Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 108


__ADS_3

Aku mematikan mesin motor, dan secara otomatis lampu motor pun mati. Aku berlari menuju tempat Kakek Badrun berdiri di seberang jalan.


"Kek, Kek Badrun!" panggilku.


Sosoknya menghilang dengan sekejap. Kemana Kakek Badrun?


"Diii. Lo ngapain sih Di?" panggil Kemala. "Ayo kita jalan!" ajak Kemala.


Aku masih penasaran, aku masih celingak celinguk mencari sosok Kakek Badrun. Tadi kulihat ia berdiri tepat di seberang rumah Yuda. Sangat jelas pakaian hitamnya karena tersorot lampu motor. Masa ia bisa pergi begitu cepatnya? Rasanya tak mungkin.


"Adiii. Ayo Dii!" ajak Kemala.


Aku pun menyerah mencari sosok Kakek Badrun. Terlintas di benakku untuk meminta bantuan dari Kakek Badrun. Tapi di lain sisi aku bingung, bagaimana cara menghubunginya. Ia tak punya ponsel, bahkan alamat rumahnya saja aku tak tahu. Kakek Badrun bagai siluman, kadang datang secara tiba-tiba, kadang pergi tanpa meninggalkan jejak.


Gas motor hendak kuputar, namun tiba-tiba sosok Kakek Badrun sudha berdiri di depan pintu gerbang.


"Kek Badrun!" panggilku.


"Di, itu siapa Di?" tanya Kemala. Ah, rupanya Kemala bisa melihat sosok Kakek Badrun, berarti itu benar-benar Kakek Badrun.


"Bukan siapa-siapa." jawabku. Aku mematikan mesin motor dan berlari menghampiri Kakek Badrun. Aku meminta tolong pada bapak satpam untuk membukakan gerbang, akhirnya Kakek Badrun pun masuk.


"Kek, tolong saya kek." ucapku seraya mencium tangan Kakek Badrun.


Kakek Badrun memandangku tanpa berkata. Tanganku di pegang erat. Ia senyum dengan cerahnya, wajahnya begitu berkilau.


"Ayo, kita ajak temanmu pulang." ucap Kakek Badrun dengan senyum terukir. Dan kami pun masuk ke dalam rumah, di lanjutkan naik ke lantai atas.


Ayah dan ibu Yuda duduk di sofa bersama Tika. Tika sumringah ketika melihat Kakek Badrun datang bersamaku. Tapi beda dengan pandangan kedua orang tua Yuda, mereka melihat Kakek Badrun dengan tatapan sinis dan menyiratkan ketidak sukaan.


"Siapa kakek ini Di?" tanya ayah Yuda.


"Beliau ini saudara saya pak, namanya Kakek Badrun. Insya Allah beliau mau bantu kita untuk membawa Yuda kembali." jawabku.


"Yakin kakek ini bisa bawa Yuda kembali? Kok tante ragu sih." sahut ibu Yuda.


"Pak bu, nggak ada salahnya kita coba. Kita bantu doa juga, agar Yuda bisa kembali." balasku. "Kek, silakan masuk! Yuda ada di dalam kamarnya." ucapku.


Kakek Badrun mendehem sebelum masuk ke dalam kamar Yuda. Dengan pelan ia buka pintu kamar, lalu masuk ke dalam. Terlihat Yuda masih terbaring di atas kasurnya dengan mata terpejam.


"Kalau kalian mau masuk, masuk saja. Saya nggak mau di curigai menjahili anak orang." ucap Kakek Badrun.


Ayah dan ibu Yuda pun masuk ke dalam kamar, di ikuti aku, Kemala, dan Tika.


Kakek Badrun duduk bersila di atas kasur, posisinya tepat dekat kaki Yuda. Wajah kakek Badrun dan Yuda kini saling berhadapan. Kakek Badrun menatap wajah Yuda cukup lama, ia tak bergeming sedikit pun.


Mata Yuda tiba-tiba terbuka. Kami yang melihatnya langsung terkejut. Yuda menatap ke sosok Kakek Badrun. Lalu bangun dari rebahnya dan duduk bersila. Mereka saling berhadapan. Keduanya saling menatap tajam. Yuda kemudian terkekeh.


"Hehehehehehe. Rupanya kau Badrun. Hehehehehehe. Masih segar bugar kau! Kukira kau sudah di jemput ajal. Hehehehehe." ucap Yuda. Suara Yuda persis dengan sosok jin yang masuk terakhir, seorang kakek.

__ADS_1


"Hehehehe. Lama tidak berjumpa Ki Calang. Kau masih saja setia dengan Badriyah dan kuntilanak merah itu? Hehehehehe." sahut Kakek Badrun. "Apa upahmu naik? Hah? Hahahahahaha." Kakek Badrun terbahak.


"Hei tua bangka! Diam kau!" bentak Yuda alias Ki Calang.


"Hahahahahaha. Untuk apa kau menjadi hamba dari mereka Ki Calang? Lebih baik kau kembali ke gunung, di sana kau bisa hidup bebas. Hahahahaha." tambah Kakek Badrun.


"Aaahhh, aku tahu. Aku tahu kenapa kau rela menjadi budak mereka. Hehehehehe." lanjut Kakek Badrun.


"Tahu apa kau Badrun?"


"Aku tahu kau rela jadi budak Badriyah, karena kau sudah di usir dan tak di anggap lagi oleh Kanjeng Ratu Sekar bukan? Hahahahahaha. Bagaimana bisa demit yang ratusan tahun hidup di gunung, di usir oleh demit wanita. Hahahahahahaha. Ki Calang, dimana wibawamu Ki Calang? Hahahahaha." Kakek Badrun terbahak, persis seperti saat bercerita soal Nek Iyah. Tawanya lepas, ia tampak begitu senang.


"Errhhh, Badruuunn! Diam kau!" Ki Calang menghardik Kakek Badrun.


Tapi Kakek Badrun tetap tertawa lepas, ia terpingkal sampai meringis memegang perutnya yang kesakitan. Wajah Yuda menyiratkan amarah yang tertahan.


"Sial kau Badruuunn!!" teriak Yuda alias Ki Calang, dengan cepat Yuda melontarkan pukulan ke wajah Kakek Badrun.


Duag.


Kakek Badrun terjungkal ke belakang, ia jatuh dari atas kasur. Kami terhenyak menyaksikan kejadian yang begitu cepat. Aku dengan cepat membantu Kakek Badrun bangun.


"Kek, kakek nggak apa-apa?" tanyaku.


"Hahahahahahaha." Kakek Badrun masih saja tertawa. Pipinya merah akibat pukulan Yuda yang cukup kuat. "Nggak apa-apa nak. Hehehehe." jawabnya, kemudian bangun dan kembali duduk bersila di atas kasur.


Wajah Yuda masih tampak marah. Matanya merah melotot melihat Kakek Badrun. Suaranya menggeram bak harimau yang kelaparan.


"Mulutmu makin besar saja Badrun. Kau akan tahu akibatnya nanti jika berurusan dengan pemimpin kami. Kau akan mati mengenaskan." balas Yuda alias Ki Calang.


"Jika jiwa anak muda ini berhasil menjadi milik pemimpin kami, kekuatanmu tak ada apa-apanya Badrun." lanjutnya.


"Kau pikir aku akan membiarkan jiwa anak muda itu menjadi milik kuntilanak jelek itu, hah? Malam ini akan kubawa kembali jiwanya. Dan kau yang akan musnah Ki Calang. Hehehehe." sahut Kakek Badrun.


Percakapan menjadi lebih serius kali ini. Sorot mata keduanya mendadak tajam penuh amarah.


Tiba-tiba Kakek Badrun memejamkan matanya, di lanjutkan dengan Yuda. Ah, apa ini yang di namakan bertarung secara gaib?


"Tik, mereka lagi ngapain?" tanyaku berbisik ke Tika.


"Melepas raga, mereka bertarung antar sesama roh. Tubuhnya tak bergerak, sedangkan roh mereka saling bertarung." jawab Tika.


"Lo bisa lihat mereka bertarung?" tanyaku lagi.


"Mereka bertarung nggak disini. Kalau disini, bisa hancur semua perabotan rumah terkena percikan tenaga dalam." jelas Tika.


"Apa? Percikan tenaga dalam bisa bikin hancur perabot rumah? Masa iya Tik?" aku keheranan.


Tika mengangguk, mata Tika tak bergeming dari kedua sosok di atas kasur. Kakek Badrun dan Yuda.

__ADS_1


"Uhuk uhuk uhuk." Yuda batuk.


"Adi, Yuda kenapa Di?" tanya ibu Yuda penuh was was.


Sesaat kemudian, dari mulut Yuda mengeluarkan darah segar. Menetes dari ujung mulutnya, mengalir hingga ke dagunya.


"Yudaa! Yuda, nak! Kamu nggak apa-apa nak?" ibu Yuda menghampiri Yuda seraya menyeka darah di dagunya.


"Tika, ini Yuda kenapa?" tanya ayah.


"Nggak apa-apa pak. Kakek Badrun sedang bertarung dengan sosok yang merasuki Yuda. Kita bantu doa saja, agar jiwa Yuda bisa kembali." jawab Tika.


Kami semua yang hadir di dalam kamar Yuda menyaksikan beberapa kali Yuda terbatuk dan mengeluarkan darah. Kakek Badrun hanya terpejam, sesekali alisnya mengernyit.


Yuda ambruk. Ayah dan ibu panik dan langsung memanggil-manggil Yuda. Mata Kakek Badrun terbuka, kemudian Kakek Badrun batuk sembari memegang dadanya.


"Kek, kakek nggak apa-apa?" tanyaku.


Kakek Badrun menggeleng.


"Kek, gimana anak saya kek? Apa bisa kembali?" tanya ibu Yuda.


"Uhukk uhukk. Hehehehehe. Saya hanya perlu melawan beberapa demit lagi untuk bisa sampai ke tempat anak ibu di sekap. Uhukk uhukk." jawab Kakek Badrun.


"Ini bakal menjadi malam yang panjang. Pak bu, sebelum saya jauh melangkah, ada yang ingin saya tanyakan ke bapak dan ibu." ucap Kakek Badrun.


"Apa kek? Kakek mau tanya apa?" sahut ibu Yuda.


"Kakek mau minta bayaran berapa? Akan saya siapkan. Sebut saja kek!" ayah Yuda menanggapi.


"Hehehehehe. Ini bukan soal uang pak. Tidak semua di dunia ini bisa di beli oleh uang. Uang bapak tidak berguna buat saya. Ini menjadi pelajaran untuk kita semua, bahwa kita hidup di dunia ini saling berdampingan. Kita harus saling menghormati antara sesama makhluk ciptaan Gusti Allah. Harta, jabatan, kekuasaan, sifatnya hanya sementara. Anak bapak telah lancang, ia melakukan hal yang tidak senonoh." terang Kakek Badrun.


"Apa? Hal tidak senonoh? Apa itu kek?" tanya ayah.


"Anak bapak dengan tidak sopan datang ke rumah Bu Badriyah dan meminta kembali kalung milik Nak Adi. Ia datang bersama teman-temannya kemarin malam. Ia mengancam Bu Badriyah, jika tidak menyerahkan kalung itu, maka rumah Bu Badriyah akan di buat porak-poranda. Beruntungnya, Bu Badriyah tidak menggubris ancaman anak bapak. Tapi, anak bapak malah nongkrong di depan rumah Bu Badriyah sambil mabuk-mabukan hingga larut malam bersama teman-temannya. Banyak cacian dan makian yang di lontarkan anak bapak. Sampai membuat penghuni rumah Bu Badriyah marah." cerita Kakek Badrun.


Ayah dan ibu Yuda menangis mendengar penjelasan Kakek Badrun. Wajahnya tertunduk menahan malu atas kelakuan Yuda.


"Ki Calang berhasil saya kalahkan. Ia bercerita kenapa anak bapak dan ibu bisa sampai seperti ini." lanjut Kakek Badrun.


Aku, Kemala, dan Tika hanya diam.


"Untuk itu, ada yang mau saya tanyakan ke bapak dan ibu." ungkap Kakek Badrun.


"A-apa yang mau ka-kakek tanyakan?" sahut ibu Yuda.


Kakek Badrun menatap ayah dan ibu Yuda, seolah mengumpulkan keberanian untuk melontarkan pertanyaan yang akan di ucapnya.


"Ma-mau tanya apa kek?" ucap ayah Yuda.

__ADS_1


"Bapak dan ibu, apa bapak dan ibu siap jika sampai kehilangan Yuda?" Kakek Badrun berucap.


__ADS_2