
Kang Ujang membuka mata, lalu tersenyum dengan angkuh. Nyengirnya lebar bak seorang pemenang. Ia menatap kami dengan tatapan nanar penuh dendam.
GRRROOOOAAAARRRR. Harimau putih mengaum keras.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." tawa kuntilanak merah keras.
Tawanya menggema, menusuk gendang telinga. Memekakkan. Seketika aku ketakutan. Menatap matanya aku tak sanggup. Ada ketakutan tersendiri ketika mendengar tawa dari kuntilanak merah itu.
Kuntilanak merah berdiri tepat di depan awan hitam yang mengepul, berduyun membuat gelombang menyeramkan. Kilatan cahaya merah kehitaman masih tergambar. Lalu muncullah tiga demit dengan wajah menyeramkan dari belakangnya.
Glek. Aku menelan ludah.
Itu pasti demit korban tumbalnya yang terakhir.
Satu demit memiliki lubang di dahinya. Tunggu! Itu bukan lubang, itu mulutkah? Benar. Itu mulut. Mulut di dahinya. Tampak gigi-gigi kecil nan tajam, dan lidah yang sesekali menjulur menjilat. Demit Mas Steve! Ya, itu pasti demit Mas Steve. Matanya merah menyala. Kulitnya keriput berwarna abu kehitaman.
Satu demit lainnya, memiliki rambut panjang yang menjuntai sangat panjang. Tubuhnya di penuhi sisik seperti ular. Ada dua gigi taring yang mencuat keluar. Matanya hitam legam. Kuyakin itu demit wanita misterius yang menjadi korban tumbal juga.
Demit terakhir rupanya tak begitu menakutkan. Ada dua tanduk kecil di dahinya. Bola matanya berwarna hitam. Dan tubuhnya dipenuhi bulu. Hanya bentuk kakinya yang aneh, seperti cakar ayam.
"HAHAHAHAHAHAHAHA. BAGAIMANA? SUDAH MERASA TAKUT?" teriak Kang Ujang.
Benar-benar banyak bacot tukang kebun itu. Mangkel juga hatiku mendengar ocehan jumawanya.
Kakek Halim terdiam dengan senyum tetap terukir di bibirnya.
"Halim. Untuk apa kau datang?" kuntilanak merah buka suara.
Apa kuntilanak itu mengenal Kakek Halim?
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." tawanya memecah malam.
Kakek Halim diam tak menjawab.
"Aaaahhh. Aku tahu, aku tahu. Kau ingin melindungi cucumu bukan? Hihihihihihihi." ucap kuntilanak merah.
"Hei merah! Apa kau mengenalnya?" Kang Ujang bertanya sambil menatap kami.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI."
"Raden Halim. Siapa yang tak mengenalnya? Pria sakti dan berilmu tinggi. Sahabat kental si tua Bangka Badrun. Hei Halim? Mana sahabatmu itu?" ujar kuntilanak merah.
"Merah, apa kabarmu?" Kakek Halim bertanya singkat.
"HIHIHIHIHHIHIHIHIHIHI." Merah tertawa.
"Kau masih saja irit dalam berbicara Halim. Bagaimana perasaanmu ketika mengetahui darah keturunanmu akan kuambil? Hihihihihihihi." tanya kuntilanak merah.
Kakek Halim hanya melemparkan senyum.
"Aku bisa apa Merah?" balas Kakek Halim.
__ADS_1
"Rasanya percuma aku bicara panjang lebar, kau tak pernah berkata lebih. Sebagai pemanasan, kuberikan hadiah kecil untukmu Halim. Terimalah. HIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." ujar kuntilanak merah.
Seketika muncullah segerombolan demit dari balik awan hitam. Mereka terbang dari balik kepulan awan hitam yang berombak. Dengan wajah yang bermacam-macam, dan bentuk yang menyeramkan. Tatapan segerombolan demit itu sangat buas.
"K-kek, ada rencana?" tanyaku pada Kakek Halim.
Kakek Halim menoleh ke arahku dengan senyum tetap terukir.
"Mari, kita lawan mereka." jawab Kakek Halim dengan tenang.
Aku menelan ludah.
"Tik, Mas." panggilku ke Tika dan Mas Gun.
Mereka menoleh ke arahku.
"Siap?" tanyaku.
Tika tersenyum dengan tatapan tajam.
"Yuk. Gue geregetan nih." jawab Tika.
Aku melirik Mas Gun.
"Hehehehe. Siap gue. Kita tawuran nih ceritanya?" balas Mas Gun.
Segerombolan demit berteriak, meraung, menggeram, dan tertawa menatap ke arah kami.
"Siap Kek!" jawab Mas Gun dengan mantap.
"SERANG MEREKA!" teriak kuntilanak merah dengan senyum menyeringai. Sekumpulan demit terbang menyerang. Sisanya menunggu perintah dari pemimpin mereka.
RROOOOOAAAAAARRRHHHH!
Segerombolan demit berteriak, mereka terbang ke arah kami.
Wuuuuuunnggg. Mas Gun membuat perisai. Bentuknya kini tinggi, terlihat sampai ke langit. Perisai bersinar berwarna kuning. Kami dikurung oleh perisai Mas Gun.
Fuuuhh. Kakek Halim meniup perisai Mas Gun. Seketika perisai berubah warna menjadi putih bersinar terang.
Beberapa demit menabrak perisai.
BAAKKK.
Namun kami semua terkejut, ketika demit-demit yang sengaja menabrak perisai justru menempel di perisai tersebut. Seperti lalat yang menempel di jaring laba-laba. Mereka tak bisa lepas. Sekuat apapun mereka meronta dan mencoba melepaskan diri, tetap saja tubuh mereka menempel di perisai.
Gerombolan lainnya sengaja tak menabrak perisai. Mungkin takut menempel seperti temannya. Mereka mencoba memukul, menyerang perisai, bahkan ada yang menembakkan dengan kekuatannya. Namun perisai Mas Gun yang di beri kekuatan oleh Kakek Halim tak bisa ditembus.
"Hiyaaaaaaaa!" Tika menembakkan cahaya kuning dari tangannya. Ia tujukan pada demit yang sedang sibuk menghantam perisai. Beberapa demit musnah terkena serangan Tika.
Kelompok lainnya menyerang dari belakang, mencari titik lemah dari perisai. Mereka terbang memutar. Namun niat mereka sudah terbaca oleh Kakek Halim.
__ADS_1
Kakek Halim berbalik badan. Ia mengangkat tangan kanannya. Dijulurkan tangan kanannya ke depan, seketika telapaknya bersinar putih. Kelompok demit yang menyerang dari belakang mencoba mennua perisai.
Tiba-tiba..
SYUUTT. Telapak tangan Kakek Halim menembakkan sinar putih berbentuk runcing. Sinar itu melesat ke arah sekumpulan demit. Seketika sinar runcing itu berubah menjadi banyak dan terlihat tajam, bagai sekumpulan pisau yang sangat runcing dan tajam.
Jleb. Jleb. Jleb. Jleb. Jleb. Jleb. Jleb. Jleb.
Sinar itu satu persatu menusuk demit. Seketika demit yang tertusuk, jatuh terkapar menghantam tanah. Sinar berbentuk pisau masih menempel di tubuh para demit. Mereka berteriak, meronta-ronta, menggelepar di atas tanah.
Wuuussshhh. Tangan Mas Gun bersinar kuning.
"RASAKAN INIIIII!" Mas Gun teriak seraya melancarkan pukulan bertenaga pada demit-demit yang menempel di perisai.
CROOAAAKKK. Kepalan tangan Mas Gun yang besar menembus kepala demit.
Ia ulangi serangan seperti itu sampai seluruh demit yang menempel di perisai habis dan musnah tak bersisa.
Wajah kuntilanak merah tampak marah. Ia terlihat geram. Liurnya sampai menetes.
"SEMUANYAAAA! SERANG MEREKAAAA!" kuntilanak merah teriak.
Segerombolan demit yang berjumlah puluhan beramai-ramai melesat. Mereka berteriak dengan bising. Seolah ini adalah sebuah perang.
"Hadang mereka!" Kakek Halim bergumam pelan. Entah pada siapa ia berbicara.
GROOOOAAAARRRR. Harimau putih mengaum.
Puluhan demit terbang ke arah kami.
Namun, tiba-tiba saja harimau putih bangkit dengan tatapan buas. Ukuran tubuhnya yang besar dan tinggi, memudahkannya untuk menghalau demit-demit itu. Kakinya menyapu beberapa demit yang hendak melewatinya. Alhasil barisan demit pertama hancur lebur dihantam harimau putih.
Sisanya menyerang perisai yang dibuat oleh Mas Gun. Namun harimau putih tetap melaksanakan tugasnya, ia menjadi garda terdepan menghalau serangan demit. Tika berhasil memusnahkan demit. Mas Gun dengan pukulannya pun berhasil memusnahkan beberapa demit. Aku tak mau kalah, kutembakkan cahaya biru ke arah demit. Dan berhasil menumbangkan demit cukup banyak.
Kakek Halim menyibak tangannya. Ia berhasil menumbangkan puluhan demit dengan sekali serangan. Luar biasa. Kekuatannya sangat luar biasa. Ilmunya sangat tinggi.
Kami bertempur melawan demit tanpa kenal lelah. Perisai Mas Gun beberapa kali dihantam oleh demit pengikut kuntilanak merah. Beruntung perisai masih kuat menahan serangan demit. Kami tak terluka sedikit pun, karena perisai itu. Kekuatan Mas Gun juga sangat luar biasa. Kakek Badrun tak salah ucap, Mas Gun memiliki kekuatan tameng yang sangat menakjubkan.
Disaat kami sibuk melawan demit.
Tiba-tiba..
PRRAAAAANNNGGGG.
Perisai hancur, suaranya bagai kaca yang pecah.
Kami semua kaget.
Mas Gun terpental dan mendarat di atas tanah dengan suara dentuman yang terdengar cukup besar.
Ternyata, kekuatan dari kuntilanak merah yang membuat perisai itu hancur lebur. Ia menyerang Mas Gun. Ia tahu, kalau Mas Gun yang mempunyai kekuatan tameng paling kuat. Sehingga serangan yang dilancarkan hanya di tujukan pada Mas Gun. Terpusat dan jelas terarah.
__ADS_1
Kuntilanak merah tersenyum dengan buasnya.