Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 180


__ADS_3

Saat Kang Ujang sibuk menyerang Mas Gun. Aku tak mau hanya diam saja. Mumpung Ela dan Dini sedang asik menonton tuannya bertarung dengan Mas Gun.


BUAKK.


BUAKK.


Kulayangkan tendangan ke wajah Ela dan Dini. Cengkraman mereka terlepas. Tenagaku seperti terisi kembali. Kepalan tanganku terasa dialiri kekuatan dari cincin yang kukenakan.


DUAKK.


DUAKK.


Kuhantam wajah Ela dan Dini bergantian. mereka ambruk jatuh ke belakang.


"MAS, LO KUAT NGGAK SENDIRIAN?" teriakku.


"AMAN! LO BERESIN AJA DUA KUNYUK ITU DI!" sahut Mas Gun.


Hahahahaha. Kunyuk? Aku merasa hidup. pandanganku tampak cerah. Semua terlihat terang benderang. Ini saatnya. Saatnya menghabisi cecunguk penyembah iblis.


"Maju sini! Nggak usah satu satu, kalian berdua sekaligus aja." tantangku pada Ela dan Dini.


Wuuuunnnggg. Tanganku bercahaya biru.


"Sombong sekali!" sahut Dini.


"Lihat saja nanti, siapa yang akan menjadi mayat duluan." tambah Ela.


Ela dan Dini berlari menyerangku. Keduanya melayangkan pukulan. Aku menghindar, menunduk dengan gesit.


Sraaakkk. Kusapu kaki keduanya.


BUGG. Ela dan Dini terjatuh.


Aku bangun seraya melayangkan tendangan ke perut Ela.


DUAKKK.


Sepakanku mendarat mulus di perut Ela. Ia terpental jauh. Tubuhnya membentur pohon besar. Lalu Ela teriak mengerang.


Tiba-tiba saja..


Grepp. Dini mencekik leherku dari belakang.


Aku mencoba melepaskan cekikan Dini. Kuat. Sangat kuat. Napasku tersengal.


"Hiyaaaaaa!"


Kubenturkan belakang kepalaku ke wajah Dini.


DUAKK. Suara benturan yang sangat nyaring.


Cengkraman tangan Dini terlepas. Ia mundur ke belakang sambil memegang hidungnya. Darah mengucur dari lubang hidungnya.


Wuuuunnnggg. Cahaya biru di tanganku makin silau.


"Hiyaaaaaaaaaa!" kutembakkan cahaya biru ke arah Dini.


DARRR!


Cahaya biru tepat mengenai perut Dini. Ia tak sempat menghindar. Dini terpelanting jauh. Sampai tak terlihat.


DARRR.


"Aaaaarrrggghh!" sebuah serangan dari Ela tepat mengenai pundak kananku. Aku jatuh terjerembab.


Sial. Aku lengah.


Aku tak mau kalah oleh budak iblis macam Ela. Aku kembali berdiri menghadap Ela. Ela berdiri dengan senyum menyeringai. Ia sempat menyeka darah yang mengalir dari ujung bibirnya. Dari tangannya berpendar cahaya berwarna merah.


"Boleh juga kekuatanmu." ucap Ela.


"Cih, tahu apa kau bocah!" balasku.


Aku dan Ela saling tatap. Kami sejenak tak melakukan serangan.


Sementara Kang Ujang masih saja sibuk menyerang Mas Gun. Perisai yang dibuat Mas Gun sangat kuat. Tak sedikit pun tubuhnya tersentuh oleh serangan yang dilancarkan oleh Kang Ujang. Malah terlihat Mas Gun seolah mempermainkan Kang Ujang.


"Menyerah saja. Kalau lo memaksa untuk melawan gue, lo dan Ujang nggak akan menang." ucapku pada Ela.


"Hehehehehehe. Bang Adi lucu juga. Aku sama Dini baru permulaan aja Bang. Memang Bang Adi tadi nggak dengar? Kami ini hanya pembuka, masih banyak menu lainnya. Hehehehehehe." Balas Ela.


Menu lainnya? Apa yang dimaksud Ela serangan lainnya? Benar juga, serangan dari demit belum dilancarkan. Ini hanya dua orang sebagai serangan pembuka. Eh, dua orang? Sial, aku baru sadar. Dua orang ini yang dimaksud Kubil. Ela dan Dini.


Aku harus menyimpan tenagaku untuk serangan selanjutnya. Harus segera kukalahkan mereka.


"Jadi? Boleh kita mulai lagi?" tanya Ela dengan senyum angkuh.


Aku balas senyum.


Ela berlari menyerangku. Kepalan tangannya bersinar merah. Aku hanya berdiri memasang kuda-kuda, bersiap menyambut serangan Ela.


Wuuussshhh. Ela melemparkan serangan sinar merahnya, berbentuk seperti bulan sabit.


Sett. Aku menghindar dengan mudah.

__ADS_1


Crasshh. Sinar merah berbentuk bulan sabit memotong dahan pohon di belakangnku.


Berbahaya. Serangan Ela terarah dan mematikan.


Wuusshh. Ela kembali melempar bulan sabit merah.


Wuuuunngggg. Kubuat perisai dari cincin yang memancarkan sinar biru.


CRAASSSHHHH. Bulan sabit merah menghantam perisai buatanku.


"Hiyaaaaaaa!"


Kulempar kembali bulan sabit merah milik Ela menggunakan kekuatan perisaiku.


Ela terkejut. Ia lompat salto ke samping.


DUARRR. Bulan sabit meledak menghantam sebuah pohon.


"Giliranku!" ujarku.


Syut.


Syut.


Syut.


Syut.


Syut.


Kutembakkan sinar biru berbentuk bulan sabit ke arah Ela.


Ia terkejut. Mencoba menghindar dengan gerakannya yang cepat.


DUARR! Satu bulan sabit meledak menghantam pohon di belakang Ela.


DUARR! Bulan sabit kedua pun meledak menghantam tanah.


Sisa tiga bulan sabitku. Ketiganya mengejar Ela. Kau rasakan itu bocah sialan.


Aku berlari dengan cepat ke arah Ela. Aku merasa kekuatanku sangat besar, tanganku diselimuti hawa panas membara.


"Hiyaaaaaaaaaaaaa."


Kulayangkan pukulan bertubi-tubi ke arah Ela. Ia gelagapan menahan pukulanku. Dan..


DUARRR! Satu bulan sabitku mengenai lengan sebelah kanan Ela. Ia menjerit kesakitan.


Aku terus meluncurkan pukulan demi pukulan. Dua buah bulan sabitku yang berwarna biru masih terus mengikutiku. Tak akan kuberi ruang untukmu perempuan laknat!


DUARRR! Satu bulan sabit meledak di lengan sebelah kiri Ela.


BUAKKK. Pukulan bertenaga mendarat tepat di dagu Ela.


Dan..


DUARRR! Bulan sabit terakhir mengenai perut Ela.


Ela terpental jauh, diiringi dengan teriakannya.


BRUAKK. Kudengar tubuh Ela jatuh menghantam tanah.


Aku berjalan mendekat ke tempat Ela jatuh.


Naas.


Belakang kepalanya mengeluarkan darah segar. Napasnya tampak jarang. Matanya terbelalak. Dari mulutnya memuntahkan darah yang cukup banyak dan berbau anyir. Satu napas terakhir, Ela meregang nyawa.


Aku berlari menuju pertarungan Mas Gun dengan Kang Ujang.


Tapi tiba-tiba..


DUAKK. DUAKK.


Punggungku terkena pukulan atau tendangan. Entahlah, aku tersungkur di tanah.


"Mau kemana Bang Adi?"


Dini? Rupanya dia masih bertahan.


"Jangan main keroyokan dong. Main sama Dini aja ya. Hehehehehe." ucap Dini.


Aku bangun dan berdiri. Kukibas-kibas dedaunan kering yang mengotori bajuku.


"Mau main apa? Sini sama Bang Adi! Hehehehehe." ledekku menggoyangkan jari telunjuk.


"MATI KAAAUU!" teriak Dini dengan wajah buas.


Wuuuunnnggg. Tanganku bersinar kembali.


Dini lompat ke arahku, tangannya bersinar merah.


"KAU YANG MATIIIIII!" teriakku.


Kutembakkan cahaya biru ke arah Dini.

__ADS_1


DUARRR.


Sebuah bola tak terlalu besar, bersinar biru melesat ke arah Dini.


Syut.


Syut.


Syut.


Kutembakkan lagi bulan sabit berwarna biru. Kuserang Dini dengan cara yang sama ketika kukalahkan Ela barusan.


Sett. Dini menghindar dari serangan bola biru.


Aku berlari menerjang Dini. Kulayangkan pukulan dan tendangan bertubi-tubi. Dini menangkis dan menepis pukulanku.


DUARRR. Sebuah bulan sabitku menerjang punggung Dini.


Dini jatuh telengkup.


Ini saatnya.


"TEMUI AJALMU BOCAAAAHHH!"


DUARR. DUARR.


Dua bulan sabit berwarna biru meledak di punggung Dini.


Belum puasa rasanya hatiku.


"HIYAAAAAAAA!"


BLAARRR. Kutembakkan bola cukup besar ke arah Dini. Bole itu bersinar terang berwarna biru.


Dan..


DUUUAAARRRRR.


Bola itu meledak di tubuh Dini.


Asap mengepul sangat lebat.


"DINIIIIIIII." Kang Ujang berteriak.


Tubuh Dini tergeletak dengan asap yang mengepul dari tubuhnya. Dini menemui ajal.


DUAKK. Pukulan Mas Gun mengenai dada Kang Ujang.


Kang Ujang menangis melihat kondisi Dini.


"Menyerahlah Jang. Lo nggak akan menang melawan gue dan Adi. Tobat Jang." ucap Mas Gun.


"BRENGSEK KALIAN!" teriak Kang Ujang.


Tiba-tiba Kang Ujang duduk bersila. Kedua tangannya menyilang di depan dadanya. Matanya terpejam. Mulutnya komat-kamit tak jelas.


Aku mendekati Mas Gun.


"Di, jangan-jangan si kunyuk itu sedang memanggil bala bantuan?" ucap Mas Gun.


Napasku terengah-engah.


"Mungkin Mas. Kita harus siap-siap Mas. Kita nggak boleh lengah." balasku.


Mendadak angin bertiup sangat kencang. Menggoyang dahan. Menerbangkan dedaunan. Asap putih berputar di atas, membentuk pusaran.


Tiupan angin sangat kuat. Aku dan Mas Gun hampir terdorong ke belakang.


Lalu pemandangan menakutkan kusaksikan bersama Mas Gun.


Dengkulku lemas. Tulangku seperti melembek.


Pemandangan yang membuatku bergidik. Jantung berdegup cepat. Darahku mengalir dengan deras. Bulu kuduk merinding.


Dari atas pohon, turun puluhan kuntilanak bergaun putih. Dengan rambut panjang terurai. Mereka turun secara bersamaan. Entah dari mana datangnya. Namun puluhan kuntilanak itu memandangku dan Mas Gun dengan senyum menyeringai. Wajahnya putih pucat. Disekitaran matanya berwarna hitam. Jemarinya panjang dengan kuku-kuku yang panjang pula. Tawa mereka mengikik serentak bersamaan.


Aku tak dapat berkata.


Mas Gun melongo, menelan ludah.


...________________...


...Mampukah Adi dan Mas Gun menghadapi puluhan kuntilanak itu?...


...besok Insyaallah update lagi yaa...


...jangan lupa tinggalin jejak....


...LIKE, KOMEN, FAVORIT...


...kalau kawan2 berkenan, boleh kasih...


...HADIAH dan juga VOTE yaaa...


...makasih...

__ADS_1


__ADS_2