Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 189


__ADS_3

"Mau kita mulai sekarang?" ucap kuntilanak merah sambil tersenyum menyeringai.


Nek Iyah dan Kakek Halim saling tatap. Mereka mengangguk pelan.


Sepertinya pertempuran akan terjadi sekarang. Aura mereka sangat terasa. Menghempaskan dedaudan yang berjatuhan di tanah sekitar mereka. Angin bertiup, sesekali berputar membuat pusaran kecil. Kilat masih menyambar-nyambar. Suasana malam ini gelap. Namun terasa terang karena pancaran aura Nek Iyah dan Kakek Halim.


"DEMIT-DEMITKU, SERANG MEREKAAA!" teriak kuntilanak merah dengan wajah bengis.


Segerombolan demit berteriak keras, mengangkat tangan dan menampakkan wajah seram mereka.


Demit-demit itu terbang menyerang kami. Aku, Nek Iyah, dan Kakek Halim.


Kami berdiri memasang kuda-kuda.


Wuuunngg. Tanganku bersinar biru.


Nek Iyah menoleh ke arahku. Ia tersenyum melihatku.


WOOOOOOOOOOOSSSSHHHH.


Aku terkejut.


Mulut Nek Iyah menyemburkan api berwarna merah gelap. Sekali semburannya, mampu membakar beberapa demit di barisan depan. Demit yang terbakar jatuh ke tanah. Mereka berontak tak keruan sambil terbakar. Teriakan mereka keras.


"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."


"Masih saja kau pakai kekuatanmu itu Badriyah. Itu sudah tak mempan kalau kau berniat memusnahkanku. Hihihihihihi." kuntilanak merah berteriak.


Demit-demit lainnya menyerang kami.


Tiba-tiba..


SYAAATTT.


Kakek Halim mengibaskan tangan kanannya. Seperti yang dilakukannya tadi. Sinar putih tipis menerjang ke arah demit-demit itu.


CRAAASSS.


Tubuh demit-demit di barisan depan terpotong dengan sinar putih. Terbelah menjadi dua bagian.


Aku tak diberi kesempatan untuk melawan demit kacangan. Hampir semua dihabisi oleh Nek Iyah dan Kakek Halim.


Aku tak ingin hanya menonton. Aku ingin ikut memusnahkan demit-demit itu. Aku juga sangat ingin memusnahkan kuntilanak merah.


Aku melompat tinggi.


Dan mendarat tepat di tengah-tengah gerombolan demit pengikut kuntilanak merah.


"HIYAAAAAAAAA!"


Kuhantam demit-demit yang mengelilingiku.


BUAKK.


DUAKK.


BUGG.


DEGG.


JDAK.


Nafsu membunuh membuncah, bergejolak, meletup-letup tak tertahankan. Aku tak pandang bulu. Semua demit di hadapanku tak akan luput dari seranganku. Semuanya harus musnah di tanganku.


Wuuuuunngg. Tanganku bersinar biru.


CRASS.


SRAKK.


Kekuatan dari sinar biru membantai segala demit yang menyerangku. Sinar biru kembali berubah bentuk menjadi pedang.


"HIYAAAAAA!"


SRAAAAAKK. Kubelah kepala demit dengan sinar biru yang membentuk pedang.


Bruk. Demit terkahir ambruk ke tanah.


Ssshhh. Tubuhnya menjadi debu, ia musnah seketika.


Aku berdiri di tengah-tengah debu yang beterbangan ke atas langit. Entah berapa belas demit yang berhasil kumusnahkan. Atau mungkin puluhan. Aku puas. Aku senang. Aku amat bahagia. Namun kebahagiaanku belum lengkap jika belum memusnahkan kuntilanak merah itu.


Kuntilanak merah berdiri cukup jauh di depanku. Ia kini sendiri, semua pengikutnya telah musnah. Ia melayang dengan tetap menampakkan senyum jahatnya. Senyum yang tak pernah pudar. Senyum penuh rencana licik. Senyum diiringi tatapan buas dan nafsu membunuh yang tinggi.

__ADS_1


"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah tertawa. Tawanya menggaung.


"Luar biasa cucumu Halim. Hihihihihihi. Berkat mustika Dawana, kini cucumu lebih kuat. Aku salut denganmu bocah. Kau hanya sendirian, dan berhasil mengalahkan semua pengikutku." ujar kuntilanak merah.


Nek Iyah dan Kakek Halim bergabung bersamaku. Kami bersama-sama menghadap kuntilanak merah.


"Hmmm. Sekarang, siapa yang harus kubunuh duluan. Hihihihihihihi. Badriyah. Apa kau sudah siap merasakan jika jiwamu dicabut? Hihihihihihihi." ucap kuntilanak merah.


"Apa kau tidak penasaran dengan apa yang dirasakan oleh korban tumbalmu? Hihihihihihihi. Tenang saja, sebentar lagi semuanya akan merasakan apa yang dirasakan oleh para korban tumbal. Hihihihihi." sambung kuntilanak merah.


"Hei bocah," kuntilanak merah menatapku.


"Mau kuberitahu sedikit cerita? Hihihihihihi." tanya kuntilanak merah.


Kami saling tengok dan tatap. Apa yang ingin diceritakan oleh iblis itu?


"Kau tahu, ketika kawanmu menjadi orang terpilih untuk dijadikan tumbal oleh Nenek Tua di sebelahmu itu." kuntilanak merah berujar.


Aku diam mendengarkan.


"Hihihihihihihi. Saat kuambil jiwa kawanmu dari tubuhnya, matanya melotot. Ia kesakitan. Namun tak bisa berkata apa-apa, suaranya seperti tercekik. Hihihihihihi. Seluruh urat-urat di tubuhnya menonjol keluar. Lalu darahnya mengering. Pemandangan yang sangat indah. Namun, hal terindah yang ingin kuberitahu padamu adalah saat kawanmu meregang nyawa. Ia sangat menderita dan merasa kesakitan, ketika kucabut jiwanya dari ubun-ubun. Hihihihihihihihihi." cerita kuntilanak merah.


Cerita yang membuat amarahku kian meledak. Aku sampai membayangkan saat-saat Bagas meregang nyawa. Iblis. Memang iblis, dia bilang itu adalah pemandangan terindah. Brengsek.


"Ada satu hal lagi yang membuatku semakin menikmati malam itu. Hihihihihi."


"CUKUP! DASAR IBLIS JAHANAM. KAU AKAN MEMBAYAR APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADA TEMANKU!" aku semakin marah. Kupotong ucapan kuntilanak merah.


"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah tertawa lepas.


"Aku tahu kau sangat marah padaku. Aku tahu itu. Tapi semua itu bukan salahku bocah. Hihihihihihihi. Yang patut kau salahkan adalah.."


Kuntilanak merah tak melanjutkan ucapannya.


"NENEK TUA ITU YANG HARUS DISALAHKAN!"


Aku semakin kesal. Aku semakin marah. Aku kian mangkel.


Aku menoleh ke arah Nek Iyah.


Nek Iyah balas menatapku.


"Jangan kau dengarkan ucapannya Dek." tutur Nek Iyah.


Aku diam.


BUAAAKKKK.


Kupukul wajah Nek Iyah dengan keras. Nek Iyah terpental dan mendarat di tanah. Kakek Halim dengan cepat merangkulku.


"KAU JUGA HARUS MATI NENEK TUA! KAU JUGA HARUS KUBINASAKAN! NENEK TUA BRENGSEK! B*NGSAT KAU!!"


"Adi cucuku, sabar. Kau jangan termakan oleh hasutan kuntilanak merah itu. Sabar cucuku." ucap Kakek Halim sambil merangkul tubuhku dan menahan.


"LEPAS KEK. LEPAS! BIAR KUBUNUH NENEK ITU. LEPAS!"


Nek Iyah duduk seraya memegang pipinya. Ia hanya tersenyum menatapku.


"MASIH BISA TERSENYUM! KAU MEMANG NGGAK PUNYA HATI. KAU JUGA IBLIS!" teriakku. Lalu aku jatuh terduduk. Mengingat kembali kejadian yang menimpa Bagas.


Nek Iyah berdiri dibantu oleh Tika. Semua menatapku. Semua mata tertuju padaku.


"Saya mengaku salah Dek, saya telah menumbalkan teman Dek Adi. Maafkan saya. Saya ingin membayar kesalahan saya." ucap Nek Iyah.


"Cih. Membayar kesalahan? Dengan apa? Nyawamu?" ucapku.


Aku bangkit berdiri.


"Nek Iyah tahu, bukan hanya saya saja yang merasa kehilangan Bagas. Banyak yang merasa kehilangan. Orang tuanya, sanak saudaranya. Kenapa Nenek tega menumbalkan teman saya Nek? Memang apa salah Bagas?" ujarku sambil menangis.


Nek Iyah diam.


"Kami cuma ingin menuntut ilmu dan hidup dengan tenang. Kenapa semua ini bisa menimpa saya dan teman-teman saya? Apa salah saya?" lanjutku.


"Cucuku, semua ini memang sudah takdir." sahut Kakek Halim.


"PERSETAN DENGAN TAKDIR!" tepisku.


"Nek, dengan cara apa Nenek membayar semua yang telah Nenek lakukan?" tanyaku.


Nek Iyah terdiam.


"DENGAN CARA APA? JAWAB!" teriakku.

__ADS_1


"Adi," Kakek Halim merangkulku.


"Yang sudah terjadi biarlah terjadi. Kau jangan menyalahkan takdir yang sudah digariskan oleh Yang Maha Kuasa. Jadikan semua ini sebagai pelajaran bagi kita sem.."


"PELAJARAN APA? APA YANG BISA KITA AMBIL DARI PELAJARAN MACAM INI? APA KEK? MEMBUNUH? BERSEKUTU DENGAN IBLIS? APA?" potongku.


Kakek Halim diam.


Kuntilanak merah hanya tersenyum menyeringai.


"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." ia tertawa keras.


"Cup cup cup cup. Sudahlah, jangan menangis lagi anak manis. Hihihihihihi. Aku jadi ikutan sedih." sahut kuntilanak merah.


Nek Iyah menghampiriku. Aku menunduk, dengan tangis.


"Dek, saya minta maaf atas semua yang terjadi. Akan saya bayar kesalahan saya dengan memusnahkan iblis itu." ucap Nek Iyah pelan.


Aku masih tertunduk dan menggeleng pelan.


Kuhela napas panjang.


"Nek, walaupun Nenek memusnahkan kuntilanak merah itu, nggak akan bisa mengembalikan Bagas." balasku.


"Adi, yang sudah dipanggil ajal memang tak akan pernah bisa kembali. Aku bisa kembali kesini dan menolongmu adalah masalah lain. Sedangkan temanmu, tak akan pernah bisa kembali." ujar Kakek Halim.


"Sekarang yang terpenting adalah kita harus menjaga dan melindungi orang-orang tersayang di sekitar kita, agar tetap aman dan melanjutkan hidup." sambung Kakek Halim.


Kulihat Mas Gun sedang meringis kesakitan, Ibu Kemala memegang tangannya sambil duduk bersila. Ia mencoba menyembuhkan luka di tangan Mas Gun.


Tika berdiri menatapku dengan wajah penuh luka.


Aku teringat seluruh keluargaku, Ayah Ibuku, Mbak dan Mas-ku. Keluarga besar di kampung.


Terlintas juga Yuda, kawanku.


Kemala.


Dan seluruh orang-orang di sekitarku.


Sungguh, aku sangat menyayangi merek semua.


"Kuatkan dirimu cucuku. Banyak orang di sekitarmu yang peduli dan sayang denganmu. Kau juga harus balas sayang dengan mereka. Lindungi mereka, jaga mereka, bahagiakan mereka. Hanya satu langkah awalnya.." ucap Kakek Halim.


Aku menghela napas panjang.


"Yaitu memusnahkan dulu iblis sialan itu." lanjut Kakek Halim.


Ya, memang itu langkah awalnya. Memusnahkan kuntilanak merah yang bisa mencelakai orang-orang tersayang di sekitarku.


Nek Iyah menyodorkan tangannya. Mengajak bersalaman.


"Maafkan saya Dek." ucapnya pelan. Wajahnya teduh dengan mata sayu. Bicaranya tulus. Ia meminta maaf padaku.


Kuraih tangannya, dan kami bersalaman.


"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."


"AKU SEPERTI MELIHAT DRAMA. UUHH, SUNGGUH MEMBUAT TERHARU. HIHIHIHI." kuntilanak merah berteriak.


"Dek Adi," panggil Nek Iyah.


Aku menoleh ke arah Nek Iyah.


"Mari kita binasakan iblis itu dan pulang ke kost bersama-sama." ucap Nek Iyah pelan. Ia tersenyum. Wajahnya terlihat cerah.


Aku mengangguk.


"Kakek Halim!" Tika memanggil dari belakang.


Kakek Halim menoleh.


"Harimau putih apa bisa ikut dalam pertarungan? Tampaknya dia sangat bersemangat." teriak Tika dengan wajah sumringah


Harimau putih telah disembuhkan oleh Tika.


Kakek Halim tersenyum melihat harimau putih bangkit berdiri.


GRRROOOOAAAAARRRRR. Harimau mengaum dengan kerasnya. Suaranya memecah malam.


Harimau putih mendekati kami, ia menatap kuntilanak merah dengan tatapan buas. Tatapan ingin mencabik dan mencakar.


Kini kami siap.

__ADS_1


BISMILLAHIRRAHMANIRRAHIEM.


__ADS_2