
Aku berdiri di halaman kost, menunggu Mas Gun siap. Pagi ini kami akan jalan kaki menuju kampus. Karena motor Mas Gun masih di rumah Yuda. Mungkin sepulang kuliah aku akan mengambilnya.
Srak srak srak. Terdengar bunyi sapu lidi menggesek.
Ah, itu pasti Nek Iyah. Sudah lama aku tak melihat rupanya. Bagaimana wajahnya setelah mendapatkan dua orang tumbal kemarin. Pasti terlihat sangat segar dan menawan. Tubuhnya tegap dan tampak lebih sehat.
"Maaaaas. Ayo buruan!" teriakku memanggil.
Kulihat pintu kamar Tika masih tertutup. Entah ia tak kuliah atau sudah berangkat lebih dulu. Yang kutahu Yuli sudah pergi sejak pagi buta.
Mas Gun keluar kamar sembari mengancingkan kemejanya. Keringat di dahinya terlihat penuh. Masalah orang gendut adalah keringat yang berlebih. Itu yang Mas Gun sering ucap padaku.
Sepatunya tak dipakai dengan benar. Bagian belakangnya diinjak. Juga tak memakai kaus kaki. Aku tak bisa membayangkan jika harus mengendus bau sepatu Mas Gun. Mungkin bisa dilarikan ke UGD. Sepatunya hitam, tapi debu kecoklatan tampak menyelimuti sepatunya.
"Yuk!" ajak Mas Gun sambil menyeka keringat di dahinya.
"Handuk kecil udah bawa belum?" tanyaku.
"Udah dong. Yuk ah!"
Handuk kecil menjadi senjata andalan Mas Gun. Berfungsi untuk melap keringat. Jika tak ada handuk kecil, entah berapa bungkus tisu yang harus disiapkan Mas Gun.
Kami berjalan melewati garasi. Suara sapu lidi menggesek di tanah masih terdengar. Tak sabar aku ingin bertemu Nek Iyah.
Kami pun sampai di halaman rumah Nek Iyah. Itu dia orangnya! Nek Iyah sedang menyapu halaman menggunakan sapu lidi.
Eh. Tapi. Tapi kenapa tubuhnya bungkuk seperti biasa? Bukankah ia telah mendapatkan dua tumbal?
Tiba-tiba Nek Iyah menoleh ke arah kami.
Astaga. Itu Nek Iyah? Kenapa. Kenapa wajahnya membuatku pangling? Wajahnya tampak kuyu. Kantung matanya kendur. Keriput memenuhi seluruh wajahnya. Matanya merah berair. Bibirnya gemetar tak keruan. Rambutnya terlihat jarang, hampir menuju kebotakan. Ada apa dengan Nek Iyah? Bukankah ia sudah mendapatkan dua tumbal?
"D-d-dek Adi. Mau berangkat kuliah?" tanya Nek Iyah dengan terbata.
"Eh. I-iya Nek." jawabku.
Nek Iyah tersenyum. Beberapa giginya terlihat ompong.
"Nek."
"Ya, Dek Adi. Apa ada masalah di kamar kost-nya?" tanya Nek Iyah.
"Enggak Nek."
"Lalu ada apa?" tanya Nek Iyah.
"Apa Nek Iyah sehat? Nenek kelihatan sakit." ucapku.
Nek Iyah kembali tersenyum.
"Saya nggak apa-apa Dek. Saya cuma capek." jawabnya.
Mas Gun menepuk lenganku. Aku terkejut.
"Nek, kami berangkat kuliah dulu. Permisi. Assalamualaikum." Mas Gun cepat berkata sambil menarik tanganku.
Nek Iyah hanya tersenyum dan membalas dengan anggukan.
Kami berjalan cepat meninggalkan kost.
"Lo ngapain peduli dengan Nek Iyah Di? Segala tanya kondisinya. Jelas-jelas dia biang keladi yang bikin lo sampai seperti ini." tutur Mas Gun.
"Aneh Mas. Itu kenapa gue tanya kondisi beliau."
__ADS_1
"Aneh? Yang aneh justru lo Di. Ngapain peduli dengan orang yang udah jelas ingin mencelakai lo." ungkap Mas Gun.
"Yang bikin aneh adalah kenapa setelah mendapatkan dua orang tumbal, wajah Nek Iyah nggak berubah menjadi lebih muda dan segar. Itu yang gue sebut aneh."
"Lho, memang sebelumnya gimana?" tanya Mas Gun.
"Entah saat Pak Rahmat yang menjadi tumbal atau Bang Oji, yang jelas setelah seorang menjadi tumbal wajah Nek Iyah terlihat jauh lebih muda. Badannya tampak lebih segar." jelasku.
Mas Gun tak menanggapi.
Kalau Nek Iyah seperti itu, kemana dua jiwa yang menjadi tumbal kuntilanak merah?
Kami sampai di depan gang dan berpapasan dengan Kang Ujang.
"Dek Adi. Mas Gun. Mau berangkat kuliah?" tanya Kang Ujang.
"Iya Kang."
"Aduuuhh sudah lama nih nggak ngopi-ngopi bareng Dek Adi dan Mas Gun." ujar Kang Ujang.
"Nanti malam ke rumah saya dong. Kita ngopi-ngopi. Datang ya Dek Adi, Mas Gun. Saya habis petik pisang di kebun, lumayan bisa buat pisang goreng." ujar Kang Ujang.
"Waaahh, mantap tuh Kang. Oke deh. Nanti malam saya sama Adi ke rumah." jawab Mas Gun.
"Insya Allah Kang. Kalau nggak ada kesibukan saya sama Mas Gun ke rumah." tambahku.
"Oke deh. Saya duluan ya, mau ke rumah Nek Iyah." Kang Ujang berlalu meninggalkan kami.
Aku dan Mas Gun melanjutkan perjalanan menuju kampus.
"Di, momennya pas tuh. Nanti malam ke rumah Kang Ujang, sekalian kita cari informasi soal kuburan bayi Nyai Asih dan sejarah mobil antik Pak Thamrin." ujar Mas Gun.
"Iya Mas. Semoga ada titik terang. Capek juga dihantui misteri terus-menerus." sahutku.
"Di, motor Mas Gun kapan mau diambil? Kalau kelamaan takut di kiloin sama bokap. Hehehehe." tanya Yuda.
Kami keluar kelas beriringan. Hari ini jadwal kuliah kelasku hanya sampai pukul satu siang. Syukurlah, aku punya banyak waktu setelah kuliah.
"Ayo ke rumah lo. Nanti baliknya gue bawa motor Mas Gun." ajakku.
"Lah, Mas Gun nggak ikut?" tanya Yuda.
"Kayaknya enggak deh. Dia kuliah sampai sore katanya." jawabku.
Yuda mengajakku makan terlebih dahulu sebelum pergi ke rumahnya. Gado-gado lontong menjadi pilihannya. Aku ikut saja, secara Yuda yang mentraktirku.
Setelah makan, kami berangkat menuju rumah Yuda. Kebetulan juga hari ini Yuda mengendarai mobil. Jadi aku tak perlu repot mencari pinjaman helm.
Setengah jam lebih kami menempuh perjalanan, akhirnya kami pun sampai di rumah Yuda.
"Pak, minta tolong keluarin motor putih dong." Yuda meminta tolong pada Pak Satpam.
"Di, lo nggak langsung cabut kan?" tanya Yuda begitu kami keluar dari dalam mobil.
"Enggak. Gue mau ngopi dulu bentar. Nggak apa-apa kan?"
"Ngopi sana, lo mau bawa pulang buat Mas Gun juga nggak apa-apa." suruh Yuda.
Kami masuk ke rumah melewati pintu samping.
Kami duduk dekat kolam renang. Mataku terasa segar melihat birunya air di kolam. Ditambah tanaman hias dan pepohonan yang berwarna hijau. Tak lama, Mbak mengantar kopi pesananku dan segelas es teh manis milik Yuda.
"Di, gue mau tanya sesuatu dong." ucap Yuda sambil menghisap rokoknya.
__ADS_1
"Tanya aja. Kaku banget Da."
"Di, gue akhir-akhir ini ngerasa iseng deh. Nggak tahu kenapa. Mungkin sejak lihat kondisi jenazah Mas Steve kemarin kali ya. Lo ngerasa juga nggak?" tanya Yuda.
Aku bingung ingin menjawab apa.
"Di. Gue serius nih Di. Perasaan gue jadi nggak keruan deh. Gue takut terjadi hal buruk." ucap Yuda. Raut wajah khawatirnya tak bisa disembunyikan.
"Sama Da. Kalau dibilang takut, mungkin kata itu lebih cocok buat gue. Kan lo tahu soal kuntilanak merah yang mengincar gue, ditambah lagi kini bertambah kekuatan mereka dengan bergabungnya dua demit." jawabku.
"Apa lo ada saran buat gue Di?" tanya Yuda lagi.
Aku menghela napas. Kusandarkan tubuhku ke kursi. Kedua tangan kulipat dan kuketakkan di belakang kepala. Kutatap langit siang yang cerah.
"Doa. Cuma itu kayaknya Da." jawabku.
"Udah Di. Tiap habis shalat, gue berdoa mohon dilindungi lahir dan batin. Gue, keluarga gue, sahabat gue, dan semuanorang terdekat gue." tutur Yuda.
"Kalau itu semua sudah dilakukan, lo mau apa lagi Da?" tanyaku.
Yuda terdiam. Ia menyedot es teh manisnya.
"Kalau semua sudah dilakukan, kita hanya tinggal tunggu jawaban dari Yang Maha Kuasa. Kalau ikhtiar sudah, ibadah sudah, doa sudah. Apa lagi? Terserah Yang Kuasa, doa kita dikabulkan atau ditunda." ujarku.
Kuceritakan pada Yuda soal mimpiku malam tadi. Yuda terkejut mendengar ceritaku. Bulu kuduknya merinding. Ia semakin takut, perasaannya makin tak keruan.
"Pesan gue cuma satu buat lo Da," ucapku.
Yuda diam, tatapannya tajam.
"Bentengi diri lo dengan zikir Da. Di mimpi gue, demit itu bilang sebentar lagi. Gue, Mas Gun, dan Tika juga sudah mulai mempersiapkan diri. Gue mau lo melakukan hal yang sama dengan gue dan kawan-kawan." ujarku.
Yuda masih diam menatapku.
"Doakan gue dan kawan-kawan, semoga bisa memusnahkan kuntilanak merah itu. Makasih lo udah jadi bagian dari cerita indah hidup gue. Kalau ternyata gue nggak bisa lagi menemani lo ngopi suatu hari nanti. Tolong jangan lupakan gue sebagai sahabat lo. Gue pun nggak pernah melupakan Bagas sebagai sahabat gue." lanjutku.
Air mataku menggenang diujung mata. Menunggu tumpah.
Yuda tertunduk, tangannya gemetar.
Awan terlihat mendung siang ini. Sinar matahari tak setangguh tadi, tak seangkuh tadi. Mendungnya langit, semendung hatiku.
Tapi..
Aku tak boleh cengeng.
Aku tak boleh lemah.
Aku tak boleh menyerah.
Tekadku untuk menumpas kuntilanak merah itu kian menggebu. Aku masih ingin melanjutkan hidup. Aku ingin ayah ibuku melihatku memakai toga. Aku ingin terus bersahabat dengan Tika, Yuda, Mas Gun, dan semua sahabatku.
Bismillahirrahmanirrahiem.
..._______...
...**selamat tahun baru 2022...
......terima kasih untuk para pembaca yang selalu setia menunggu update "kamar no.11b". mohon maaf otor banyak kekurangan. ......
...semoga di tahun mendatang, bisa segera di selesaikan cerita ini. dan semoga bisa melahirkan karya baru untuk para pembaca....
...salamku,...
__ADS_1
...vikryviik**...