Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 37


__ADS_3

"Siang kak, pasti pulang kuliah ya?" tanya si lelaki bertubuh gempal.


"Kok mas tahu?" tanya Kemala.


"Iya, soalnya kakak telah mengkuliahi hatiku." ucap si lelaki.


Kemala diam, aku pun diam.


Si lelaki bertubuh gempal senyum, mungkin sadar leluconnya tak berhasil membuat kami tertawa. Lalu berkata,


"Hehehehe. Nggak lucu ya?"


"Hehehehehe. Nanti di coba lagi ya mas." ucap Kemala. Aku hanya diam melihat si lelaki gempal.


"Oke kak. Jadi mau ngopi apa nih?" tanya si lelaki gempal.


Aku dan Kemala melihat di sebuah papan tulis besar di sudut atas dinding. Di papan tulis itulah terpampang menu, banyak dan cukup membingungkan. Ku lihat Kemala pun nampak kebingungan.


"Yang nggak pakai kopi apa mas?" tanya Kemala sembari melihat ke papan tulis.


"Kalau yang nggak ada unsur kopi-kopian, kakak lihat yang sebelah kanan, ada tulisan non-coffee." tunjuk si lelaki ke papan menu.


"Mana? Kok nggak kelihatan." ucap Kemala. Aku melihat Kemala memejamkan matanya seraya bertanya. Aku diam dan menahan tawa. Rupanya ia meledek si lelaki gempal dengan ledekan yang tadi di tujukan kepadaku.


"Itu lho kak, yang ada tulisan non-coffee gede banget." si lelaki gempal masih saja menunjuk ke papan menu.


"Mana mas? Saya nggak lihat."


"Itu kak, yang tulisannya warna kun.." si lelaki gempal tak meneruskan kata-kata, lalu ia menoleh ke arah Kemala.


"Yeee si kakak, mau saya tunjuk sampai lebaran kebo mana kelihatan kalau kakak-nya merem." tutur si lelaki gempal.


Ada-ada saja Kemala, sampai pramusaji kedai kopi ia candai.


"Maaf mas, kadang mata saya suka ke tutup sendiri kalau lihat menu sama harga. Hehehehe."


"Udah udah. Kapan minumnya kalau lo becandain mas-nya terus. Mas, saya pesan kopi susu gula aren." ucapku.


"Kakaknya mau pesan apa?" tanya si lelaki gempal ke Kemala.


"Emm.. saya ice chocolate aja mas." ucap Kemala.


"Oke. Kopi susu gula aren satu. Ice chocolate satu. Di tunggu ya kak." ujar si lelaki gempal seraya meninggalkan kami.


Bagaimana memulai obrolan dengan Kemala? Masa harus ku tanya sudah makan belum? Ah basi, terlalu kaku, terkesan old school.


"Eh, lo kapan ke perpus? Kapan-kapan ke perpus bareng yuk!" aku membuka obrolan.


"Eh? Perpus?" Kemala nampak bingung.


Ah sial, kenapa kata-kata perpus yang keluar dari mulutku. Dasar bodoh kamu Adi.


"Di," panggil Kemala.


"Ya?"


"Gue turut berduka cita ya." ucap Kemala memberikan bela sungkawa.

__ADS_1


"Iya, makasih."


"Memang gimana sih ceritanya Di? Gue pengen tahu dari temen deketnya almarhum. Soalnya di kampus ceritanya banyak versi, gue jadi bingung."


"Banyak versi? Memang yang lo dengar gimana ceritanya?" tanyaku penasaran.


"Iya banyak versi. Ada yang bilang Bagas di culik, terus di sekap di rumah kosong. Terus ada yang bilang juga Bagas kabur dari rumah karena stres, terus tinggal di rumah kosong itu sampai nggak keurus dan meninggal."


Aku sempat kaget mendengar cerita Kemala. Ternyata banyak gosip yang beredar tentang kepergian sahabatku, Bagas.


"Hah, ada yang bilang gitu? Serius lo?" tanyaku.


"Iya, makanya gue bilang banyak versi." sahut Kemala.


Kemudian aku pun menceritakan runutan kejadian dari awal hingga Nek Iyah menghubungiku pagi itu. Kemala hanya mendengarkan tanpa berkata atau pun bertanya. Di sela-sela ku bercerita, si lelaki gempal pramusaji datang mengantarkan pesanan kami, mempersilakan kami untuk menikmatinya dengan ramah.


"Ya ampun, kok bisa ya? Dan gue baru dengar juga tuh istilah syok.. syok apa tadi?" tanya Kemala, di selingi menyedot ice chocolate-nya.


"Syok hivopolemik."


"Di, lo nggak ada niatan pindah dari sana?" tanya Kemala lagi.


"Dari mana?"


"Kost itu. Kalau gue jadi lo, gue udah pindah tuh." tutur Kemala.


"Bukannya nggak mau, di sana enak Mala. Gue nyaman dengan suasananya. Lagian, kalau ingat-ingat perjuangan cari kost, rasanya berat banget. Mondar-mandir, tanya sana-sini. Pokoknya capek deh." jelasku.


"Oh gitu. Terus yang bikin lo nyaman apa?" Kemala bertanya kembali.


"Emm, yang bikin nyaman ya?" aku berpikir sejenak.


"Yeee gombal. Hahahahaha." Kemala melempar segenggam tisu ke wajahku.


Pukul 16:20.


Obrolan kami sudah ngalor-ngidul, sudah dua gelas es kopi ku habiskan. Sudah beberapa kali Kemala pergi ke toilet.


"Di, balik yuk. Udah sore nih." ajak Kemala.


"Ayo. Sebentar gue bayar dulu." ucapku.


"Ayo bayar bareng." ucap Kemala. Kami pun menuju meja kasir.


Mesin kasir di jaga oleh seorang perempuan, berkerudung dengan tahi lalat di pipi sebelah kirinya. Wajahnya terlihat muda, usianya mungkin sekitar 27 tahunan.


"Kak, mau bayar." ucapku.


"Meja berapa? Oh, meja di luar ya?" ucapnya. Aku mengangguk.


Si perempuan menekan-nekan angka di mesin kasir, lalu keluar kertas kecil dari dalam.


"Ini kak, totalnya empat puluh ribu." si perempuan menyerahkan secarik kertas kecil.


Aku pun membayar.


"Makasih kak." ucapku dengan senyum, si perempuan membalas senyum.

__ADS_1


"Iya sama-sama."


"Bro!" panggil seorang lelaki kurus di belakang gerobak kuning. Baru ku lihat lelaki ini. Oh, ternyata sedari tadi ia terhalang oleh gerobak kuning.


"Ya mas." ucapku.


"Jangan panggil dia kakak, umurnya udah tua tuh!" tunjuk si lelaki kurus ke perempuan penghuni meja kasir.


"Hahahahahaha. Masa sih mas?" sahutku.


"Suwer gue bro. Udah tua dia. Hahahaha." si lelaki kurus meledek perempuan di meja kasir.


"Lo juga tua. Sama kayak gue." balas si perempuan.


"Mas, balik dulu ya. Makasih." ucapku.


"Iya bro. Besok dateng lagi ya. Kalau bisa ajak keluarga, sanak saudara, teman SD, teman SMP, teman SMA, teman kuliah. Hehehehe." ujar si lelaki kurus.


"Hahahaha. Siap mas."


Aku dan Kemala pun meninggalkan kedai kopi. Tempatnya asik, kopinya pun enak, dan orang yang bekerja di sana juga ramah. Boleh saja aku referensikan ke Yuda, ia memang suka sekali dengan kopi.


"Tempatnya asik nggak?" tanyaku ke Kemala sembari kami berjalan.


"Asik kok. Minumannya enak, terus dekorasi kedainya bagus, yang kerja di sana juga suka bercanda kelihatannya, sama kayak gue, hehehehe. Kenapa memangnya?" tanya Kemala.


"Enggak apa-apa. Gue sependapat sama lo." sahutku.


Kemala diam, tak berapa lama ia bersuara.


"Naaahh, gue tahu nih. Gue tahu!"


"Eh, tahu apa ya?" tanyaku bingung.


"Lo naksir sama kakak yang jaga kasir kan? Ngaku lo Diii." tuduh Kemala.


Ku dorong pelan lengan Kemala.


"Jangan ngaco kalau ngomong."


"Aah bohong lo Di. Kelihatan tau lo ngeliatin dia terus. Hahahaha" ucap Kemala lagi.


"Hahahaha. Tiba-tiba gue pengin beli kaos kaki deh ni." gumamku.


"Aaahh jangan cari pembahasan lain lo."


"Beneran gue mau beli kaos kaki nih." ujarku.


"Kan gue lagi ngomongin kakak yang di kasir Di, kok lo bahas kaos kaki sih?" balas Kemala.


"Asli, gue pengen beli kaos kaki nih."


"Buat apaan sih Di?" Kemala bertanya.


"Buat sumpel mulut lo! Hahahahaha."


"Hahahahaha. Sial lo." Kemala meninju lengaku.

__ADS_1


Hari ini sungguh hari yang tak bisa ku lupakan. Cukup lama aku bersama Kemala. Kami banyak bercerita satu sama lain. Kami saling bercanda, saling meledek. Aku bisa melupakan sejenak hal-hal mistis yang ku alami belakangan ini. Aku bisa melupakan hukuman dari Pak Azmi walau hanya sebentar. Ya, Kemala yang membuat semua jadi indah. Hanya bersama Kemala.


__ADS_2