
"Assalamualaikum Mas." aku menghubungi Mas Gun.
"Oi. Waalaikumsalam. Dimana lo? Jadi ambil motor gue di rumah Yuda?"
"Jadi Mas. Lo udah kelar kuliah?" tanyaku.
"Udah. Tapi gue lagi di samping kampus nih. Nongkrong dulu sebentar. Lo udah di kost?"
"Belum, ini on the way. Eh Mas, nanti malam jadi ke rumah Kang Ujang?"
"Jadi doooong. Yaudah ya, gue mau pesta seblak nih. Teman kelas gue ada yang ultah, sekelas mau ditraktir seblak. Hehehehehe."
"Oke Mas."
Pembicaraan dengan Mas Gun usai.
Pesta seblak? Hahahaha. Ada-ada saja.
Aku pun kembali melanjutkan perjalanan. Tanpa terasa, cukup lelah juga hari ini. Kuliah pagi, pergi ke rumah Yuda, dan lanjut ke rumah Kemala. Bahkan rute ojek online pun bisa kukalahkan jika seperti ini.
Lalu lintas sore kini semakin padat. Jalan dipenuhi kendaraan bermotor. Jam pulang kantor memang jam paling menyebalkan bagi para pengendara. Asap knalpot yang membumbung tinggi, debu yang beterbangan, suara klakson saling bersahutan. Fenomena di jalan sore hari seperti ini sudah biasa terjadi. Apalagi di Ibu Kota.
Langit semakin temaram. Aku berkendara dengan pelan. Karena padatnya lalu lintas. Sebentar lagi Maghrib tiba. Aku belum sampai di kost. Mas Gun mungkin sedang asik menyuap seblak sambil bercengkrama dengan teman-temannya.
ALLAHU AKBAR. ALLAAAAAAHU AKBAR.
Adzan Maghrib berkumandang, terdengar merdu. Kulihat menara masjid yang menjulang tinggi, tak jauh. Ah pas sekali, di depan sana ada masjid. Sebaiknya aku berhenti untuk shalat Maghrib lebih dulu, sebelum melanjutkan perjalanan.
Masjidnya besar. Banyak pengendara yang berhenti untuk melaksanakan shalat Maghrib. Area parkirnya pun luas. Petugas yang berjaga parkir tampak sibuk mengatur beberapa mobil yang baru saja masuk ke pelataran.
Masjid dua lantai ini sungguh megah, terlihat dari luar. Ada bedug super besar di pojok kiri. Biasanya bedug besar seperti itu terbuat dari kulit lembu. Lampu-lampunya sangat terang dan banyak. Tampak bocah kecil berlarian di selasarnya.
Aku menuju tempat wudhu khusus laki-laki.
* * *
Sekitar pukul 18:35, aku sampai di kost. Lampu kamarku masih padam. Mas Gun belum pulang dari pesta seblak.
Kutengok kamar Tika. Terdengar suara Tika dan Yuli sedang mengobrol, samar-samar. Kubuka kunci dan pintu kamar.
Hmm. Bau amis.
"Kubil."
"Kubil!" panggilku.
.
.
.
"Kubil. Aku tahu kau ada disini. Ayo keluar."
Ssshhh. Terlihat sosok Kubil di ruang belakang. Tepatnya di depan kamar mandi.
"Sedang apa kamu? Sudah lama kau tak menampakkan wujudmu disini." tanyaku.
Kunyalakan lampu ruang depan.
"Ma-maafkan aku Tu-tuan. Sejak terakhir kali aku membantumu melawan demit, aku terluka parah. Aku memulihkan diriku." jawabnya.
"Lalu sekarang apa lukamu sudah membaik?" tanyaku.
"Su-sudah Tuan."
"Kubil. Apa kau tahu kuntilanak merah itu sudah menyiapkan bala tentaranya untuk menyerangku?"
Kubil diam. Wajahnya tampak ketakutan.
"Kenapa kau?" tanyaku.
"A-ampun Tuan." ucap Kubil.
"Ada yang ingin saya beri tahu pada Tuan Adi." lanjut Kubil.
"Apa itu?"
Kubil melihat ke sekeliling kamar, ia masih menampakkan wajah ketakutannya.
"Apa yang ingin kau beri tahu padaku? Ayo cepat bilang." paksaku.
__ADS_1
"Aku. Aku takut juragan." ucap Kubil.
"Apa yang kau takutkan? Ayo bicara padaku Kubil." pintaku.
"Mereka. Mereka. Mereka akan datang lebih cepat dari perkiraan Tuan." ucap Kubil gugup.
"Apa kuntilanak merah beserta pengikutnya yang akan datang lebih cepat?" tanyaku dengan rasa penasaran yang semakin menggebu-gebu.
Kubil mengangguk dengan pelan.
"Kapan itu? Kapan mereka akan menyerang?" tanyaku lagi.
"Aku. Aku. Aku.."
"Aku apa? Katakan padaku Kubil?"
"A-aku tak tahu kapan tepatnya Tuan. Tapi Tuan akan dihadang oleh dua orang terlebih dahulu." jawab Kubil.
Dua orang? Apa maksud dari ucapan Kubil?
"Apa maksudnya dua orang?" tanyaku lagi.
"Dua orang Tuan. Dua orang." jawab Kubil.
"Ma-maafkan aku Tuan. Aku takut. Aku harus pergi dari sini. Aku tak ingin jadi korban." ujar Kubil.
"Kubil, tunggu Kubil. Tunggu. Jangan pergi dulu."
Kubil diam, ia berbalik badan.
"Ada apa Tuan?" tanya Kubil.
"Apa kau tahu kelemahan kuntilanak merah itu? Aku mohon, beri tahu aku."
Kubil diam, ia menatapku.
"Kelemahannya adalah dirimu Tuan. Kau tak perlu takut." jawab Kubil.
Aku terdiam mencerna ucapan Kubil.
"Aku pamit. Terima kasih Tuan Adi." ucap Kubil, lalu ia menghilang tepat di ruang belakang.
Yang harus kuwaspadai adalah serangan mereka yang akan datang lebih cepat. Dan sebelumnya aku akan dihadang oleh dua orang. Dua orang? Manusiakah? Ya, jelas itu manusia. Kubil bilang dua orang. Bukan dua demit. Dua orang, siapa dua orang itu?
"Assalamualaikuuum." Mas Gun tiba di teras kost.
Kepalanya melongok ke dalam kamar, dengan dahi mencilak dipenuhi keringat. Lamunanku buyar.
"Lama banget pesta seblaknya?" tanyaku.
Mas Gun masuk kamar. Ia duduk menyelonjorkan kakinya. Kemudian mengusap-usap perutnya yang membuncit.
"Aduuuuhh." ucap Mas Gun meringis.
"Kenapa Mas?" tanyaku.
"Perut gue mules Di. Kebanyakan makan seblak nih kayaknya." jawab Mas Gun.
"Makanya kalau makan harus sadar. Jangan mentang-mentang ditraktir. Gue yakin lo pasti kalap nih makan seblaknya. Bener nggak?"
Mas Gun senyum, giginya yang tak terlalu besar terlihat.
"Tahu aja lo Di."
"Makan berapa porsi lo Mas?" tanyaku.
Mas Gun berpikir, ia tampak sedang menghitung jarinya.
"Lima kayaknya. Hehehehe."
"Astaghfirullah Mas. Lima porsi? Seblak lima porsi! Masyaallah Mas. Lo sadar makan sebanyak itu?"
"Yaelah Di. Lo kayak nggak tahu aja, seblak memang sebanyak apa sih porsinya? Secuil doang. Tiga suap juga langsung ludes." sahut Mas Gun.
Aku hanya geleng-geleng kepala.
"Terus, jadi nih kita ke rumah Kang Ujang?" tanyaku.
"Jadi dong. Tapi nanti aja, sekitar jam sembilan. Biar seblak turun dulu nih, nanti kan mau makan pisang goreng. Hehehehehe." balas Mas Gun sambil menepuk-nepuk perutnya.
"Perlu ajak Tika nggak?" tanyaku lagi.
__ADS_1
Mas Gun melirikku.
"Yakin lo mau ngajak Tika?" Mas Gun bertanya.
Aku mengangkat bahu.
Mas Gun merapatkan duduknya dekatku.
"Lo suka ya sama Tika?"
Aku terkejut.
"Mulai ngaco nih orang." sahutku.
"Ciyeeee. Ngaku aja sih Di. Malu banget lo cerita sama gue. Bener kan lo suka sama Tika?"
"Mabok seblak lo ya? Udah ah, gue mau mandi." balasku seraya meninggalkan Mas Gun di ruang depan. Ia masih cengengesan meledekku.
"Tembak doooong! Gue setuju deh kalau lo sama dia. Beneran." teriak Mas Gun dari ruang depan.
Semoga dari kamar sebelah, Tika tak mendengar apa yang Mas Gun ucapkan. Dasar Mas Gun yang tak tahu situasi kalau bicara. Harusnya ia sadar, kalau Tika ada di kamar sebelah. Kalau ia dengar bagaimana urusannya?
Ah, masa bodo. Mau dengar atau tidak, biarkan saja.
Kuguyur kepalaku dengan segayung air.
Brrrrrrr. Dingin.
* * *
Saat ini hampir pukul sembilan.
Mas Gun mengunci pintu. Kami bersiap untuk pergi ke rumah Kang Ujang. Sebelumnya sudah kuhubungi Kang Ujang, ia bilang sudah menunggu sejak tadi di rumahnya.
"Pisang gorengnya udah siap belum Di?" tanya Mas Gun.
"Mana gue tahu Mas."
"Lah, memang lo nggak tanya ke Kang Ujang?"
"Enggak. Masa ujug-ujug gue tanya pisang goreng sih Mas. Ya nggak enak dong." jawabku.
"Yuk." ajakku.
Kami berjalan meninggalkan halaman kost.
"WOI, MAU KEMANA KALIAN?"
Kami menoleh ke belakang.
Tika.
"Eh Tik, mau ikut nggak?" tanya Mas Gun.
"Kemana?"
"Ke rumah Kang Ujang. Yuk ikut." ajakku.
"Memang mau ngapain?" tanya Tika lagi.
"Main aja Tik, sekalian ngopi makan pisang goreng. Yuk." balas Mas Gun.
Tika terdiam.
"Ayo ikut!" ajakku.
"Nggak deh. Gue jaga disini aja." jawab Tika.
Eh, jaga? Maksudnya apa?
"Jaga apa Tik?" tanyaku.
"Jaga kost. Takut ada maling. Hehehehe." Tika nyengir.
"Yakin nih nggak mau ikut?" Mas Gun bertanya lagi.
"Nggak deh Mas."
Kami pun pergi meninggalkan halaman kost. Berjalan melewati garasi dan halaman rumah Nek Iyah.
Rumah Nek Iyah tampak sepi. Lampu teras yang remang membuat kesan angker semakin terasa. Se-angker pemilik rumahnya. Seseram kisah yang tersimpan di dalamnya. Serumit masalah keluarganya.
__ADS_1