Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 146


__ADS_3

Sudah gelas kedua kopi kubuat untuk menemani obrolanku dengan Kang Ujang malam ini. Pisang goreng hanya tersisa beberapa potong lagi. Terigu renyahnya kini melunak.


Banyak kisah yang diceritakan Kang Ujang. Salah satunya makam Ayah dan Ibunya, terletak tepat di sebelah rumah Kang Ujang. Ia menyuruhku mampir kapan-kapan, aku mengiyakan.


Sekitar pukul sepuluh malam, Kang Ujang pamit pulang. Aku berterima kasih padanya, membawakan pisang goreng dan mengobrol panjang bersamaku. Banyak cerita yang kudapat. Banyak pertanyaan yang terjawab.


Kang Ujang berjalan meninggalkan teras kost, sosoknya hilang setelah melewati garasi.


"Ngobrolin apa saja? Lama banget."


Aku menoleh. Tika sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Entah kapan ia keluar, tak terdengar suaranya.


"Eh Tika. Belum tidur? Mau pisang goreng nggak?" aku menawarkan.


"Ngobrolin banyak hal. Kang Ujang cerita banyak soal kost ini dan masa lalunya." sambungku.


Tika duduk di teras depan kamarnya. Ia tak menggubris soal pisang goreng.


"Lo percaya sama Kang Ujang?" tanya Tika mengagetkanku.


"Hah? Maksudnya?"


"Maksudnya, yang diceritakan sama Kang Ujang itu lo percaya sepenuhnya? Dia kan mengabdi sama Nek Iyah. Bisa jadi ia bermuka dua. Kan kita nggak tahu." ujar Tika.


Aku diam, merenungkan kata-kata Tika. Terdengar masuk akal. Dan mengapa sampai tak terpikirkan olehku sampai sana ya? Ah sial.


"Disini hanya kita berdua yang berjuang Di. Sisanya nggak tahu berada di pihak mana. Termasuk dua cewek di kamar sana itu." Tika menunjuk kamar 11d. Dini dan Ela.


Aku masih diam merenungkan ucapan Tika.


"Lo belum sepenuhnya peka juga ya ternyata. Apa lo nggak curiga dengan Kang Ujang? Tiba-tiba datang membawa pisang goreng. Entah apa keperluannya menemui lo. Dan lo asik aja gitu ngobrol sambil makan pisang goreng. Lo nggak takut pisang itu dikasih sesuatu?"


Ah sial. Aku jadi dilema.


"Tik, gue rasa kecurigaan lo berlebihan deh. Siapa tahu Kang Ujang memang sedang cari teman ngobrol. Jangan gitu Tik." balasku.


"Ya terserah lo. Kalau gue jadi lo, gue akan lebih berhati-hati dengan orang luar. Apalagi orang itu dekat dengan Nek Iyah."


Aku diam tak menanggapi. Tika bangun.


"Jangan lupa shalat tahajud malam ini. Gue masuk duluan ya. By the way, makasih udah ditawarin pisang goreng." ucap Tika di depan pintu, lalu masuk dan mengunci kamarnya.


Apa aku harus curiga dengan Kang Ujang? Kurasa ia berada di pihak yang sama denganku. Tapi dari semua ucapan Tika tadi, memang ada benarnya. Aku memang tak seharusnya percaya pada orang-orang yang dekat dengan Nek Iyah. Karena bisa saja itu strategi mereka.


Aku masuk kamar. Pintu kukunci.


Di ruang tengah, kulihat Mas Gun masih saja tertidur. Meringkuk dengan selimut menutupi sebagian tubuhnya. Aku ke kamar mandi untuk berwudhu.


"Astaga!!" aku terkejut melihat Mas Gun sudah berdiri di depan pintu kamar mandi begitu kuselesai berwudhu.


"Bikin kaget aja sih Mas." sungutku.


Mas Gun diam, tatapannya kosong. Kantung matanya terlihat menghitam. Aku keluar dari kamar mandi, kemudian Mas Gun masuk.


"Allaaaaahu Akbar." kuucap takbir seraya mengangkat kedua tangan dan melaksanakan shalat isya.


"*Malam ini saja. Iya malam ini"

__ADS_1


"Hihihihihi. Iya malam ini."


"Memang sudah waktunya?"


"Hihihihihi. Iya. Malam ini saja*."


Kudengar suara orang berbincang di ruang belakang. Pikiranku terganggu. Siapa itu? Seperti ada dua sedang berbincang. Kucoba tak memedulikannya.


"*Nanti saja tengah malam."


"Hihihihihi. Iya. Malam ini."


"Sudah dapat perintah?"


"Hihihihihi. Iya. Malam ini*."


Eh? Siapa sih mereka? Aku tetap tak menggubrisnya. Kulanjutkan shalat dengan rasa penasaran menggelayut di kepalaku.


.


.


.


.


"Hihihihihi."


.


.


.


.


.


.


.


.


"Hihihihihi. Iya. Malam ini."


"Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatuh" aku salam dan menyelesaikan shalat.


Aku beranjak bangun, karena penasaran. Siapa yang berbincang di ruang belakang kamarku? Sepanjang shalat kudengar suaranya.


Aku terkejut melihat Mas Gun jongkok meringkuk di pojok ruangan. Ia terkekeh dan berbicara sendiri.


"Mas! Mas Gun!" panggilku.


Mas Gun mengacuhkan panggilanku. Ia masih berbicara sambil sesekali tertawa pelan.


"Woi Mas!" kutepuk pundaknya.

__ADS_1


Seketika Mas Gun bangun dari jongkoknya. Ia berdiri. Lalu kembali ke ruang tengah tanpa menggubris panggilanku. Wajahnya nampak datar tanpa ekspresi.


"Mas, lo kenapa Mas?" tanyaku.


Mas Gun duduk di kasur. Tak menjawab. Ia hanya diam.


"Mas, sadar Mas!" kutepuk-tepuk lengannya yang besar.


Mas Gun diam tanpa menjawab. Lalu kembali merebahkan tubuhnya di kasur. Menarik selimut menutup seluruh tubuhnya, Mas Gun kembali tidur. Aneh. Ini bukan Mas Gun. Jelas ini bukan Mas Gun. Kuputuskan, malam ini aku akan tidur di ruang depan.


Kugelar sajadah dan kain sarung untuk alas tidur. Lampu kamar sengaja tak kumatikan. Tiba-tiba saja aku merasa takut dengan Mas Gun. Kupejamkan mataku, mencoba tidur. Namun perasaanku tak tenang. Pikiranku kemana-mana. Sudah pukul sebelas lebih. Suasana pun tampak lebih sepi dari biasanya. Suara jangkrik tak terdengar sedikitpun.


Kualihkan pikiranku dengan melihat-lihat ponsel. Bermain game. Menonton video-video di Youmute. Membaca berita. Apa saja agar mataku lelah dan segera bisa tertidur. Berbagai macam posisi tidur sudah kucoba, mencari nyaman. Namun tak juga mengantuk.


Sampai pukul satu malam, kantuk belum juga menyerangku. Sial, perasaan takutku tak bisa dialihkan sama sekali. Ayo tidur Adi!


...* * *...


"Hahahahaha."


"Hahahahaha."


"Hehehehehe."


"Hahahahaha."


"Hihihihihihihi."


"Hahahahaha."


Aku bangun dari tidurku. Astaga, suara tertawa siapa ini? Sampai membuatku terbangun. Sangat bising dan mengganggu. Terdengar seperti sekumpulan orang sedang bersenda gurau sambil tertawa. Riang sekali.


Aku beranjak bangun. Perlahan kuintip ruang tengah kamar.


Deg deg deg deg deg deg deg deg.


Jantungku berdegup kencang. Mataku kembali tegar.


Mas Gun sedang duduk bersila di atas kasur. Wajahnya menghadap tembok. Ia sedang tertawa dengan riang. Tubuhnya sampai bergetar karena terbahak. Ada apa dengan Mas Gun? Ah sial. Jangan-jangan Mas Gun kerasukan. Nggak benar ini!


Tika. Hanya ada satu nama yang bisa membantuku saat ini. Ya, Tika.


Aku melangkah perlahan ke arah pintu. Mas Gun masih tertawa dengan lepas. Kuputar kunci pintu dengan pelan.


Klekk.


Tiba-tiba tawa Mas Gun berhenti. Jantungku masih berdegup kencang.


Aku menoleh.


Deg. Aku terkejut hampir lompat.


Mas Gun sudah berdiri di belakangku. Langkahnya tak terdengar. Sejak kapan ia disini?


"Mau kemana Adi?" tanya Mas Gun dengan suara pelan dan lirih. Matanya menatapku, tapi pandangannya kosong.


Jantungku berdegup kencang. Tak terkira. Aku hanya berdiri mematung, menelan ludah. Tak berkata.

__ADS_1


"Mau kemana Adi?" tanyanya.


Mas Gun masih berdiri di hadapanku. Sorot matanya kosong menatapku. Apa yang harus kulakukan? Sial.


__ADS_2