
"Kenapa. Lo malah tanya kenapa. Lo mimpi apa mas?" tanyaku dengan heran.
"Heh, mimpi?" jawab Mas Gun singkat.
Aku bingung dengan apa yang terjadi pada Mas Gun barusan. Ia seolah tidur, tapi seperti melakukan dialog dengan seseorang. Layaknya orang mengigau saat tidur.
"Lo kayak ngigau mas. Lo ngobrol sama siapa?" tanyaku lagi.
"Eh, ngigau? Gue nggak ngapa-ngapain. Gue nggak ngobrol sama siapa-siapa." tekan Mas Gun.
"Tapi tadi lo tidur sambil duduk, terus lo seperti ngobrol sama seseorang." ungkapku lagi.
"Enggak Di. Gue nggak ngelakuin apa-apa. Lo udah mulai ngaco Di. Sana lo kuliah deh! Keluar dari kamar dan cari udara segar. Sana!" suruh Mas Gun.
Aku di bilang ngaco. Hahahahaha. Jelas-jelas kulihat Mas Gun tidur sambil mengigau.
"Heh! Malah bengong. Udah sana kuliah!" suruh Mas Gun lagi.
"Eh. Hehehehehe. Eng-enggak ah! Gue lagi males mas. Lagian gue janjian bolos sama Yuda hari ini. Hehehehehe." balasku asal.
"Apa? Janjian bolos? Bolos kok janjian. Penyakit mahasiswa baru kayak gini nih." sahut Mas Gun.
"Eh mas, lo udah sehat?"
Mas Gun tertegun.
"Eh, iya nih. Kayaknya badan gue lebih enak Di. Udah nih, gue udah sehat. Tangan gue yang di gips juga udah nggak nyeri lagi nih." ungkap Mas Gun.
Aku sumringah. Alhamdulillah kalau kondisi Mas Gun mulai membaik.
"Semalem itu badan gue nggak enak Di. Perut gue mulas dan terasa mual. Isi perut seperti di obok-obok. Haduuhh, nggak keruan deh rasanya." ujar Mas Gun.
"Tapi sekarang perut lo udah lebih enak kan? Udah ngerasa sehat kan mas?"
Mas Gun menggoyang-goyangkan kepalanya, tangan, dan badannya yang penuh lemak. Seluruh lemak di tubuhnya bergetar.
"Udah Di. Udah sehat nih. Tuh, lo lihat otot tangan gue. Udah kembali ke bentuk semula. Hehehehehe." ucap Mas Gun sembari memamerkan lengannya yang besar.
"Otot apaan! Lemak semua tuh isinya. Hehehehe." sahutku.
Kami pun saling meledek dan tertawa. Alhamdulillah, Mas Gun rupanya sudah benar-benar sehat. Pagi ini menjadi lebih nikmat mendengar dan melihat Mas Gun ceria seperti biasa. Candanya kembali. Tawanya lepas. Senyumnya pun lebar.
Tiiiiinn tiiiiinn tiiiiiinn. Suara klakson menghentikan tawa kami.
Aku melongok ke arah luar.
Yuda duduk di atas motor besar. Masih mengenakan helm yang menutupi seluruh kepalanya.
Aku pun melangkah keluar kamar.
"Mana pesanan gue?" aku menyodorkan tangan meminta dua bungkus bubur ayam.
Yuda membuka helm.
"Nggak ada akhlak lo. Tunggu gue turun dulu kek." Yuda menggerutu, lalu mematikan mesin motornya.
"Nih!" ia menyerahkan kantung plastik bening, ada dua styrofoam kotak dan beberapa tusuk sate. Ini pasti bubur ayam pesananku. Aku senang seraya meraih kantung plastik dari tangan Yuda.
"Hehehehehe. Thank's bro!" ucapku.
Yuda turun dari motor, melepas sepatunya, kemudian masuk ke dalam kamar. Ia duduk di ruang tengah.
"Da, tumben banget pagi-pagi udah kesini." ucap Mas Gun yang sudah berdiri bersandar pada dinding.
"Eh mas, iya nih. Si Adi nitip bubur nih mas. Lo tau kan kalau nggak di bawain dia bisa ngambek, nanti ngacak-ngacak tanaman ibu kost lagi. Bisa berabe urusannya. Hehehehehe." sahut Yuda seraya meledekku.
Tak mengapa kau meledekku, yang terpenting bubur ayam pagi ini bisa mengobati laparku.
"Lho, kata Adi lo sakit mas? Tapi kok kelihatan segar bugar aja nih." Yuda bertanya pada Mas Gun.
Mas Gun duduk bergabung bersamaku dan Yuda. Aku memberikan sekotak styrofoam berisi bubur ayam dan dua tusuk sate usus pada Mas Gun.
"Iya Da, semalam gue nggak enak badan. Muntah-muntah terus. Tapi alhamdulillah sih, sekarang udah mendingan." jawab Mas Gun.
Aku membuat secangkir kopi susu untuk Yuda. Bentuk apresiasi karena membawakan sarapan untukku dan Mas Gun.
"Silakan kopinya Mas Yuda." aku menyodorkan secangkir kopi di depan Yuda.
"Terima kasih Mas Ndesoo. Hehehehe." balasnya dengan nada ramah namun meledek.
Tak apa kau meledekku terus. Sebentar lagi 'jurus memanfaatkan teman' akan segera kulancarkan. Hehehehehe.
__ADS_1
"Da, makasih ya buburnya. Eh, lo udah sarapan?" tanyaku.
Cass. Yuda menyalakan korek api. Ia membakar sebatang rokok.
"Lo kayak baru temenan sama gue Di. Kan lo sering nginep di rumah gue, masa nggak tahu kalau pagi si mbak bikin apa buat sarapan." jawab Yuda.
"Oohh iya ya. Salah tanya gue. Sultan Yuda nggak mungkin perutnya kosong kalau pagi. Maaf ya Mas Sultan. Hehehehe." sahutku.
"Eh Da, lo kan temen baik Adi nih. Masa lo tega sih sama Adi." Mas Gun berkata.
"Hah? Tega? Tega apa maksudnya mas?" Yuda bertanya.
Aku pun tak tahu maksud perkataan Mas Gun.
"Kost sepi nih, nggak ada hiburan. Bisa kali Playstation lo bawa kesini sekaligus tv-nya." rayu Mas Gun.
Aku tersedak. Mas Gun menatapku, Yuda pun menatapku.
"Hahahahahahaha. Gue kirain apaan mas. Ada di rumah tuh, PS 4 jarang gue mainin. Nanti gue bawa kesini deh. Aduuhh kasian kawan gue satu ini. Tenang mas, nanti gue bawain sekaligus tv-nya." jawab Yuda.
"Naaahh gitu dong. Daripada mubazir nggak di pakai. Mending di taruh sini, kan lumayan jadi ladang pahala buat lo Da. Bener nggak Di?" Mas Gun melempar pertanyaan padaku.
Aku hanya diam mengangguk, sambil terus menyuap bubur.
Nah, kena kau Yuda. Mas Gun lebih dulu melancarkan serangan 'jurus memanfaatkan teman'. Tunggu giliranku. Hehehehehe.
* * *
Setelah shalat ashar aku janji bertemu dengan Tika di Kedai Kopi Satu Arah. Kupikir Mas Gun sudah sehat dan sudah baikan, mungkin tak apa jika kutinggal sebentar.
"Mas, gue tinggal bentar ya. Lo nggak apa-apa kan sendiri?" tanyaku.
"Emang gue kenapa Di? Gue sehat, jangan khawatir. Udah sana jalan! Cari udara segar sana, muka lo kusut banget kayak benang layangan. Hehehehe." balas Mas Gun.
"Hahahahahaha. Oke deh. Gue jalan ya." aku pamit.
Aku membonceng di motor Yuda. Setelah Yuda pamit ke Mas Gun, kami pun berangkat. Yuda mengantarku sampai kedai. Ia menolak ajakanku untuk ngopi-ngopi bareng Tika. Yuda bilang ia ada urusan dengan seseorang yang ingin melihat mobil antik yang di beli dari Nek Iyah.
Aku pun di sambut oleh Bang Dede. Seperti biasa, sapaan akrabnya membuatku selalu rindu untuk kembali ngopi di kedai ini.
"Mau ngopi apa nih? Gila, udah lama banget lo nggak kesini Di." ujar Bang Dede.
"Hehehehehe. Selama apa sih bang, perasaan beberapa hari lalu gue masih kesini deh. Waktu itu ngopi sama Yuda disini, masa lo lupa." sahutku.
"Tadi gue diantar sama dia kesini, dia lagi ada janji sama orang. Makanya langsung cabut." jawabku.
"Ooh gitu. Sayang banget, padahal gue ada kopi enak buat dia."
"Kan bisa besok-besok bang. Kayak nggak ada hari lain aja." balasku.
Aku pun memesan segelas vietnam drip, menu kopi kegemaranku. Tika belum datang, terakhir mengirim pesan ia bilang sedikit lagi perkuliahannya selesai. Setelahnya akan langsung menemuiku di kedai Satu Arah.
Tak berapa lama Bang Dede datang membawa segelas kopi pesananku.
"Silakan kopinya." ucap Bang Dede sembari meletakkan segelas kopi di depanku.
Kemudian Bang Dede duduk di hadapanku.
"Lo sengaja datang sendiri buat ngopi disini, apa janjian sama orang sih Di?" tanya Bang Dede.
"Hehehehe. Kebetulan janjian sama temen bang." jawabku.
"Oh janjian sama temen. Makanya gue heran, nggak mungkin lo rela datang sendirian buat ngopi. Pasti ada sebabnya nih." ungkap Bang Dede.
Aku hanya terkekeh sembari mengaduk kopi.
"Yaudah, gue tinggal ya. Gue masih ada kerjaan di belakang. Maaf, bukan nggak mau temenin lo nih. Hehehehe." ujar Bang Dede.
"Oke bang, santai aja."
Sebelum kuseruput, kuhirup aroma kopi dari asap tipis yang mengepul. Aaahh sungguh nikmat. Menghirup harum kopi adalah hal yang paling kusukai setelah membaca buku. Memang terdengar aneh, tapi memang ini kegemaranku.
Sluuurrppp. Kuseruput sedikit. Nikmat tiada tara. Tak terlalu kental, rasa manis sedang bercampur pahit di pangkal lidah. Ditambah sedikit rasa gurih di akhirnya. Sungguh legit.
Soreku lengkap rasanya.
Dari kejauhan kulihat Tika berjalan menuju kedai. Wajahnya datar tak berekspresi. Tapi lelah tersirat dari rautnya. Tika pun sampai, ia langsung duduk di hadapanku kemudian menghela nafas panjang.
"Capek banget sih kelihatannya. Banyak tugas?" tanyaku.
Tika tak menjawab.
__ADS_1
"Mau minum apa Tik?" aku kembali bertanya.
"Emmm, minum apa ya? Pokoknya yang seger, yang manis, yang porsinya banyak. Hehehehe." jawab Tika.
"Waduh, apa ya?"
Kulambaikan tangan ke arah Bang Dede. Dengan sigap Bang Dede langsung menghampiri kami.
"Mau pesan apa nih?" tanya Bang Dede.
"Emm, es coklat aja deh bang. Gelasnya yang gede ya. Soalnya gue haus banget nih." ujar Tika.
"Gelasnya yang gede ya? Kebetulan ember di toilet lagi kosong isinya, mau pakai ember aja nggak?" celetuk Bang Dede.
Tika tak menimpali, aku hanya nyengir kuda. Bang Dede pun meninggalkan kami.
"Mau ngobrol soal apa?" tanya Tika.
"Lo pasti udah bisa nebak gue mau ngobrol soal apa Tik."
Tika senyum.
"Apa? Soal perdemitan dan hal gaib lagi?" tanya Tika.
Aku terkekeh. Diselingi menyeruput kopi, aku pun berujar, "Lebih tepatnya soal mustika sih."
"Mustika? Kenapa sama mustika lo? Dijual lagi? Atau diambil sama Nek Iyah?" tanya Tika sedikit panik.
"Kenapa mustika lo Di?"
"Tik santai Tik. Tenang. Mustikanya aman. Nggak dijual, nggak diambil, ataupun hilang. Mustika itu gue pakai dan nggak pernah gue lepas." aku menenangkan.
Tika mengelus dada.
"Gue kirain mustika lo dijual lagi." ucap Tika seraya menghela nafas.
"Terus, mustika lo kenapa?" tanya Tika.
Aku merapatkan kursi ke arah meja.
"Gue mau tanya. Apa yang lo ketahui soal merawat mustika?" tanyaku.
"Apa sebuah keharusan bagi pemilik mustika, untuk selalu merawat atau memberi makan mustika yang di pegangnya?" tanyaku lagi.
"Kalau memang harus di beri makan, apa makanan dari mustika? Apa sama dengan yang kita makan?"
Tika diam, ia belum menjawab pertanyaanku. Ia hanya senyum menatapku.
"Bukankah Kanjeng Ratu Sekar Dara juga memberikan lo sebuah mustika saat kita di alam lain waktu itu?"
"Apa lo juga merawat dan memberi makan mustika pemberian Kanjeng Ratu Sekar?" pertanyaanku mengalir dengan deras.
Aku diam memandang Tika. Tika pun diam menatapku dalam.
"Sumpah Tik, gue buta dengan hal-hal macam ini. Tolong Tik. Tolong, kalau lo tahu semua yang gue tanyakan, tolong jawab." aku memohon pada Tika.
Tika masih saja larut dalam diam. Tatapannya tak sedetik pun teralihkan, masih menusuk ke dalam mataku.
Seketika tubuh Tika mendekat ke meja. Raut wajahnya serius.
"Dari mana lo tahu soal merawat mustika?" Tika bertanya.
"Dari mana lo tahu kalau mustika harus diberi makan?"
"Lo tadi bilang sendiri, kalau lo buta dengan hal-hal gaib macam ini. Terus, dari mana lo tahu kalau mustika harus dirawat dan diberi makan?" pertanyaan Tika membungkamku.
Aku jadi kikuk. Aku bingung.
"Siapa yang memberi tahu lo soal merawat mustika?"
"Jelas bukan Kakek Badrun kan?"
"Di, apa yang sebenarnya lo sembunyiin dari gue?"
Gelagatku makin tak nyaman.
"Ada apa di loteng kamar lo?"
Jantungku berdegup.
"Tolong jawab dulu pertanyaan gue. Tolong Di. Setelah itu, akan gue jawab semua pertanyaan lo. Dan akan gue jawab juga pertanyaan yang nggak lo tanyakan ke gue." ujar Tika.
__ADS_1
"Gimana?" Tika tersenyum.