
Mendadak ada seberkas cahaya putih yang bersinar dari belakangku. Saking silaunya, kebun kosong yang semula gelap gulita kini menjadi terang benderang. Cahayanya menerangi tiap sudut kebun. Bahkan dedaunan dan dahan yang tinggi tampak jelas terlihat karena terkena cahaya tersebut.
Aku, Mas Gun, dan Tika menoleh. Namun mata ini rasanya tak sanggup jika harus menatap cahaya putih yang bersinar sangat silau. Kami sampai menghalangi pandangan dengan tangan.
Ditengah-tengah cahaya putih yang menyilaukan, siluet tubuh seorang pria terlihat. Ia berjalan pelan persis ditengah cahaya putih. Mendekat. Semakin mendekat. Dan kian mendekat.
Dan kini, jelas terlihat wajah pria tersebut.
Aku menelan ludah tak percaya. Ujung mataku menitikkan air mata, air mata tak percaya, air mata bahagia.
Ia adalah leluhurku.
Kakek buyutku.
RADEN HALIM.
Aku bertemu kembali dengannya. Senang rasanya hati ini.
Kakek Halim mengenakan songkok putih. Wajahnya bersinar dan bersih. Rambut dan janggutnya putih. Memakai koko putih dan kain sarung putih. Ia tersenyum melihatku. Wajah teduhnya sangat menenangkan.
"Assalamualaikum cucuku." ucap Kakek Halim.
Suaranya berat dan sedikit nge-bass.
"Waalaikumsalam Kek." jawabku seraya menghampiri Kakek Halim dan mencium tangannya.
Ketika selesai mencium tangan, tiba-tiba aku sudah berbentuk roh. Apa? Aku melepas raga? Aku menoleh ke arah Kakek Halim. Ia hanya senyum dengan wajah teduhnya.
Bagaimana mungkin aku bisa melepas raga secepat ini? Kalau bukan bantuan dari Kakek Halim.
Kakek Halim mendekati Tika dan Mas Gun. Ia menepuk dengan pelan pundak Tika dan Mas Gun.
Tiba-tiba..
Syuuuuttt.
Tika dan Mas Gun melepas raga dengan mudahnya.
Mas Gun tampak kebingungan. Tika pun merasa terkejut.
"Kita bertempur di dunia ini saja ya. Aku takut mengganggu manusia di sekitar kebun. Kasihan mereka, tidak tahu apa-apa tapi terkena imbasnya nanti." ucap Kakek Halim dengan senyum terus terukir.
"Di. Di. Adi. G-g-gue mati ya? Gu-gue udah m-ma-mati ya?" Mas Gun terbata melihat sosoknya sendiri.
"Tenang Mas. Kita sedang melepas raga. Jiwa atau roh kita yang keluar dari dalam jasad. Kita masih tetap hidup kok." jawabku.
Kakek Halim tersenyum.
"Nak Guntur," panggil Kakek Halim.
"Sa-saya Kek."
"Perisaimu sangat kuat. Lindungi jasad kalian. Buatlah pagar gaib berbentuk kubah dengan perisaimu." ucap Kakek Halim.
Mas Gun kikuk.
"Ayo segera buat sekarang." pinta Kakek Halim.
"Ba-bagaimana c-c-caranya Kek?" tanya Mas Gun.
Kakek Halim tersenyum.
"Seperti biasa kau buat perisai. Hanya itu caranya." jawab Kakek Halim.
Mas Gun membuat pagar gaib. Dengan cahaya berwarna kuning, ia membuat kubah yang menutupi jasadku, jasadnya, dan jasad Tika.
Setelah selesai, Kakek Halim mendekat ke pagar gaib yang dibuat oleh Mas Gun. Kakek Halim hanya meniup pagar gaib tersebut. Lalu pagar yang berbentuk kubah kini mengendur, mengecil, sampai lekat ke jasad kami. Warnanya pun berubah menjadi putih bersinar terang. Jasad kami diselimuti oleh cahaya putih yang bersinar sangat terang.
"HAHAHAHAHAHAHAHA. Rupanya kalian beramai-ramai melepas raga. Bagus. Bagus. Ini memudahkanku dan peliharaanku untuk segera menyeret jiwa kalian. Jadi aku tak perlu repot-repot mencabut jiwa kalian untuk kusuguhkan pada kuntilanak merah itu." Kang Ujang tiba-tiba muncul di hadapan kami. Ia pun sudah melepas raga.
__ADS_1
Lalu muncul juga segerombolan kuntilanak bergaun putih. Masih dengan wajah menyeramkan dan tawa mengikik.
"Tika," panggil Kakek Halim.
"Saya Kek."
"Kau mempunyai kekuatan dari leluhurmu terdahulu yaitu bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit. Benar begitu?" tanya Kakek Halim.
"Be-benar Kek." jawab Tika.
"Sembuhkan lukamu dan luka teman-temanmu. Perjalanan kita melawan iblis-iblis ini masih panjang nampaknya." ujar Kakek Halim.
"HEI, TAK USAH KALIAN SEMBUHKAN LUKA KALIAN. PERCUMA, SEBENTAR LAGI KALIAN JUGA AKAN MATI! HEHEHEHE." teriak Kang Ujang.
Tika mengalirkan kekuatannya padaku dan Mas Gun. Cahaya berwarna kuning menjalar ke seluruh tubuh, hingga tubuhku terselimuti oleh cahaya kuning. Seketika luka dan sakit yang kami rasakan sebelumnya, hilang tak berbekas. Aku merasa segar dan bugar. Cahaya kuning perlahan memudar, lalu hilang.
Tika menghela napas.
"Sudah selesai Kek." ucap Tika.
Kakek Halim mengangguk pelan.
"SUDAH SELESAI ACARA PENGOBATANNYA? HAHAHAHAHA. AYO SEGERA KITA MULAI PESTANYA!" Kang Ujang berkata.
"Muak banget gue dengar ocehan si tukang kebun itu Di. Memang sesakti apa sih dia? Dasar anak pungut!" bisik Tika padaku.
"Biarkan saja. Kita lihat nanti, siapa yang akan musnah duluan. Biasanya, yang banyak omong itu yang nggak bisa apa-apa." sahutku.
Tika mengangguk.
"Bismillahi. Allahu Akbar." gumam Kakek Halim.
WUUUUSSHHH.
Tubuh Kakek Halim bersinar sangat terang. Sinar berwarna putih yang sangat menyilaukan. Angin menghembus menerpa wajah Kakek Halim.
DUARR.
DUARR.
DUARR.
DUARR.
Seketika segerombolan kuntilanak hancur lebur tak bersisa. Mereka musnah dalam sekejap. Menjadi titik-titik debu dan hilang diterpa angin.
Kang Ujang terlonjak melihat kejadian yang sangat cepat. Ia tampak kaget.
Senyum Kakek Halim tak pudar sedikit pun.
Dengan sekali kibasan tangan kanannya, segerombolan kuntilanak itu musnah, dikirim ke neraka.
Aku hanya geleng-geleng kepala.
Tika berdecak kagum.
Mas Gun melotot tak percaya.
"S-S-SIAPA KAU SEBENARNYA KAKEK TUA?" Kang Ujang bertanya dengan gemetar.
Kakek Halim hanya tersenyum.
Ia tak menjawab pertanyaan Kang Ujang.
"Aku adalah leluhur bocah yang kau ancam dengan peliharaanmu itu, dasar manusia penyembah iblis." jawab Kakek Halim dengan tenang.
"APA? LELUHUR ADI? WUAHAHAHAHAHA." Kang Ujang terbahak.
"BAGUS. BAGUS. SEKALIAN SAJA KAKEK DAN CUCUNYA MALAM INI AKAN KUBINASAKAN. HAHAHAHAHAHAHA." ucap Kang Ujang.
__ADS_1
Kakek Halim hanya menggeleng dengan pelan.
Kang Ujang lagi-lagi menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Ia memejamkan mata. Mulutnya kembali komat-kamit.
Tiba-tiba ada kilatan cahaya di atas langit. Bulan yang semula tampak jelas terlihat bercahaya, kini tertutup awan hitam. Suara gemuruh petir terdengar. Angin ribut menggoyang pepohonan sangat kuat. Dedaunan beterbangan.
KRREKK. KRRRATAAKKK. BUUUMMM.
Sebuah pohon besar tumbang tertiup angin.
Tangan Kakek Halim memberi instruksi pada kami, untuk kami mundur dan menjauh.
"A-ada apa ini Kek?" tanyaku.
Kakek Halim menoleh ke arahku. Ia melempar senyum. Raut wajahnya tak berubah sedikit pun. Tenang. Teduh. Menenteramkan.
Aku, Tika, dan Mas Gun merapat. Kami sedang menyaksikan fenomena alam yang tak biasa kami saksikan.
Asap hitam menggulung-gulung. Berduyun-duyun. Memenuhi tiap jengkal kebun kosong. Meraih pepohonan dan menjalar sampai ke atas.
Di ujung langit, kilat menyambar-nyambar. Kilat aneh berwarna merah gelap. Kilatannya sesekali menyambar tanah. Bunyinya membuat jantung berdebar.
Lalu sebuah kepala keluar dari kepulan asap hitam yang menggulung. Kepala dengan rambut panjang dan semrawut. Kini terlihat leher, kemudian bahu. Dan..
Gaun berwarna merah.
Aku makin gemetar. Tika menenangkanku. Mas Gun mundur ke belakang tubuh Tika.
Ya. Dia muncul.
Dia datang dengan kilatan merah menyambar-nyambar.
Si pemimpin para demit.
Iblis kejam yang mengambil jiwa temanku, Bagas.
Iblis yang mengincarku.
Mengirim begundal-begundalnya untuk mencelakaiku dan teman-temanku.
Iblis yang ingin mengambil jiwa Yuda.
Iblis laknat yang mengacaukan hidupku.
KUNTILANAK MERAH.
Kita bertemu lagi.
...____________...
...PENGUMUMAN :...
...otor mau minta maaf nih, besok libur update....
...karena ada acara aqiqah anak kedua....
...insyaallah, lanjut update hari Minggu...
...tolong kasih LIKE jika sudah baca,...
...KOMEN yg positif dan membangun,...
...FAVORIT jika ente suka,...
...kasih HADIAH jika berkenan,...
...VOTE jika ingin otor rajin update (hehehe),...
...makasih ya kawan-kawan....
__ADS_1