
Aku tak bertanya soal nama Bi Tati yang di sebut oleh ibu Kemala. Biar nanti ku tanyakan langsung ke Kang Ujang, apa benar Bi Tati si tukang masak almarhum Pak Thamrin adalah si orang sakti yang sangat terkenal di daerah sini.
"Bu, apa ibu tahu siapa yang memberikan mustika ini?" tanyaku.
"Boleh saya lihat mustika itu?" pinta ibu Kemala.
Aku merogoh ke dalam tasku, ku ambil mustika Batu Dewa Dawana. Aku ragu, apa ibu Kemala bisa ku percaya. Aku takut terjadi lagi saat llham menjebakku, aku takut ketidaktahuanku di manfaatkan oleh oknum yang paham dan mengerti akan hal berbau mistis.
"Kamu nggak percaya sama saya?" tanya ibu Kemala.
Ah sial, kenapa aku jadi ragu seperti ini. Ku berikan atau tidak ya. Jangan-jangan ibu Kemala sama seperti Ki Sona, yang hanya ingin merebut mustika ini dan menggunakannya untuk menambah kesaktiannya.
"Saya nggak butuh mustika dek." nampaknya ibu Kemala dapat membaca keraguanku.
"Kalau kamu nggak mau berikan juga nggak apa-apa sih. Tapi saya nggak bisa maksimal menerawangnya." ucap ibu Kemala lagi.
Akhirnya dengan pasrah ku berikan mustika ini ke ibu Kemala. Di genggamnya kalung itu, matanya kembali terpejam. Tiba-tiba nafasnya terengah, tangannya bergetar. Lalu matanya terbuka.
"Ke..kenapa bu?" tanyaku.
"Dek.. hah..hah.. ini bukan.. hah..hah.. batu sembarangan." ibu Kemala menyerahkan mustika itu kembali padaku.
"Maksud ibu?" tanyaku.
"Yang memberikan mustika ini bukan orang sembarangan. Dia hanya ingin membantu kamu. Dia hanya ingin menghentikan kejahatan yang selama ini sudah mengakar terlalu lama." jawab ibu Kemala.
"Apa ibu tahu di mana orang tersebut bu?" tanyaku.
"Dia jauh dek, sangat jauh. Ia akan datang ketika kamu dalam bahaya. Kamu tidak bisa berkomunikasi dengannya. Kamu nggak bisa cari dia, dia yang akan datang padamu." terang ibu Kemala.
"Lalu, apa saran ibu untuk saya?" pintaku.
"Kamu simpanlah mustika ini baik-baik, suatu saat pemiliknya akan mengambil kembali. Dan suatu saat mustika ini akan membantu kamu." jelas ibu Kemala.
"Tapi ingat, tetap meminta pertolongan dengan Sang Maha Menolong. Kamu jangan putus shalat ya, agar yang mau mencelakaimu tidak bisa mendekati kamu. Mereka punya banyak cara, agar kamu ikut dengan mereka." sambung ibu Kemala.
"Bu, saya bingung bu. Kenapa saya ingin di celakai? Memang apa yang sudah saya perbuat, sampai mereka mau mencelakai saya?" tanyaku dengan was-was.
Ibu Kemala diam, wajahnya terlihat melas. Ia seperti iba melihat nasibku yang ingin di celakai.
"Dek Adi, kamu nggak usah bingung. Pasti kamu di jaga, kamu nggak sendirian dek. Kamu nggak salah apa-apa, mereka memang hanya tertarik padamu. Sudah itu saja. Intinya, kamu jalani kehidupan kamu dan aktifitas kamu seperti biasa." jelas ibu Kemala dengan senyum, ia membuatku tenang.
Yang semula aku takut dan tak tahu harus berbuat apa-apa, kini berkat penjelasan ibu Kemala aku tak takut lagi, aku harus tegar, aku harus hadapi, bagaimana pun caranya.
"Terima kasih banyak bu. Saya jadi tenang sekarang, doakan saya juga agar bisa melewati semua ini bu." pintaku.
"Iya dek, kamu anak baik. Banyak yang akan membantu kamu." sekali lagi ibu Kemala menenangkanku.
"Kalau begitu, saya pamit pulang bu. Terima kasih atas waktunya, maaf kalau saya mengganggu istirahat ibu." ucapku.
"Nggak apa-apa dek, saya senang bisa bantu kamu walaupun nggak banyak."
Adzan Maghrib berkumandang, tepat di seberang rumah Kemala ada masjid dengan kubah besar serta menara yang cukup tinggi.
"Sudah maghrib dek, nanti saja pulangnya setelah shalat." tutur ibu Kemala.
"Saya shalat di masjid saja bu. Makasih."
"Malaaaa!" si ibu teriak memanggil Kemala.
__ADS_1
"Adi mau pulang niiiihh!"
Kemala pun keluar, ia mengenakan mukena putih. Ah, cantiknya.
"Dek Adi, saya masuk dulu yaa. Hati-hati di jalan, jangan lupa pesan saya lho." ucap ibu Kemala dengan tersenyum lalu masuk ke dalam rumah.
"Iya ibu. Makasih banyak bu." balasku seraya tersenyum.
"Udah?" tanya Kemala singkat.
Aku senyum, "Udah kok."
"Kenapa nyokap gue jadi ramah gitu sama cowok? Bingung gue, lo kasih apa nyokap gue? Ngaku lo." sergah Kemala.
"Lho, emang nyokap lo ramah kok. Sumpah, nggak gue kasih apa-apa. Kan gue cuma ngobrol sama nyokap lo." ujarku.
"Terus nyokap gue pesan apa sama lo? Kok bisa-bisanya dia begitu sama temen cowok gue?" tanya Kemala menginterogasiku.
"Pesan nyokap lo ke gue cuma satu."
"Apa?" tanya Kemala.
"Jangan tinggalin shalat." jawabku.
Kemala memandang sinis ke arahku, "Ah bohong lo, nggak mungkin deh kayaknya."
"Astaga Mala, nggak percayaan banget ini orang. Beneran cuma itu doang." jelasku.
"Beneran?" Kemala meyakinkan lagi.
"Sumpah!" balasku sembari mengangkat telunjuk dan jari tengahku.
"Yaudah, gue balik ya" ucapku.
"Iya deh. Eh, lo naik apa?" tanya Kemala.
"Gampang, bisa naik ojol. Daaahh, makasih ya La." aku pamit.
"Iya sama-sama. Hati-hati Di." Kemala melambaikan tangan.
Aku menuju masjid, untuk melaksanakan shalat maghrib. Ibu Kemala orang baik, ia tak seperti Ki Sona. Aku pun shalat, serta berdoa memohon perlindungan dari Allah SWT, semoga tak terjadi apa-apa padaku.
Selesai shalat maghrib, ku pesan ojol dengan tujuan Kost Pak Thamrin. Selang beberapa menit abang ojol pun datang menjemputku. Jalanan terlihat padat, sore hari lalu lintas sedang lucu-lucunya. Banyak titik macet, terutama di pertigaan dan perempatan jalan.
Setengah jam lebih sedikit, aku sampai di depan gang. Aku sengaja turun di depan gang, perutku terasa lapar dan ingin makan di warteg tempat biasa. Ah, hampir saja terlupa. Aku harus bertemu dengan Kang Ujang, ia harus melanjutkan ceritanya. Dari ceritanya bisa ku tahu siapa Bi Tati sebenarnya. Apa sama dengan Bi Tati neneknya Kemala.
"Eh, adek. Sudah lama nggak kelihatan nih." sapa mbak pemilik warteg.
"Iya mbak. Makan mbak."
Si mbak menyendok nasi, kemudian ku pilih lauk yang terpajang di dalam etalase kaca. Telur dadar favoritku, kentang balado, tumis jamur, dan tak lupa satu sendok sambal. Cukup sudah.
"Minumnya apa?" tanya si mbak.
"Air putih hangat saja mbak. Makasih."
Berdoa tak ku lupa, kemudian aku pun makan. Ah nikmatnya, sudah lama aku tak makan di warteg ini. Ada kerinduan tersendiri. Di sela-sela aku makan, datang seorang pria memakai baju koko coklat muda serta mengenakan peci. Ah iya, malam ini masih ada acara tahlil dan doa bersama di halaman kost.
"Dari mana sih Pan?" tanya mbak warteg.
__ADS_1
Yang di panggil Pan menjawab sambil menghisap rokoknya,
"Dari rumah Pak RT bude."
"Ngapain jam segini ke rumah Pak RT? Mau minta tanda tangan?" tanya mbak warteg.
"Lhooo, bude ini gimana sih. Memang belum tahu beritanya?" yang di panggil Pan bertanya.
"Berita opo toh pan?" tanya mbak warteg yang di panggil bude.
"Tadi magrib Pak RT meninggal bude."
Deg.
"Uhukk uhukk uhukk.." aku terbatuk sampai panas dadaku.
"Oalaaah benar itu Pan?" tanya Bude.
"Iya bude, saya habis melayat dari sana. Setelah ini sekalian mau tahlil ke rumah Nek Iyah." balas lelaki yang di panggil Pan.
Pak RT meninggal? Berarti itu Pak Rahmat kan? Ku habiskan dengan cepat makananku. Setelahnya ku tenggak segelas air hangat. Lalu segera membayar. Apa benar yang di katakan lelaki yang di panggil Pan ini? Kalau Pak Rahmat meninggal maghrib tadi.
Setelah membayar, aku buru-buru melesat menuju kost. Baru saja ingin melangkah masuk ke dalam gang, tiba-tiba mataku melihat sosok Kang Ujang di kejauhan. Ia berada di ujung kebun, ada cahaya lampu yang menerangi wajahnya.
"Kang Ujaaaannggg!" aku teriak keras.
Sosok yang ku lihat Kang Ujang menghentikan langkahnya, lalu menoleh ke arahku berdiri.
"Hooii Dek Adi." jawabnya, ia melambaikan tangannya.
Aku bergegas menuju tempat Kang Ujang berdiri, melewati kebun gelap dan penuh pepohonan.
"Dek Adi dari mana? Mau ngapain?" tanya Kang Ujang. Ia memegang bendera kertas berwarna kuning.
Nafasku terengah karena lari menghampiri Kang Ujang.
"Kang.. hah..hah.. emang benar.. hah.. Pak Rahmat.. hah.. meninggal.. hah..?" tanyaku terengah.
"Lho, Dek Adi tahu dari mana?" tanya Kang Ujang.
"Tadi saya dengar dari mas-mas di warteg depan sana. Benar kang?"
"Iya dek. Tadi magrib meninggalnya." jawab Kang Ujang.
"Meninggal karena apa kang? Sakit?" tanyaku.
"Kurang tahu saya dek. Tapi ketika saya lihat kondisi jenazahnya mirip almarhum Mbak Wati." jelas Kang Ujang.
"Mirip gimana kang?" rasa penasaranku bergejolak kuat.
"Ya begitu dek, matanya melotot, mulutnya mangap, terus urat-uratnya menonjol. Pokoknya mirip seperti kondisi jenazah almarhum Mbak Wati. Cuma bedanya, lidah Pak Rahmat nggak putus." terang Kang Ujang.
Astaga, misteri apa lagi ini? Baru kemarin siang ia menyarankanku untuk segera pindah dari kost itu, bahkan Bang Oji memergoki kami berbincang. Apa ada kaitannya juga dengan praktek ilmu hitam Nek Iyah?
Semakin lama, semakin rumit saja. Tenang, aku harus tenang. Aku hanya bisa pasrah pada Tuhan Yang Maha Esa.
"Dek, mau ikut melayat Pak Rahmat?" tanya Kang Ujang.
"Boleh kang. Yuk." balasku.
__ADS_1