
Setelah mandi dan melaksanakan shalat isya, kubuat dua cangkir kopi.
"Kopi buat siapa Di?" tanya Mas Gun bertelanjang dada. Lemak di perutnya bergetar.
"Buat Arya sama gue Mas. Udah sana mandi! Bau badan lo nggak enak. Sana sana! Hush. Hush!" suruhku.
"Iya iya, gue mandi. Eh, jangan mulai dulu obrolan lo dengan Arya sebelum gue selesai mandi. Oke! Awas kalau mulai duluan." ucap Mas Gun.
Kuacungkan jempol pada Mas Gun.
Kubawa dua cangkir kopi ke teras depan kamar. Gema tahlil masih terdengar dari rumah Nek Iyah, samar-samar.
"Ya, kita sambil ngopi ya." ucapku seraya menaruh cangkir kopi di hadapannya.
"Wah, repot-repot banget. Bang Adi segala bikinin kopi sih, kan saya jadi enak. Hehehehe." balas Arya.
"Adanya cuma kopi disini. Kalau ada jus gue sedian buat lo. Hehehehe."
Arya mengambil cangkir kopinya. Meniupnya pelan. Lalu menyeruputnya sedikit.
"Memang Bang Adi dari mana saja sama yang lain?" Arya bertanya.
"Panjang ceritanya Ya. Sangat panjang." jawabku.
"Kasih kesimpulan sedikit aja Bang. Biar saya ada bayangan." pinta Arya sambil terkekeh.
Aku menghela napas.
Kuceritakan pada Arya tentang semua yang kualami. Kang Ujang yang selama ini ternyata serigala berbulu domba. Ia rela menuntut ilmu hanya untuk mengalahkan Nek Iyah dan mengambil kuntilanak merah.
"HAH? BENERAN BANG?" tanya Arya terkejut.
"Benar. Sumpah Ya." balasku.
Arya mengangguk pelan. Ia tampak sedang memikirkan sesuatu.
"Apa ini ada kaitannya juga sama Bapak?" ucap Arya, ia tampak serius.
"Bapak? Bapak siapa Ya?" tanyaku.
"Bapak saya Bang."
"Lho. Memangnya kenapa dengan Bapak lo?" tanyaku.
Arya merapatkan duduknya padaku.
"Sebenarnya Bapak saya itu sal.."
"STOP!!" tiba-tiba Mas Gun menyela.
Membuat Arya tak melanjutkan ucapannya. Serta membuatku terkejut.
Sambil cengengesan membawa secangkir kopi, Mas Gun duduk bergabung bersamaku dan Arya.
"Bikin kaget aja sih Mas!" sungutku.
"Stop. Sebelum ada gue, lo nggak boleh cerita apapun." tukas Mas Gun seraya menyeruput kopinya.
"Nah, ayo lanjutin Bang." Mas Gun meminta.
"Jangan panggil saya Abang dong, saya masih muda nih. Hehehehehe. Saya Arya Bang." ucap Arya sambil menyodorkan tangannya ke Mas Gun.
"Guntur."
Mereka pun bersalaman.
"Ooohh lo yang namanya Arya?" tanya Mas Gun.
"Iya Bang. Memang kenapa ya?" Arya balas tanya keheranan.
"Di, bukannya dia pernah disebut-sebut sama Kang Ujang ya?"
"Iya. Ini mau diceritain." sahutku.
"Lanjutin Ya." pintaku.
"Jadi, selama ini saya baru tahu kalau ternyata Bapak saya adalah salah satu murid Nek Iyah. Tepatnya beberapa hari setelah kita menguburkan almarhum Bang Oji." cerita Arya.
"Dari mana lo tahu?" tanyaku.
"Setelah beberapa hari Bang Oji di kuburkan, Bapak sering mengurung diri di kamar belakang. Kamar yang nggak boleh dimasuki siapapun selain Bapak. Bahkan, Ibu saya pun nggak diizinkan masuk ke kamar itu. Kamar itu sudah ada sejak saya kecil. Kamar tanpa jendela dan berukuran sangat kecil."
"Memang ada apa di dalam kamar itu?" tanya Mas Gun.
"Dulu saat umur saya sekitar sepuluh tahunan, saya pernah panjat loteng dan mengintip dari atas atap. Karena rasa penasaran yang sangat besar. Di dalam kamar itu hanya ada karpet merah sebagai alas duduk dan sebuah meja kecil. Di atas meja terdapat sebuah mangkuk berisi kembang tujuh rupa. Udah, itu saja." jawab Arya.
__ADS_1
"Apa kamar itu berfungsi untuk Bapak lo bertapa?" tanya Mas Gun.
"Mungkin Bang." jawab Arya singkat.
"Apa pernah lo mengintip saat Bapak lo ada di dalam kamar itu?" tanyaku.
Arya diam. Menunduk. Lalu mengambil cangkir kopinya. Menyeruputnya sedikit.
"Pernah Bang." jawab Arya.
"Apa yang Bapak lo lakukan di dalam kamar itu?" tanyaku lagi.
Arya terdiam.
Aku dan Mas Gun menunggu jawabannya.
"Ya. Apa ada sesuatu yang nggak pantas untuk diceritakan ke kita? Kalau memang ada nggak apa-apa, lo nggak harus ceritakan itu." tuturku.
Arya menggeleng.
"Nggak. Nggak perlu ada yang di tutup-tutupi, sekarang memang saatnya saya harus ceritakan. Supaya orang-orang tahu bejatnya kelakuan orang-orang yang bersekutu dengan setan." ucap Arya dengan raut wajah penuh amarah.
Aku dan Mas Gun jadi terdiam.
"Pernah sekali saya mengintip ketika Bapak ada di dalam kamar itu. Malam itu malam Jumat. Bapak masuk ke kamar itu sekitar jam dua belas malam. Saya kebetulan belum tidur. Mendengar Bapak masuk kamar belakang, saya jadi penasaran." cerita Arya.
"Maaf gue potong. Apa lo mengintip Bapak lo di dalam kamar itu baru-baru ini, atau saat lo kecil dulu?" tanyaku.
"Baru-baru ini Bang. Beberapa hari setelah kita menguburkan Bang Oji." jawab Arya.
Aku mengangguk.
Kemudian Arya melanjutkan ceritanya.
"Karena rasa penasaran yang sangat besar, saya pun memanjat ke atas loteng rumah. Saya merangkak di atap menuju atap kamar itu. Dan mengintip dari lubang kecil di atap. Saya melihat pemandangan terjijik yang pernah saya lihat seumur hidup saya."
"Apa yang lo lihat?" tanya Mas Gun.
Arya menatap dalam kepadaku dan Mas Gun.
"Saya melihat Bapak sedang bermesraan dengan wanita tua yang sangat menyeramkan. Wanita itu memakai gaun merah. Rambutnya panjang, tapi terlihat tipis dan hampir botak. Kulit kepalanya sampai terlihat. Seluruh kulitnya keriput. Dan kuku-kukunya panjang serta tajam. Bapak tak mengenakan sehelai benang pun. Ia telanjang bulat sambil bergumul dengan wanita tua itu. Sesekali bergumam menyebut nama Badriyah." cerita Arya.
Ah, gila. Apa mungkin Bapak Arya bermesraan dengan Nek Iyah?
"Terus?" tanyaku.
"Lo ketahuan mengintip?" tanya Mas Gun.
"Sepertinya Bang." jawab Arya.
"Terus gimana kelanjutannya?" tanya Mas Gun.
"Saya panik, takut ketahuan. Dan tak lama kemudian lampu kamar kembali menyala. Saya kembali mengintip ke dalam kamar itu. Wanita tua itu sudah tak ada. Bahkan saya nggak mendengar langkah kaki keluar rumah atau pintu belakang rumah yang terbuka." terang Arya.
"Menurut lo, dengan siapa Bapak bermesraan Bang? Apa dengan Nek Iyah?" tanya Arya.
Aku berpikir.
"Yang jelas bukan dengan Nek Iyah."
Kami menoleh ke kamar 11a. Tika berdiri memegang sebuah piring berisi tahu goreng. Ia menghampiri kami dan meletakkan piring di tengah-tengah kami. Tika pun duduk bergabung bersama kami. Mas Gun langsung mencomot sepotong tahu goreng dari piring.
"Kalau bukan dengan Nek Iyah, lalu dengan siapa Bapak Arya bermesraan?" tanyaku.
"Jelas dengan kuntilanak merah itu." jawab Tika.
"Dari mana Kakak tahu kalau yang bermesraan dengan Bapak itu kuntilanak merah?" Arya bertanya pada Tika.
"Jika bersekutu dengan setan, selalu ada persyaratan yang mewajibkan orang tersebut untuk melayani setan itu, dalam tanda kutip. Me-la-ya-ni. Paham kan? Sebagai pemimpin, Nek Iyah memanfaatkan Bapak Arya untuk bisa melayani si setan tersebut sebagai kaki-tangan. Jadi, tak perlu lagi Nek Iyah yang melayani kuntilanak merah itu. Paham nggak?" jelas Tika.
"Malah, bisa jadi bukan hanya Bapaknya Arya saja yang melayani kuntilanak merah itu. Bisa jadi semua kaki-tangan Nek Iyah berkewajiban melayani kuntilanak merah itu. Kita kan nggak tahu berapa banyak kaki-tangan Nek Iyah sampai sekarang." tambah Tika.
Ctakk. Mas Gun menjentikkan jarinya.
"Ooohhh jadi, persyaratan me-la-ya-ni itu dilimpahkan kepada kaki-tangannya. Sehingga Nek Iyah terbebas dari syarat itu. Paham gue." ujar Mas Gun.
"Tentu ada imbalan yang akan didapatkan oleh orang yang melayani kuntilanak merah itu. Entah bertambah tinggi ilmu kanuragannya, atau mendapatkan kekayaan. Sesuai dengan perjanjian dengan si pemimpin sekte tersebut." terang Tika.
"Kok sekte?" tanyaku.
"Sebut saja begitu. Biar lebih ringkas." sahut Tika.
Kami mengangguk.
"Lalu, kaitannya dengan Kang Ujang apa?" tanyaku pada Arya.
__ADS_1
"Oh iya, hampir terlewat. Jadi, setelah beberapa hari setelah Bang Oji dikuburkan, Kang Ujang sering datang ke rumah untuk bertemu Bapak. Mereka kadang pergi berdua, entah kemana. Kadang Bapak pulang sudah jam tiga malam, malah kadang nggak pulang. Pokoknya itu adalah saat-saat mereka menjadi sangat akrab." cerita Arya.
"Apa lo nggak coba ikutin mereka kalau mereka pergi?" tanya Mas Gun.
Arya terkekeh.
"Buat apa ikutin mereka Bang? Kalau pergi keluar rumah gue sih nggak curiga. Mungkin mereka mancing bareng, atau pergi nonton dangdut. Namanya juga Bapak-bapak." jawab Arya.
"Hmmm. Iya juga sih." gumam Mas Gun.
"Tapi pernah nggak lo tanya ke Bapak lo, kenapa Kang Ujang sering datang ke rumah?" tanyaku.
"Pernah. Tapi jawaban Bapak singkat, padat, tak bertele-tele."
"Apa?" tanya Mas Gun.
"Ada urusan."
"Cuma itu jawaban Bapak lo?" tanyaku.
"Iya, cuma itu."
"Nggak ada embel-embelnya lagi?" tanya Mas Gun.
"Nggak ada. Cuma itu jawabannya." ucap Arya.
Tak mengarah ke suatu jawaban pasti. Masih samar-samar kalau Kang Ujang berguru pada Bapaknya Arya. Lalu pada siapa Kang Ujang berguru? Sampai-sampai bisa mengalahkan Nek Iyah. Atau jangan-jangan Nek Iyah yang sengaja mengalah, agar bisa melepaskan diri dari kuntilanak merah. Tapi nggak semudah itu melepaskan kuntilanak merah. Buktinya saja, Kang Ujang tak resmi mendapatkan kuntilanak merah karena tak melakukan perjanjian darah dengannya.
"Ya,"
"Apa Bang?" tanya Arya sambil menggigit tahu.
"Gimana perasaan Bapak lo ketika tahu Nek Iyah meninggal?" tanyaku.
Arya tersenyum.
"Kenapa senyam-senyum lo? Emang ada cerita lucu?" tanya Mas Gun.
"Hehehehehe. Enggak Bang, nggak ada apa-apa. Gue cuma senang aja. Itu sebabnya gue senyum-senyum." jawab Arya.
"Pas tahu Nek Iyah meninggal, yang jelas Bapak kaget. Kaget bukan main. Ibu sampai heran dengan kelakuan Bapak. Ia masih nggak percaya kalau Nek Iyah meninggal. Bapak jadi kayak orang linglung. Mungkin karena junjungannya meninggal kali ya." jawab Arya.
"Bang, tapi memang benar nih kuntilanak merah itu udah musnah?" tanya Arya.
Aku mengangguk.
"Musnah Ya. Alhamdulillah. Gue bersyukur banget." jawabku.
"Berarti kesimpulan soal Kang Ujang berguru dengan Bapaknya Arya masih abu-abu nih Di?" tanya Mas Gun.
"Emmm. Mungkin benar berguru, atau mungkin juga enggak." jawabku.
"Oh iya. Ini pertanyaan paling penting Ya. Ini pertanyaan pamungkas." ucapku.
"Apaan sih Di?" sahut Mas Gun.
"Pertanyaan apa Bang?"
"Siapa yang pertama kali menemukan jasad Nek Iyah? Atau siapa orang yang pertama kali tahu kalau Nek Iyah meninggal dunia?" tanyaku.
"Aaaaaaahhh benar itu. Benar Di. Pertanyaan lo benar-benar Bambang!" sahut Mas Gun sambil mengacungkan jempol.
"Dih, apaan sih Mas!" tukas Tika.
"Tau nih, apaan sih pertanyaan gue benar-benar Bambang? Apa maksudnya?" tanyaku.
"Bambang Pamungkas. Kan pertanyaan lo pamungkas, jadinya Bambang Pamungkas. Kenal nggak? Hehehehehehe. Lucu nggak?" Mas Gun terkekeh.
"ENGGAAAAKK!" aku dan Tika teriak berbarengan.
Mas Gun dan Arya terkekeh bersama.
...______________...
...sekian dulu ya,...
... otor lagi bingung nih banyak yg minta lanjut sampe Adi nikah sama Tika, gimana alur ceritanya ya? hehehehe. takutnya malah jadi garing kayak sinetron....
...LIKE. KOMEN. FAVORIT...
...always yaaa...
...kasih...
...HADIAH. VOTE...
__ADS_1
...wajib yaaaa...
...makasih....