Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 158


__ADS_3

"Lho, Mas Yuda. Dari mana jam segini baru pulang?" tanya Pak Satpam seraya membukakan gerbang besar.


Motor Mas Gun dan Yuda masuk ke garasi. Setelah mesin motor di matikan, kami pun turun. Pak Satpam menghampiri kami.


"Saya kira Mas Yuda nggak pulang." ucap pak Satpam.


"Tadi ada urusan Pak. Si Mbak udah tidur ya?" tanya Yuda seraya melepas helm.


"Sudah mungkin Mas. Mau saya bangunin?"


"Tolong bangunin ya. Bilang, saya minta tolong untuk rapikan kamar Deby. Kawan saya mau tempatin kamar itu." pinta Yuda.


Kami pun masuk ke rumah melewati pintu samping. Mas Gun tak henti-hentinya berdecak kagum melihat rumah Yuda.


"Ini rumah lo Da?" tanya Mas Gun sambil melihat seisi rumah Yuda.


Kami kini berada di ruang keluarga.


"Rumah bokap Mas." jawab Yuda.


"Yuk, langsung ke atas aja." ajak Yuda.


"Ckckckck. Lebih gede rumah Yuda daripada masjid di kampung kita Di. Hehehehe." ucap Mas Gun lagi.


Kami naik ke lantai atas dan duduk-duduk di ruang keluarha depan kamar Yuda.


"Duduk dulu deh sambil istirahat. Nanti gue minta tolong sama Mbak untuk buatin minuman." ujar Yuda.


Tak lama Mbak datang, ia masuk ke kamar Deby dan merapikan kamar dengan gesit.


Tak lama Mbak keluar.


"Mas, kamarnya sudah siap." ucap Mbak pada Yuda.


"Iya Mbak. Maaf ya bangunin Mbak malam-malam gini." balas Yuda.


"Mbak, mau minta tolong lagi dong."


"Apa Mas Yuda?" tanya Mbak.


"Tolong buatin minuman. Sekalian kalau ada camilan dibawa ke atas saja ya. Makasih Mbak." pinta Yuda.


Mbak pun turun.


"Tik, sana ke kamar. Udah beres tuh. Kalau mau mandi air hangat di showernya tinggal geser aja. Tahu kan? Terus kalau mau ganti baju, pakai aja baju yang ada di lemari." suruh Yuda.


"Gue duluan ya." ucap Tika seraya masuk ke kamar Deby.


"Di, Mas. Sana mandi! Badan lo bau keringat." suruh Yuda.


Aku pun mandi lebih dulu. Mas Gun masih mengagumi besar dan luasnya rumah Yuda.


\* \* \*


Mbak membawakan empat gelas susu jahe untuk kami. Yuda mengacungkan jempol untuknya.


"Makasih Mbak. Tahu aja kalau kita lagi butuh yang hangat-hangat." ucap Yuda.


Kami berkumpul di ruang keluarga lantai dua depan kamar Yuda. Rencananya, aku dan Tika akan memeriksa rumah Yuda. Aku takut demit perempuan itu masih ada di sekitar rumah.


"Yuk kita mulai Di. Nanti keburu subuh." ucap Tika.


Sekarang memang sudah hampir pukul tiga dini hari.


Aku dan Tika duduk bersila saling berhadapan. Tika membimbingku untuk fokus melepas raga. Sementara Mas Gun dan Yuda duduk di samping kami, hanya memerhatikan.


Aku dan Tika memejamkan mata. Kukosongkan pikiran dan fokus pada aura mustika yang kukenakan.


Seketika hawa panas mulai merayap di tubuhku.

__ADS_1


Syuuuuuuu. Aku merasa terombang-ambing.


"Buka mata lo." ucap Tika.


Saat kubuka mata. Aku sudah melayang berbentuk asap tipis transparan, Tika pun sama.


"Yuk, kita cek." ajak Tika.


Aku dan Tika terbang melayang menembus tembok rumah. Mengitari seluruh sisi rumah.


"Sepertinya udah nggak ada tanda-tanda demit Di." ucap Tika.


"Memang tandanya seperti apa Tik?" tanyaku.


"Gampang kok bedainnya. Ada hawa yang nggak enak dan bau yang nggak sedap. Bisa ngerasain nggak?" tanya Tika.


"Gue rasa nggak ada. Kita ke halaman belakang yuk!" ajakku.


Kami terbang cepat menuju halaman belakang rumah Yuda. Dekat kolam renang dan lapangan tennis ada tanaman hias yang cukup lebat dan tinggi.


Ada bau tak sedap yang kurasakan.


"Tik," panggilku.


"Iya, gue tahu." sambar Tika.


Tiba-tiba muncul sesosok Nenek dari balik tanaman. Tubuhnya bungkuk, memakai kebaya lusuh berwarna coklat dan kain batik. Wajahnya keriput menyeramkan. Sebelah matanya sipit, sebelah lagi membelalak. Gigi-giginya tak ada.


"Mau apa kalian?" tanya Nenek itu.


"Assalamualaikum, maaf Nek, kami hanya teman si pemilik rumah ini. Kami cuma ingin memeriksa rumah dan mencari demit wanita penunggu mobil." jawab Tika.


"Khikhikhikhi. Wanita berambut panjang dengan wajah hancur itu yang kalian cari?" tanya Nenek itu.


"Iya Nek." jawab Tika.


"Khikhikhikhikhi. Ia sudah pergi bersama mobil itu. Aku tak suka dengannya. Ia terlihat menjijikkan. Untuk apa kalian mencari mereka?" tanya Nenek itu.


"Sudah. Tak usah dipedulikan. Ia sudah pergi. Ia tampak sangat jahat. Baru tiba disini ia sudah berani mengganggu penghuni rumah ini. Menyebalkan." terang Nenek itu.


"Baguslah kalau wanita itu sudah pergi. Kalau saya boleh tahu, siapa Nenek ini? Apa Nenek sudah lama tinggal disini?" tanya Tika.


"Khikhikhikhikhi. Aku sudah lebih dulu tinggal disini. Jauh sebelum rumah ini berdiri. Aku tak pernah mengganggu penghuni rumah. Kalian tenang saja." jawab si Nenek.


"Baiklah. Kalau Nenek sudah lama tinggal disini dan tak mengganggu penghuni rumah, tak ada alasan bagi kami untuk mengusir Nenek. Terima kasih informasinya Nek." balas Tika.


"Sama-sama anak muda." sahut Nenek.


"Kami pamit. Assalamualaikum." ucap Tika.


Setelah si Nenek menjawab salam, aku dan Tika terbang ke dalam rumah menuju tubuh kami kembali.


Syuuuuuuuu. Aku masuk kembali ke dalam tubuh dengan memejamkan mata.


Kubuka mataku.


"Di, gimana Di? Apa rumah gue aman?" tanya Yuda.


"Tika, aman nggak Tik?" Yuda bertanya pada Tika.


"Alhamdulillah aman. Demit itu sudah pergi bersama mobil antik milik lo." jawab Tika.


Yuda menghela nafas dengan lega.


"Da, coba lo tanya ke pemilik mobil itu deh, apa dia mendapat gangguan?" suruh Tika.


"Emmm, sebenarnya itu yang akan gue ceritakan sama kalian." sahut Yuda.


"Cerita lanjutan mobil itu?" tanyaku.

__ADS_1


"Iya Di."


"Si pembeli mobil itu sempat mengirim pesan ke gue. Kalau ia merasa ada hal ganjil sejak mobil itu ia beli dari gue." ujar Yuda.


"Hal ganjil seperti apa memangnya?" tanyaku.


"Sama seperti yang Mbak alami. Ia mendengar suara tangis wanita kalau malam hari, dan asalnya dari mobil yang baru dibeli dari gue." jawab Yuda.


"Da, kita harus tolong si pemilik mobil itu. Kasihan kalau ia dan keluarganya mendapat gangguan dari demit wanita itu." sambut Tika.


Yuda diam, ia menunduk.


"Terus kalau sampai ia ingin mobil itu dikembalikan gimana? Lalu minta uangnya dikembalikan lagi gimana?" tanya Yuda.


Kami semua diam.


"Gue udah susah payah jual itu mobil. Dan masalahnya, nggak semua orang suka mobil antik macam itu." sambung Yuda.


"Da," panggilku.


"Gue tahu, nggak ada diantara kita disini yang ingin mendapat kerugian. Gue juga yakin pemilik mobil itu ingin menjalani hidup dengan tenang tanpa ada gangguan, sama seperti lo, gue, Tika, juga Mas Gun. Apalagi gangguan dari makhluk gaib. Apa lo tega mengorbankan dia dan keluarganya?" tanyaku.


Yuda diam.


"Ya terus gimana Di? Apa lo ada solusi?" tanya Yuda.


Aku diam.


Yuda tak berkata.


Mas Gun hanya tertunduk.


Tika tak bersuara.


.


.


.


"Gini aja, besok kita pergi ke rumah pemilik mobil antik itu. Mudah-mudahan demit itu bisa kita usir dari mobilnya. Kalau rencana besok berhasil, mobil itu aman, dia dan keluarganya pun aman, dan lo juga tenang Da. Gimana?" saran dari Tika.


"Gue rasa itu saran terbaik untuk saat ini." sahut Yuda.


"Yaudah, sekarang kita semua istirahat. Terutama lo Di. Siapkan tenaga lo, besok kita akan tempur lagi melawan demit." ujar Tika.


Aku mengacungkan jempol.


Diputuskan, esok sore kami akan pergi ke rumah pemilik mobil antik. Semoga rencana Tika berjalan lancar. Tika sudah lebih dulu masuk kamar. Aku, Yuda, dan Mas Gun masih duduk di ruang keluarga sembari menghabiskan susu jahe. Yuda dan Mas Gun baru saja membakar rokoknya.


Dari kejauhan terdengar sayup-sayup suara shalawat. Ah, sebentar lagi masuk waktu subuh. Aku merasa sangat lelah. Sofa yang kududuki sangat nyaman. Mas Gun dan Yuda masih mengobrol, entah apa yang ia perbincangkan. Mataku sayup. Lalu gelap menyerang seketika.


.


.


.


"Assalamualaikum cucuku."


Eh, suara siapa ini?


Hanya terdengar suaranya, tak nampak orang yang berbicara. Yang terlihat hanya kegelapan, dan semua hitam.


"Assalamualaikum Adi."


"Wa-waalaikumsalam. Si-siapa itu?" tanyaku.


Tiba-tiba ada setitik cahaya putih yang kulihat di kejauhan. Dari setitik, kini cahaya itu semakin lama semakin membesar. Makin besar. Makin besar lagi. Hingga akhirnya semua terlihat putih.

__ADS_1


Di kejauhan kulihat seorang pria paruh baya berjalan ke arahku. Ia memakai baju putih dan kain sarung putih. Memakai songkok yang putih juga. Janggutnya tak terlalu panjang, berwarna putih. Siapa pria paruh baya itu?


__ADS_2