
"Udah siap buat lanjutin cerita lo?" aku bertanya pada Yuda.
Yuda diam menatapku, tangannya sembari mengusap-usap lengan. Sebatang rokok masih terjepit diantara jari telunjuk dan jari tengahnya.
"Kalau gue ngebayangin lagi kejadian itu bikin merinding. Hiiiyyy, amit-amit deh. Nggak mau gue ngalamin lagi Di." jawab Yuda sembari bergidik ketakutan.
Aku menyeruput kopi.
"Terus nggak mau cerita nih?" tanyaku memancing.
"Iya iyaaa. Tapi sebelum gue lanjutin ceritanya, boleh gue tanya satu hal?" tanya Yuda.
"Ya boleh dong. Anggap aja kita lagi diskusi Da. Tapi diskusi soal hal mistis. Hehehehehe." jawabku sembari becanda guna mencairkan suasana.
"Di, apa benar yang kemarin kita alami itu nyata?" tanya Yuda. "Sampai sekarang, gue masih percaya nggak percaya dengan yang gue alami tempo hari. Ratu Sekar, terus kita terbang, di kejar kuntilanak, dan semua kejadian waktu itu, apa semua itu nyata?" sambung Yuda.
Aku menghela nafas. Kuambil sebatang rokok, kubakar, lalu kuhisap dalam. Rokok terasa nikmat, padahal seumur hidupku belum pernah kurasakan nikmatnya merokok. Sebelumnya aku hanya iseng saja. Tapi ini beda, rokok yang kuhisap terasa nikmat dan gurih. Kupandangi sebatang rokok yang kupegang.
"Di, woi! Yeee, malah lihatin rokok! Jawab dulu pertanyaan gue." tegur Yuda.
"Eh, iya iya. Maaf Da, gue lagi mikir barusan. Ini kenapa rokok yang gue hisap rasanya enak banget ya. Sebelumnya biasa aja, tapi kenapa sekarang enak ya." ungkapku.
"Aaahh udah, jangan bahas-bahas rokok deh! Jawab dulu pertanyaan gue. Buruan!" Yuda menyuruhku.
"Begini Da." aku membetulkan posisi duduk. "Sampai sekarang pun gue masih nggak yakin dengan yang kita alami kemarin. Tapi semuanya begitu jelas dan nyata. Kalau jawaban gue pribadi sih, yang kita alami kemarin itu nyata dan benar teejadi. Kenapa gue bilang nyata? Karena memang kita hidup berdampingan dengan yang gaib. Kita nggak sendirian di bumi ini. Allah pun gaib. Kita di perintahkan untuk mempercayai hal gaib." jelasku.
Yuda hanya diam memperhatikan penjelasanku. Ia tak menyela, tak juga bertanya kembali.
"Kalau nggak salah di jelasin di quran surat Al-Baqarah ayat tiga, kita harus beriman dengan hal gaib, melaksanakan shalat, dan menafkahkan sebagian rejeki kita. Jadi kesimpulan gue, yang kita alami kemarin itu benar-benar nyata Da." lanjutku.
Yuda mengangguk pelan, alis matanya turun mengernyit.
"Lo bilang tadi kita harus beriman dengan hal gaib, maksudnya apa itu Di?" lalu Yuda bertanya.
"Emmm, beriman dengan hal gaib itu kalau nggak salah maksudnya kita harus percaya dengan apa yang ada atau eksis di luar panca indera kita Da. Yang nggak terlihat oleh kasat mata, atau yang nggak bisa kita dengar dengan kuping biasa. Allah kan nggak bisa kita lihat, tapi kita wajib percaya bahwa Allah itu ada. Itulah yang membedakan agama kita dengan agama lain. Menurut gue sih seperti itu. Gimana? Paham?" jelasku.
Yuda mengangguk dengan pasti.
"Iya ya, Allah kan nggak terlihat, tapi kita harus percaya bahwasanya Allah itu ada. Jadi itu maksud beriman dengan hal gaib ya. Apalagi itu jadi pondasi di rukun iman kan Di?" ujar Yuda.
"Betul sekali Yuda. Seratus buat Yuda! Hehehehe." sahutku dengan cepat.
"Hahahahahahaha." Yuda tertawa terbahak, wajahnya sumringah sekali.
"Jadi udah dapat kesimpulan tentang apa yang kita alami kemarin?" tanyaku pada Yuda.
"Insya Allah gue yakin kalau kemarin itu benar-benar gue alami." jawab Yuda.
Udara siang ini tak terlalu panas. Malah tampak teduh. Langit pun tak secerah kemarin siang. Cahaya matahari tertutup awan. Lebih nyaman lagi karena angin bertiup sepoi-sepoi. Menambah nikmat nongkrong siang ini, di temani kopi buatan Bang Dede.
"Sekarang, silakan lanjutin cerita lo." pintaku sambil menghisap rokok.
"Oke oke." balas Yuda.
Yuda pun mulai bercerita, "Dalam tidur gue mimpi, jelas banget dan detil banget. Sampai sekarang pun gue bingung, itu mimpi atau bukan. Di mimpi itu gue berjalan di tengah padang rumput ilalang, ilalangnya nggak terlalu tinggi, hanya sebatas dengkul deh. Padang ilalangnya luas banget, sejauh mata memandang gue cuma lihat padang ilalang. Gue sendiri di padang ilalang itu, gue nggak lihat orang lain di sana."
__ADS_1
"Akhirnya gue berjalan nggak tentu arah. Tiba-tiba di ujung padang ilalang gue bertemu seorang cewek. Ceweknya cantik, masih muda, kulitnya putih mirip cewek-cewek Korea, rambutnya lurus berwarna putih. Cantik banget pokoknya Di. Cewek itu pakai gaun berwarna putih, gaunnya panjang sampai menyentuh tanah. Dia cuma tersenyum melihat gue. Asli, saat itu gue terpesona sama kecantikan cewek itu Di." cerita Yuda.
"Mantap dong ketemu cewek cantik. Hehehehe." sahutku.
"Hahahahahaha." Yuda ikut tertawa.
Yuda kembali melanjutkan ceritanya, "Dalam mimpi itu gue bertanya sama cewek itu, gue bertanya ini dimana. Tapi cewek itu nggak menjawab, dia cuma tertawa manis, mulutnya di tutup oleh tangannya. Lalu ia berlari menjauh dari gue. Dan gue pun mengejarnya, sambil gue panggil cewek itu."
"Ciiieee kejar-kejaran nih ceritanya!" ledekku.
"Hahahahahahaha. Iya Di, pokoknya adegannya mirip film-film India deh. Cuma bedanya gue nggak muter-muter pohon sambil nyanyi. Hahahahahaha." balas Yuda.
"Hahahahahahaha." aku terbahak mendengar ucapan Yuda.
"Terus, gimana lagi setelah kejar-kejaran?" tanyaku.
"Cewek itu berlari sampai menuju ke sebuah rumah reot. Rumah itu ada di tengah-tengah padang ilalang, gue nggak tahu rumah itu di padang ilalang yang tadi atau beda. Cuma ada satu rumah itu aja, nggak ada rumah lain. Rumahnya jelek, dindingnya sudah hancur, gentengnya banyak yang sudah bolong, dan gelap nggak ada cahaya sama sekali di rumah itu." jelas Yuda.
"Ooohh jangan-jangan itu rumah tempat lo di sekap ya Da?" tanyaku.
"Sebentar, gue lanjutin dulu cerita gue!" balas Yuda.
"Iya iya iya. Hehehehehe." aku terkekeh, lalu menyeruput kopi yang sudah mulai dingin.
"Cewek itu langsung masuk ke dalam rumah, sementara gue cuma berdiri di depan rumah itu sambil melihat sekeliling. Tak lama kemudian cewek itu keluar, ia berdiri di depan pintu. Nggak ngomong sepatah kata pun, ia cuma melambaikan tangannya mengajakku masuk ke dalam rumah. Lambaian tangan di sertai senyum nakal menggoda." cerita Yuda.
"Eh eh, sebentar sebentar! Maksudnya senyum nakal menggoda tuh gimana ya? Tolong di jelaskan dulu sebelum lanjut!" tanyaku yang penasaran.
"Etdah, gimana ya jelasinnya. Gue bingung senyum nakal menggoda kayak gimana." ucap Yuda sambil berpikir.
"Oke deh. Senyum manis ya jadinya." sahutku.
"Iya, senyum manis. Nah terus.." Yuda kembali berpikir. "Sampai mana tadi gue ceritanya? Ah, gara-gara senyum nakal menggoda nih, gue jadi lupa!" ujar Yuda.
"Sampai mana Di?" tanya Yuda.
"Sampai cewek itu melambaikan tangannya, ngajak lo masuk sambil senyum nakal menggoda di ganti dengan senyum manis." jawabku.
"Aaahh iya. Cewek itu lambai-lambai tangannya, mengajak gue masuk ke dalam rumah. Senyumnya manis banget Diii, wajahnya cantik. Cowok mana yang nggak naksir kalau lihat cewek itu. Yuda yang terkenal sebagai laki-laki normal dan penyayang wanita pun akhirnya masuk ke dalam rumah itu." Yuda bercerita dengan senyum terukir di bibirnya.
"Begitu sampai di dalam rumah. Gue kaget banget Di. Mungkin itu pemandangan terindah yang pernah gue lihat dengan mata kepala gue sendiri." ujar Yuda.
"Pemandangan indah? Apaan sih Da? Lo bikin penasaran aja!" ucapku sedikit menggerutu.
"Sebentar! Gue bakar rokok dulu, biar ceritanya makin semangat." jawab Yuda.
Aku diam menunggu Yuda melanjutkan kembali ceritanya. Sudah hampir habis, kopi pun kembali kuseruput.
"Gue kaget dan melongo begitu sampai di dalam rumah. Dari luar, rumah itu memang terlihat gelap, sama sekali nggak ada cahaya atau lampu sebiji pun. Tapi begitu di dalam, ada cahaya remang sehingga terlihat suasana di dalam rumah." lanjut Yuda.
"Apa yang lo lihat?" tanyaku.
"Pemandangan indah yang pertama kali gue lihat dengan mata kepala gue sendiri adalah cewek yang tadi mengajak gue masuk ke dalam rumah itu Di."
"Iya apa pemandangan indah itu?"
__ADS_1
"Cewek itu sedang rebahan, di atas sebuah dipan kayu yang ada di sudut ruangan. Ia rebahan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuhnya Di. Cewek itu telanjang bulet. Ia cuma senyum menatap gue. Cantik banget. Gue seperti terhipnotis."
Aku tak berkata, hanya menelan ludah.
"Jari telunjuknya bergerak menyuruh gue untuk mendekat." lanjut Yuda.
"Terus lo dekatin itu cewek Da?" tanyaku makin antusias.
"Gue mendekat dengan perlahan. Tubuh cewek itu mulus Di, pokoknya pemandangan indah banget deh. Begitu gue duduk di ujung dipan, cewek itu menarik baju gue, supaya gue lebih mendekat dan ikut berbaring bersama cewek itu." cerita Yuda.
"Terus terus?" tanyaku lagi.
"Cewek itu wangiiiiii banget. Wanginya belum pernah gue rasakan seumur hidup gue. Tangan gue mengelus pundaknya, kulitnya haluuuuuss banget. Kemudian kedua tangan cewek itu memegang pipi gue, ia senyum dengan manisnya. Wajah kami saling berhadapan dan berdekatan. Sampai akhirnya, bibir kami pun bertemu." terang Yuda.
"Lo ciuman sama cewek itu Da?" tanyaku dengan suara lantang.
Dua orang karyawan yang duduk di seberang menengok ke arah kami. Yuda menepak tanganku kencang, memberi isyarat agar aku menahan emosi.
"Iya Di. Mata gue terpejam, kami saling cium. Gue berpelukan dengan cewek itu. Mesra banget." lanjut Yuda.
"Terus?" tanyaku.
"Tiba-tiba aja, sesuatu yang menyeramkan terjadi." ujar Yuda.
Aku diam menunggu Yuda melanjutkan ceritanya.
"Saat kami sedang berciuman, tiba-tiba gue merasakan sesuatu yang aneh di mulut gue. Aromanya pun berbau busuk. Saat gue buka mata gue, sumpah gue kaget banget. Cewek cantik yang gue peluk berubah menjadi sosok menyeramkan." Yuda bercerita.
"Apa? Sosok menyeramkan? Kayak gimana bentuknya Da?" tanyaku.
"Mulutnya lebar sampai ke kupingnya, giginya tajam-tajam dan bentuknya taring semua. Liurnya menetes berwarna hijau, aromanya busuk, dan lendir kental bentuknya. Matanya besar Di, bulat sampai menutupi pipinya, melotot melihat gue. Rambutnya semrawut, warnanya putih mirip uban." terang Yuda tentang sosok cewek cantik yang berubah menjadi sosok menyeramkan.
"Terus gimana lagi Da?" tanyaku.
"Gue berontak, mencoba melepaskan pelukan setan itu. Tapi dia kuat banget Di. Dia tertawa keras. Lalu tiba-tiba sekelompok setan terbang masuk ke dalam rumah dengan wajah yang menyeramkan, mereka semua tertawa girang melihat ke arah gue. Gue pikir, gue bakalan mati nih! Tapi sesaat kemudian gue berpikir lagi, ini cuma mimpi dan sebentar lagi gue bakal bangun." terang Yuda.
"Dan ternyata?" sahutku.
"Dan ternyata enggak, gue di bawa ke atap dan di masukkan ke dalam sebuah kotak kayu besar. Di dalamnya penuh ulat dan belatung. Baunya busuk. Banyak lendir berwarna hitam. Gue teriak minta tolong, tapi percuma. Nggak ada yang mendengar gue. Gue dengar tawa cekikikan dari setan-setan di luar yang menjaga kotak besar. Gue ketakutan setengah mati Di, gue cuma bisa nangis memanggil nama nyokap. Saat itu gue terus berpikir positif kalau ini cuma mimpi, ini cuma mimpi belaka. Nggak, ini nggak nyata. Sebentar lagi gue akan bangun dari tidur dan ada di kamar." Yuda terus menceritakan kisahnya.
"Berapa lama lo merasa di sekap?" tanyaku.
"Gue nggak tahu Di. Berapa jam gue di sekap di dalam kotak itu." jawab Yuda.
"Tapi yang jelas gue dengar para setan itu memanggil-manggil nama yang bikin gue merinding." lanjut Yuda.
"Nama siapa Da?" tanyaku.
"Nama yang mereka elu-elukan. Nama yang mereka sanjung dan mereka puja-puji." ucap Yuda.
"Nama siapa Da?" tanyaku.
"Badriyah."
Deg deg deg deg. Jantungku berdebar mendengar nama yang di sebut Yuda.
__ADS_1