
Tubuhku terasa diayun. Ada tangan yang memeluk tubuhku. Hangat. Tangan ini hangat. Terasa kuat pegangan tangan ini di tubuhku. Namun pandanganku masih gelap. Pendengaranku belum pulih, semua terasa hening. Perutku amat sakit. Ada rasa panas yang menyertai.
Berhenti.
Tubuhku berhenti terayun.
Empuk.
Aku merasa berbaring di tempat yang sangat empuk. Seperti kasur. Tidak, ini bukan kasur. Bahkan lebih empuk daripada kasur. Serasa berbaring di gumpalan kapas.
Dimana aku?
Apa aku sudah mati?
Mati?
Oh, aku sudah mati rupanya.
Baiklah. Mungkin memang ini ajalku.
Biar aku saja yang mati.
Semoga Mas Gun bisa disembuhkan.
.
.
.
.
.
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnggggggg.
Suara apa ini?
Memekakkan telinga.
Ngiiiiiiiiiiiiiiiiiinnnggggggg.
Bisa tuli telingaku jika mendengar suara ini.
Eh, tuli?
Buat apa kupikirkan. Toh, aku sudah mati.
.
.
.
.
.
"Bagaimana lukanya?"
Suara Tika?
"Apa bisa disembuhkan?"
Eh. Tika berucap lagi.
Apa aku belum mati?
Kalau aku belum mati, mengapa pandanganku masih saja gelap?
Kelopak mataku juga terasa berat. Tak bisa kuangkat.
Eh. Apa ini? Kenapa dengan perutku?
Ada rasa yang dingin dan menggelitik.
Hahahahahahaha. Geli. Geli sekali.
Hahahahahahaha. Siapa yang usil menggelitik perutku?
"Alhamdulillah. Lukanya bisa disembuhkan."
Lho? Suara itu. Suara yang akrab di telingaku.
"Alhamdulillah." suara Tika lagi.
Aku masih hidup? Benarkah ini?
Srett. Wajahku terasa diusap.
"Dek Adi. Sadar Dek."
Suara ini..
Aku mencoba membuka mata. Kelopak mataku masih terasa berat. Kupaksakan. Bergerak. Ada semburat cahaya. Silau. Lalu samar-samar wajah dua orang terlihat. Siapa mereka?
Kubuka mataku lebar-lebar. Tapi wajah kedua orang tersebut masih tak jelas terlihat.
Aku belum mati?
Ah, aku sudah mati. Ini dua malaikat yang menjemputku. Atau jangan-jangan mereka iblis penghuni neraka?
Lama-lama sedikit jelas.
.
.
.
Jelas.
.
.
.
__ADS_1
Dan semakin jelas.
Apa benar yang kulihat?
Dia. Dia. Mau apa dia?
Aku menelan ludah. Kukucek mataku berkali-kali.
Memang sangat jelas yang kulihat.
.
.
.
Dia,
.
.
.
NEK IYAH!
Aku terkejut, bangun dan mundur ke belakang.
Nek Iyah tersenyum melihatku. Senyumnya tulus dan pasrah. Ada Tika juga.
Kulihat sekelilingku.
Aku masih melepas raga.
Kakek Halim sedang bertarung dengan demit bertanduk dibantu kuntilanak merah. Kang Ujang hanya berdiri menyaksikan.
Lalu, sedang apa Nek Iyah disini?
"Jangan takut Dek. Saya datang untuk menolong kamu." ucapnya.
Apa? Menolong? Apa aku tak salah dengar? Atau Nek Iyah yang salah bicara?
Tampak kuntilanak merah meninggalkan pertempuran dengan Kakek Halim. Ia terbang menjauh, mendekati Kang Ujang. Ia menatap ke arah kami. Ke tempat kami berada. Aku, Tika, dan Nek Iyah.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." tawa kuntilanak merah menggema.
"Lama tak jumpa Badriyah." ucap kuntilanak merah sambil tersenyum menyeringai.
Nek Iyah bangkit berdiri. Ia menghadap ke kuntilanak merah.
"Kau juga ingin tobat seperti Badrun rupanya. Hihihihihihihi." sambung kuntilanak merah.
Nek Iyah diam tak berkata.
Tika membantuku berdiri. Kulihat luka di perutku telah sembuh. Tak ada bekasnha sedikit pun.
"Bukannya kau tahu resikonya, jika memutuskan perjanjian denganku Badriyah? Ayolah bergabung bersamaku. Kita ambil jiwa-jiwa mereka." ujar kuntilanak merah.
Nek Iyah hanya diam.
Nek Iyah menghela napas panjang.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah terbahak dengan tawa ciri khasnya.
"Bukankah selama ini kau selalu kembali muda dan sehat ketika kau berikan tumbal padaku. Apa itu belum cukup Badriyah?" tanya kuntilanak merah.
Nek Iyah menggeleng pelan.
"Sudah cukup. Aku sudah lelah dengan semua ini." balas Nek Iyah.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."
"Kalau alasanmu seperti itu, kau tentu tahu semua ini akan berakhir seperti apa Badriyah?" sahut kuntilanak merah dengan senyum jahatnya.
"TUNGGU!" Kang Ujang menyela.
"Tunggu tunggu. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi antara kalian? Hah?" tanya Kang Ujang.
"Heh, Badriyah apa belum jelas kesepakatan kita?" Kang Ujang berkata.
Nek Iyah hanya tersenyum.
"Kesepakatan soal apa Jang?" tanya Nek Iyah.
"HAHAHAHAHAHAHA. DASAR NENEK PEYOT, SUDAH BAU TANAH TAPI MASIH MAU BERKELIT." sahut Kang Ujang.
Nek Iyah diam.
"KESEPAKATAN BAHWA KUNTILANAK MERAH ITU KINI MENJADI MILIKKU! MEMANG KAU LUPA? ATAU KAU PURA-PURA LUPA?" tutur Kang Ujang.
Nek Iyah hanya tersenyum.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah tertawa.
Kang Ujang tampak bingung.
"Hei, sebenarnya apa yang terjadi? Jawab Badriyah! Hei demit, ayo jawab!" suruh Kang Ujang.
Nek Iyah tiba-tiba terkekeh.
Kang Ujang makin terlihat bingung.
"Ujang Ujang, kau pikir semudah itu bisa memberikan demit sakti macam dia? Kau ini masih bau kencur, kau tidak tahu apa-apa soal masalah gaib. Hehehehehehe." jawab Nek Iyah.
Kuntilanak merah masih mengikik.
"Lalu, kesepakatan kita kemarin?" tanya Kang Ujang semakin penasaran.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah tertawa.
"Asal kau tahu, kesepakatanmu dengan Badriyah tak berlaku apa-apa. Walaupun kau memberikan tumbal sebanyak apapun untukku, itu tak akan berlaku. Dengan tumbal yang kau berikan, itu hanya akan menunda dirinya untuk dijadikan pengganti tumbal." jelas kuntilanak merah.
"JANGAN BERCANDA KAU DEMIT SIALAN!" Kang Ujang tampak kesal.
"Hihihihihihihihihi." kuntilanak merah kembali mengikik.
"Pengabdianku padamu hanya sebatas umur demit tersebut. Jika ketiga demit itu musnah, maka kau bukan lagi Tuanku. Lihat, tumbal yang kau berikan tinggal satu. Kalau demit itu musnah.." kuntilanak merah menunjuk demit bertanduk dan tak meneruskan kata-katanya.
__ADS_1
.
.
.
"MAKA BISA JADI KAU TUMBAL BERIKUTNYA BOCAH LAKNAT!" lanjut kuntilanak merah dengan mata melotot melihat Kang Ujang.
Kang Ujang diam, ia tak bisa berkata. Hanya ketakutan yang tergambar dari wajahnya.
"HEI BADRIYAH! KENAPA DEMIT ITU TAK SEPENUHNYA MENJADI MILIKKU? JELASKAN PADAKU NENEK PEYOT! JELASKAN!" Kang Ujang berteriak.
Nek Iyah tersenyum.
"Karena kau tidak melakukan perjanjian darah dengannya Jang. Ia tak akan bisa menjadi milikmu." jawab Nek Iyah.
"Darah? Aku bisa berikan darahku sekarang. Bisa. Hei Merah, mau berapa banyak darah yang kau butuhkan? Akan kuberikan. Aku akan kembali ke tubuhku sekarang, dan kau bisa ambil darahku. Ayo Merah!" ujar Kang Ujang.
Nek Iyah terkekeh.
Kuntilanak merah hanya tersenyum.
"Sudahlah Jang. Nasibmu kini bergantung pada demit yang sedang dilawan oleh Raden Halim." sahut Nek Iyah.
"DIAM KAU NENEK SIALAN!" bentak Kang Ujang.
Nyawa Kang Ujang sedang diujung tanduk. Wajahnya terlihat was-was. Kami semua menyaksikan Kakek Halim bertarung dengan demit bertanduk.
Kakek Halim sedikit kesusahan, karena harimau putihnya terluka. Mungkin itu sumber kekuatan terbesarnya. Tapi, walaupun Kakek Halim tampak sedikit lemah. Namun ia bisa mengimbangi perlawanan demit bertanduk.
Tiba-tiba tangan Kakek Halim bersinar putih, ada kilat yang menyambar-nyambar dari tangannya. Ia berdiri dengan kuda-kuda terpasang.
Demit bertanduk mengambil ancang-ancang, kemudian berlari dengan kepala menunduk ingin kembali menyeruduk Kakek Halim.
Derap kakinya terdengar berdentum.
DRAP.
DRAP.
DRAP.
DRAP.
DRAP.
"RAAAAAWWWWRRRR!" demit teriak dengan kencang.
Kakek Halim lompat ke arah demit bertanduk.
SETT.
Tak terlihat apa yang terjadi berikutnya. Yang kusaksikan hanya Kakek Halim sudah mendarat beberapa meter di belakang demit bertanduk.
Tiba-tiba..
Demit bertanduk terbakar. Ada api yang membakar tubuhnya. Api berwarna putih. Demit itu meronta kepanasan di atas tanah. Teriakannya sungguh keras. Lidah api berwarna putih menjilat-jilat.
Kuntilanak merah tersenyum.
Kang Ujang hanya terdiam.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." kuntilanak merah tertawa sembari melihat demit bertanduk yang sudah tak bergerak. Api masih berkobar di tubuh demit itu.
Perlahan api padam.
Tubuh demit bertanduk tak nampak lagi. Hanya bekas hitam yang tertinggal di tanah.
"Demitmu sudah habis Ujang. Kini kau bukan lagi Tuanku. Hihihihihihihihi." ucap kuntilanak merah.
"Tunggu! Tunggu Merah! Aku sudah berjasa memberikanmu tiga tumbal. Akan kucarikan lagi tumbal untukmu." balas Kang Ujang dengan raut wajah panik.
Nek Iyah hanya tersenyum melihat Ujang.
"Hmmm. Nampaknya jiwamu terlihat lezat Jang." ucap kuntilanak merah.
"Hei hei hei, mau apa kau Merah? Jangan macam-macam kau Merah! Bisa kumusnahkan kau!" tutur Ujang.
"Apa? Coba ulangi lagi kata-katamu barusan! Hihihihihihihi." balas kuntilanak merah sambil mendekat perlahan ke Kang Ujang.
"JANGAN MENDEKAT! KUPERINTAHKAN KAU, JANGAN MENDEKAT KUBILANG!" Kang Ujang berteriak.
Kuntilanak merah tetap melayang mendekati Kang Ujang.
"Merah, kumohon jangan ambil jiwaku Merah. Aku sudah berjasa memberikanmu tumbal. Masa kau tega mengambil jiwaku. Ayolah Merah." Kang Ujang memohon.
Kang Ujang menangis memohon pada kuntilanak merah.
"Ma-maafkan aku Merah. Maafkan aku." ucap Kang Ujang.
"Heh, mengapa kau ciut sekarang? Bukankah tadi bacotmu paling besar?" kuntilanak bertanya pada Kang Ujang.
"Hihihihihihihihihi."
"Ampun Merah. Ampun." Kang Ujang memohon sambil menangis.
Kini kuntilanak merah sudah melayang di hadapan Kang Ujang.
Kang Ujang bersujud menyembah pada kuntilanak merah, meminta ampun. Kuntilanak merah tertawa sangat keras. Ia merasa sangat menang ketika melihat Kang Ujang bersimpuh menyembahnya. Meminta ampun sambil merengek bagai anak kecil.
Ia merasa seperti Tuhan, bisa menentukan hidup mati seorang Ujang.
Tawanya menggelegar, melengking, panjang, dan menakutkan.
...____________...
...hari ini cukup segini dulu ya...
...mudah2an besok sempet update lagi....
...minta LIKE-nya dong...
...silakan KOMEN, apapun asal positif...
...FAVORIT juga ya...
...kalo berkenan kirim HADIAH...
__ADS_1
...kalo VOTE wajib yaaa (hehehehe)...
...makasih...