Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 175


__ADS_3

Kang Ujang datang membawa nampan berisi tiga gelas kopi. Dua gelas kopi hitam dan segelas kopi susu.


"Ini buat Dek Adi. Kopi hitam pahit." Kang Ujang menaruh segelas kopi hitam di depanku.


"Ini buat Guntur. Kopi susu." Kang Ujang menaruh gelas kopi di hadapan Mas Gun.


"Susunya asli nggak nih Kang?" tanya Mas Gun bercanda.


"Ya asli atuh, langsung dari sapinya itu." jawab Kang Ujang.


Kang Ujang mempersilakan kami minum, ia bilang pisang dan adonannya sudah siap. Tinggal cemplungin saja ke minyak panas.


"Ngopi dulu ya, pisangnya nanti dulu." ucap Kang Ujang.


"Halaaaahh santai aja Kang. Nasi sama telor dadar kalau ada juga boleh. Hehehehe." lagi-lagi Mas Gun berkelakar.


Kami pun tertawa.


"Hayuk atuh silakan diminum kopinya. Eh, Dek Adi dan Guntur kemana saja sih? Kok saya jarang lihat. Ada kesibukan di kampus ya?" tanya Kang Ujang.


"Ah enggak Kang. Kampus ya gitu-gitu aja. Tiap hari juga banyak yang sibuk." sahut Mas Gun.


"Enggak sibuk Kang. Cuma, kemarin kita dapat masalah yang lumayan berat." tambahku.


"Masalah apa Dek?" Kang Ujang terkejut.


Aku dan Mas Gun saling melirik.


"Masalah apa sih memangnya?" Kang Ujang bertanya kembali.


"Udah ceritain saja ke Kang Ujang Di. Buat apa disembunyikan." suruh Mas Gun.


Kang Ujang menatap kami dengan raut wajah khawatir.


Aku menghela napas.


"Kang Ujang kenal Yuda kan? Kawan saya yang sering datang ke kost." tanyaku.


"Iya iya. Saya tahu, Yuda yang beli mobil milik almarhum Pak Thamrin kan? Memang ada masalah apa sama Yuda?" tanya Kang Ujang.


Kuceritakan pada Kang Ujang soal mobil antik yang dijual oleh Yuda ke seseorang. Pada akhirnya pemilik mobil itu tewas menjadi tumbal kuntilanak merah. Bahkan Tarjo, montir yang membetulkan mobil itu pun kini tewas. Semua korban memiliki ciri-ciri jenazah yang sama persis dengan Mbak Wati dan Pak Rahmat.


Kang Ujang terkejut mendengar ceritaku.


"Dek, saya takut terjadi apa-apa dengan Dek Adi dan kawan-kawan." ucap Kang Ujang.


"Begini Kang, saya mau tanya satu hal sama Kang Ujang. Saya mohon Kang Ujang jawab dengan jujur kalau Kang Ujang tahu. Tolong jangan disembunyikan, karena nyawa saya sedang terancam." ujarku.


"Apa yang mau Dek Adi tanyakan ke saya? Insaalloh kalau saya tahu akan saya ceritakan." balas Kang Ujang.


Aku menghela napas panjang.


Mas Gun melirikku.


"Kang, apa benar Nek Iyah bersekutu dengan kuntilanak merah dan mencari korban tumbal untuk kesaktian dan awet muda?" tanyaku.


Kang Ujang tampak kikuk.


Ia menelan ludah.


Kang Ujang menghela napas.


"Dek, tanpa saya beri tahu pasti Dek Adi sudah bisa menebaknya. Dengan kejadian yang Dek Adi alami, dan semua masalah yang menimpa Dek Adi. Seharusnya Dek Adi sudah bisa mengambil kesimpulan." jawab Kang Ujang.


Aku diam tak melontarkan pendapat.


Mas Gun menunggu Kang Ujang melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


"Benar. Nek Iyah memang mempraktekkan ilmu hitam dan bersekutu dengan kuntilanak merah." jawab Kang Ujang dengan tegas.


"Ia memang mencari korban tumbal untuk kekayaan dan awet muda, juga untuk kesaktiannya." lanjut Kang Ujang.


Aku mengangguk pelan. Benar. Semua ternyata benar.


"Korban pertamanya adalah Bi Tati. Ajeng, lalu Gendis." tambah Kang Ujang.


"Teman saya yang tewas di rumah kosong itu, apa menjadi tumbal untuk kuntilanak merah juga?" tanyaku.


"Bisa dibilang begitu. Kalau kita lihat kondisi jenazah teman Dek Adi, besar kemungkinan ia adalah korban tumbal untuk kuntilanak merah." jawab Kang Ujang.


Brengsek. Nenek sialan.


Seketika darahku mendidih. Amarahku memuncak. Urat-uratku tegang. Kesal rasanya.


"Kang Ujang tentu ingat kata-kata Hendra pada malam kita tahlil di rumah Pak Rahmat, bahwa Nek Iyah mempunyai kaki-tangan. Ingat kan?"


Kang Ujang mengangguk.


"Apa Kang Ujang tahu, siapa kaki-tangan Nek Iyah?" tanyaku.


Kang Ujang terdiam.


"Siapa Kang? Tolong jangan disembunyikan. Ini demi keselamatan kita semua." Mas Gun berkata.


Kang Ujang menatapku, kemudian menatap Mas Gun. Tatapannya dalam.


"Oji salah satunya. Oji yang bertugas mencari calon korban tumbal untuk dipersembahkan pada kuntilanak merah itu." jawab Kang Ujang.


Aku terkejut mendengar penjelasan Kang Ujang.


Bang Oji salah satu kaki-tangan Nek Iyah. Berarti masih ada yang lain bukan?


"Bang Oji salah satunya. Sepeninggal Bang Oji, lalu siapa yang menjadi kaki-tangan Nek Iyah Kang?" tanyaku.


Kang Ujang terdiam.


"Saya tidak tahu lagi Dek." jawab Kang Ujang pelan.


Dalam hatiku berkata, aku tak mempercayai perkataan Kang Ujang kalau ia tak tahu lagi siapa yang menjadi kaki-tangan Nek Iyah.


"Tolong Kang, nyawa saya sedang terancam. Kuntilanak merah itu sudahenyiapkan bala tentara untuk menyerang saya. Tolong beri tahu saya Kang." aku memohon.


Kang Ujang kembali diam.


"Ada, tapi Dek Adi mungkin tak kenal dengan orang tersebut." ucap Kang Ujang.


"Siapa Kang?" tanyaku.


"Dek Adi kenal Arya bukan?" tanya Kang Ujang.


"Kenal. Kan kita bertiga yang menguburkan jenazah Bang Oji." jawabku.


"Ayahnya Arya adalah salah satu kaki-tangan Nek Iyah. Itu mengapa Arya mendalami ilmu kebatinan. Karena perilaku ayahnya yang seperti itu." jawab Kang Ujang.


"Jadi sepeninggal Bang Oji, yang meneruskan tugas Bang Oji untuk mencari korban tumbal untuk kuntilanak merah itu Ayahnya Arya?" tanyaku.


"Kalau itu saya tidak tahu Dek. Tidak semua saya tahu tentang Nek Iyah. Tidak mentang-mentang saya berkerja untuknya, saya tahu semuanya." ujar Kang Ujang.


Masuk akal juga. Tidak semua Kang Ujang tahu soal Nek Iyah, walaupun ia bekerja di rumah Nek Iyah. Apalagi, Nek Iyah termasuk orang yang tertutup dan jarang bersosialisasi dengan orang sekitar.


"Iya juga sih. Benar kata Kang Ujang Di. Pasti ada saja sesuatu yang Kang Ujang nggak tahu soal Nek Iyah." tutur Mas Gun.


Aku mengangguk.


"Kang, nggak apa-apa kan kalau kita membahas soal Nek Iyah? Karena saya sudah nggak tahu harus mencari jawaban atas semua pertanyaan yang ada di kepala saya, selain bertanya ke Kang Ujang." ujarku.

__ADS_1


"Nggak apa-apa Dek, santai saja." balasnya.


"Eh, saya goreng pisang dulu sebentar ya. Kasihan Guntur sudah nunggu pisang goreng dari tadi." ucap Kang Ujang sembari bangun dari duduk.


"Iya Kang. Aduuuhh saking seriusnya sampai lupa niatan awal silaturahmi kesini. Hehehehe." sahut Mas Gun.


Kang Ujang berlalu ke dapur. Aku dan Mas Gun asik menikmati kopi suguhan dari Kang Ujang.


"Mau tanya apa lagi nih Mas?" tanyaku berbisik pada Mas Gun.


"Tanya aja soal mobil Pak Thamrin Di. Mungkin Kang Ujang tahu soal mimpi lo. Terus kuburan bayi Nyai Asih." Mas Gun berkata.


Ah iya, hampir saja terlupa soal letak makam bayi Nyai Asih.


Aku pun mengangguk.


Tak lama Kang Ujang kembali duduk bergabung bersama kami.


"Sebentar ya Gun, pisangnya lagi di goreng." ucap Kang Ujang.


"Siiiiippp."


"Eh Kang, itu foto siapa yang terpajang di dinding?" tanyaku.


Kami melihat ke sebuah foto berbingkai yang menempel di dinding.


"Ooohh itu. Itu foto Ayah dan Ibu. Yang kecil itu saya." jawab Kang Ujang.


"Saat itu apa Ayah dan Ibu Kang Ujang sudah bekerja di rumah Pak Thamrin?" tanyaku.


Kang Ujang tampak berpikir.


"Sepertinya sudah, atau belum ya. Saya lupa sudah bekerja sama Juragan atau belum. Foto jadul itu Dek." jawab Kang Ujang.


"Aaahh, bicara soal foto. Kang Ujang ingat kan foto yang sempat saya ambil di rumah kosong itu?" tanyaku.


"Iya iya."


"Itu foto siapa Kang?" tanyaku.


"Itu foto Mbak Ajeng. Rumah itu pun rumah milik Mbak Ajeng." jawab Kang Ujang.


"Kalau Kang Ujang bilang Mbak Ajeng menjadi korban tumbal untuk kuntilanak merah, bagaimana cara ia meninggal Kang?" tanyaku.


Kang Ujang menatap langit-langit rumah. Seolah mengumpulkan memori masa lalunya.


"Mbak Ajeng meninggal karena bunuh diri. Ia gantung diri di rumah itu. Entah dapat bisikan atau memang ia sengaja bunuh diri. Yang jelas, sebelum meninggal Mbak Ajeng sempat tak terlihat beberapa hari. Hilang. Tak ada dimana pun. Dan tiba-tiba saja ia ditemukan gantung diri di rumah itu." jelas Kang Ujang.


Wah. Jadi seperti itu ceritanya.


Pas. Kenapa pas sekali? Pas sekali dengan apa yang terjadi pada Bang Oji. Ia sempat menghilang beberapa hari, tak menampakkan wujudnya dan tiba-tiba saja bunuh diri. Ooh aku baru sadar, ternyata terulang lagi kejadian masa lalu di masa sekarang. Mbak Ajeng meninggal gantung diri. Sedangkan Bang Oji meninggal bunuh diri. Dan mereka sama-sama menjadi tumbal kuntilanak merah.


Aku mengerti.


Ya, terbuka tabir misteri yang sudah lama kupertanyakan. Sosok demit wanita yang pernah kulihat di kamarku dengan leher menggantung adalah sosok demit Mbak Ajeng.


Aku mengangguk.


"Kalau Mbak Gendis menjadi gila, meresahkan warga sampai akhirnya di pasung. Betul kan?" tanyaku.


"Iya. Cukup lama Mbak Gendis mengalami gangguan jiwa. Mbak Gendis dipasung di gudang, dan akhirnya meninggal dalam pasungan." tambah Kang Ujang.


Hahahahaha.


Pas. Ini juga pas, sama dengan yang dialami Tarjo si montir handal. Kejadian masa lalu terulang kembali masa sekarang. Mbak Gendis mengalami gangguan jiwa, kemudian meninggal dalam pasungan. Tarjo si montir pun lebih dulu mengalami gangguan jiwa dan kini meninggal. Juga sama-sama menjadi korban tumbal kuntilanak merah.


Jadi seperti itu rupanya.

__ADS_1


Aku yakin, ada demit juga yang mengganggu Mas Gun waktu itu. Sehingga Mas Gun dibuat seperti orang tak sadar dan linglung, itu adalah kejadian masa lalu yang akan terulang kembali di masa sekarang. Namun beruntungnya Mas Gun bisa ditolong. Sehingga tak sampai terjadi hal buruk padanya. Karena tak mendapat tumbal Mas Gun, demit itu pun mengincar calon korban lain melalui mobil antik Pak Thamrin. Dapatlah Tarjo.


Ya. Satu persatu pertanyaan di kepalaku terjawab. Semua saling terkait dan terhubung.


__ADS_2