
Tok tok tok
"Mas Yuda. Mas Yuda."
Aku terbangun, kulihat jam dinding. Pukul tujuh lebih.
"Mas Yuda. Sarapannya sudah siap Mas. Mau sarapan di bawah atau di antar ke atas?" suara Mbak di luar kamar.
"Yuda masih tidur Mbak." sahutku.
"Mas Adi ya? Mas, sarapannya sudah siap. Mau di antar atau sarapan di bawah?" Mbak bertanya lagi.
"Di bawah saja Mbak. Makasih ya mbak." jawabku.
"Baik Mas."
Aku beranjak ke kamar mandi. Mencuci muka, lalu membangunkan Yuda dan Mas Gun. Seperti biasa, Mas Gun agak susah dibangunkan. Ia tidur di lantai beralaskan karpet bulu.
"Mas. Mas Gun. Bangun Mas. Mas, sarapan yuk."
"Hooooaaaaammm." Mas Gun meregangkan tubuh besarnya.
"Sarapannya pakai apa Di?" tanya Mas Gun dengan mata masih tertutup.
"Sarapan di rumah Yuda beda dengan sarapan kita di kost Mas, disini bebas pilih manu. Ayo bangun. Kopi disini juga beda. Bikinnya pakai mesin. Mas, bangun Mas." godaku ke Mas Gun.
Mas Gun mengucek matanya. Ia lagi-lagi merenggangkan tubuhnya. Lalu duduk.
"Duuhh, lo ganggu aja sih. Kapan lagi tidur pakai AC. Kalau bukan gara-gara sarapan, nggak bakalan gue bangun." sungut Mas Gun.
Aku hanya terkekeh mendengar gerutuannya.
"Da, bangun Da. Yuda. Sarapan udah siap tuh kata Mbak." aku membangunkan Yuda.
Yuda merenggangkan tubuhnya. Lalu bangun dan langsung menuju kamar mandi. Mas Gun masih duduk dengan mata terpejam.
"Mas, ayo bangun. Kalau sarapannya habis gue nggak tanggung jawab yaa." ujarku.
Mas Gun membuka mata. Ia berlalu ke kamar mandi.
Aku membangunkan Tika sambil mengetuk pintu kamar.
"Tik, bangun Tik. Tika. Sarapan yuk."
Ceklekk. Kunci terdengar diputar.
Tika membuka pintu tak terlalu lebar.
Tika tampak sudah mandi. Wajahnya terlihat segar. Kepalanya dililit handuk. Pagi ini Tika lebih cantik dari biasanya.
"Iya sebentar. Lo duluan aja ke bawah, nanti gue nyusul." ucapnya, lalu kembali menutup pintu.
Aku, Yuda, dan Mas Gun sudah duduk di meja makan. Di atas meja sudah terhidang nasi goreng. Bakso, sosis, ayam goreng, dan sebuah telur mata sapi tampak menghiasi di tiap piringnya. Ada setumpuk roti bakar berbentuk segitiga, dihidang di atas piring. Teh manis panas dalam ceret keramik yang indah, juga cangkir keramik berwarna putih.
__ADS_1
Mbak datang menghampiri kami.
"Mas, pada mau minum apa?" tanya Mbak.
"Mbak, saya kopi yang dibuat pakai mesin dong." pinta Mas Gun cepat. Kemudian terkekeh.
Aku cengengesan.
"Saya teh aja Mbak." sahut Yuda.
"Mas Adi, mau minum apa? Susu, jus, atau apa?" tanya Mbak padaku.
"Nggak usah repot-repot Mbak, saya teh saja." jawabku.
Mbak berlalu ke belakang.
"Eh, ada jus juga?" tanya Mas Gun pada Yuda.
"Ada Mas. Lo mau jus apa? Bilang saja sama Mbak, nanti dibuatin."
"Wuuiiihhh. Kayak sarapan di film-film sinetron ya. Sarapannya ada jus, susu, roti. Hehehehe." sahut Mas Gun.
Kami mulai makan. Tak lama Tika turun dan duduk bergabung bersama kami. Mbak datang membawa secangkir kopi untuk Mas Gun.
"Mbak, mau minum apa?" Mbak bertanya pada Tika.
"Hah? Eh, saya minum teh saja Mbak." jawab Tika.
"Tik, apa lo yakin dengan rencana semalam?" tanyaku.
"Rencana apa?" Tika balas bertanya.
"Masa lo lupa Tik. Kan lo yang bilang kalau hari ini mau ke rumah pemilik mobil antik itu." sergah Mas Gun.
"Ooh iya. Gue baru ingat. Memang kenapa lo tanya yakin atau enggak?"
"Kita tempur lagi nih lawan demit?" tanyaku.
"Ya terus mau gimana? Kalau pemilik mobil itu minta mobil antik di kembalikan ke Yuda dan meminta uangnya lagi, gimana? Di, orang-orang awam pasti nggak akan mau berhubungan dengan hal-hal gaib macam itu. Mereka lebih memilih hidup tenang tanpa ada gangguan." ujar Tika.
"Contoh simpelnya. Mas Gun mau beli sebuah rumah, lalu pemilik rumah bilang kalau rumah ini berhantu. Apa yang ada di pikiran Mas Gun saat itu juga?" Tika memberi perumpamaan.
Aku diam. Mas Gun memperhatikan sambil mengunyah.
"Gue yakin seratus persen, bahkan seribu persen. Mas Gun nggak akan jadi beli rumah itu. Bener nggak?" lanjut Tika.
"Iya juga sih." sahut Mas Gun.
"Nggak semua orang mampu hidup berdampingan dengan hal-hal gaib Di. Padahal kita diwajibkan meyakini hal gaib. Iya kan?" sambung Tika.
"Nggak usah orang awam, contohnya lo Di. Kemampuan lo sudah semakin berkembang pesat, sudah bukan hal yang luar biasa lo melihat penampakan macam-macam demit. Tapi apa lo mau hidup dalam bayang-bayang demit terus menerus? Lo juga ingin hidup normal seperti kebanyakan orang lain kan. Ingin kuliah, ingin UTS, ingin pacaran, ingin jalan-jalan. Bener nggak?" tambah Tika.
"Oke oke. Gue paham dan ngerti banget perumpamaan yang lo kasih. Jadi intinya hari ini apa rencana kita?" sahutku.
__ADS_1
Tika mengangkat bahu. Kemudian menyuap nasi goreng.
"Nanti aja kita tunggu Yuda. Apa rencana hari ini." sambar Mas Gun.
"Menurut gue, kita periksa dulu keberadaan demit itu di mobilnya. Kalau demit itu masih ada, kita musnahkan. Kalau nggak ada, untung buat kita kan. Tenaga kita tidak akan terpakai." ujar Tika.
"Oke. Gue ikut lo aja Tik. Rencana lainnya, sambil jalan aja." sahutku.
Kami sudah selesai makan. Mas Gun sedang asik menyeruput kopi di pinggir kolam renang. Yuda tak turun sejak tadi. Siapa yang menghubunginya? Sampai selama ini ia bicara di telepon.
"Da. Yuda." panggilku dari meja makan.
Tak berapa lama Yuda turun. Raut wajahnya tak mengenakkan. Ia berjalan menuruni anak tangga dengan lemas.
"Kenapa Da?" tanya Tika.
Yuda duduk bergabung bersama kami di meja makan. Ia mendorong piring nasi gorengnya ke depan. Nafsu makannya seakan sirna. Yuda duduk bersandar pada kursi. Tatapannya menerawang ke langit-langit rumahnya yang megah.
"Da, lo kenapa Da?" tanyaku.
"Siapa yang telepon Da?" tanyaku lagi.
Yuda melirikku. Kemudian melirik Tika.
Ada apa dengan Yuda?
"Di. Tik." panggil Yuda padaku dan Tika.
"Ada apa Da? Cerita ke kita." ujarku.
Byuuurrrrr.
Kami terkejut. Tubuh besar Mas Gun lompat ke dalam air.
"Woii, ayo berenang. Wooohooooo. Asik niiihhh! Hahahahaha." ajak Mas Gun.
Mas Gun tampak menikmati air kolam renang. Tubuh besarnya yang menyelam dan timbul bagai kuda nil. Namun kuda nil versi albino.
"Da, ada apa Da?" tanyaku.
"Pemilik mobil antik itu tewas karena kecelakaan subuh tadi. Barusan istrinya menghubungi gue. Ia menunggu gue di rumah sakit sekarang juga. Ia minta pertanggung jawaban atas kematian suaminya. Dibilangnya gue menjual mobil rongsokan pada suaminya. Ia sudah lapor polisi, dan polisi pun menunggu gue sekarang." ujar Yuda dengan lemas. Tatapannya kosong.
Deg deg deg deg. Jantungku berdegup kencang.
Astaga, apa lagi ini?
"Di, lo temani gue ya menghadap istri dan polisi." pinta Yuda.
"Gue ikut ya Da." Tika meminta.
Yuda mengangguk pelan.
"Mas Gun gimana?" tanyaku.
__ADS_1