
Ada apa ibu Kemala menanyaiku? Dan kenapa juga Kemala harus marah-marah padaku? Aku ragu untuk menghubungi ibu Kemala. Kira-kira ada apa ya? Apa ia ingin membahas soal ceritaku kemarin? Atau ia ingin tahu lebih dalam soal mustika yang tak berguna itu? Mustika abal-abal pemberian Kakek Badrun, yang konon bisa membuat pemegangnya menjadi tersohor, jauh dari bahaya, dan bisa kaya raya. Semua hanya bualan, bahkan saat mustika ada di tanganku mengusir kuntilanak merah dari kamarku saja tidak mampu. Aku di tipu oleh kakek tua renta.
Aku seperti ragu untuk menghubungi ibu Kemala. Sudah pukul 11:15, aku pun sudah di dalam kelas mengikuti perkuliahan, namun pikiranku melayang entah kemana. Teringat penampakan kuntilanak merah, teringat kata-kata ibu Kemala, teringat omongan Kakek Badrun, semua berkumpul jadi satu. Aku hanya menatap jauh keluar, memandang genteng-genteng rumah berwarna orens dari lantai lima, melihat pepohonan rimbun yang daunnya bergoyang di tiup angin.
"Bro," Yuda menepuk pundakku.
Aku menoleh ke Yuda.
"Kenapa bro? Muka lo kusut banget" ucap Yuda.
"Belum ngopi ya? Habis ini kita ke Satu Arah yuk!" ajak Yuda.
Aku diam tak menjawab.
"Mau nggak bro?" Yuda bertanya.
Sepertinya aku butuh sedikit ketenangan.
"Kuy lah!" ucapku sambil tersenyum.
Kelas telah usai, Yuda langsung menarik tanganku.
"Yuk, kita ngopi!" ajak Yuda.
"Oke, tapi sebentar ya. Gue mau hubungi seseorang dulu, penting." balasku.
"Yaelaaahh siapa sih Di? Pake menjauh segala dari gue, palingan Kemala." Yuda sungut-sungut.
Aku menjauh dari Yuda, agar ia tak menguping apa yang ku bicarakan dengan ibu Kemala. Kok, jantungku berdegup cepat ya, ada apa ini? Aku pun menekan icon telepon, menghubungi ibu Kemala.
Tersambung.
"Assalamualaikum. Siapa ya?" ibu Kemala menjawab.
"Waalaikumsalam. Saya Adi bu, saya dapat pesan dari Kemala untuk menghubungi ibu. Sebenarnya, ada apa bu?" ujarku.
"Ya ampun Dek Adiii. Dari pagi ibu suruh Kemala agar kamu menghubungi ibu. Tapi Kemala bilang kamu nggak respon."
Aku menjawab, "Iya maaf bu, tadi pagi saya repot angkut-angkut baju. Rencananya hari ini mau pindah dari kost sana."
"Pindah? Kamu yakin mau pindah dek?"
ibu Kemala bertanya.
"Sangat yakin bu. Saya rasa, saya sudah nggak sanggup tinggal di sana. Lagipula, mustika yang ibu bilang dapat melindungi saya, ternyata nggak berkhasiat sama sekali." jelasku panjang.
"Dek Adi,"
Ibu Kemala memanggilku, lalu diam.
"Tolong jangan pindah dek, tolong. Semua yang kamu lihat semalam itu hanya halusinasi saja. Si Merah sudah memperdaya kamu, ia menjadi lebih kuat sekarang, setelah mendapat tumbal yang terakhir. Tolong jangan pindah dek. Saya mohon jangan pindah, kamu yang nantinya akan menghentikan semua kejahatan yang sudah lama terjadi dan terselubung. "
ibu Kemala menjelaskan panjang.
__ADS_1
Mendapat tumbal yang terakhir? Apa yang di maksud Pak Rahmat? Lalu, kenapa ibu Kemala bisa tahu? Dan, apa maksudnya aku yang akan menghentikan kejahatan?
"Apa maksudnya tumbal terakhir? Memang siapa yang di jadikan tumbal terakhirnya bu?" tanyaku.
Ibu Kemala diam.
"Halo, bu. Ibu. Ibu!" panggilku.
Lalu bunyi-bunyian tak jelas ku dengar sangat berisik dan memekakkan telinga, entah gangguan sinyalku atau gangguan sinyal ibu Kemala. Panggilan pun berakhir.
Ah, kenapa membuatku makin penasaran. Apa sebenarnya yang di maksud oelh ibu Kemala? Aku yang akan menghentikan kejahatan yang sudah lama terjadi dan terselubung, apa maksudnya itu?
Kriiiiiinnnggg.
Ponselku berdering.
"Bro Adi, kita jadi ngopi nggak nih?" di saat yang bersamaan Yuda mengajakku pergi ke Kedai Satu Arah, dan ibu Kemala kembali menghubungiku.
"Lo duluan aja, nanti gue nyusul." suruhku ke Yuda. Lalu ku jawab telepon dari ibu Kemala.
"Bu," ucapku.
"Dek Adi, tolong kamu jangan sampai pindah ya!" ucap ibu Kemala di telepon.
"Kenapa saya nggak boleh pindah Bu? Ibu bisa jelasin, kenapa ibu menyuruh saya tetap tinggal di kost itu?" tanyaku dengan penuh kecemasan.
"*Dek, seperti yang saya bilang kemarin. Kamu orang terpilih dan sudah di tandai. Kamu yang akan mengakhiri semua kejahatan yang ada di sana. Kelompok mereka satu persatu telah mundur, hanya tersisa dua. Kuntilanak merah dan Badriyah."
Deg deg deg deg deg*.
"Kamu saya bantu lindungi dari sini dek. Kamu jangan takut ya. Kembalilah ke kost itu malam ini." ibu Kemala meminta.
"Bagaimana saya bisa tahu kalau ibu melindungi saya? Sedangkan mustika yang ibu bilang sakti, tak berpengaruh pada saya." balasku.
"Mustika itu akan berguna jika yang memberi hadir dekat sana dek. Kamu percaya sama saya dek, saya akan melindungi kamu."
ibu Kemala kembali memohon.
"Benar ibu akan melindungi saya?" aku meyakinkan.
"Benar dek. Jangan lupa minta perlindungan juga dengan shalat dan berdoa. Saya bantu dari rumah."
Aku bingung dan ragu. Apa aku harus kembali ke kost itu? Apa ibu Kemala berkata benar?
"*Percaya sama saya dek. Setelah semua berakhir, kamu akan tahu semuanya dari orang yang memberimu mustika.."
Tuut tuut tuut*.
Panggilan ibu Kemala pun berakhir.
Aku diam mematung, mencerna segala omongan dari ibu Kemala. Sebenarnya siapa aku? Apa spesialnya dari seorang Adi anak kampung ini?
Aku pergi menyusul Yuda ke Kedai Kopi Satu Arah. Di lift aku bertemu dengan Kemala, ia nampak dingin, tak melirikku. Melirik saja tidak, apalagi menyapa, jangan kau terlalu berharap pada perempuan ini Adi, gumamku dalam hati. Lift sampai di lantai dasar, Kemala berlalu keluar dari lift. Lagi-lagi tak melihat kehadiranku, ah biarlah. Aku berjalan pelan menuju kedai kopi.
__ADS_1
Siang ini langit nampak mendung, warnanya kelabu. Angin bertiup beberapa kali, menerbangkan dedaunan kering. Membuat pusaran di jalan. Apa malam ini akan turun hujan?
Yuda sudah duduk santai menghisap rokoknya, di temani Bang Dede.
"Lama banget sih? Habis telponan sama siapa? Kemala?" tanya Yuda.
"Eh Adi, udah sehat lo?" tanya Bang Dede sembari mengusap-usap bahuku.
"Hah, sehat? Emang gue sakit bang?" tanyaku heran, lalu duduk di sebelah Bang Dede.
Kak Nia tiba-tiba datang membawa secangkir kopi pesanan Yuda.
"Alhamdulillah, akhirnya datang juga. Gimana, udah sehat Di?" sambar Kak Nia.
Sehat? Sejak kapan aku sakit?
"Lo berdua apaan sih tanya gue udah sehat? Memang kapan gue sakit bang? Kapan kak?" tanyaku makin heran.
Yuda menyeruput kopinya. Ia hanya memperhatikan tanpa berkata.
"Kemarin Di." ucap Bang Dede.
"Kemarin kapan bang?" tanyaku lagi.
"Kemarin itu lho, pas lo datang ke sini sama kawan lo yang mirip jin botol. Kepalanya botak, badannya tinggi gede. Yang satu lagi pendek." jelas Bang Dede.
Mas Gun? Iya, waktu itu aku datang bersama Mas Gun, dan tak lama kemudian llham datang. Hari itu Bang Dede dan Kak Nia memang terlihat beda, mereka sama sekali tak menegurku, bahkan nampak acuh.
"Iya, ingat gue. Itu gue nggak sakit bang!" ujarku.
"Lo sakit Di, makanya gue nggak tegur lo, takut lo terganggu. Gue lihat lo diam aja sambil nunduk. Terus muka lo pucet banget." terang Bang Dede.
Hah? Wajahku tertunduk dan pucat? Perasaan, saat itu aku baik-baik saja.
"Iya Di. Gue lihat lo dari dalam juga aneh. Kayak bukan lo yang biasa. Diam aja, terus bengong aja. Makanya gue juga nggak berani tegur lo." tambah Kak Nia.
Astaga, apa itu efek dari mustika yang ku kantongi?
"Ah masa sih? Tapi Wahyu biasa aja ke gue." ujarku.
"Dia kan waiters, masa nggak tawarin lo minum. Kalau Wahyu diam aja seperti gue sama Nia, ya gue pecat! Hehehehe." jawab Bang Dede.
Apa yang mereka lihat saat itu bukan aku?
"Memang lo berdua lihat gue gimana?" tanyaku ke Kak Nia dan Bang Dede.
"Muka lo pucat, lo bengong aja. Udah gitu lo nunduk doang. Nggak makan, nggak minum. Kawan lo pada ngobrol sambil ketawa, lo diam aja." cerita Kak Nia yang saat itu melihatku dari balik meja kasir.
Kesimpulanku adalah gegara aku mengantongi mustika itu. Saat di warung makan sunda pun, aku melihat penampakan makhluk tinggi besar dengan bulu lebat berwarna hitam, meneteskan air liurnya ke etalase lauk pauk, juga penampakan pocong yang memenuhi tiap sudut warung itu.
Aku tak cerita soal pengaruh mustika ke Bang Dede maupun Kak Nia, aku jawab sekenanya dan mengaku saat itu aku sedang tak enak badan. Masalah pun selesai.
Sekarang, tinggal berpikir apa aku keluar dari kost itu, atau aku kembali dan tetap tinggal di sana? Bathinku berkecamuk. Mungkin segelas kopi membuat otakku dapat berpikir jernih.
__ADS_1
"Bang, Vietnam Drip ya. Panas." aku memesan.