
"MAS GUUUNN!" Tika berteriak.
"GRAAAAAAA!" beberapa demit menyerang Tika. Mereka mengerubunginya. Tika tampak kewalahan. Sesosok demit memeluk Tika dari belakang. Tika meronta mencoba melepaskan. Sementara demit lainnya menghajar Tika.
Aku tak tinggal diam, aku terbang melesat menuju Tika. Tanganku bersinar biru. Geram rasanya melihat Tika dikeroyok seperti itu.
CRAKKK. Kubelah kepala demit yang memeluk Tika.
SHHH. Seketika demit itu musnah menjadi debu dan beterbangan.
BUAKK.
BUAKK.
BUAKK.
Kuhajar demit lainnya yang mengeroyok Tika.
"MAMPUS KALIAAAANNN!" teriakku sambil menghajar demit-demit membabi buta.
Tika juga ikut bertarung bersamaku.
"DI. TOLONG MAS GUN! INI BIAR GUE YANG BERESIN." suruh Tika.
Aku menoleh ke arah Mas Gun. Kulihat Mas Gun duduk bersandar pada pohon dan sedang di kerubungi beberapa demit. Ia tampak kewalahan. Menangkis serangan demit dengan satu tangannya.
Aku terbang mendekati Mas Gun.
Kutembakkan cahaya biru dari tanganku, syukurnya beberapa demit musnah. Aku menghalau serangan demit yang ditujukan pada Mas Gun. Mas Gun masih terduduk bersandar pada pohon, ia di belakangku. Kuhajar beberapa demit. Wajah dan tubuhku sempat terkena serang mereka. Mereka menyerang secara berkelompok. Membuatku kelimpungan dan cukup kewalahan.
"RAAAAAWWWRRRR!
Tiba-tiba sebuah suara teriak cukup keras. Kulihat cahaya putih seperti meteor melesat menabrak kumpulan demit yang sedang berjibaku denganku. Demit-demit itu terlempar, dan berjatuhan. Sinar putih itu melayang-layang, terbang menabrak demit satu persatu. Hingga tak bersisa dan musnah. Cahaya apa itu?
Mas Gun merintih kesakitan. Ia meringis, tangan kanannya bergetar hebat.
"Mas, lo kenapa Mas?" tanyaku berjongkok di sampingnya.
"T-ta-tangan gue Di. Tangan gue." ucapnya terbata.
Kulihat tangan kanan Mas Gun bergetar hebat. Tangannya menghitam. Mas Gun tak bisa menggerakkan jemarinya.
"Kuntilanak merah itu tahu letak kekuatan perisai gue. Ia sengaja menyerang tangan kanan gue. Gimana ini Di? Sepertinya gue nggak bisa membuat perisai lagi." ucap Mas Gun sambil meringis kesakitan.
"Tenang Mas. Mudah-mudahan Tika bisa menyembuhkan tangan lo. Sekarang lo tenang dulu ya." balasku.
Tiba-tiba sinar putih itu mendarat di depanku dan Mas Gun. Sinarnya perlahan memudar. Lalu terlihat sosok yang sangat akrab.
Kubil.
"Kubil? Kau benar Kubil kan?" tanyaku.
Kubil tersenyum.
"Ma-maafkan aku Tuan Adi. Aku baru bisa bergabung." ucap Kubil.
Aku sumringah melihatnya.
"A-aku akan bantu Tuan Adi, sampai Tuan Adi berhasil memusnahkan kuntilanak merah itu." ujar Kubil.
Aku sangat senang mendengar ucapan Kubil.
"Terima kasih Kubil. Aku senang kau datang membantu. Terima kasih." balasku.
"Sama-sama Tuan Adi." balas Kubil.
Demit-demit begundal kuntilanak merah itu masih menyerang Tika dan Kakek Halim. Mereka sibuk melawan dan memusnahkan demit. Bahkan harimau putih juga masih melancarkan serangannya. Sementara kuntilanak merah dan tiga demit pengikutnya masih diam menyaksikan pertempuran.
Mungkin tiga demit itu yang mempunyai kekuatan lebih besar dibandingkan segerombolan demit yang menyerang kami. Istilahnya, tiga demit itu adalah panglima perang. Sedangkan kuntilanak merah adalah Rajanya. Dan segerombolan demit yang menyerang kami adalah prajurit biasa. Pion dalam istilah catur.
"Apa yang terjadi dengan teman Tuan Adi?" Kubil bertanya seraya mendekat ke Mas Gun.
"Apa kau bisa menyembuhkan lukanya? Ia terkena serangan kuntilanak merah barusan." jawabku.
Tangan Mas Gun masih bergetar hebat, warnanya hitam legam. Ia masih saja meringis kesakitan.
Kubil menggeleng dengan pelan.
__ADS_1
"Luka ini sangat parah Tuan. Ini adalah serangan yang paling berbahaya dari kuntilanak merah itu. Jika serangan ini terkena tubuh manusia, maka tubuh manusia itu bisa membatu. Jika serangan ini terkena roh seperti bentuk kita yang sekarang, maka perlahan-lahan roh akan segera musnah. Ini sama seperti bisa ular, akan menjalar dan melukai bagian tubuh yang lain jika tak segera disembuhkan." jelas Kubil.
Mas Gun masih meringis kesakitan. Tak pernah kulihat Mas Gun menampakkan wajah seperti ini.
"Bagaimana cara menyembuhkannya? Pasti ada caranya kan Kubil?" tanyaku.
Kubil menatap mataku tajam.
"Tentu ada Tuan." jawab Kubil.
"Bagaimana caranya?" tanyaku.
"Sulit Tuan." balas Kubil singkat.
"Katakan Kubil! Bagaimana cara menyembuhkannya?" aku memaksa.
Kubil berbalik badan. Ia menatap kuntilanak merah.
"Kita harus mengalahkannya. Sesegera mungkin." ucap Kubil sambil menunjuk kuntilanak merah.
Deg.
Harus segera mengalahkan kuntilanak merah?
"Apa tak ada cara lain?" tanyaku.
Kubil menggeleng.
"Satu-satunya cara adalah mengalahkan yang memberikan serangan ini. Ini kekuatan kuntilanak merah yang sangat mematikan Tuan. Hanya dengan mengalahkannya, luka ini bisa disembuhkan. Kekuatan ini dengan dirinya saling terhubung." ujar Kubil.
"Bagaimana kalau kuntilanak merah itu tak bisa dikalahkan?" tanyaku lagi.
Kubil berbalik badan, ia menatapku tajam.
"Bukan tak bisa dikalahkan Tuan, lebih tepatnya jika telat menolong teman Tuan Adi. Maka Tuan harus siap-siap kehilangan teman. Jika luka itu sudah menjalar ke seluruh tubuhnya, hingga membuat seluruh tubuhnya menghitam. Sudah dipastikan teman Tuan akan berubah menjadi demit dan Tuan harus rela membunuhnya. Karena jika sudah berubah menjadi demit, maka ia akan patuh dan taat pada kuntilanak merah itu." terang Kubil.
Tidak! Tidak boleh sampai terjadi pada Mas Gun apa yang Kubil bilang barusan. Bagaimana ini? Bagaimana cara mengalahkan kuntilanak merah itu secepat mungkin?
SYUUTT. TAP. Tika terbang menukik dan mendarat di hadapan kami.
"Ada apa dengan Mas Gun?" tanya Tika menghampiri Mas Gun.
Tika memeriksa luka Mas Gun. Ia memegang tangan Mas Gun, kemudian memejamkan matanya. Mendadak muncul sinar kuning keemasan dari tangan Tika. Sinarnya menjalar dan meresap ke dalam tangan Mas Gun.
"AAAAAAAAAAARRGGHH!" Mas Gun menjerit kesakitan.
Tiba-tiba, warna hitam di tangan Mas Gun menghilang sedikit demi sedikit. Tangan Mas Gun kembali seperti semula. Aku sangat senang melihatnya. Kekuatan Tika untuk menyembuhkan segala macam luka memang terbukti menakjubkan.
Mas Gun masih menjerit kesakitan. Tika masih memejamkan matanya, alisnya mengernyit. Napasnya terdengar cepat.
"Aaaaaaaaaaa!" Tika teriak dan jatuh terduduk ke belakang.
Aku terkejut membantu Tika.
Tiba-tiba, tangan Mas Gun yang sudah terlihat normal, perlahan-lahan menghitam kembali. Tangannya tak bisa digerakkan lagi, juga jemarinya.
"Tik, apa yang terjadi?" tanyaku.
"Kekuatannya sangat besar Di. Kekuatan kuntilanak merah ini bagai benalu. Bisa berbahaya kalau tak segera disembuhkan." jawab Tika.
"Bukannya tadi sudah sembuh? Lalu kenapa tangan Mas Gun menghitam lagi Tik?" tanyaku.
"Gue nggak sanggup Di. Kekuatan gue nggak berhasil melawan kekuatan yang sudah mengakar di tangan Mas Gun." jawab Tika.
"Lalu bagaimana biar Mas Gun bisa sembuh Tik?" tanyaku.
Tika menatap Kubil.
"Heh bocah demit! Kau pasti tahu cara menyembuhkan luka itu? Ayo cepat katakan pada Adi." suruh Tika.
"Khukhukhukhukhukhu." Kubil terkekeh.
"Tak usah kau suruh pun sudah kukatakan pada Tuan Adi. Kau saja yang telat datang." jawab Kubil.
"Kubil sudah kasih tahu caranya ke gue Tik." sahutku.
"Yasudah, ayo kita lakukan apa yang bocah itu katakan." balas Tika.
__ADS_1
"Khukhukhukhukhukhu." Kubil kembali terkekeh.
"Heh, perempuan tengil! Umurku ini lebih tua ratusan tahun dibandingkan dengan umur Nenekmu. Sembarangan kau menyebutku bocah!" gerutu Kubil pada Tika.
Tika tersenyum.
"Kau tak senang kupanggil bocah? Kalau tak senang, kau mau apa? Hah?" Tika menantang.
"Hei! Sudah sudah. Tika, Kubil ada di pihak kita. Ia bersedia datang dan membantu kita. Kubil, Tika ini juga temanku. Ia yang selalu bersamaku memusnahkan demit-demit pengikut kuntilanak merah. Jadi, mari kita bekerjasama. Oke." aku menengahi.
Tika mengangguk.
"Lalu, bagaimana caranya?" tanya Tika.
Kubil menjelaskan pada Tika cara menyembuhkan Mas Gun. Hanya ada satu cara, tak ada yang lain lagi. Tak ada pilihan lain. Tak bisa ditawar. Tak bisa dengan cara lain. Hanya satu..
Mengalahkan kuntilanak merah sampai ia musnah.
Tika tertegun mendengar penjelasan Kubil.
WUUUSSHH. TEPP. Kakek Halim terbang dan mendarat di hadapan kami.
"Ada masalah apa cucuku?" tanya Kakek Halim.
Belum sempat kujawab pertanyaan Kakek Halim, tiba-tiba..
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah tertawa dengan kerasnya.
"Kalian ingin menyelamatkan bocah gendut itu? Kurasa telat. Hihihihihihihihi. Sebentar lagi bocah gendut itu akan menjadi pengikutku dan akan berbalik menyerang kalian." ujar kuntilanak merah.
Aku terdiam mendengarnya.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."
"Kek, bagaimana ini Kek?" tanyaku pada Kakek Halim.
Kakek Halim menoleh ke arah Mas Gun yang masih terduduk lemah.
"Tika, kamu sudah mencoba menyembuhkannya?" tanya Kakek Halim.
"Sudah Kek. Kekuatanku tak mampu mengalahkan kekuatan yang menyerang tangan Guntur." jawab Tika.
Kakek Halim diam.
"HAHAHAHAHA. SATU PERSATU KALIAN AKAN SEGERA MATI MALAM INI JUGA. HAHAHAHAHA." Kang Ujang berkata dengan lantang.
"Cih, lihat si kuli bangunan itu! Banyak omong sekali. Sumpah, jika kuntilanak merah itu sudah kukalahkan. Akan kurobek mulutnya." gerutu Tika.
"Sabar Tik." sahutku.
Kami masih memikirkan bagaimana cara mengalahkan kuntilanak merah itu. Pertempuran kali ini seperti teka-teki. Harus memecahkan masalah satu, demi menyelesaikan masalah lainnya. Wajib mengalahkan kuntilanak merah, makan Mas Gun bisa diselamatkan. Jika telat, Mas Gun akan berubah menjadi demit, dan akan menyerang kami. Gila. Ini gila.
Sementara, dari wajah kuntilanak merah dan Kang Ujang terlihat raut wajah kemenangan. Mereka senyum dengan lebarnya. Mereka sedang di atas angin.
Jika diibaratkan dengan sebuah game di Mobile Legends, mereka sudah menang gold dan turret. Hanya tinggal setup Lord untuk memenangkan pertandingan. Begitu pula dengan pertempuran ini, mereka menang jumlah pasukan. Mereka menang kekuatan. Hanya tinggal serangan dadakan dari kuntilanak merah. Maka kami akan binasa.
Jumlah kami berkurang satu. Karena Mas Gun terluka. Dari jumlah pasukan, kami sudah kalah jauh dibandingkan dengan kuntilanak merah itu.
Lalu, bagaimana kami mau menang?
Sial. Sial. Sial. Sial. Siaaaaalllllll.
Bagaimana ini?
...___________...
...segini dulu ya updatenya...
...besok insyaallah update lagi...
...jangan lupa LIKE...
...selalu KOMEN positif, biar enak bacanya....
...kalau suka boleh di FAVORIT...
...kalau kamu baik hati, kasih HADIAH...
__ADS_1
...kalau suka otor-nya boleh VOTE (hehehe)...
...makasih...