
Aku masih belum menjawab pertanyaan Tika yang segambreng itu. Aku yakin Tika sudah tahu soal Kubil, namun Tika mungkin belum tahu kalau Kubil mengabdi padaku.
"Kenapa masih belum jawab?" Tika menagih.
Aku diam. Kutatap Tika dalam.
Bang Dede datang membawa segelas besar es coklat pesanan Tika. Tak lama, Bang Dede pun meninggalkan kami setelah Tika mengucapkan terima kasih.
Aku tersenyum.
"Kenapa lo senyam-senyum? Ada yang lucu?" Tike kembali bertanya.
Kuhela nafas.
"Gue yakin lo udah tahu soal Kubil kan?" kutanya Tika.
Tika terkekeh. Tawanya tak lepas.
"Tahu, gue tahu soal Kubil yang tinggal di loteng atas kamar kost lo. Tapi yang gue nggak tahu, sejak kapan lo jadi tuannya? Apa tujuan lo Di?" ujar Tika.
Aku diam, tak langsung menjawab. Kuseruput kopiku yang mulai menghangat.
"Untuk apa Di?"
"Lalu, apa bedanya lo dengan Nek Iyah? Sama-sama memelihara demit. Untuk apa? Apa untungnya buat lo?" nada bicara Tika mulai meninggi. Aku hanya diam mendengarnya berucap.
"Di, lo ingat apa tujuan lo tetap tinggal di kost jahanam itu? Untuk menghentikan kejahatan Badriyah dan semua demit peliharaannya kan?"
Aku tak berkata.
"Dan sekarang lo malah berkawan dengan demit. Gue nggak habis pikir sama lo. Ingat Di, kita dengan mereka berbeda. Berbeda alam, berbeda kebiasaan, berbeda kehidupan, berbeda semuanya. Untuk apa lo pelihara Kubil?"
"Tik, Kubil nggak seperti demit lainnya. Gue hanya menolong dia dari demit-demit jahat penghuni rumah kosong itu. Gue cuma.."
"Cuma apa Di? Cuma mau cari informasi tentang Nek Iyah dan seluruh demit peliharaannya? Cuma memanfaatkan Kubil untuk jadi mata-mata lo? Cuma apa?" Tika memotong.
Aku terdiam lagi. Lidahku kelu.
"Sekarang bukan waktunya main detektif-detektifan Adi. Ini masalah serius. Nyawa lo, nyawa gue, nyawa Mas Gun juga, bahkan nyawa orang-orang sekitar lo bakal jadi taruhan. Masalah ini pun nggak akan kelar hanya dengan kita cabut dan pindah dari kost sialan itu. Masalah ini akan terus mengikuti kita dimana pun kita berada. Dan lo tahu kenapa bisa seperti itu?"
Aku menggeleng pelan.
.
.
.
.
.
Tika menghirup nafas, lalu menghelanya.
"Karena lo sudah di tandai." ucap Tika.
Deg. Jantungku berdegup kencang.
"Apa? Di-di-di tandai? Maksud lo apa Tik?" tanyaku terbata.
Tika mengaduk es coklatnya dengan sedotan. Menyedotnya dalam, es coklat yang penuh dan hampir luber kini berkurang. Ternyata Tika memang benar-benar haus.
"Iya, lo sudah di tandai oleh kuntilanak merah itu." ucap Tika.
"Memang apa tandanya? Gue nggak merasa kalau gue sudah di tandai." tepisku.
Tika kembali menyedot es coklatnya. Rasa hausnya belum hilang ternyata.
"Coba angkat baju lo! Gue mau lihat perut lo." pinta Tika.
"Hah? Apa-apaan sih lo, jangan becanda Tik. Masa lo mau lihat perut gue." balasku.
"Di, lo pikir dari tadi gue becanda. Buruan angkat baju lo!" suruh Tika.
Aku ragu.
"Buruan angkat!"
"Beneran Tik?" tanyaku meyakinkan Tika.
"Iya beneran. Cepet angkat baju lo!" suruh Tika lagi.
Perlahan kuangkat bajuku.
"Segini aja kan? Nggak usah sampai atas."
Tika diam, ia melihat ke arah perutku.
"Lo lihat apa sih Tik? Udah belum nih?" tanyaku.
"Tuh! Lo lihat tanda coklat kehitaman di perut lo." suruh Tika.
Aku menunduk, melihat ke arah perutku.
Astaga! Bukankah ini luka tusukan kuku dari kuntilanak merah saat aku mimpi bertemu dengannya? Luka yang pernah membuat perutku nyeri, perih, dan terasa panas. Mengapa luka ini terlihat kembali? Bukankah bekas luka ini sudah lama hilang? Dan jumlahnya ada sepuluh bekas luka tusukan kuku berbentuk huruf c di sepanjang perutku.
"Jadi i-ini tandanya Tik?" tanyaku.
Tika mengangguk pelan.
"Awalnya seperti mimpi yang sangat terasa nyata bukan?" tanya Tika.
"Tapi begitu lo bangun, ternyata luka itu menyakitkan dan nyata berbekas. Benar nggak?"
__ADS_1
"Be-benar Tik." jawabku.
Tika hanya melemparkan senyuman.
"Kenapa lo bisa tahu?" tanyaku.
Tika diam, ia menyedot kembali es coklatnya. Lalu menatapku dengan senyum menyeringai.
"Tik, jangan bilang lo sudah di tandai juga! Tika! Lo juga sudah di tandai?"
Tika tak berkata, ia hanya menatapku.
"Tika, jawab gue! Apa lo sudah di tandai juga oleh kuntilanak merah itu?" aku bertanya.
Tika hanya diam. Tiba-tiba ia melepas satu persatu kancing kemejanya, mulai dari kancing yang paling atas.
"Heh, mau ngapain lo?" tanyaku heran.
Tika melepas kemejanya, ia hanya mengenakan kaus lengan pendek berwarna hitam.
Sambil tersenyum ia memperlihatkan kedua lengannya, ada bekas luka yang sama persis dengan yang ada di perutku. Aku terperanjat melihat bekas luka pada lengan Tika berwarna merah kecoklatan. Jumlahnya pun ada sepuluh bekas luka yang berbaris di lengannya. Bentuknya pun sama persis, seperti huruf c.
Aku tak bisa berkata. Aku tak tahu harus bilang apa. Ternyata Tika dan aku menjadi incaran kuntilanak merah. Kami sudah di tandai. Dan kami tak boleh gegabah dalam bertindak.
"Sejak kapan lo di tandai Tik?" tanyaku dengan pelan.
"Beberapa hari sebelum kita menyelamatkan Yuda." jawab Tika, dengan pandangan kosong. Entah apa yang ia tatap.
"Kenapa lo nggak cerita ke gue sih?" tanyaku lagi.
Tika tersenyum, di ikuti helaan nafas.
"Untuk apa gue cerita ke lo Di? Kita bernasib sama. Sama-sama di tandai dan menjadi incaran kuntilanak merah itu. Bahkan sampai sekarang gue pun bingung, apa yang membuat gue menjadi incaran iblis laknat itu? Apa karena gue sering membantu lo? Atau mungkin karena gue memiliki kelebihan?" ujar Tika.
"Gue nggak tahu penyebabnya Di." lanjut Tika.
Setelah ucapan Tika, kami berdua pun larut dalam diam. Seolah tak ada lagi pembahasan yang hendak di bicarakan. Diam yang cukup lama. Sesekali pandangan mataku bertemu dengan matanya, namun tak ada kata yang terungkap dari mulut kami.
Es coklat di gelas Tika sudah habis, begitu pun kopi dalam gelasku. Bahkan obrolan kami pun ikut habis, termakan oleh diam yang tak berujung. Aku dan Tika sama-sama tak berkata. Otakku memikirkan rencana menyelamatkan diri dari incaran kuntilanak merah. Aku tak berpikir untuk melawan ataupun memusnahkannya. Entah dengan Tika, aku tak tahu isi kepalanya saat ini.
"Di." panggil Tika dengan nada lemas.
"Apa Tik?" tanyaku.
"Apa yang lo pikirin saat ini sama dengan apa yang gue pikirkan sekarang." ujar Tika.
Aku menunggu ia lanjut berkata.
"Untuk saat ini, pikirkan bagaimana kita bisa tetap selamat dari incaran kuntilanak merah dan seluruh pengikutnya, juga Nek Iyah. Sambil menunggu rencana dari Kakek Badrun selanjutnya." sambung Tika.
"Kita hanya bisa berdoa dan mohon perlindungan pada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu jalan yang terbaik." tambah Tika.
Aku hanya mengangguk tanpa berkata.
Tika mengangkat bahunya tanda tak tahu.
Matahari sore mulai meredup. Gelap bias-bias keabuan mulai menyerang langit. Matahari yang angkuh akan di gantikan bulan yang pemalu. Kelelawar mengepakkan sayapnya, setelah seharian tidur menggelantung. Sebentar lagi adzan maghrib berkumandang. Aku dan Tika kembali di selimuti diam.
* * *
Aku dan Tika menumpang shalat di kedai. Kami shalat bergantian, karena ruangan di kedai memang berukuran kecil, sehingga kami tak bisa shalat berjamaah. Aku shalat lebih dulu, di susul Tika. Setelah shalat, aku kembali ke tempat duduk sembari menunggu Tika selesai shalat.
Tika kembali menghampiriku setelah selesai melaksanakan shalat maghrib.
"Mau kemana lagi nih? Masih ada yang mau lo obrolin nggak?" tanya Tika.
"Makan yuk!" ajakku.
"Kok jawabnya makan? Kan gue tanya masih ada yang mau di obrolin lagi nggak?
"Ya kan ngobrolnya bisa sambil makan Tika. Mau nggak?"
"Kalau makan nggak boleh sambil ngobrol Di." balas Tika.
"Iya iya. Gimana, mau makan bareng nggak?"
"Emm, boleh. Kita mau makan apa nih?" tanya Tika.
"Tika mau makan apaaa?" tanyaku dengan nada sok imut sambil meledeknya.
Tika menyiratkan wajah jijik melihatku.
"Jangan sok imut Di, gue geli lihatnya." ujar Tika.
"Hehehehehe. Yaudah yaudah, mau makan apa nih?" tanyaku lagi.
"Terserah, gue ikut aja." jawab Tika.
Wow, keluar dari mulut Tika sebuah kata pamungkas seorang perempuan, yaitu 'terserah'. Sebuah kata yang bisa menjadi jebakan untuk lelaki. Kata 'terserah' mempunyai banyak makna yang tak bisa di jabarkan oleh seorang lelaki. Sepenggal kata yang bisa menjadi boomerang untuk lelaki jika salah menafsirkan.
"Kok jawabannya terserah sih? Terserah bukan jawaban atuh neng." balasku.
"Iya terserah, gue ikut lo aja. Terserah lo mau makan apa. Kan gue di ajak." sahut Tika lagi.
"Yaudah, kita makan soto ayam lamongan aja yuk!" ajakku.
"Emm, boleh tuh. Dimana?"
"Itu di ujung jalan sana, persis di pinggir jalan besar. Yuk!" balasku.
Setelah membayar minumanku dan Tika, kami pun berjalan menuju warung tenda soto ayam lamongan. Jaraknya tak jauh, hanya beberapa ratus meter dari kedai kopi.
Jalan samping kampus masih ramai. Banyak mahasiswa lalu lalang. Banyak warung tenda makanan yang sudah beroperasi. Mahasiswa kelas karyawan pun terlihat banyak kulihat. Ya, para mahasiswa yang jam perkuliahannya di mulai sekitar pukul tujuh malam, diperuntukkan untuk orang-orang yang siang harinya sibuk bekerja, namun tetap mempunyai keinginan untuk menimba ilmu setelah bekerja.
__ADS_1
Tak lama kami pun sampai di warung tenda soto lamongan. Tenda ramai di penuhi oleh pelanggan, namun di ujung ada dua kursi kosong. Alhamdulillah, memang rejeki untukku dan Tika. Tak pikir panjang, kami pun langsung duduk menempati kursi tersebut.
Seorang lelaki dengan kulit sawo matang datang menghampiri kami.
"Pesan apa mas, mbak?" tanya lelaki itu.
"Saya soto ayam tambah ceker ya. Nasinya di campur saja. Tik, mau pesan apa?" aku bertanya pada Tika.
"Saya soto ayam, pakai ati ampela ya. Mas, saya nasinya di pisah, setengah porsi aja ya." ucap Tika.
"Oke. Terus mau minumnya apa nih?" tanya lelaki itu lagi.
Kujawab, "Teh hangat tawar satu."
"Saya es teh manis ya." Tika berucap.
Setelah pesanan kami di catat pada secarik kertas, lelaki berkulit sawo matang pun berlalu.
"Tik, lo belum jawab semua pertanyaan gue soal mustika lho." ucapku.
Seorang mahasiswa yang duduk di sampingku melirik sesaat setelah mendengarku menyebut mustika. Sedangkan Tika hanya diam sambil menahan tawa, sambil menutup mulutnya dengan tangan.
Tika berkedip cepat, memberi kode padaku untuk tak membahas soal mustika. Aku hanya mengangguk pelan.
Lelaki berkulit sawo matang datang, ia memegang nampan berisi dua mangkok soto ayam, dan sepiring nasi. Mangkok besar di taruh di depanku, soto ayam plus tiga potong ceker dengan nasi yang di campur. Lalu si lelaki menaruh mangkok berukuran sedang di depan Tika, soto ayam dengan potongan ati ampela di atasnya. Setengah porsi nasi juga mendampinginya pada piring yang terpisah.
Si lelaki kembali datang membawa segelas teh tawar hangat untukku dan segelas es teh manis untuk Tika. Tanpa panjang kalam, aku dan Tika langsung menyantap soto ayam. Dengan mengucap doa terlebih dahulu.
Benar saja, tak ada obrolan sepanjang kami menikmati suapan demi suapan soto ayam. Kami terhipnotis dengan rasa soto ayam yang segar dan memanjakan lidah. Bulir keringat menyembul di dahiku.
Alhasil, tak butuh waktu lama. Soto ayam ludes bersarang di perutku. Mangkok soto Tika pun bersih. Segelas teh tawar hangat pun habis. Es teh manis Tika hanya menyisakan bongkahan es berukuran kecil di dalam gelasnya.
"Biar gue yang bayar Di." ucap Tika.
"Eh, jangan. Gue aja yang bayar. Udah lo duduk aja." sahutku seraya bangun dari duduk dan langsung menuju gerobak soto untuk membayar.
Setelah perut terisi, kami pun berjalan pulang menuju kost. Kami berjalan pelan, sambil menikmati rasa kenyang. Selama perjalanan, obrolan kami tak menyinggung soal hal gaib sedikitpun. Permasalahan kuliah, kondisi keuangan anak kost, hingga soal asmara masa sekolah yang kami bicarakan. Sesekali tawa meluap-luap. Kami menikmati obrolan kami sepanjang perjalanan.
Hingga sampailah kami di gerbang kost. Aku membuka gerbang kost, Tika masuk lebih dulu kemudian aku. Kututup kembali gerbang kost. Lalu kami berjalan melewati halaman menuju kamar. Tapi dari arah parkiran kost kulihat Kang Ujang lari tergopoh-gopoh menghampiri kami yang sudah berada di garasi.
"Dek Adiii. Deeek." panggil Kang Ujang.
Aku dan Tika menghentikan langkah. Nampak raut wajah Kang Ujang yang terlihat panik di sertai keringat yang membasahi dahinya.
"Ada apa kang?" tanyaku.
Nafas Kang Ujang tak beraturan.
"Hah hah hah. Dek. Itu dek. Hah hah. Itu." ucap Kang Ujang terbata.
"Itu apa kang? Ada apa kang? Kang Ujang tenang dulu, ambil nafas dulu." tuturku.
"Tarik nafas dulu kang." tambah Tika.
Kang Ujang menghirup nafas dalam. Lalu menghembuskannya perlahan. Ia mengatur nafasnya beberapa kali.
Dirasa sudah lebih tenang, Kang Ujang pun berujar, "Dek, cepetan ke kamar! Itu teman kost Dek Adi jedot-jedotin kepalanya ke tembok."
"Apa? Kang Ujang nggak bercanda kan?" tanyaku dengan terkejut.
"Sumpah mati dek, saya nggak bercanda. Udah sana cepat ke kamar!" suruh Kang Ujang.
Aku pun berlari secepat kilat, Tika mengekor di belakangku bersama Kang Ujang. Kulihat lampu kamar kost-ku masih padam, tampak gelap. Aku langsung masuk ke dalam kamar. Tanganku sempat meraih saklar lampu terlebih dahulu, lampu menyala.
"Mas Guun. Maas!" panggilku.
Dug.
.
.
.
Dug.
.
.
.
Dug.
.
.
.
Dug.
Aku terkejut melihat Mas Gun membentur-benturkan kepalanya di tembok. Benturannya memang tak kuat, namun ia seolah tak sadar apa yang sedang ia lakukan. Mulutnya terus saja komat-kamit tak jelas. Sedangkan matanya terpejam. Pemandangan yang membuatku terheran, kelakuan Mas Gun kembali aneh.
"Mas. Mas Gun. Astagfirullah mas. Sadar mas!" ucapku seraya menghentikan kelakuan Mas Gun. Kang Ujang membantuku merebahkan tubuh besar Mas Gun di atas kasur. Mulut Mas Gun terus saja komat-kamit.
"Mas, istighfar mas. Mas Gun!" kutepuk pelan pipi Mas Gun.
Dahi Mas Gun memerah, akibat benturan yang tak ada hentinya.
"Mas Gun. Astaghfirullah mas, kenapa lagi mas? Mas Gun!" terus kupanggil nama Mas Gun, ia masih saja memejamkan matanya. Mulutnya masih saja bergerak.
Apa lagi ini? Gangguan apa lagi yang Mas Gun alami? Kenapa terus saja ada masalah?
__ADS_1