
"Di. Adi. Bangun Di. Adi." kudengar suara Mas Gun. Tubuhku terasa diguncang.
"Adi. Bangun Di." suara Tika menyadarkanku.
Kubuka mataku pelan. Wajah Mas Gun dan Tika tak jelas terlihat. Buram.
Kukedip-kedipkan dengan cepat.
Jelas. Penglihatanku jelas.
Mas Gun dan Tika terlihat dengan wajah kotor. Ada noda hitam di pipi mereka. Aku bangun dan duduk. Melihat ke sekeliling.
"Di. Kita berhasil Di." ucap Mas Gun dengan wajah sumringah.
Aku belum sepenuhnya sadar, kulihat ke sekelilingku. Di kejauhan kulihat kobaran api berwarna putih cukup besar.
BRUK. Tika memelukku erat.
"Kita berhasil Di. Kita berhasil." ucap Tika sambil menangis.
"A-apa yang berhasil?" tanyaku.
"Kita berhasil memusnahkan kuntilanak merah itu Di. Alhamdulillah kita berhasil Di." jawab Mas Gun.
Tika melepas pelukannya.
"Benar apa yang Mas Gun bilang Tik?" tanyaku masih tak percaya.
Tika mengangguk tanpa berkata.
Aku tersenyum menatap Tika. Aku tersenyum menatap Mas Gun.
"Terus kenapa lo nangis sih?" tanyaku pada Tika seraya menyeka air mata di pipinya.
Tika tersenyum padaku.
"Yaelaaaahh. Kenapa harus ada adegan kayak gitu sih? Bete banget gue lihatnya, kayak sinetron di tivi." tukas Mas Gun.
Aku dan Tika tersenyum.
Aku bangkit berdiri, Tika membantuku. Kulihat Kakek Halim mendekat ke arah kami. Ia berjalan dengan langkah pincang. Wajah teduh dan senyumnya tak pernah pudar, menyejukkan.
Aku mendekatinya, membantunya berjalan.
Kakek Halim menatapku.
"Kau berhasil cucuku. Kalian berhasil memusnahkan kuntilanak merah itu." ucap Kakek Halim.
Kakek Halim memandangi api yang berkobar.
"Dimana Nek Iyah dan Kakek Badrun? Apa mereka selamat Kek?" tanyaku.
Kakek Halim tersenyum padaku, di ujung matanya menitikkan air mata. Tika tertunduk. Sedangkan Mas Gun hanya diam.
"Kek, dimana Nek Iyah dan Kakek Badrun? Mereka selamat kan?" tanyaku lagi.
"Hei. Jangan bilang mereka mengorbankan jiwa mereka untuk memusnahkan kuntilanak merah itu?" tambahku.
Mereka semua diam.
Dadaku sesak terasa. Ada rasa yang tak bisa diungkapkan. Ada kata yang tak bisa diucapkan. Ada perasaan lain yang tak bisa dijelaskan. Dan air mataku tumpah ruah. Aku jatuh terduduk menatap kobaran api di kejauhan.
Kakek Halim berjongkok. Tangannya menepuk-nepuk pundakku pelan.
"Itu memang sudah keputusan mereka. Itu memang sudah takdir mereka. Relakanlah. Aku yakin mereka melakukan hal tersebut bukan tanpa sebab." ucap Kakek Halim menenangkanku.
Aku merasa terpukul atas kepergian Kakek Badrun. Orang yang banyak berjasa menolongku, menolong Yuda, dan Mas Gun. Orang yang membimbingku dalam menghadapi ancaman kuntilanak merah.
Ya Allah, semoga apa yang Kakek Badrun dan Nek Iyah lakukan menjadi amal baik untuknya. Aku yakin mereka orang baik. Terlebih lagi Nek Iyah, walau semasa hidupnya bersekutu dengan kuntilanak merah itu kuyakin Tuhan akan mengampuni segala dosa-dosanya. Kuyakin Nek Iyah sungguh-sungguh menyesali segala perbuatannya.
Aku bangkit berdiri.
"Aku yakin mereka sudah tenang di alam sana. Mereka sudah berbuat baik. Mereka melakukan hal benar. Insyaallah, semua yang menjadi korban pada pertempuran malam ini dan membela kebenaran akan husnul khatimah. Bi Yana, Badriyah, juga Badrun. Tak lupa demit kecil yang rela datang menolong kita. Semoga semuanya mendapat tempat yang layak." ujar Kakek Halim.
Kami hanya mengangguk mendengar Kakek Halim.
"Tapi Kek, kami benar-benar merasa tak berjasa sedikit pun Kek. Kakek Badrun dan Nek Iyah yang jelas sangat berjasa. Mereka mengorbankan jiwa mereka untuk memusnahkan kuntilanak merah itu." tuturku.
Kakek Halim tersenyum.
"Adi, Tika, dan Guntur. Kalian semua berjasa. Tak ada yang tak mempunyai andil dalam pertempuran malam ini. Semua bahu-membahu melawan kuntilanak merah beserta pengikutnya. Semua merasakan sakit, merasakan perih, marah, sedih, dan lainnya. Kita semua telah berjasa memusnahkan iblis itu Nak." balas Kakek Halim.
Aku mengangguk.
"Lalu, setelah ini bagaimana Kek?" tanya Tika.
Kakek Halim tersenyum menatap Tika.
__ADS_1
"Bagaimana apanya? Lanjutkan hidup kalian seperti sedia kala. Tak ada yang perlu kalian risaukan. Kembalilah ke kehidupan normal seperti biasa." jawab Kakek Halim.
Kami tersenyum sambil berpegangan tangan.
Tiba-tiba terdengar bunyi lonceng dari kejauhan, serta ringkikan kuda.
"Lihat siapa yang datang!" Kakek Halim menunjuk ke atas langit.
Ada cahaya hijau yang berkelip di kejauhan.
"Apa itu Kanjeng Ratu Sekar Dara?" tanyaku.
Kakek Halim tersenyum.
Semakin lama cahaya hijau itu terlihat jelas. Sebuah kereta kencana mewah berlapis emas dan batu permata di sekelilingnya. Ada dua ekor kuda putih yang sangat gagah dan terlihat cantik. Di tiap kepala kuda ada hiasan berupa mahkota kecil dari emas dan beberapa buah batu permata berwarna merah.
Kuda meringkik, kereta kencana berhenti tepat di depan kami. Di atas kereta kencana duduk seorang wanita yang sangat cantik bermahkota. Rambutnya tergerai lurus dan panjang. Memakai kemben berwarna putih dengan balutan benang emas dan rangkaian bunga berwarna hijau. Mengenakan kain batik dan selendang berwarna putih.
Kanjeng Ratu Sekar bangun dari duduknya. Ia turun dari kereta kencananya. Wangi semerbak bunga memenuhi lubang hidungku. Sangat wangi. Ia tersenyum.
Kakek Halim menundukkan wajahnya.
"Salam Kanjeng Ratu Sekar." ucap Kakek Halim.
"Salam." balas Kanjeng Ratu Sekar.
Aku, Tika, dan Mas Gun menunduk seraya mengucap salam.
Kanjeng Ratu Sekar Dara tersenyum melihat kami.
"Halim, kuucapkan terima kasih atas bantuanmu pada anak-anak ini. Kau memang orang baik, Halim. Sebagai balasan atas bantuanmu, akan kuberikan harimau putih lainnya sebagai pengganti peliharaanmu yang mati karena kuntilanak merah itu. Terimalah Halim." ucap Kanjeng Ratu Sekar seraya mengibaskan selendangnya.
Lalu, entah dari mana datangnya. Tiba-tiba seekor harimau putih muncul dari balik kereta kencana Kanjeng Ratu Sekar. Harimau putih itu mendekat ke arah Kakek Halim. Menjilati wajah Kakek Halim.
"Terima kasih banyak Kanjeng Ratu." ucap Kakek Halim.
Kakek Halim menundukkan wajahnya, memberi hormat pada Kanjeng Ratu Sekar. Kanjeng membalas dengan menunduk.
"Adi." panggil Kanjeng Ratu.
"Saya Kanjeng Ratu." sahutku sambil menunduk.
"Maafkan aku, karena datang terlambat." ucap Kanjeng Ratu Sekar.
Aku diam sambil menundukkan wajah.
"Baik Kanjeng Ratu." sahutku.
"Ampun Kanjeng Ratu. Apa boleh saya meminta satu hal pada Kanjeng Ratu?" ucapku dengan gugup.
Kanjeng Ratu Sekar Dara tersenyum.
"Sebutkanlah permintaanmu." balas Kanjeng Ratu Sekar.
Aku tak bisa menahan. Tangisku pun kembali pecah.
"Ma-maaf K-K-Kanjeng Ratu. Ma-maafkan saya." ucapku sambil terisak.
Kanjeng Ratu Sekar hanya tersenyum.
Kucoba tenangkan diriku. Tika merangkulku, mengusap-usap pundakku.
"Tenangkan dirimu dulu Nak." ucap Kakek Halim.
"Ma-maafkan saya Kanjeng Ratu." ucapku sambil menunduk.
"Tidak mengapa Nak." balas Kanjeng Ratu.
"Sekarang, sebutkan apa permintaanmu."
"Ampun Kanjeng Ratu. Permintaan saya yaitu tolong selamatkan Kakek Badrun, hidupkan lagi Kakek Badrun. Tolong Kanjeng Ratu. Tolonglah." aku memohon.
Kanjeng Ratu Sekar tersenyum. Ia melangkah mendekatiku.
Tangannya menepuk pundakku dengan pelan.
"Nak Adi, bagaimana mungkin seorang makhluk sepertiku melewati kehendak Sang Pencipta? Maut adalah ranah Sang Pencipta. Jika sudah dijemput maut, mana bisa seorang makhluk kembali? Aku sama seperti kalian, aku sama seperti kuntilanak itu. Sama-sama makhluk ciptaan Sang Maha Kuasa. Aku tidak mempunyai daya upaya menghidupkan seseorang Nak." ujar Kanjeng Ratu Sekar.
"Nak Adi, aku tahu kau merasa sangat kehilangan. Aku pun begitu. Badrun adalah sahabatku. Tapi aku tak bisa berbuat apa-apa Nak. Ini sudah garis takdir yang tidak dapat diganggu gugat. Kuharap kau mengerti." tambah Kanjeng Ratu Sekar.
"Walaupun aku datang di saat pertempuran itu dan ikut membantu memusnahkan kuntilanak merah, tapi kalau memang maut sudah datang. Maka tak akan ada yang bisa menghalangi. Kau mengerti Nak?" tanya Kanjeng Ratu Sekar.
Aku mengangguk sambil masih terisak.
"Sebutkan permintaanmu yang lain Nak."
Aku menggeleng.
__ADS_1
"Cu-cukup Kanjeng Ratu. S-sa-saya tidak mau apa-apa lagi." jawabku terbata.
Kanjeng Ratu Sekar Dara tersenyum.
"Badrun dan Badriyah sudah berjuang untuk memusnahkan kuntilanak merah itu. Aku sangat menghargai jerih payahnya. Aku pun berterima kasih padanya. Ini, kenang-kenangan untukmu Nak." ucap Kanjeng Ratu Sekar.
Kanjeng Ratu Sekar membuka telapak tangannya, lalu ada sebuah cahaya berwarna kuning.
"Ini adalah mustika milik Badrun. Kuberikan padamu Nak Adi, sebagai kenang-kenangan dari almarhum Badrun. Mustika ini di dapatnya dari Gunung Komang. Kau simpanlah." ucap Kanjeng Ratu seraya menyerahkan mustika padaku.
"Untuk apa ini Kanjeng?" tanyaku.
Kanjeng Ratu Sekar tersenyum.
"Kau simpan saja sebagai pengingat, bahwa kau pernah berkawan dengan Badrun." jawab Kanjeng Ratu Sekar.
"Tika." panggil Ratu Sekar Dara.
"Saya Kanjeng Ratu."
"Kau anak yang pemberani. Ilmumu akan lebih berkembang jika kau terus bersama Adi. Mustika milikmu dengan mustika milik Adi mempunyai keterkaitan Nak. Teruskan berbuat baik pada orang yang membutuhkan, sama seperti apa yang di lakukan Nenek dan Bibimu." ucap Kanjeng Ratu Sekar.
"Baik Kanjeng Ratu."
Kanjeng Ratu Sekar tersenyum menatap Mas Gun.
"Guntur,"
"Sa-saya Kanjeng Ratu." jawab Mas Gun gagap.
"Kau mempunyai ilmu yang tak terduga. Kau memiliki sebuah perisai yang sangat kuat. Gunakan kekuatanmu untuk kebaikan orang banyak. Lebih rajinlah menuntut ilmu, maka kekuatanmu akan mendatangkan kebahagian untukmu dan keluargamu." ujar Kanjeng Ratu Sekar.
"Ba-baik Kanjeng Ratu."
Kanjeng Ratu Sekar menoleh ke arah kobaran api berwarna putih yang tak padam.
"Sekarang, tugasku adalah menghancurkan api itu dan istana kuntilanak merah. Semoga kedepannya tak akan ada lagi manusia yang terjerumus ke dalam kubangan setan. Bersekutu dengan para setan adalah hal yang paling dibenci oleh Sang Pencipta." ungkap Kanjeng Ratu Sekar.
SHIIIIIIIUUUUUUUUU. Kanjeng Ratu Sekar meniup api berwarna putih.
Perlahan-lahan api itu padam.
"Mari ikuti aku." ajak Kanjeng Ratu Sekar Dara.
Kanjeng Ratu Sekar melangkah, dan kami ikut di belakangnya.
Dan..
Lho, mengapa tiba-tiba kami berpindah tempat? Kami semua kebingungan. Kecuali Kanjeng Ratu Sekar.
Kami berada tepat di sebuah bangunan. Sebuah rumah yang menjadi momok menakutkan dalam hidupku. Rumah tempat dimana Yuda disekap oleh kuntilanak merah.
"Ampun Kanjeng Ratu. Bukankah rumah ini sudah hancur saat Kanjeng Ratu menyelamatkan Yuda, teman saya." aku bertanya.
Kanjeng Ratu Sekar menoleh ke arahku seraya tersenyum.
"Mereka membangun kembali istana ini setelah kejadian itu." jawab Kanjeng Ratu Sekar.
Lalu Kanjeng Ratu Sekar melangkah maju. Ia menghadap ke arah rumah itu.
"Kalian akan menjadi saksi bahwa aku telah menghancurkan istana demit ini. Agar tak ada lagi demit yang menempati istana ini lagi." ujar Kanjeng Ratu Sekar.
WUUNGGG. Kanjeng Ratu Sekar mengibaskan selendangnya.
Dan..
DUAAAAAARRRRRRRRRR.
Rumah itu meledak dan hancur. Terbakar dengan kobaran api yang sangat besar. Lidah api menjilat-jilat. Hawa panasnya terasa sampai ke tempat kami berdiri.
Alhamdulillahi Rabbil 'Alamin.
...____________...
...segini dulu yaa update-nya...
...otor ada pekerjaan sekitar 3 hari...
...jadi kedepannya gak bisa update...
...LIKE. KOMEN. FAVORIT...
...kirim HADIAH boleh banget...
...mau VOTE wajib banget...
...makasih ya kawan2...
__ADS_1