
Ela mengantarkan sepiring kue dan sekeranjang kecil buah jeruk ke tempatku duduk.
"Silakan bang." ucap Ela seraya senyum padaku.
"Eh iya, makasih neng. Siapa ini cakep banget?" ujar seorang bapak tua yang duduk tak jauh di sebelah kananku. Kumisnya tebal hampir menutup separuh atas bibirnya, peci hitamnya di pakai agak ke belakang sehingga dahi lebarnya mengilau terkena paparan cahaya lampu.
"Yang ngontrak di sini kali ya?" seorang bapak lain menyambar, mengenakan kemeja biru dongker, hidungnya bangir, matanya sayu, namun senyumnya nakal khas sugar daddy.
"Emang ngontrak di sini neng?" si bapak tua berkumis tebal kembali berucap.
Ela yang sedang di omongi hanya senyum tak menjawab. Setelah selesai menaruh piring-piring kue, Ela bergegas pergi.
Aku mencomot sepotong kue cincin, berbentuk seperti donat namun ukurannya lebih kecil, untuk itu di beri nama kue cincin. Berwarna coklat gelap. Terkstur luarnya garing dan renyah, namun di dalamnya empuk. Tak terlalu manis, dan enak.
Kang Ujang nampak sibuk menjamu hadirin, membuat kopi dan teh. Bang Oji yang aneh sudah masuk kamar, sehari aku tak melihatnya mengapa tingkahnya jadi seperti itu.
Tring.
Ada pesan masuk di ponselku. Yuda?
- Jangan lupa soal mobil ya. gue tunggu kabarnya segera. oke! -
Ah sial, apa yang harus ku jawab? Ku putuskan untuk tak membalas pesan dari Yuda. Saat ini aku lebih sibuk untuk memperhatikan Kang Ujang, agar tak lepas dari pandanganku. Malam ini ia harus melanjutkan ceritanya.
Tring.
- Lagi ngapain lo? -
Eh, Kemala? Yang ini harus ku balas dengan segera. Jariku lincah mengetik tiap huruf, membalas pesan dari Kemala. Senyumku sumringah.
"Dek Adi,"
Kang Ujang mengagetkanku.
"Eh. Kang, iya kang."
"Mau kopi nggak? Atau mau teh?" Kang Ujang menawariku minum.
"Emm, teh aja deh kang. Kalau kopi nanti aja pas ngobrol sama Kang Ujang." jawabku.
Kang Ujang pergi membuatkanku segelas teh, aku lanjut membalas pesan dari Kemala. Tumben sekali Kemala, tak biasanya ia yang memulai chat lebih dulu. Balasanku terkirim.
"Mangga dek, tehnya." Kang Ujang memberikan segelas teh panas.
__ADS_1
"Makasih kang."
Kang Ujang duduk di depanku. Ia mencomot sepotong kue, dan memakannya.
"Lho, Kang Ujang mana minumannya?" tanyaku.
"Aaahh saya mah gampang atuh dek." ucapnya.
"Jang, Pak RT kapan mau di makamin?" bapak tua berkumis tebal yang menggoda Ela bertanya.
Kang Ujang menjawab, "Rencananya sih besok pagi, malam ini nunggu keluarga yang mau datang dari Cirebon."
"Emang yang orang Cirebon siapa Jang?" bapak dengan senyum nakal bertanya.
"Istri almarhum teh orang Cirebon. Pada mau melayat, sekaligus melihat jenazah almarhum." jawab Kang Ujang.
Kang Ujang sedikit banyak tahu, karena Pak Rahmat adalah tetangga Kang Ujang. Boleh jadi bapak-bapak itu bertanya ke Kang Ujang.
"Kang, apa keluarga almarhum tidak curiga dengan kondisi jenazah yang nggak biasa itu?" tanyaku pelan.
Kang Ujang mendekat ke arahku.
"Justru itu dek, keluarga dari istri Pak Rahmat mau datang dari Cirebon. Karena sepertinya ada hal ganjil soal kematian Pak Rahmat." jelas Kang Ujang.
Kami bersenda gurau, membicarakan berbagai macam kemungkinan soal kematian Pak Rahmat yang kurang wajar. Sampai suatu ketika, tak sengaja mataku tertuju ke Nek Iyah. Tatapan Nek Iyah tajam melihatku, membuatku tak nyaman. Aku membuang muka, lalu kembali mengobrol dengan Kang Ujang. Selang beberapa menit kemudian, aku melihat Nek Iyah lagi, aneh tatapannya tak bergeming. Ia menatapku lekat. Ada apa dengannya?
Malam kian larut, warga pun pamit secara berkelompok. Setelah sedikit membantu membersihkan sampah, aku pun bergegas masuk ke dalam kamar. Kang Ujang tak bisa melanjutkan cerita malam ini, sebagai tetangga yang baik ia harus bersiap di rumah duka Pak Rahmat jika sewaktu-waktu keluarga almarhum membutuhkan pertolongan, aku pun memakluminya. Cerita bisa kapan saja di lanjutkan.
Lampu ruang tengah ku matikan, sedangkan lampu ruang depan tetap ku nyalakan. Ku rebahkan tubuhku di atas kasur. Kemala sudah tak membalas kembali pesanku, mungkin sudah tidur, waktu juga sudah menunjukkan pukul 22:47. Aku pun harus segera tidur, karena besok jadwal kuliah pagi. Aaahh, kembali teringat perjanjianku dengan Yuda. Sial, kapan aku bisa mengobrol dengan Nek Iyah menanyakan perihal mobil antiknya. Esok Yuda pasti menanyakan progres-nya. Ah biarlah, esok akan ku jawab sekenanya.
***
Oeee oeee oeee
Suara tangis bayi, sudah pasti ini jam tiga malam. Huh, biarlah. Silakan kau menangis sampai ibumu datang menyusuimu bayi sialan!, aku membatin kesal. Ku acuhkan.
Hmmm hmmm hmmm hmmm..
Eh, suara wanita bersenandung? Ah, paling cuma Ela yang kerasukan lagi. Sana kau kerasukan sampai kau panjat pucuk pohon tertinggi, sana!, aku tak peduli, aku bergumam dalam hati gusar. Ku abaikan.
Aku lebih santai menyikapi kejadian yang ku alami, mulai dari suara tangis bayi, dan suara bersenandung wanita, semua terasa biasa saja. Mana? Mana lagi yang mau datang? Hah? Kursi roda? Sana kau mainkan kursi roda milik Mbak Wati, kalau bisa kau ngebut di jalanan sampai di tilang polisi, lagi-lagi aku bergumam sebal dalam hati. Aku tak peduli, aku tak takut.
Suara tangis bayi masih terdengar, kini semakin kencang. Suara wanita bersenandung pun terdengar amat dekat. Penasaran juga aku di buatnya, aku bangun dengan santai. Aku mengucek mataku pelan. Paling hanya suara tangis bayi yang tak berwujud, aku membatin santai. Lalu, suara bersenandung itu? Halaah, paling Ela yang kerasukan. Jika itu terjadi, tinggal ku biarkan ia bersenandung sampai pagi, aku ingin tahu. Apa setan yang merasukinya kuat bersenandung sampai pagi. Hahahahaha, imajinasiku liar.
__ADS_1
Aku berjalan pelan menuju ruang depan.
Deg deg deg deg deg deg deg..
Apa itu? Siapa itu?
Jantungku memompa sangat cepat.
Dengkulku lemas.
Bulu kuduk merinding.
Tanganku bergetar hebat.
Lidahku kelu tak dapat berkata.
Pe..penampakan yang begitu menyeramkan.
Ku lihat sosok wanita bergaun merah. Ia berdiri di sudut tembok, menempel pada dinding. Rambutnya semrawut namun panjang sampai ke pinggang. Wajahnya pucat seputih kapas. Kelopak mata dan kantung matanya berwarna hitam legam. Bola matanya terbelalak melihat ke gumpalan kain batik yang di gendongnya. Senyumnya menyeringai jahat. Tangannya kurus, jari-jarinya panjang, dengan kuku yang juga panjang dan tajam berwarna hitam. Suaranya lirih menyayat, membuatku merinding.
Aku tak dapat menggerakkan kaki. Menoleh untuk membuang muka pun tak bisa. Wajahku seolah terpaku, untuk melihat sosok wanita bergaun merah ini. Bahkan, untuk terpejam saja aku tak sanggup. Sosok ini menguasai tubuhku. Hanya bola mataku saja yang bisa ku gerakkan.
Keringat mengucur deras, wanita bergaun merah ini masih saja bersenandung sambil menepuk-nepuk kain batik. Tiba-tiba, mata yang seolah melihat ke arah kain batik yang di gendongnya, perlahan bergerak melihat ke arahku. Astaga, aku sangat ketakutan. Baru kali ini ku lihat sosok yang begitu menyeramkan, walaupun tanpa darah yang terpercik.
Ia menatapku, senyumnya menyeringai, bibirnya lebar hampir menyentuh daun telinga. Lalu dengan perlahan ia melayang mendekatiku. Aku menangis tersedu, namun tak dapat bersuara. Air mataku saja yang menetes dengan deras membasahi pipiku. Seluruh tubuhku kaku, hawa dingin dan panas bergantian ku rasakan.
"Hihihihihihihi." ia tertawa pelan.
Wajahnya yang menakutkan tepat berada di depan wajahku.
Tep.
Tiba-tiba lampu padam. Gelap. Namun sekilas bayangan wajah wanita menakutkan ini terlihat. Siluetnya menyeramkan, dengan senyum yang terus menyeringai, dengan mata yang menatapku tajam.
"Akuuh.. suka anakhh.. inihh.. Hihihihihi." suaranya pelan namun begitu menakutkan.
Telunjuknya yang panjang dengan kuku yang panjang pula menyentuh pipiku. Ia membuka mulutnya, lidahnya yang panjang menjulur keluar, menjilati pipiku. Dari lidahnya menetes cairan kental berwarna merah. Wajah wanita ini makin mendekat ke wajahku. Hidungnya menyentuh hidungku, bebauan kembang menyeruak memenuhi hidungku.
Aku berdoa dalam hati, berharap pertolongan dari Yang Maha Kuasa, atau paling tidak dari Kakek Badrun, ibunya Kemala, atau siapa pun. Siapa pun yang bersedia menolongku dari rasa mencekam ini.
Lalu, mataku gelap. Yang ku lihat hanya hitam. Aku pun tak dapat bersuara, atau mendengar suaraku.
Apa aku mati?
__ADS_1