Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 122


__ADS_3

Sudah pukul delapan malam, tapi Mas Gun belum juga kembali dari kost lamanya. Kemana ia? Apa harus selama ini hanya mengambil uang seratus ribu rupiah, sial bikin khawatir saja. Lagian kenapa ponselnya sampai tak ia bawa sih!


Aku duduk di ruang depan kamarku, pintu kubuka dengan lebar. Udara sejuk bertiup menyegarkan. Semua tampak sempurna, di tambah dengan secangkir kopi panas dan buku novel kesukaanku. Tapi kesempurnaan hilang ketika perutku berbunyi, aku di landa kelaparan. Sial sial sial, kemana Mas Gun? Apa aku harus menunggunya datang untuk bisa makan?


Kurebahkan badanku di lantai, kulipat tanganku ke belakang dan kujadikan sandaran kepala. Kupandangi langit-langit kamar, di sudut ada sarang laba-laba tak terlalu besar. Bergerak-gerak tertiup angin.


"Assalamualaikum Bang Adi." salam dari Dini memecah lamunanku. Aku bangun dari rebahku.


"Eh, waalaikumsalam. Ada apa Din?" tanyaku sambil keluar menghampiri Dini.


"Bang Adi, ini ada makanan buat Bang Adi. Maaf ya cuma sedikit ngasihnya." ucap Dini sambil menyodorkan sebungkus plastik padaku.


"Eh, apaan ini Din? Kok repot-repot segala sih." balasku sambil menerima plastik pemberian Dini.


"Nasi bungkus bang, maaf ya lauknya seadanya. Soalnya Dini nggak tahu Bang Adi kesukaannya apa." jawab Dini sambil tersipu.


"Ooh gitu. Ya ampun, makasih banyak ya Din. Repot-repot segala beliin nasi bungkus."


"Nggak repot kok bang, cuma nasi bungkus aja. Yasudah, Dini balik ke kamar ya. Jangan lupa di habisin ya makanannya." ujar Dini, senyumnya tak pudar sedikit pun.


"Iya Dini, makasih banyak yaa." ucapku.


Dini pun beranjak pergi kembali ke kamarnya. Kuletakkan plastik berisi nasi bungkus di tengah-tengah ruangan. Kenapa Dini jadi baik seperti ini ya? Tumben sekali ya.


Brrrrmmm. Suara knalpot motor sangat akrab di telingaku. Mas Gun. Aku bangun dari duduk dan langsung keluar kamar.


"Lama banget sih mas. Ngapain aja?" tanyaku langsung menodong pertanyaan.


Mas Gun mematikan mesin motornya, lalu turun dari atas motor.


"Lama apa sih Di? Sebentar aja kok." jawabnya. "Makan yuk! Gue lapar nih." ajak Mas Gun.


"Mas, tadi ada tetangga kost yang kasih gue nasi bungkus, tapi sayangnya cuma sebungkus doang. Kita beli buat lo aja yuk!" tuturku.


"Oooh gitu, siapa yang kasih? Tika ya?" tanya Mas Gun.


"Bukan mas. Itu anak yang tinggal di kamar 11d, Dini namanya." jawabku.


"Ckckckck. Banyak amat sih penggemar lo Di. Hehehehehehe. Selain Dini, siapa lagi yang sering kasih makanan?"


"Aaahh, kebetulan aja mereka baik mas. Yuk, kita keluar." ajakku.


Aku pun keluar bersama Mas Gun, nasi bungkus dari Dini kuletakkan di lantai.


* * *


Kami keluar tak lama, hanya membeli nasi bungkus untuk Mas Gun dan beberapa bungkus kopi. Ya mulai malam ini Mas Gun akan tinggal bersamaku di Kost Pak Thamrin. Tapi aku memang belum meminta izin dengan Nek Iyah, karena menurut Kang Ujang, beliau sedang tidak ada di rumah.


Kami sampai di depan gerbang kost, aku turun lebih dulu untuk membuka gerbang. Motor Mas Gun melesat langsung menuju parkiran kost di belakang. Sementara aku menutup gerbang. Setelah gerbang kost kututup, aku berjalan santai menuju kamar.


Tapi langkahku terhenti di halaman begitu kudengar suara kucing mengeong. Suaranya terdengar seperti puluhan kucing. Brrrrrr. Bulu kudukku merinding seketika. Aku tak merasa takut sedikit pun, aku mengenakan cincin mustika ini. Sini kau demit! Tampakkan wujudmu jika ingin kumusnahkan, aku bergumam dalam hati.


Lihat saja nanti, akan kuhancurkan kau satu-persatu.


Kriiiieeeeeeett. Pintu rumah Nek Iyah tiba-tiba terbuka dengan sendirinya.


Cih! Apa lagi ini? Aku diam berdiri mematung, kuperhatikan pintu yang bergerak dengan sendirinya. Dari luar tampak ruangan dalam di rumah Nek Iyah gelap gulita. Dulu kau boleh menakutiku dengan cara seperti itu. Tapi sekarang, seujung kuku pun aku tak takut dengan kalian.


Samar-samar terlihat penampakan di dalam rumah Nek Iyah. Ada sesosok wanita yang duduk di lantai, senyumnya menyeringai memperhatikanku. Matanya bersinar putih. Rambutnya semrawut acak-acakan. Dan suara puluhan kucing terdengar saling bersahutan. Apa itu wanita kucing yang Kubil ceritakan?

__ADS_1


"Khkhkhkhkhkhkh" tawanya terdengar sayup-sayup. Aku tahu ia memandangiku dengan tatapan penuh kebencian, tapi aku hanya diam tak bergeming. Aku ingin tahu, beranikah kalian menyerangku lebih dulu.


"Adiiii. Diiii." suara Mas Gun memanggilku.


Brakk. Pintu rumah Nek Iyah menutup dengan sendirinya.


Rupanya hanya salam perkenalan dari demit wanita itu. Oke baiklah, aku sudah lihat rupamu. Dan kau pasti sudah jelas melihat wajahku. Kau tandai wajahku ini, suatu saat kita akan berhadapan.


"Di, ayo makan! Lo ngapain sih diri di situ?" ajak Mas Gun.


"Iya mas." aku pun menghampiri Mas Gun.


Aku dan Mas Gun kembali ke kamar, perut kami sudah bermain orkestra rasanya. Sudah terlalu lapar dan sudah lewat jam makan malam. Mas Gun membeli nasi pecel lele, lengkap dengan tahu dan tempe goreng. Secomot lalap kol, daun kemangi, dan beberapa iris mentimun di tambah seplastik kecil sambal tomat. Sangat menggugah selera. Dan seperti biasa, tambahan satu bungkus nasi putih lagi untuk Mas Gun. Itu merupakan suatu keharusan, tak pernah terlupakan dan tak akan pernah terlewatkan.


Mas Gun sudah mulai makan, baru saja makan sesuap dahinya sudah basah oleh keringat. Kausnya pun basah di beberapa lipatan tubuhnya. Melihat Mas Gun makan dengan lahap, membuat aku hanya melongo.


"Di, u ngain ia'in uwa ma'n?" tanya Mas Gun dengan mulut penuh nasi, pipinya kembung di kedua sisinya.


"Uaah ma'n bu'uan!" Mas Gun menyuruhku makan.


Aku hanya tersenyum. Akhirnya kukeluarkan nasi bungkus pemberian Dini, bentuknya besar dan munjung. Sejujurnya, aku belum tahu apa isi lauknya, pasti sangat nikmat.


"Di, lo nunggu apaan sih? Udah buruan makan!" suruh Mas Gun.


"Iya iya, ini mau gue buka nasi bungkusnya." balasku.


Nasi bungkus pemberian Dini di ikat karet gelang berwarna merah. Karet kucopot, dan kubuka bungkus nasi.


Serr. Tiba-tiba bau busuk menyeruak menusuk hidungku.


"Huueekk!" perutku mual mencium aroma busuk.


Deg.


Ribuan belatung menggeliat bergerumul sangat menjijiikkan, berwarna kuning. Ada lendir berwarna hijau kehitaman. Dan, apa itu?


.


.


.


Ada bulu-bulu berwarna coklat, namun tak jelas terlihat, karena tertutup ribuan belatung.


.


.


.


Kupicingkan mataku.


.


.


.


Astaga, apa itu?

__ADS_1


.


.


.


Astagfirullah! Itu..


.


.


.


Itu bangkai anak kucing.


"Huueekk!" aku berlari ke kamar mandi. Kumuntahkan isi perutku, entah apa yang keluar dari dalam mulutku, kurasa hanya air. Aku jijik melihat isi nasi bungkus pemberian Dini. Tak benar, ini sungguh tak benar.


"Adiii. Lo kenapa Di?" Mas Gun teriak memanggilku.


"Buang mas! Buang nasi bungkus gue!" balasku.


"Buang? Lo yakin nih?" tanya Mas Gun dari ruang depan.


"Iya mas. Buang sekarang!"


"Kenapa di buang sih? Ini enak banget lho Di. Sayang tahu Di! Gue aja ya yang makan nasi bungkus lo?" ujar Mas Gun.


"Jangan mas! Buang cepet mas!" jawabku. "Hooeekkk!!" aku kembali muntah.


Sial, apa yang sebenarnya Dini rencanakan padaku! Bayang-bayang bangkai kucing masih terlintas di kepalaku. Tubuhnya kurus di penuhi belatung yang menggeliat. Menjijikkan.


Aroma busuk masih menempel di dinding lubang hidungku, baunya tak minggat. Tubuhku lemas. Kubasuh wajahku dengan air, kusiram juga kepalaku hanya sekedar. Gila, bagaimana bisa nasi bungkus yang kulihat berbentuk seperti itu.


Aku kembali ke ruang depan.


"Udah di buang mas?" tanyaku seraya duduk bersandar pada dinding kost.


"Udah. Emang kenapa sih Di? Kok di buang, itu lauknya enak banget lho." tutur Mas Gun.


"Enak apaan mas! Jijik gue lihatnya." balasku.


Kuambil segelas air hangat, perutku masih terasa mual. Bayang-bayang bangkai kucing masih menempel lekat dalam kepalaku.


"Memang apa yang lo lihat di nasi bungkus itu mas?" tanyaku.


"Nasi, lauknya daging rendang. Bumbunya banyak banget. Enak Di." jawab Mas Gun. "Lho, memang lo lihatnya apa?" tanya Mas Gun.


Aku menggeleng, tak sanggup rasanya kuceritakan apa yang baru saja kulihat dalam bungkusan tadi. Ada sesuatu yang tak beres. Semua inderaku makin sensitif sejak kupakai cincin mustika ini, sama seperti saat kulihat warung nasi penuh pocong dulu.


"Terus lo mau makan apa?" tanya Mas Gun.


"Nggak ah, gue udah nggak ***** makan mas. Besok pagi aja sekalian sarapan deh." jawabku.


"Yeee aneh lo!" ucap Mas Gun.


"Bodo ah!" balasku.


Besok aku harus bicara dengan Tika tentang perubahan dalam diriku ini, aku tak ingin seperti ini terus. Bisa-bisa aku mati kelaparan. Biarlah malam ini kuminum air yang banyak, agar laparku dapat tertahan, setidaknya sampai besok pagi. Semoga saja.

__ADS_1


__ADS_2