
Adzan subuh telah berkumandang. Setelah kejadian kursi roda aku dan Kang Ujang sempat tertidur karena kantuk yang teramat sangat. Aku bangun karena alarm yang berdering cukup kencang. Aku ke kamar mandi untuk berwudhu lalu kulaksanakan shalat subuh.
"Kang. Kang Ujang. Udah subuh kang." aku membangunkan Kang Ujang. Kutepuk pelan lengannya.
Kang Ujang pun bangun. Ia sedikit terkaget, lalu bergegas mengambil wudhu dan shalat. Sementara Kang Ujang shalat, kubuat dua cangkir kopi. Aku buka pintu kamarku lebar, berharap udara pagi segar menyeruak masuk ke dalam kamar.
"Wuuiiihhh, udah ada kopi aja." tutur Kang Ujang.
"Ngopi dulu kang, habis ngopi baru pulang. Ini ada biskuit juga nih, lumayan buat sarapan." kusuguhkan kopi dan biskuit. Kami duduk di ruang depan.
"Dek Adi ini repot-repot bikinin kopi segala, di tambah biskuit juga lagi. Saya jadi enak ini mah. Hehehehe."
"Yang bikin repot itu kalau saya harus cari bubur ayam buat Kang Ujang. Cuma kopi sama biskuit sih ada di sini. Hehehehe." balasku.
"Saya minum ya dek."
"Mangga kang. Memang di buat untuk di minum." aku mempersilakan.
Kang Ujang mengambil cangkir kopi. Menghirup harumnya dari kepulan asap putih tipis, serta menyeruputnya sedikit.
"Lumayan bisa tidur sebentar. Tapi pening juga ya kepala." gumam Kang Ujang.
"Iya kang, lumayan deh biar cuma sebentar." sahutku.
Kami mengobrol sebentar, setelah secangkir kopi habis Kang Ujang pamit pulang. Aku tak ada niat untuk kuliah hari ini, mataku terasa berat. Begitu Kang Ujang pulang, pintu kamar kembali kututup, aku melanjutkan tidur. Ups, hampir saja terlupa. Ponselku harus di silent, aku tak ingin tidurku terganggu.
Aku terbangun karena perutku melilit, aku kelaparan. Kulihat ponselku, astaga apa ini? 20 panggilan tak terjawab dari Yuda. Apa yang membuat Yuda sampai menghubungiku 20 kali? Kuhubungi Yuda.
"Woi, lo kenapa nggak kuliah? Lagi ngapain? Sakit? Apa stress gara-gara Kemala? Terus kenapa gue telpon nggak di angkat sih?"
Yuda menghujaniku pertanyaan.
"Sabar, sabar, sabar. Boleh gue jawab satu satu nggak? Lo nanya udah kayak wartawan aja." sahutku.
"Hahahahaha. Iya iya, eh dimana lo?"
tanya Yuda.
"Kost. Eh, jam berapa sih sekarang Da?" tanyaku.
"Buset dah, emangnya jam di hape lo batrenya habis, nanya jam sama gue. Kan bisa lo lihat sendiri Mas Ndesoooo." sungut Yuda.
"Hahahahahaha. Sorry sorry. Da, serius gue. Jam berapa sekarang?" tanyaku lagi.
"Jam satuuuuu." teriak Yuda. "Yaudah, gue otw ke kost lo ya, sekalian nanti malam kan mau ketemu sama ibu kost lo."
"Oke oke. Eh eh Da, gue nitip nasi bungkus ya. Perut gue lapar banget nih, dari bayi belum makan. Hehehehe." balasku.
"Bodo amaaatt. Bukan urusan gue."
"Da Da, serius gue. Nitip nasi bungkus ya. Pliiiiisss." aku memohon, perutku sudah menjerit sedari tadi.
"Iya iya iya." Yuda pun menutup pembicaraan.
Aku pun bergegas mandi, badanku terasa lengket akibat peluh semalam.
***
Selesai mandi, aku duduk di teras depan kost menunggu Yuda datang. Sambil melihat sosial media kubuang waktuku. Eh, apa kabar Kemala ya?
Tik tik tik tik.
__ADS_1
Aku mengirim pesan ke Kemala, menanyakan kabarnya. Ada setitik rindu padanya.
Tak lama Yuda datang, kali ini ia mengendarai motor matic. Yuda parkir tepat di depan kamarku.
"Motor lo baru lagi nih?" tanyaku.
Yuda membuka helm, menyerahkan plastik bening berisi sebungkus nasi padaku.
"Orang kaya mah harus begitu Di. Nggak boleh cuma punya satu motor. Hehehehe." tuturnya angkuh.
"Yaelaaahh, yang kaya kan bokap nyokap lo. Belagu amat." sahutku.
Yuda duduk di sampingku. Ia membakar sebatang rokok. Aku bangun dari duduk lalu ke kamar mandi untuk mencuci tangan.
"Di, ada kopi nggak?" teriak Yuda dari luar.
"Ada, kopi hitam. Mau" aku menawari Yuda.
"Ogah ah. Untung gue beli kopi nih." Yuda mengeluarkan serenceng kopi susu dari dalam tasnya. Aku duduk membuka bungkus nasi, perutku sudah berdemo sejak tadi.
"Sana bikin sendiri! Gue lapar." suruhku. Yuda membuat kopi, aku menyuap nasi dengan lahap. Laparku ini memang sudah stadium empat.
Saat aku sedang khusyuk makan, dan Yuda sedang serius main game di ponselnya.
"Dek Adi." Kang Ujang memanggilku, ia datang bersama tiga orang perempuan, terlihat dari pakaian dan gayanya mereka pasti mahasiswi kampus ini.
"Eh kang." sapaku. "Sama siapa kang?" tanyaku.
"Ini dek, anak kampus mau lihat-lihat kamar kost." jawab Kang Ujang seraya menuju kamar 11a dan membuka pintunya.
"Lho, Nek Iyah mana? Sakit?" tanyaku.
"Iya dek. Makanya saya yang di suruh antar kakak-kakak ini." jawabnya.
Nasi bungkus sudah ludes, kubersihkan tanganku lalu kembali duduk di teras depan kost. Siang ini matahari tak terlalu menyengat, cukup teduh. Rupanya segumpalan awan menutupi cahayanya.
"Itu kuburan siapa mas?" aku mendengar seorang mahasiswi bertanya ke Kang Ujang.
"Ooh, itu kuburan anak ibu kost. Baru meninggal beberapa hari lalu. Kenapa? Takut ya?" tanya Kang Ujang.
"Memang kamar yang kosong cuma ini saja mas?" tanya mahasiswi lainnya.
"Oh ada, itu kamar nomor 11c. Cuma kamar itu nggak sebesar kamar ini, lagian atapnya bocor belum sempat di betulin." jawab Kang Ujang.
"Memang mau pindah kesini kapan? Kalau masih lama, di betulin dulu atapnya." tanya Kang Ujang.
"Maunya sih besok sudah pindah kesini mas."
"Nggak sempat atuh. Ya terserah kakak-kakak aja, mau kamar ini atau kamar yang sana. Cuma kondisinya gitu, kamar sana harus nunggu di betulin dulu atapnya." jelas Kang Ujang.
Yuda menepuk pahaku, "Woi, malah nguping lagi. Eh, jadi jam berapa gue bisa ketemu ibu kost lo?"
"Sakit cok! Jadwalnya nanti malam Da, habis maghrib." jawabku sambil mengusap-usap paha yang memerah.
"Yaelah, pakai jadwal segala sih. Ibu kost lo pejabat ya? Hehehehe." tutur Yuda.
Kang Ujang kembali mengunci pintu kamar 11a. "Dek, saya pamit ya." ucap Kang Ujang.
"Oh iya kang. Ngopi sini kang bareng-bareng." tawarku.
"Ah nggak usah, tadi pagi kan sudah ngopi." jawab Kang Ujang. "Mari dek."
"Iya mari kang." jawabku sambil tersenyum.
__ADS_1
"Asiiikkk Adi bakal punya tetangga baru nih. Cakep-cakep lagi Di. Semoga aja mereka jadi kost di sini Ya Allah, biar kawan saya nggak selalu mikirin Kemala." Yuda mengangkat kedua tangannya seolah berdoa.
"Yeee apaan sih lo." aku meninju lengan Yuda.
***
Habis shalat maghrib aku pun bersiap untuk pergi tahlil ke rumah Pak Rahmat, malam ini adalah malam terakhir tahlil. Sebelumnya aku dan Yuda menuju rumah Nek Iyah untuk membicarakan soal mobil almarhum Pak Thamrin yang ingin di beli Yuda.
Aku mengetuk pelan pintu rumah Nek Iyah,
"Assalamualaikum. Nek, Nek Iyah."
"Assalamualaikuum."
Nek Iyah membuka pintu, "Waalaikumsalam. Eh Dek Adi. Silakan duduk."
Aku dan Yuda pun duduk. Nek Iyah nampak lemah, wajahnya tak segar, jalannya pun sedikit tertatih. Ia masih sakit. Atau belum mendapatkan tumbal? Entahlah, yang ada di pikiranku saat ini adalah mobil antik milik Pak Thamrin.
"Ada perlu apa dek?" tanya Nek Iyah.
"Ini kawan saya nek, yang tempo hari saya bilang mau beli mobil Pak Thamrin." ucapku. Yuda mengangguk ramah.
"Oh iya iya, saya ingat. Sebentar saya ambil kuncinya dulu." jawab Nek Iyah kemudian ia berlalu ke dalam rumah.
Aku mencolek tangan Yuda, "Jangan lupa bagian buat gue ya. Hehehehe."
Yuda mengedipkan sebelah matanya dan tersenyum. Tak lama Nek Iyah kembali, membawa kunci dan surat mobil. Ia duduk di hadapanku dan Yuda.
"Ini surat-suratnya, silakan di cek dulu. Ini kunci mobilnya, kalau mau lihat-lihat silakan." Nek Iyah meletakkan kunci dan surat mobil di atas meja.
"Saya lihat ya nek." ucap Yuda seraya mengambil surat mobil. Nek Iyah mengangguk lesu.
"Em nek, boleh saya lihat mobilnya?" tanya Yuda.
"Silakan silakan, saya tunggu di sini saja ya." jawab Nek Iyah.
Aku dan Yuda menuju mobil yang ada di garasi. Yuda membuka pintu mobil, menyinari sisi dalam mobil dengan senter dari ponselnya. Nampak berdebu. Namun kesan mewah dan klasik sangat kental. Yuda memeriksa seluruh bagian mobil, membuka kap mesin, hingga mengecek ke kolong mobil.
"Masih cakep Di. Tinggal di rapihin dikit aja ini." ujar Yuda.
"Terus gimana Da? Jadi lo beli?" tanyaku.
"Gas! Tinggal harganya aja nih, masuk apa enggak. Yuk!" Yuda mengajakku kembali ke teras rumah Nek Iyah.
Kami kembali duduk.
"Gimana mobilnya? Masih bagus?" tanya Nek Iyah.
"Masih bagus nek, cuma ada beberapa yang harus di perbaiki. Saya minat mobilnya nek." ujar Yuda.
"Syukurlah kalau masih bagus. Memang kamu beli untuk di jual lagi atau di pakai pribadi?" tanya Nek Iyah ke Yuda.
"Saya dan papah saya koleksi mobil antik nek, jadi untuk di pakai pribadi aja sih." jawab Yuda.
Yuda dan Nek Iyah bernegosiasi soal harga, aku hanya diam memperhatikan. Sampai kesepakatan pun tercapai. Yuda setuju dengan harga yang di sebut Nek Iyah. Dan mereka bersalaman.
"Kalau gitu saya pamit nek, terima kasih." ucap Yuda.
"Iya, sama-sama. Di pakai untuk pribadi kan? Bukan untuk di jual lagi ya." Nek Iyah menekankan.
"Iya nek." jawab Yuda.
Nek Iyah tersenyum, senyumnya terlihat sangat senang. Wajahnya sumringah, entah apa yang ada di pikirannya saat Yuda bilang 'iya', aku hanya diam tanpa menimpali.
__ADS_1