Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 35


__ADS_3

Eaaa eaaa eaaa.


Astaga, apa lagi ini? Aku terbangun kembali. Sudah pasti suara bayi menangis yang mengganggu tidurku. Ku lihat jam di ponselku, 03:00. Benar saja, suara tangisnya membangunkanku. Kepalaku pening, pandanganku berkunang-kunang. Mangkel rasanya hati ini. Bagaimana tidak, aku baru saja tidur kurang lebih satu jam. Dan kini terbangun gegara suara tangis bayi.


Aku bangun dari tempat tidurku, berjalan ke ruang depan dan ku buka pintu kamarku, aku keluar.


"Wooii, suara bayi lo ganggu orang tiduuurrr!" teriakku.


Eaaaa eaaaa eaaaa.


Suara tangis bayi masih saja terdengar.


"Mau lo apa? Hah?" aku kembali teriak.


Hening.


Sepi.


Kini suara tangis bayi tak terdengar.


Aku berbalik badan, ingin masuk ke dalam kamar. Baru dua langkah kaki ini bergerak. Tiba-tiba..


"Hihihihihihihi."


Brrrrr.. Bulu kudukku merinding. Entah dari mana asal suara tawa itu, yang jelas aku ketakutan. Aku berlari masuk ke dalam kamar, pintu ku tutup rapat dan ku kunci. Jantungku berdegup cepat. Suara tawa itu persis seperti suara tawa Ela. Tanganku gemetar.


Aku telengkup di atas kasur, tubuhku ku tutup selimut hingga kepala. Sumpah, suara tawa barusan membuatku tak tenang. Aku tak bisa tidur lagi. Ku pejamkan mataku, namun kantuk tak lagi menyerangku. Aku berdoa dalam hati, namun tak jua tenang. Ku putar murotal quran di ponselku, sedikit mambuatku lebih tenang.


Berbagai macam posisi tidur sudah ku gunakan, telentang, tengkurap, miring kanan, miring kiri, meringkuk, hingga duduk bersandar pada dinding. Namun mataku tak merasa kantuk. Sial, gegara suara tawa barusan rusak sudah malamku.


Adzan subuh berkumandang, suaranya merdu dan membuat damai. Mataku mulai terserang kantuk, setelah adzan selesai aku pun tertidur.


***


Triiiingg triiiingg triiinngg.


Dering telpon membuatku terbangun. Astaga, jam berapa ini? Ku lihat ponselku, 09:15. Sial, aku telat masuk kuliah. Yuda menelponku, lima kali panggilan tak terjawab. Ku jawab panggilan dari Yuda.


"Oi Da." aku berkata.


"Kemana aja lo baru jawab telpon gue?" tanya Yuda.


"Gue baru bangun Da. Kesiangan nih bangunnya." jawabku panik.


"Tumben banget lo bisa kesiangan. Lo kuliah nggak hari ini?"


"Iya iya, gue kuliah. Gue siap-siap dulu."

__ADS_1


"Hahahahaha. Jangan lupa mandi ya!" ledek Yuda.


Ah sial, gara-gara tak bisa tidur tadi malam, pagi ini aku jadi telat bangun. Sial. Dasar suara tangis bayi sial, gerutuku dalam hati. Aku bergegas mandi dan bersiap ke kampus.


***


Aku masuk mata kuliah Pengantar Ekonomi Syariah telat lima belas menit, beruntungnya dosen mata kuliah ini tak terlalu killer, Pak Azmi. Perawakannya kurus tinggi, kumisnya tipis bertengger di atas bibirnya. Selalu memakai peci hitam. Tutur bahasanya pun halus.


"Kamu kenapa telat?" tanya Pak Azmi. Aku menunduk, ku lihat seluruh mata seisi kelas memperhatikanku. Yuda terlihat mesem-mesem duduk di barisan belakang.


"Maaf pak, saya bangun kesiangan." jawabku pelan.


"Oalaah kamu ini. Begadang ya? Jangan-jangan nggak shalat subuh kamu nih?" sergah Pak Azmi.


Aku melesat duduk, duduk di barisan belakang.


"Nama kamu siapa?" tanya Pak Azmi kembali.


"Adi pak." jawabku.


"Minggu depan jangan telat lagi ya. Nama kamu saya tandai di absen saya. Kalau telat lagi, saya hukum bikin makalah nanti." ancam Pak Azmi.


"Iya pak." aku menjawab sembari menunduk.


"Baik, kita lanjutkan. Sampai mana tadi? Aduh, saya jadi lupa gara-gara teman kalian telat masuk." ungkap Pak Azmi.


Triingg


Eh, ada chat masuk. Suaranya menggema, membuat seluruh isi ruangan menoleh ke arahku.


"Apa lagi ini? Itu hape kamu yang bunyi?" tanya Pak Azmi kepadaku.


"Eh, em, iya pak. Maaf pak, lupa di silent." jawabku gagap.


Pak Azmi hanya menggeleng. Aku pun mengatur ponselku ke mode sunyi. Ah ada-ada saja, chat dari siapa lagi?


Kemala.


Aku senyum-senyum. Tak terelakkan, hati ini serasa berbunga. Ku buka chat dari Kemala.


-Telat ya? :) -


- Lho, kok tau sih? :D -


Aku membalas, tak ku hiraukan ocehan Pak Azmi di depan kelas.


- Kelas kita kan sampingan. Gue liat tadi lo buru2. Pasti telat kan! :D -

__ADS_1


Balasan chat dari Kemala. Aku tak tahu perasaan ini? Bahagia campur aduk. Senyum pun kembali terpancar.


- Oh sampingan. Baru tau gue ;b -


Balasku.


- Dih, masa baru tau. Lo kelas D, gue kelas C. Dari awal emang terus samping2an -


Kemala membalas.


- Eh, nanti siang jadi nggak? Gue udah reservasi nih. Wkwkwkwk -


Aku membalas dengan senyum terus membingkai di bibirku.


- Klo bos udah berkata, saya bisa apa? Cuss ;D -


Astaga Kemala, bisa saja membuat hatiku berdebar. Walau hanya chat biasa.


Bletakk!!


Penghapus papan tulis menghantam dahiku. Perih. Nyeri. Berdenyut-denyut. Seisi kelas tertawa melihatku. Pak Azmi melempar penghapus ke arahku, dan sialnya tepat mengenai dahiku.


"Dari tadi saya perhatiin kamu senyam-senyum aja! Kamu ngerti apa yang saya jelasin?" bentak Pak Azmi. Anggota kelas pun terdiam.


Aku pun terdiam.


"Maju! Sini maju!" suruh Pak Azmi.


Aku bangun dari tempat duduk dan maju ke depan kelas.


"Coba kamu jelasin lagi ke temen-temen kamu, yang barusan saya jelasin! Ayo jelasin!" ujar Pak Azmi.


Aku diam. Aku tak bisa menjelaskan. Aku tak mengerti. Aku tak bisa apa-apa. Aku hanya tertunduk diam.


"Bisa ulangi apa yang saya jelasin barusan?" tanya Pak Azmi.


"Eng, enggak pak." jawabku pelan.


"Saya kira, kamu nggak perhatiin sudah ngerti. Nih contoh buat kalian semua ya mahasiswa. Kalian ini sudah besar, sudah dewasa semua. Tugas dosen di sini bukan seperti guru di sekolah. Dosen hanya menerangkan sedikit, selebihnya kalian yang belajar sendiri. Ngerti semua??"


"Ngerti paaakkk." jawab seisi ruangan.


"Kamu, Adi. Kamu saya hukum bikin makalah 300 kata, bab yang tadi saya jelaskan. Minggu depan kasih ke saya saat mata kuliah ini. Ngerti?" ujar Pak Azmi.


"Baik pak."


"Yasudah, sana duduk!" suruh Pak Azmi.

__ADS_1


Yuda hanya senyum-senyum dari belakang melihatku. Sial. Hari ini kesialanku belum selesai ternyata. Semalam di ketawai, tak bisa tidur hingga subuh, bangun kesiangan, kena hantam penghapus, dan di hukum membuat makalah. Sial, sungguh sial. Semua gara-gara suara tangis bayi.


__ADS_2