
Sifat Juragan Thamrin berubah, lebih dingin, gampang tersulut emosi, tempramen, dan tak lagi ramah. Entah apa karena pengaruh perempuan yang tinggal bersamanya selama tiga hari ini di dalam sebuah kamar tamu.
Ya, sudah tiga hari. Sejak kedatangan juragan malam itu bersama si perempuan muda itu. Juragan pun menolak rayuan Bi Tati untuk segera mengantar Nyai Asih ke rumah sakit.
"Aaahhh, nggak usah ke rumah sakit segala. Biayanya mahal! Nanti juga sembuh sendiri. Atau, sana antar saja ke mantri atau dukun!" ujar juragan.
Tiap hari nyai hanya diam di dalam kamar. Ia tak mau keluar dari kamarnya, ia tak ingin melihat suaminya bermesraan dengan wanita lain, hatinya hancur. Begitu pun hati kami para abdi dalam, Bi Tati selalu saja mengelus dada melihat kelakuan juragannya, ibu dan ayah hanya diam.
Suatu malam, Bi Tati dan ibu sedang duduk di bale bambu belakang rumah. Mereka membicarakan sifat juragan yang berubah akhir-akhir ini, mereka seperti tak mengenal juragannya.
"Saya kesal dengan juragan teh. Juragan sudah tak peduli lagi dengan nyai. Juragan berubah sejak pergi malam itu. Saya merasa kasihan dengan nyai." ujar Bi Tati.
"Iya teh, saya seperti nggak kenal dengan juragan, ia seperti orang lain." sahut ibu. "Emm teh, apa nyai sudah minum obat malam ini?" tanya ibu.
"Astaghfirullah, belum teh. Tadi setelah saya suapi makan, nyai bilang mau rebahan sebentar, baru minum obat. Saya ke dalam dulu deh." Bi Tati bergegas menuju kamar nyai.
Belum lama Bi Tati masuk ke dalam, tiba-tiba terdengar teriakan Bi Tati. Ibu pun lari tunggang langgang menyambangi Bi Tati.
"Nyaaiiiiiiii, bangun nyaiiii!" Bi Tati menangis sembari menggoyang-goyangkan tubuh nyai.
"Teeehh nyai kenapa teh?" tanya ibu.
Ayah datang dengan tergopoh.
"Nyai kenapa teh?" tanya ayah.
Bi Tati menangis, tangis ibu pun pecah. Tubuh nyai kaku, badannya dingin, kulitnya pucat. Nyai Asih berpulang ke pangkuan Yang Maha Kuasa.
"Nyaaaiiiii." Bi Tati meraung memanggil nama Nyai Asih.
Juragan masuk ke dalam kamar.
"Ada apa ini berisik-berisik?" tanya juragan.
"Juragan, ny-nyai juragan. Nyai meninggal." jawab ibu sambil terisak.
"Meninggal? Yasudah. Engkus, kamu urus pemakamannya. Cepat!" suruh juragan, lalu ia pun keluar dari kamar.
__ADS_1
"Dasar suami tak berperasaan, tak menunjukkan rasa sedih sedikit pun pada istrinya yang telah meninggal." gumam Bi Tati.
* * *
Siang ini Nyai Asih di makamkan di pemakaman umum, juragan hadir pada pemakaman nyai bersama si perempuan genit. Namun juragan tak sampai selesai mengikuti proses pemakaman nyai, ia langsung pulang bersama si perempuan.
Bahkan, sampai hari ini pun kami tidak tahu siapa nama perempuan yang membuat juragan seperti ini.
Belum jauh juragan melangkah meninggalkan pemakaman Nyai Asih, tiba-tiba terdengar suara ribut. Semua warga yang hadir di pemakaman menoleh ke arah suara ribut itu. Ternyata Mbak Ajeng dan Mbak Gendis datang, kedua perempuan itu tampak marah-marah dengan Pak Thamrin.
"Dasar lelaki binatang! Kau sia-siakan istrimu demi begundal jalanan ini! Hah! Kau memang iblis mas! Iblis jahanam!" maki Mbak Ajeng sambil memukul-mukul dada Pak Thamrin.
"Nyai orang baik maass. Kenapa mas? Kenapaaaa?" Mbak Ajeng menangis. "Kenapa kau sia-siakan istrimu maass?"
Pak Thamrin hanya senyum kecut, lalu meninggalkan Mbak Ajeng yang menangis di pelukan Mbak Gendis.
* * *
Setelah pemakaman selesai, Bi Tati, ibu, ayah, dan aku langsung kembali ke rumah juragan. Begitu pula Mbak Ajeng dan Mbak Gendis. Kami pulang ke rumah juragan bersama, Mbak Ajeng menyuruh ayah untuk mencarter opelet.
"Mang, cari opelet saja deh! Kita carter, biar cepet sampai rumah." suruh Mbak Ajeng.
Mbak Ajeng mengambil gelas kopi Juragan Thamrin, di siramnya kopi yang masih panas ke tubuh Pak Thamrin.
"Dasar manusia tak punya hati! Istrimu sedang di makamkan mas, tunjukkan sedikit rasa hormatmu pada almarhumah istrimu. Kau malah pulang duluan dan asik menikmati pisang rebus! Keterlaluan kau mas!" Mbak Ajeng marah-marah.
"Kau yang gila! Untuk apa kau siram tubuhku dengan kopi panas? Dasar wanita jalang!" sahut Juragan Thamrin dengan nada tinggi.
"Panas kopi tadi belum seberapa di banding rasa sakit nyai yang lemah karena keguguran. Pantasnya kau perhatikan nyai mas, bukan malah asik dengan perempuan lacur itu!" Mbak Ajeng makin meninggi.
Plakk.
Sebuah tamparan cukup kuat mendarat di pipi kiri Mbak Ajeng.
"Sekali lagi kau sebut wanita itu lacur! Aku tak segan-segan mengantarmu ke makam, kau temani Nyai Asih di sana!" ancam Juragan.
Mbak Ajeng mengusap pelan pipinya yang memerah. Ia senyum kecut.
__ADS_1
"Mbak, sudah mbak." Mbak Gendis merangkul bahu Mbak Ajeng.
"Kau tak pernah berubah ternyata mas. Aku kira, kelakuanmu akan berubah begitu kau menikah dengan Nyai Asih. Ternyata aku salah, kau sama saja seperti dulu. Kasar dan suka main hakim sendiri." ujar Mbak Ajeng.
"Kalau seperti ini, aku dan Gendis akan membatalkan penjualan kebun bapak yang terakhir. Melihatmu saja aku muak, apa lagi harus mempercayakan harta warisan bapak yang terakhir. Gendis, ayo kita pulang!"
"Ajeng! Gendis!" panggil juragan kepada kedua adiknya. Namun mereka tak menggubris panggilan juragan.
Mbak Ajeng dan Mbak Gendis berlalu meninggalkan rumah Juragan Thamrin. Juragan hanya diam menatap kepergian kedua adiknya. Bajunya masih basah karena kopi.
Kami para abdi dalam hanya diam termenung di dapur belakang rumah. Semua percakapan antara Mbak Ajeng dan juragan terdengar sampai belakang rumah. Ayah tak mau ambil pusing, ia hanya menghisap rokoknya sambil duduk di bale bambu.
* * *
"Tatiiiii! Tatiiiii!" juragan teriak memanggil Bi Tati.
Bi Tati yang sedang mengaji dengan buru-buru menutup qurannya dan menghampiri juragan di ruang tamu.
"Saya juragan."
"Sedang apa sih kamu? Kalau di panggil selalu lama." bentak juragan.
"Ma-maaf juragan, saya lagi mengaji."
"Mengaji harus tahu waktu dong! Jam berapa ini? Jam berapa sekarang?" tanya juragan.
"Jam tu-tujuh juragan."
"Jam tujuh itu waktunya apa? Hah?"
"Ma-makan malam ju-juragan." jawab Bi Tati gagap.
Buakk. Juragan menggebrak meja. Bi Tati terkejut.
"Mana makan malamnya? Hah? Manaaa?" teriak juragan.
"A-a-ampun juragan. Saya akan masak sekarang." ucap Bi Tati.
__ADS_1
"Aaahhh nggak usah. Kelamaan kalau harus nunggu kamu masak dulu, bisa mati kelaparan saya. Saya mau makan di luar saja bersama Badriyah." sahut juragan sambil ngeloyor pergi.