
Meow meow meow meow.
Mataku terbuka, aku terbangun mendengar bising suara kucing mengeong. Suaranya seperti belasan ekor kucing yang mengeong secara bersamaan, sangat menganggu. Ku lihat jam di ponselku, 03:01. Suara tangis bayi hilang, sekarang berganti dengan suara bising kucing. Sial, bisa gila lama-lama aku di sini. Tidur malamku tak pernah tenang.
Aku beranjak dari kasurku, berjalan menuju ruang depan. Ku buka pintu. Aku keluar sembari mengucek mata, melihat ke sekeliling mencari kumpulan kucing yang mengganggu tidurku. Aneh, nampak sepi. Dimana kucing-kucing itu? Suara terdengar sangat dekat dan keras. Ku pasang telinga mencari sumber suara bising sekumpulan kucing. Aku mencari sumber suara ke arah garasi, tempat tadi sore ku lihat beberapa kucing berbaris. Nihil, tak ada. Ku putuskan untuk kembali ke kamar. Dan suara kucing mengeong masih terdengar, bahkan makin ribut membuat kepalaku pening.
Pintu kamar ku kunci, aku duduk di ruang depan. Mengambil segelas air dari dispenser, kemudian menenggaknya sampai tak bersisa. Aku ingin melanjutkan tidur dan kembali ke ruang tengah kamarku.
Kagetnya aku ketika melihat sebuah penampakan sangat mengerikan.
Aku melihat sosok wanita duduk tepat di tengah ruang tidur dengan kaki berselonjor, dengan kulit wajah yang tercabik dan darah yang membuncah membanjiri pakaiannya. Rambutnya semrawut panjang dan kotor. Dan yang lebih mengerikan, ia memegang seekor kucing kecil dengan kedua tangannya yang sedang ia nikmati. Ia nampak lahap menggigit perut kucing naas itu, terlihat usus kecil putus. Wanita itu terus mengunyah dan mengunyah. Sementara di sekelilingnya puluhan bangkai kucing nampak tergeletak dengan perut terkoyak dengan berbagai macam bentuk mengerikan. Beberapa ekor nampak masih menggeliat meregang nyawa.
Aku bergidik merinding melihat pemandangan ini. Lalu, perlahan-lahan wajah wanita itu mendongak menatapku. Ia tertawa bahagia dengan mulut berlumuran darah dan gigi-giginya yang berwarna hitam terlihat menjijikkan. Seketika pandanganku berkunang-kunang, tubuhku tiba-tiba oleng, lalu..
Brukk.
***
Kriiiiinnnggg.
Ponselku berdering, aku bangun. Aku tidur di lantai? Aku kaget dan segera bangun, teringat kejadian mengerikan tadi malam. Sosok wanita menyeramkan yang memakan kucing-kucing kecil sudah tak ada. Perutku seketika mual, aku berlari ke kamar mandi dan memuntahkan isi perut. Mimpikah aku?
Dering ponsel masih terdengar kencang. Ku ambil ponselku, Yuda menghubungiku. Lalu ku jawab,
"Ya,"
"Kuliah nggak?" tanya Yuda.
"Kuliah kuliah." jawabku.
"Buruan datang! Udah jam berapa nih?" tutur Yuda.
Ku lihat jam di ponselku, astaga 10:30. Sedangkan jadwal perkuliahan di mulai pukul 11:00, aku bergegas mandi dan bersiap berangkat kuliah. Ku pakai baju kemarin, karena semua bajuku ada di dalam tas besar yang ada di kontrakan Mas Gun. Secepat kilat aku pergi menuju kampus.
Aku sampai kelas dengan nafas terengah-engah dan baju yang basah oleh keringat. Yuda duduk di tempat biasa, barisan belakang, aku pun duduk di sampingnya.
"Adi si Telinga Kelinci bisa kesiangan? Ini aneh bin ajaib." gumam Yuda.
Aku diam tak menggubris.
"Da, lo bawa parfum nggak? Minta dong." ucapku.
Yuda melengos, mengambil tasnya. Merogoh parfum yang ada di dalam tas, dan menyerahkannya padaku. Ku semprot parfum ke sekujur tubuh, sampai wanginya tercium menyengat. Teman yang lain nampak protes, ku acuhkan.
__ADS_1
"Lo nggak mandi?" tanya Yuda.
"Enak aja, mandi lah!" tukasku seraya mengembalikan botol parfum ke Yuda.
"Lo lagi kenapa sih Di? Jadi berantakan gini lo, gara-gara di tolak sama Kemala?" tanya Yuda.
Aku menoleh ke arah Yuda.
"Da, nggak ada hubungannya sama Kemala."
"Terus apa yang bikin lo sampai kayak gini? Dulu lo nggak kayak gini Di. Apa karena kehilangan Bagas?" sambung Yuda.
Aku diam.
"Udah nggak usah di bahas lagi." sahutku.
"Lo masih minat nggak sama mobil antik yang ada di kost gue?"
Wajah Yuda seketika berubah, menjadi cerah. Secerah mentari pagi di musim semi.
"Masih banget Di. Gimana gimana, ada kabar apa dari ibu kost lo?" Yuda sumringah.
"Kalau lo nggak sibuk, malam ini di suruh datang ke rumah ibu kost. Nanti bicara langsung aja sama beliau." jelasku.
"Hah? Malam ini ya?"
"Malam ini gue nggak bisa Di, gue ada janji sama cewek. Hehehehehe." jawabnya sambil terkekeh.
"Besok malam bisa nggak?" Yuda bertanya.
"Nanti coba gue bilang lagi ke ibu kost, lo bisa datang besok malam ya." sahutku.
"Iya Di. Tolong ya Di. Usahain besok malam aja ya." rengek Yuda, ia memegang tanganku.
Ku tepis tangannya.
"Nggak usah pegang-pegang tangan juga kaliii."
"Hehehehehe. Maaf maaf, tolong ya Di." Yuda memelas.
"Iya!"
***
__ADS_1
Sore hari, setelah shalat ashar aku pergi ke kontrakan Mas Gun untuk mengambil tas. Sesampainya di kontrakan Mas Gun, motornya tak ada, dan pintunya tertutup rapat. Wah, Mas Gun sedang keluar sepertinya. Aku mengangkat keset kaki di depan pintu, biasanya Mas Gun menaruh kuncinya di balik keset. Tak ada.
Aku duduk di teras depan kost menunggu Mas Gun datang. Hari semakin sore, langit nampak temaram. Tak sabar, aku pun menghubungi Mas Gun. Sial, ia tak menjawab, mungkin sedang mengendarai motor.
Aku memikirkan kejadian semalam, kejadian mengerikan yang ku alami. Penampakan makin terlihat jelas, seolah nyata. Ibu Kemala, apa benar ia melindungiku dari rumahnya? Kok, aku lebih sering di hantui. Atau yang ku lihat semalam tetap halusinasiku saja. Entahlah, pemandangan semalam terlalu mengerikan.
Tak lama Mas Gun datang dengan seseorang. Ah sial, ia datang bersama llham. Apa Mas Gun tak tahu kalau llham lah yang menjebakku malam itu? Astaga, aku memang tak cerita soal llham dan Ki Sona gurunya.
"Woii, udah lama?" sapa Mas Gun.
"Baru lima menit kurang lebih." jawabku.
llham diam tak menegurku. Ia hanya tertunduk, menatap mataku saja tidak.
"Nggak jadi pindah?" tanya Mas Gun.
"Nggak jadi sepertinya mas. Alhamdulillah nanti ada temen yang bareng kost di sana." jawabku sekenanya.
"Eh, lo berdua udah pada kenal kan?" tanya Mas Gun padaku dan llham.
"Udah kok mas." jawabku. "Udah Gun." sambut llham.
"Kok nggak tegur-teguran?" ujar Mas Gun sambil membuka pintu kost.
Aku bersalaman dengan llham, wajahnya masih saja tertunduk.
"Mas, gue ambil tas ya." ujarku.
"Ambil Di, itu kan barang-barang lo. Masa gue tahan." sambut Mas Gun.
"Mau ngopi apa Di?" Mas Gun menawarkan.
"Nggak usah deh mas, gue buru-buru nih. Next time aja kita ngopi di kedai ya." jawabku sambil menaruh tas di punggung.
"Lho, buru-buru mau kemana memangnya?" tanya Mas Gun lagi.
"Ada janji sama orang mas. Gue balik ya, maaf gue nggak jadi tinggal di sini mas." sahutku.
"Nggak apa-apa Di. Yasudah, hati-hati ya. Gue kira mau ngopi dulu." Mas Gun mengantarku sampai depan kost.
"Mau gue antar ke kost?" Mas Gun menawarkan.
"Nggak usah mas. Enak jalan kaki, sekalian olah raga. Balik ya mas. Assalamualaikum." aku pamit.
__ADS_1
"Waalaikumsalam."
Aku berjalan menuju kost, kembali teringat kejadian dua malam berturut. Penampakan kuntilanak merah dan wanita pemakan kucing. Misteri apa yang tersembunyi di balik penampakan-penampakan yang ku alami. Semua pasti akan terjawab, suatu saat nanti.