Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 171


__ADS_3

Gelas kopiku sudah kosong. Aku pun pamit pulang. Aku bersalaman dengan Yuda, lalu kupeluk ia dengan erat.


"Di. Ingat janji lo. Oke." ucap Yuda.


Kulepas pelukan dan mengangguk padanya tanpa berkata.


Motor kunyalakan, suara knalpotnya lebih mirip mesin pemotong rumput. Kotoran yang menempel di mesin sungguh risih terlihat. Entah sudah berapa lama motor ini tak dicuci.


"Da, makasih ya." ucapku.


Yuda mengacungkan jempol kanannya.


Aku memutar gas, motor pun melaju meninggalkan rumah Yuda.


Diperjalanan terngiang rencanaku nanti malam untuk bertemu Kang Ujang. Kira-kira pertanyaan apa saja yang nanti akan kulontarkan pada Kang Ujang? Kupikirkan semua pertanyaan yang sempat menggangguku. Kesempatan nanti malam tak boleh kulewatkan begitu saja, harus kumanfaatkan betul-betul pertemuan kami nanti malam.


Drrrttt drrrttt. Ponsel di kantung celana bergetar.


Aku berhenti di pinggir jalan. Kurogoh kantung dan mengambil ponsel.


Nomor siapa ini?


Kutekan icon menjawab panggilan.


"Assalamualaikum Adi." suara seorang wanita.


"Waalaikumsalam. Maaf, ini siapa ya?" tanyaku.


"Lho, nomor saya tidak disimpan ya?" tanya wanita itu.


"Aduh mohon maaf. Mungkin saya nggak sempat simpan nomor Ibu. Maaf Bu." balasku.


"Iya nggak apa-apa. Saya Mamahnya Kemala Dek Adi."


Mamahnya Kemala?


"Oohh Ibu. Ada apa Bu? Maaf saya nggak simpan nomor Ibu." aku meminta maaf kembali.


"Iya tak apa Dek. Saya cuma mau kasih kabar ke Dek Adi."


"Kasih kabar ke saya? Soal apa Bu?" tanyaku.


"Dek Adi bisa ke rumah saya? Lebih enak kita mengobrol secara langsung, daripada lewat telepon seperti ini."


"Ke rumah Ibu. Emm, apa nggak bisa kita bicara lewat telepon saja Bu?" tanyaku.


"Dek, ini berkaitan dengan kuntilanak merah." ucap Ibu Kemala.


Deg deg deg deg deg. Seketika jantungku berdegup cepat.


"Apa bisa Dek Adi ke rumah saya sekarang?" tanya Ibu Kemala lagi.


"Baik Bu. Saya segera berangkat ke rumah Ibu sekarang juga."


"Oke Dek, saya tunggu. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Pembicaraan kami pun usai.


Kabar yang berkaitan dengan kuntilanak merah? Kabar soal apa ya? Aku diam memikirkan ucapan Ibu Kemala.


Tanpa pikir panjang, aku segera memutar gas motor menuju rumah Kemala. Mumpung belum sore, sebaiknya aku cepat-cepat berangkat.


Motor melaju dengan cepat. Di otakku hanya terpikir apa yang barusan Ibu Kemala sampaikan. Kuntilanak merah.


Setengah jam lebih sedikit, aku sampai di rumah Kemala. Gerbang rumahnya tertutup.


"Assalamualaikuuum." teriakku dari luar.


Kawasan rumah Kemala memang kawasan padat penduduk. Di kanan dan kirinya rumah tetangga, di seberangnya pun rumah.


"Assalamualaikum. Bu. Assalamualaikum." teriakku.


Sepi.

__ADS_1


Tak ada jawaban.


"Cari siapa Dek?"


Aku menoleh. Seorang ibu dengan daster panjang dan tubuhnya yang gempal mendekatiku.


"Saya mau ketemu Ibunya Kemala Bu." jawabku.


"Mau berobat ya?" tanya si Ibu bertubuh gempal.


Apa? Berobat? Bukankah Ibu Kemala tak membuka praktek? Dulu ia bilang seperti itu.


"Berobat? Enggak kok Bu. Mau silaturahmi saja." balasku.


"Sudah janjian memangnya? Biasanya kalau belum janjian susah buat ketemu." ujar si Ibu.


Wah, pakai janjian segala jika mau bertemu.


"Belum janjian sih. Tapi tadi saya dihubungi oleh Ibu Kemala untuk datang ke rumah." jawabku.


"Coba panggil aja Dek. Mungkin nggak dengar." suruh si Ibu. Kemudian ia pergi meninggalkanku.


"ASSALAMUALAIKUM!" teriakku cukup kuat.


Ceklekk. Terdengar samar-samar kunci pintu diputar.


Ibu Kemala. Ia melongok ke arah luar.


"Dek Adi?"


"Iya Bu." jawabku.


Ibu Kemala keluar, ia bergegas mendekat ke arah gerbang. Membuka gerbang dengan cepat. Raut wajahnya terlihat was-was. Ia tampak ketakutan, sambil melirik ke segala arah. Ia tampak pucat, memakai sweater rajut dan selendang yang menutupi lehernya. Ibu Kemala terlihat sakit.


"Masuk Dek." ucapnya.


Aku bergegas masuk. Ibu Kemala mendorong tubuhku, menggiring untuk masuk ke dalam rumah.


Kami masuk ke rumah. Dan duduk di ruang tamu.


Ibu Kemala duduk di sofa seberangku.


"Dek, maaf sebelumnya sampai menyuruh kamu datang kesini." ucap Ibu Kemala.


"Iya nggak apa-apa Bu. Sebenarnya ada apa Bu?" tanyaku.


"Begini Dek. Semalam saya bermimpi didatangi oleh kuntilanak merah." ujar Ibu Kemala membuka pembicaraan.


Aku terkejut.


"Gara-gara mimpi itu, saya teringat dengan Dek Adi. Saya takut terjadi hal buruk dengan Dek Adi. Tapi bagaimana keadaan Dek Adi? Masih sehat kan?"


"Alhamdulillah sehat Bu. Memang bagaimana cerita mimpi Ibu?" tanyaku.


"Waktu itu, saat Dek Adi cerita ke saya soal mustika. Saya sudah punya perasaan tentang hal buruk yang akan terjadi. Untuk itu, saya kembali mempraktekkan kembali ilmu yang diturunkan oleh Ibu saya. Saya memang berniat untuk membantu Dek Adi. Sampai akhirnya, saya kembali membuka pengobatan alternatif ini." jelas Ibu Kemala.


"Lalu?" tanyaku.


"Saya tahu beberapa kali Dek Adi didatangi oleh demit di kost itu. Dan saya tahu Dek Adi dan Tika bertempur dengan beberapa demit pengikut kuntilanak merah itu." lanjut Ibu Kemala.


"Dari mana Ibu tahu?" tanyaku.


Ibu Kemala terdiam. Ia menatapku tajam.


"Karena saya sudah berjanji untuk membantu melindungi Dek Adi. Apa kamu ingat saya pernah berkata seperti itu?" tanya Ibu Kemala.


Astaga. Benar. Ibu Kemala pernah berkata demikian. Ia akan melindungiku dari jauh. Apa benar kalau ia sungguh-sungguh melindungiku?


"Apa Ibu benar-benar membantu melindungi saya?" tanyaku.


"Saya berani sumpah Dek. Saya tak pernah ingkar janji pada siapa pun." ucap Ibu Kemala.


"Bagaimana cara Ibu membantu saya?" tanyaku lagi.


"Untuk caranya bagaimana, tidak bisa saya jelaskan pada Dek Adi. Intinya, saya sudah berjanji dengan kamu dan saya tak akan ingkar janji. Saya akan bantu kamu sampai kamu benar-benar bisa mengalahkan kuntilanak merah itu." terang Ibu Kemala.

__ADS_1


"Bu, terima kasih banyak atas bantuan Ibu selama ini. Maafkan saya kalau saya tidak sadar akan bantuan dari Ibu." ucapku.


"Tidak apa-apa Dek. Saya sangat bersyukur, sampai detik ini kamu dan Tika sehat-sehat saja. Maafkan saya, karena membantu dengan kemampuan saya yang seadanya." balas Ibu Kemala.


"Lalu, bagaimana cerita mimpi Ibu didatangi oleh kuntilanak merah itu?" tanyaku.


"Ah iya, saya sampai lupa menceritakannya."


Ibu Kemala bercerita soal mimpinya.


Ia didatangi sosok perempuan menyeramkan memakai gaun merah. Ibu Kemala dicekik oleh sosok perempuan itu. Perempuan bergaun merah itu berkata, kalau ia tak perlu ikut campur dengan segala urusan yang bersangkutan dengan seorang pemuda.


"Saya ditandai Dek." ucap Ibu Kemala.


"APA? IBU DITANDAI?" tanyaku dengan terkejut.


Ibu Kemala mengangguk.


"Di-dimana Ibu ditandai?" tanyaku.


Ibu Kemala menarik selendang yang menutupi lehernya.


Aku terkejut melihat tanda di leher Ibu Kemala.


Tandanya sama persis dengan tanda yang ada di perutku. Berjumlah sepuluh bekas luka, berbentuk seperti tusukan kuku. Berwarna merah kehitaman.


Aku menelan ludah.


"Pasti pemuda yang ia maksud adalah kamu Dek Adi." ucap Ibu Kemala.


Aku terdiam. Aku merasa tak enak dengan Ibu Kemala. Karena menepati janjinya untuk melindungiku, ia malah menjadi incaran kuntilanak merah juga.


"Bu, maafkan saya. Gara-gara Ibu ikut membantu saya, Ibu menjadi incaran kuntilanak merah juga." tuturku.


Ibu Kemala tersenyum.


"Sudah saatnya Dek. Sudah saatnya semua diakhiri. Jangan ada lagi korban kejahatannya. Saya tahu mereka sedang menyiapkan bala tentaranya hanya untuk menyerangmu. Hanya kamu Dek Adi. Hanya untuk mengambil jiwamu, ia sampai menyiapkan bala tentara. Sudah pasti merasa terancam dengan mustika yang Dek Adi pegang." terang Ibu Kemala.


"Apa benar begitu Bu?" tanyaku.


Ibu Kemala terdiam. Ia seperti menahan sesuatu. Sesuatu yang ingin diungkapkan padaku.


"Semalam Dek. Semalam saya lihat di mimpi saya. Di belakang kuntilanak merah itu, berbaris puluhan demit yang berwajah menyeramkan. Mereka begitu buas melihat saya. Jelas mereka semua adalah pengikut kuntilanak merah itu. Sudah dipastikan Dek." cerita Ibu Kemala.


Aku diam. Menelan ludah. Bulu kudukku berdiri meremang.


"Walaupun itu hanya mimpi. Saya yakin semua itu adalah sebuah pertanda." tambah Ibu Kemala.


Aku tersenyum.


"Dek Adi kenapa tersenyum? Apa ada yang lucu dari cerita saya?" tanya Ibu Kemala.


"Bukan Bu. Saya hanya menertawai diri saya." jawabku.


"Kenapa?"


"Apa saya begitu istimewa di mata kuntilanak merah itu? Sampai-sampai ia menyiapkan bala tentara. Saya tahu semua itu karena mustika yang saya simpan. Benar kan Bu?"


Ibu Kemala kembali terdiam.


"Bu, ada satu hal yang ingin saya ceritakan ke Ibu." ucapku.


"Apa itu Dek? Apa ada sangkut-pautnya dengan kuntilanak merah itu?" tanya Ibu Kemala.


Aku mengangguk.


"Apa Dek?"


"Beberapa hari yang lalu, kuntilanak merah itu mendapatkan dua korban tumbal." ucapku.


"APA?" Ibu Kemala terkejut.


"Ya, dua tumbal sekaligus." lanjutku.


"Dan semalam saya mimpi didatangi oleh dua korban tumbal itu. Dalam mimpi, mereka berkata agar saya bersiap-siap. Karena sebentar lagi waktunya akan tiba." sambungku.

__ADS_1


Ibu Kemala tampak lemas. Yang semula duduknya tegap, kini tubuhnya bersandar pada sofa.


__ADS_2