Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 60


__ADS_3

Kopi di cangkir kami telah habis, malam pun kian larut. Suasana menjadi sepi sejak kelompok bapak-bapak terakhir pamit undur diri. Dini dan Ela pun sudah masuk ke dalam kamar.


"Kang Ujang lihat Bang Oji nggak?" tanyaku.


Ia menengok ke seluruh sisi kost.


"Oh iya ya, saya nggak lihat Bang Oji dari tadi. Kemana ya?" sahut Kang Ujang.


"Ya makanya saya tanya ke Kang Ujang. Terakhir saya lihat sih siang tadi saat pemakaman Mbak Wati."


"Mungkin istirahat karena kecapean dek. Atau lagi ada jadwal kerja, Bang Oji kan kerjanya nggak tentu." ujar Kang Ujang.


"Kang, jadi gimana nasib Nyai Asih seterusnya?" tanyaku memancing agar Kang Ujang kembali melanjutkan ceritanya.


"Oh iya ya, saya kan mau lanjutin cerita. Jadi gini.."


 ---------------------------


Pagi itu Nyai Asih keluar dari kamarnya. Wajahnya pucat seputih kapas. Tubuhnya nampak lemah. Ia berjalan pelan, bahkan sangat pelan.


"Nyai mau kemana?" tanya ibu yang langsung memapah Nyai Asih.


"Saya mau duduk di depan teh, udara di luar sepertinya segar." jawab Nyai Asih.


Ibu membantu nyai berjalan ke teras rumah. Lalu nyai meminta tolong agar kursi goyang di dalam ruang tamu di pindahkan ke teras. Ayah mengangkat kursi goyang, terlihat berat dan kokoh karena terbuat dari kayu jati.


Nyai Asih duduk memandang ke halaman, memandang bunga-bunga yang nampak bermekaran, memandang kumbang yang terbang hinggap kesana kemari, memandang daun yang bergerak tertiup angin, melihat pepohonan yang di sinari cahaya mentari.


Ibu membawakan segelas teh hangat dan singkong rebus untuk nyai, di taruhnya teh dan sepiring singkong di atas meja bulat samping kursi goyang. Baru saja singkong di letakkan di meja, tiba-tiba Nyai Asih muntah. Ia bilang perutnya terasa mual mencium aroma singkong rebus, dan meminta ibu untuk menyingkirkan singkong itu.


Bi Tati belum kembali dari mantri. Ibu menggantikan tugasnya untuk masak pagi ini. Ayah sedang sibuk menyiram tanaman, ia tak ingin tanaman dan bunga kesayangan Nyai Asih nampak layu dan tak segar.


"Mang Engkus," nyai memanggil ayah.

__ADS_1


"Saya nyai." ayah meletakkan ember air, mengeringkan tangan basahnya di baju, lalu menghampiri Nyai Asih.


Ayah duduk bersimpuh di lantai tepat di sebelah Nyai Asih.


"Sudah berapa lama juragan pergi tugas? Apa Mang Engkus tahu?" tanya nyai.


"Sudah dua minggu nyai. Memang ada apa nyai?" tanya ayah.


"Tak apa. Juragan masih dua minggu lagi ya mang." ucap Nyai Asih, wajahnya menggambarkan rasa rindu bercampur sedih.


"Ada yang nyai perlukan lagi?" tanya ayah.


"Tidak ada mang. Makasih ya." balasnya sembari melontarkan senyuman ke ayah.


Ayah pun kembali melanjutkan pekerjaannya mengurus tanaman milik Nyai Asih. Memberi pupuk di tiap pot, mancabuti rumput liar yang tumbuh di sekitar tanaman.


Bi Tati pun datang, membawa bungkusan kertas berwarna coklat yang di ikat tali. Ia datang dengan tergopoh-gopoh, dan langsung menghampiri Nyai Asih yang sedang duduk santai di kursi goyang. Angin bertiup sepoi-sepoi, menambah segar udara pagi ini.


"Teh Tati dari mana?" tanya Nyai Asih pelan.


"Benar itu jamu untuk nafsu makan?" tanya Nyai Asih.


"Betul nyai, teteh buatkan ya untuk nyai." Bi Tati menawarkan.


Nyai Asih mengangguk lemas, kepalanya bersandar pada sandaran kursi goyang. Bi Tati bergegas ke dapur membuat jamu dari mantri. Tak berapa lama Bi Tati kembali bersama ibu, membawa cangkir berisi jamu. Aroma herbal dan rempahnya menyengat, warnanya coklat pekat, nampak begitu kental saat di aduk.


"Mangga di leueut jamunya. Insa Aloh bisa bikin nyai nafsu makan." Bi Tati menyodorkan cangkir sambil tersenyum.


(silakan di minum)


Awalnya nyai terlihat ragu untuk meminumnya. Mungkin karena aroma rempah yang cukup menyengat, akhirnya nyai menutup hidungnya, lalu dengan sekali nafas ia menghabiskan jamu tanpa tersisa. Bi Tati memberikan segelas air putih sebagai penetral, ibu hanya menyaksikan dengan diam.


"Alhamdulillah habis. Kata mantri, jamunya akan bereaksi setengah jam setelah di minum. Jadi nyai tunggu ya. Saya masak dulu ya nyai."

__ADS_1


Nyai mengangguk lemas lagi. Bi Tati berjalan cepat menuju dapur di ikuti ibu. Mereka kembali masak, Bi Tati nampak sangat tak sabar menunggu efek jamu yang telah di minum Nyai Asih, ia tak sabar mendapat pujian dari nyai. Khayalannya sampai jauh ke depan, Bi Tati mendapat pujian juga dari juragan dan pada akhirnya di naikkan upahnya, ia senyum-senyum sambil mengiris bawang.


Ibu sedang sibuk menggoreng ikan, Bi Tati membuat sayur bayam. Sampai akhirnya konsentrasi dan kesibukan mereka buyar setelah Nyai Asih memanggil. Di tinggalkan pekerjaan mereka demi memenuhi panggilan nyai.


"Saya nyai." ucap Bi Tati dengan nafas terengah-engah akibat berlari dari dapur menuju teras rumah.


"Ada apa nyai?" tanya ibu yang nafasnya juga terengah.


"Masakan sudah matang? Saya lapar teh." ujar Nyai Asih.


Wajah Bi Tati dan ibu sumringah, jamu yang di berikan mantri manjur. Senyum mereka lebar, terlebih lagi senyum Bi Tati, tak sabar rasanya mendapat pujian dari nyai dan juragan.


"Sebentar lagi matang nyai. Nyai mau makan?" tanya ibu.


"Ayo bangun nyai. Nyai tunggu di meja makan saja, setelah matang bisa langsung makan." Bi Tati langsung membantu nyai bangun dari kursi goyang, ia tak bisa menyembunyikan kegembiraannya.


Bi Tati dan ibu memapah nyai menuju meja makan. Ayah yang sedang bekerja di halaman pun ikut sumringah mendengar Nyai Asih berkata lapar.


Nasi dan lauk pauk di hidangkan, Bi Tati dan ibu nampak sibuk menata meja makan. Sudah lama mereka tak melihat Nyai Asih menyuap nasi semenjak awal kehamilan nyai, ada kerinduan yang tak bisa di jelaskan. Bi Tati menyendok nasi untuk nyai, hanya satu sendok. Ibu merapatkan piring lauk pauk. Mereka berdua menunggu momen nyai menyuap nasi. Nyai mengambil sebongkah daging ikan goreng, menyendok secentong sayur bayam. Sendok makannya menggali nasi di piring, dan bergerak perlahan menuju mulut. Bi Tati dan ibu saling berpegangan tangan, wajahnya menyiratkan kegembiraan yang tak terhingga.


Sampai akhirnya, satu sendok nasi masuk ke dalam mulut nyai. Nyai perlahan mengunyah, matanya terpejam menikmati tiap kunyahan nasi, sudah lama ia tak makan. Sungguh makin terasa nikmat ketika makanan di telan. Mata nyai terbuka, Bi Tati dan ibu menunggu komentar nyai dengan tak sabaran.


"Gimana nyai?" tanya ibu.


"Enak nyai?" Bi Tati menyambar.


"Mual nggak nyai?" ibu kembali bertanya.


"Ingin muntah nggak nyai?" Bi Tati ikut bertanya.


Nyai menggeleng, ia tersenyum manis. Amat manis.


"Tidak mual teh. Enak." sahut nyai.

__ADS_1


Bi Tati dan ibu bersorak gembira sampai melompat, bagai memenangkan perlombaan antar negara. Ayah senyum melihat dari teras luar rumah. Melihat nyai kembali makan setelah dua minggu berkutat dengan rasa mual dan ingin muntah adalah suatu anugerah. Terbukti kami sangat sayang dengan juragan kami.


__ADS_2