujang hanya mengangguk.


Hujan tak jadi turun, namun bulan tertutup awan, ia tak menampakkan rupanya, cahayanya pun nampak malu-malu, ia bergerak semakin tinggi. Malam pun kian larut, banyak warga yang sudah pamit pulang. Aku masih bersama Kang Ujang dan Hendra. Sekelompok keluarga Hendra dari Cirebon pun masih duduk melingkar, entah apa yang mereka perbincangkan sedari tadi. Ku rasa mereka sedang menyusun strategi untuk mengalahkan kuntilanak merah dalam misi balas dendam.


"Dek Adi, sudah malam ini, memang besok nggak kuliah?" tanya Kang Ujang.


"Kuliah kang, cuma kebetulan jadwalnya siang. Aman lah." jawabku.


Sesaat setelah Kang Ujang bertanya, sekelompok pria dari Cirebon bangun dari duduknya. Hendra pun bangun ketika melihat sekelompok pria itu beranjak dari tempat duduknya, kemudian di hampiri, ada perbincangan sedikit. Lalu ke enam pria tersebut menyebar ke tiap sudut rumah, Hendra masuk ke dalam rumah dengan tergesa. Aku dan Kang Ujang hanya memperhatikan tanpa berkata satu sama lain. Tak lama Hendra keluar membawa enam batang bambu kuning yang di bungkus kain hitam, dan sebuah kantung plastik hitam.


Hendra membagikan bambu kuning ke seluruh pria yang menyebar di tiap sudut rumah. Kantung plastik hitam di pegang oleh seorang lelaki yang mengenakan kalung berbentuk tasbih berwarna coklat gelap, mungkin itu pemimpinnya.

__ADS_1


"Dek, sepertinya mereka mau mulai nih." ucap Kang Ujang sedikit berbisik.


"Iya kang. Apa kita pamit pulang aja ya? Nggak enak rasanya kalau kita tetap di sini." balasku.


"Iya betul. Yuk, kita pamit pulang saja dek." ajak Kang Ujang.


Warga yang hadir tahlil memang sudah pulang semua, hanya tinggal aku dan Kang Ujang, selebihnya hanya beberapa kerabat dan keluarga dari almarhum Pak Rahmat.


Kang Ujang memanggil Hendra.


"Dra!"


Hendra pun menghampiri kami.


"Saya sama Adi pamit pulang ya. Sudah malam soalnya." tutur Kang Ujang.


"Oh iya iya kang. Makasih ya udah datang. Insya Allah besok malam ada tahlilan lagi di sini. Datang ya kang, Bang Adi juga datang ya."


"Dek Adi berani pulang sendiri ke kost?" tanya Kang Ujang, kami berjalan berdampingan.


"Berani kang, kenapa mesti takut."


"Yasudah, kapan-kapan mampir atuh ke rumah saya. Gantian, Dek Adi ngopi di tempat saya." Kang Ujang menawarkan.


"Oh boleh kang. Memang rumah Kang Ujang di mana?" tanyaku.


"Itu tuh, kelihatan yang cat temboknya warna krem." tunjuk Kang Ujang ke sebuah rumah mungil tepat di sebelah kebun kosong. Rumahnya memang tak jauh dari rumah almarhum Pak Rahmat, hanya sekitar lima puluh meter. Bagian sisi kanan rumah Kang Ujang terhalang sebuah pohon besar.


"Insya Allah kapan-kapan saya silaturahmi ke rumah Kang Ujang." ujarku.

__ADS_1


"Yasudah, saya pulang ya kang." aku pamit.


"Iya dek. Kalau besok mau ikut tahlil di rumah Pak Rahmat lagi, kabarin saya saja ya." balasnya.


"Siiipp!"


Aku pun berlalu menuju kost, ku lewati jalan landai menurun, suasana gelap. Tiba-tiba, angin bertiup kencang. Yang semula pepohonan tenang, kini dahannya bergoyang tertiup angin. Dedaunan kering yang jatuh di tanah beterbangan, aku berjalan sambil menunduk. Ketika sampai di gerbang kost, angin pun masih bertiup kencang. Beberapa pot bunga milik Nek Iyah jatuh. Aku berlari menuju kamar kost.


Sesampainya di halaman kost yang sepi, angin masih saja bertiup, menggulung, sekali membentuk pusaran. Aku berdiri di depan pintu kost, karena tertegun melihat sebuah cahaya berpendar dari lantai dua rumah Nek Iyah. Dari sebuah jendel kaca yang tertutup gordyn, cahaya itu bergoyang berwarna orens, seperti cahaya lilin. Lalu siluet tangan bergetar tergambar dari gordyn.


"Aaaaaaaa.. eeeerrrhhhh.." kemudian suara teriakan dan geraman terdengar dari lantai dua tersebut. Aku berdiri mematung melihatnya, sekali menelan ludah.


Sebuah kilatan cahaya berwarna putih menyambar-nyambar di atas genting rumah Nek Iyah. Apa sedang terjadi pertempuran gaib saat ini? Hawa dingin tiba-tiba terasa menggerayangi tubuhku. Aku membuka pintu kamar, kemudian menutupnya kembali. Aku mengintip fenomena tak biasa ini dari balik jendela kamar. Ku lihat angin masih dengan ganasnya menggoyang dahan pepohonan. Siluet tangan di lantai dua rumah Nek Iyah masih tergambar, masih bergetar. Beberapa kali ku dengar suara erangan. Hawa dingin masuk ke dalam, merembet dari balik celah pintu dan jendela.


Tiba-tiba saja hening.


Angin berhenti, dahan-dahan mulai bergoyang pelan. Cahaya lilin di lantai dua pun redup, perlahan mulai padam. Hawa dingin pun hilang. Sudah selesai? Apa pertempuran gaib telah usai?


Tiba-tiba, aku mendengar suara batuk yang cukup kuat. Itu suara Nek Iyah. Tak lama kemudian suara gaduh muncul, seperti benda berjatuhan, dan beberapa kali ku dengar benda yang terbuat dari kaca atau beling saling bersahutan, pecah.


Sudah usai, semoga kuntilanak itu bisa di kalahkan oleh sekelompok pria Cirebon. Aku menutup ujung gordyn. Aku berlalu menuju kamar mandi, berwudhu dan melaksanakan shalat isya. Kembali memohon perlindungan dari Sang Maha Pencipta.


Malam ini benar-benar terasa janggal, fenomena yang ku saksikan benar-benar di luar nalar. Angin yang tiba-tiba bertiup kencang dan membentuk pusaran, kilatan cahaya menari-nari di atas genting rumah Nek Iyah.


Gerimis rintik-rintik turun. Membuat suasana lebih hening. Aku terlentang di atas kasur, dan tertidur. Semoga iblis itu bisa di kalahkan dan musnah selamanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


*) author memohon maaf karena menggunakan daerah Cirebon sebagai bahan untuk cerita. sejujurnya tidak ada maksud dan tujuan apa pun selain hanya untuk pengembangan alur cerita. sebab semua yang tertulis dalam novel ini hanya cerita fiktif belaka. semoga bisa di maklumi.

__ADS_1


*terima kasih


vikryviik*~


__ADS_2