Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 156


__ADS_3

Makanan sudah tiba, kami menikmati santap malam di kamar kostku. Tika pun ikut nimbrung. Yuda sempat menceritakan kisah Tarjo yang berakhir mengenaskan pada Tika. Kesimpulan Tika persis seperti apa yang kusampaikan tadi.


Disela-sela kami menikmati nasi goreng, kubicarakan soal Kakek Badrun yang akan membantu membuka kekuatan dalam diri Mas Gun. Kekuatan yang tersimpan, berasal dari leluhurnya. Kekuatan yang bisa membantuku dan Tika untuk menumpas kejahatan kuntilanak merah.


"Nggak bisa sekarang aja Di? Kenapa harus tengah malam sih?" tanya Mas Gun.


"Kok nawar? Gue nggak tahu Mas. Kakek Badrun yang bilang seperti itu."


Mas Gun menyuap nasi goreng dengan raut muka tak sedap dipandang.


"Intinya mau apa nggak nih?" tanyaku pada Mas Gun.


"Iya iya. Mau." jawabnya dengan judes.


"Duuhh, kenapa tengah malam sih. Itu kan waktunya gue nge-game." gerutu Mas Gun.


"Da, lo beneran nginap disini kan?" tanyaku.


"Iya Di. Memang kenapa sih? Nggak boleh? Hehehehe." sahut Yuda.


"Eh, atau kalian aja yang nginap di rumah gue. Gimana? Ide cemerlang nggak tuh?" saran Yuda.


"Cakep! Yuk. Gue setuju nih. Besok pagi gue mau berenang. Hehehehe." timpal Mas Gun cepat.


"Kalau lo semua nginap di rumah Yuda, terus gue sendirian disini gitu?" ungkap Tika.


"Oh iyaaa. Ada Tika ya. Memang boleh teman cewek nginap di rumah lo Da?" tanya Mas Gun.


"Emmm, nggak apa-apa juga sih. Banyak kamar kok di rumah. Tika bisa pakai kamar yang biasa ditempatin Deby di lantai dua, di seberang kamar gue. Gimana Tik? Soal baju ganti, nanti pakai aja bajunya Deby." balas Yuda.


"Lo gimana Tik?" tanyaku.


Tika mengangkat bahunya sambil menyuap nasi goreng.


"Ayo Tik, ikut aja. Daripada lo disini sendirian. Emang nggak takut?" rayu Mas Gun.


"Iya Tik, ikut aja. Sekalian kita periksa rumah Yuda. Gue takut demit wanita itu masih ada disana. Bahaya kalau masih ada. Bisa mengancam keluarga Yuda." tambahku.


Tika nampak berpikir.


"Terus, gimana rencana lo ketemu dengan Kakek Badrun? Diundur?" tanya Tika padaku.


"Enggak dong. Gue akan menyusul ke rumah Yuda begitu selesai berurusan dengan Kakek Badrun. Lo sama Yuda duluan aja." jawabku.


"Gue ikut lo deh." ucap Tika.


"Maksudnya?" tanyaku.


"Gue mau ketemu Kek Badrun. Boleh kan?" tanya Tika.


"Oke. Boleh aja sih."


Akhirnya diputuskan kalau kami akan pergi ke rumah Yuda setelah bertemu dengan Kakek Badrun.


Sembari menunggu tengah malam. Aku, Yuda, Mas Gun, dan Tika hanya mengobrol. Obrolan ringan seputar asmara, kuliah, dan kelucuan saat masa sekolah dulu. Gelak tawa sesekali terdengar. Sialnya, Yuda menyinggung soal Kemala. Ramai semuanya membahas soal Kemala. Mas Gun dan Yuda tak tahu kalau Tika adalah saudara sepupu Kemala.


"Jadi gimana sama Kemala? Perlu gue bantuin apa nih?" ledek Yuda.


"Hahahahaha. Bantuin dong Da. Lo nggak kasihan lihat teman lo galau melulu tuh?" tawa Mas Gun.


"Eh Di, minta pelet aja sama Kakek Badrun. Biar Kemala klepek-klepek. Hahahahaha." saran nyeleneh dari Mas Gun.


Dan semua tertawa.


"Ngaco aja lo semua. Dia itu udah punya pacar, masa gue dekatin sih. Mikir woi! Gue nggak mau main tikung sembarangan." sahutku.


"Yaelah Diiiii. Selama janur kuning belum melengkung, semua masih punya kesempatan. Pertanyaannya, lo berani apa nggak? Hehehehe." balas Yuda.


"Enggak gitu konsepnya Da. Lagian gue udah nggak pernah mikirin Kemala lagi kok." ujarku.

__ADS_1


"Ciyeeeeee, ada yang baru ya?" ledek Yuda.


Tiba-tiba Mas Gun menyenggol paha Yuda. Ia memberi isyarat dengan matanya. Matanya menuju Tika.


"Omaigat!! Serius??" Yuda terkejut.


Tika diam.


"Di, lo serius Di?" tanya Yuda.


"Apaan sih Da! Lo percaya aja sama Mas Gun." jawabku.


"Ciyeee ciyeee." ledek Yuda lagi.


Obrolan kami pun berlanjut sampai tengah malam.


Sekitar pukul 23:40, kami memutuskan untuk keluar kost. Karena begitu pukul dua belas malam, gerbang kost akan segera di kunci. Kami akan menunggu sampai tengah malam di pinggir lapangan.


Udara malam ini cukup dingin, padahal hujan sudah lama tak turun. Angin sesekali menerpa wajah. Jaket yang kukenakan serasa tak berarti. Angin berhembus terasa menusuk ke tulang sumsum. Malam ini bulan hanya bercahaya setengah, setengahnya lagi dimakan gelap. Namun keindahannya sama sekali tak terelakkan.


Wuuuuuuuuunnngggg. Angin berhembus kencang. Samar terlihat di tengah lapangan, angin yang membuat pusaran kecil. Namun tinggi membumbung ke langit.


Hanya beberapa detik angin tersebut membuat pusaran, kemudian tak bertiup lagi. Suasana kembali normal. Hanya meninggalkan dedaunan yang beterbangan.


Di tengah lapangan berdiri sesosok tubuh yang sangat kukenal. Kakek Badrun. Entah dari mana ia datang dan sejak kapan ia sampai, tiba-tiba saja Kakek Badrun sudah berada di tengah lapangan. Gelapnya malam tak membuat penglihatanku teralihkan.


"Yuk." ajakku ke Mas Gun, Tika, dan Yuda untuk menuju ke tengah lapangan.


"Tuh, Kakek Badrun sudah sampai." tunjukku.


"Eh, itu bener Kakek Badrun?" tanya Mas Gun. Ia tampak ragu.


"Memang siapa?" sahutku.


"Eh sebentar sebentar." Mas Gun menahan kami.


"Kenapa Mas?" tanya Tika.


Aku menghela nafas.


"Mas, malu sama badan. Yuk. Nggak usah takut, kan kita bareng-bareng." balasku.


"Ayo Mas. Nih, lo pegang tangan gue aja biar nggak takut." Yuda memberikan lengannya.


"Nggak usah Da. Apa-apaan sih pakai pegang tangan segala. Yaudah ayo." balas Mas Gun.


Kami pun berjalan menuju ke tengah lapangan. Kakek Badrun masih berdiri. Kedua tangannya bersedekap di depan dadanya.


"Assalamualaikum Kek." sapaku ke Kakek Badrun.


"Waalaikumsalam Nak Adi. Tika, kau sehat Nak?"


"Alhamdulillah sehat Kek." jawab Tika.


"Maafkan Kakek Nak Adi, Nak Tika. Kemarin Kakek tak sempat membantu kalian menumpas demit-demit suruhan kuntilanak merah itu." ujar Kakek Badrun.


"Nggak apa-apa Kek. Alhamdulillah, saya dan Tika bisa menaklukkan mereka. Ya, walaupun mendapat beberapa serangan." jawabku.


"Syukurlah." sahut Kakek Badrun.


"Yuda? Kau Yuda kan?" Kakek Badrun mengenali Yuda.


"I-iya Kek. Saya Yuda."


Kakek Badrun tersenyum.


"Bagaimana kabarmu Nak?" tanya Kakek Badrun lagi.


"Alhamdulillah saya sehat Kek." jawab Yuda.

__ADS_1


"Jadi, siapa yang akan diaktifkan kekuatannya Nak Adi?" tanya Kakek Badrun.


Mas Gun maju selangkah dengan ragu.


"Ini Kek. Saudara saya. Guntur namanya." tunjukku.


Kakek Badrun senyum sambil melihat Mas Gun. Mas Gun tampak gugup dan salah tingkah.


"Ulurkan kedua tanganmu Nak." pinta Kakek Badrun pada Mas Gun.


Mas Gun mengulurkan tangannya dengan ragu dan pelan.


Kakek Badrun memegang tangan Mas Gun. Kemudian memejamkan matanya. Tak berapa lama, Kakek Badrun membuka mata. Ia tersenyum pada Mas Gun.


"Leluhurmu yang memberikan kekuatan ini untukmu Nak. Kekuatanmu hanya untuk menjaga diri dan hanya sebagai pelindung, belum bisa untuk menyerang apalagi memusnahkan demit." ucap Kakek Badrun.


"La-lalu, apa saya bisa membantu Adi dan Tika Kek?" tanya Mas Gun.


Kakek Badrun kembali tersenyum. Ia melepas pegangan tangannya dari tangan Mas Gun.


"Bisa Nak. Kau bisa membantu Adi dan Tika untuk menumpas kuntilanak merah itu." jawab Kakek Badrun.


"Ba-bagaimana caranya Kek? Sedangkan Kakek bilang tadi kekuatan saya belum bisa untuk menyerang demit." tanya Mas Gun.


"Kekuatanmu ini sangat besar. Bisa digunakan untuk perisai, tameng, atau penangkal kekuatan jahat yang menyerang. Kau bisa melindungi Adi dan Tika juga dirimu. Jika kekuatan kalian digabungkan, maka akan sangat luar biasa. Aku yakin kuntilanak merah beserta pengikutnya akan takluk di tangan kalian bertiga." jelas Kakek Badrun.


Kami hanya mendengarkan apa yang Kakek Badrun utarakan.


"Kalau seperti itu, berarti kita harus selalu bertiga Kek? Sedangkan Kakek pasti tahu, kalau kuntilanak merah itu tak mungkin menyerang secara personal. Ia pasti menyerang kita dengan berkerumun. Seperti kejadian kemarin." ujarku.


Kakek Badrun tampak berpikir.


"Apa tidak ada cara lain Kek? Agar Mas Gun bisa memakai kekuatannya lebih dari sekedar perisai atau tameng saja?" tanyaku lagi.


"Hmmm." Kakek Badrun bergumam pelan.


"Bisa saja. Tapi apa kau rela menerima dan ikhlas menyambutnya Nak Guntur?" tanya Kakek Badrun pada Mas Gun.


Rela menerima dan ikhlas menyambutnya? Apa maksud dari pertanyaan Kakek Badrun?


"Ma-maksudnya apa Kek? Saya jadi takut dengarnya." tanya Mas Gun. Raut wajahnya benar-benar terlihat was-was.


Kakek Badrun menghela nafas.


"Kau akan kuturuni sedikit ilmu kanuraganku. Namun sebelumnya, aku harus periksa terlebih dahulu auramu. Jika cocok, tubuhmu akan bisa menerima kekuatan yang kuberikan." jelas Kakek Badrun.


Aku menelan ludah. Tika melirikku. Yuda hanya diam. Mas Gun makin bingung.


"Apa kau rela menerima dan ikhlas menyambutnya?" tanya Kakek Badrun lagi dengan senyuman simpul.


Kami semua diam, terlebih Mas Gun. Dalam pekatnya malam, kutahu di dahinya sudah keluar butiran air keringat.


"Bagaimana Nak Guntur?" tanya Kakek Badrun.


"Apa kau rela menerimanya dan ikhlas menyambutnya?"


Mas Gun masih saja diam. Ia melirik ke arahku. Walau gelap, kutahu raut wajahnya pasti menunjukkan kebingungan.


"Mas," panggilku pelan.


"Kalau lo nggak mau, atau nggak bersedia. Nggak apa-apa kok." ucapku seraya menepuk pundaknya pelan.


Mas Gun masih diam.


Kakek Badrun sedari tadi hanya senyum.


Tika tak berkata.


Yuda membisu.

__ADS_1


Aku? Perasaanku tak menentu.


__ADS_2