Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 149


__ADS_3

Nggak boleh dan nggak akan kubiarkan Mbak Wati sampai menyakiti Yuda. Aku akan sangat marah jika hal itu sampai terjadi. Aku mempercepat terbangku. Melesat menembus kelamnya malam. Itu dia. Itu rumah Yuda. Semoga masih terkejar.


Wuusshh. Aku merangsek masuk ke dalam kamar Yuda.


Apa?


Yuda terlihat tidur dengan nyenyaknya, sambil memeluk bantal guling. Tak ada tanda-tanda kehadiran demit di sekitar sini. Lalu, kemana demit Wati itu pergi?


Aku terbang mengelilingi rumah Yuda. Mencari keberadaan Mbak Wati. Rasa penasaranku mengalahkan segala apapun. Namun tak kutemukan tanda-tanda ataupun hawa demit di sekitar rumah Yuda.


Aku terbang meninggalkan rumah Yuda. Kemana Mbak Wati pergi?


Jangan-jangan!


Mas Gun!


Aku panik.


Iya, pasti demit itu mendatangi Mas Gun.


Dengan cepat aku terbang menuju kost. Gawat. Bahaya. Pasti Mas Gun sedang dalam bahaya. Bagaimana jika sampai terjadi sesuatu pada Mas Gun? Tak bisa kumaafkan diriku. Jika memang Mas Gun menjadi korban dari demit Mbak Wati, kupastikan akan kumusnahkan ia sampai benar-benar musnah.


Kupercepat terbangku. Pikiranku sudah melayang tak menentu. Beberapa kemungkinan terlintas di benakku. Semoga tak terjadi apa-apa pada Mas Gun.


Wuuuuusssss. Terbangku makin cepat.


Astaga!


Apa yang terjadi dengan Mas Gun? Kulihat ia terkapar di halaman kost. Bahaya. Ya Tuhan, semoga tak terjadi hal yang tak kuinginkan.


Tep. Aku mendarat di tanah.


Kucari sosok demit Mbak Wati sambil berjongkok di samping tubuh Mas Gun. Suasana kost tampak sepi.


"Aaaaaaaaaa! Sakiiiiitttt."


Suara Kubil? Itu suara Kubil.


"Kubiiiill!" kupanggil dengan keras.


Syuuutt. Buggg. Tiba-tiba Kubil terpental dari dalam kamarku. Ia mendarat cukup kuat di atas tanah.


Kubil meringis kesakitan.


Aku mendekati Kubil.


"Tu-tuan Adi. Ma-maaf Tuan Adi." ucap Kubil.


"Apa yang terjadi dengan Mas Gun? Ada apa ini Kubil?" tanyaku.


Sambil meringis kesakitan, Kubil menunjuk ke arah kamarku. Aku menoleh.


Di depan kamar sudah ada demit Mbak Wati. Matanya putih bersinar. Ia melayang dengan menunjukkan wajah bengisnya. Dan tampak gigi-gigi tajam yang berbaris menyeramkan.


Aku membantu Kubil bangun.


"Hihihihihihihi. Kau terlambat Adi. Temanmu kini tak bisa diselamatkan. Hihihihihihi." ucap Mbak Wati dengan angkuh dan senyum sinis.


"Mungkin sebentar lagi, kau tak usah lagi menganggap ia sebagai temanmu. Ia akan segera menjadi pengikut pemimpin kami. Dan tentunya akan menjadi teman kami. Hihihihihihihi." lanjut demit Mbak Wati.


Amarahku bergejolak.


WUNGGG. DUAARRR.


Sinar biru kutembakkan dari tanganku ke arah Mbak Wati.


Set. Mbak Wati menghilang dengan cepat.


Aku celingak-celinguk mencari sosoknya. Mas Gun masih terlentang, tak sadarkan diri. Apa Mas Gun benar-benar sudah tak tertolong. Aku tak bisa menyentuhnya. Aku tak dapat membantunya bangun. Ya Tuhan, semoga Mas Gun tak apa-apa.


"Hihihihihihihi." Mbak Wati terkekeh. Ia melayang di atas genting kamarku.


"Sekarang giliranku!" ucapnya.


"Grroooaaaaaa!!" Mbak Wati membuka mulutnya lebar. Dari dalam mulutnya menembakkan sinar berwarna merah ke arahku.


DARRR.

__ADS_1


Aku tak sempat menghindar. Sinar merah mengenai dadaku. Terasa sakit dan panas. Rohku terpental dan mendarat di garasi. Aku terlentang tak bisa bangun.


Mbak Wati melayang turun sambil menunjukkan wajah angkuhnya. Ia mendekat ke arahku dengan pelan. Senyumnya sinis sambil menunjukkan gigi-gigi tajam.


"Hihihihihihihihihi. Menyedihkan. Sungguh menyedihkan. Apa yang spesial dari dirimu? Sampai-sampai pemimpin kami sangat menginginkanmu. Tak seperti dugaanku, ternyata kau lemah." ucap Mbak Wati.


Mbak Wati berdiri di hadapanku. Aku masih terlentang tak bisa menggerakkan tubuhku yang berbentuk asap ini.


Mbak Wati mengangkat kedua tangannya.


Tiba-tiba aku melayang terangkat.


"Ckckckck. Rupanya bocah yang memiliki mustika paling sakti sekalipun tak bisa menyerang demit sepertiku. Hihihihihihi."


Mbak Wati menggerakkan tangannya ke kanan. Seketika tubuhku terlempar ke kanan. Aku mendarat dengan kuat di atas tanah. Semua tubuhku terasa sakit. Sial. Mbak Wati sangat kuat.


Ia kembali melayang menghampiriku.


Grepp. Tangannya mencengkram leherku. Dengan mudahnya ia mengangkatku.


Mbak Wati menatapku tajam. Bola matanya putih menyeramkan. Kulit wajahnya busuk, terlihat sangat menjijikkan.


"Hei bocah! Kenapa kau begitu spesial? Hah?"


"Kkk. Hekk. Akk-kku. Uhukk." aku tak dapat berkata dengan jelas.


"Hihihihihihihi. Apa belum cukup semua hamba yang ia punya? Sampai-sampai ia sangat menginginkanmu. Sungguh sangat mengherankan." sambung Mbak Wati.


"Gggrrrhhhh. Gggrrrhhh." aku menggeram mengumpulkan kekuatan.


BUAGGHH.


Kupukul dengan kuat wajah Mbak Wati.


Lehernya terputar sampai ke belakang.


Krek krek. Suara gemeratak lehernya kembali ke posisi semula.


Mbak Wati hanya nyengir menunjukkan gigi tajamnya.


"Hihihihihihihi." kemudian terkekeh.


"Lumayan. Pukulanmu cukup bertenaga. Hihihihihihi." ucap Mbak Wati sambil menggerakkan kepalanya.


BUGGHH.


Mbak Wati mendaratkan pukulannya di perutku. Cengkraman tangannya di leherku makin kuat mencekik.


Tiba-tiba,


Wuuussshhh. Aku dibawa terbang tinggi oleh Mbak Wati. Langit hitam seperti kubah. Dihiasi bintang berbentuk titik-titik. Arak-arakan awan terasa dekat, aku hampir bisa meraihnya.


"Hihihihihihihi. Apa kau sudah siap menemui ajalmu?" tanya Mbak Wati dengan senyum menyeringai.


Ya Tuhan, apa ini akhir hidupku? Apakah memang ini takdir yang kau tetapkan bagiku? Jika memang sudah seperti ini jalannya, hamba pasrah. Tapi jika memang malam ini belum saatnya aku menemui ajalku, tunjukkanlah kuasa-Mu. Berikan kekuatan padaku untuk sekedar bertahan dari kekuatan yang mengancamku saat ini.


Aku membatin.


"Bersiaplah bocah tengik. Hihihihihihi." ucap Mbak Wati dengan pelan.


Krekk. Cengkraman tangannya makin kuat mencekikku.


Pandanganku buram perlahan.


Jlebb. Tangan Mbak Wati menusuk perutku dalam.


Aku tak bisa teriak. Cengkraman Mbak Wati di leher membuatku tak dapat bersuara. Hanya rasa sakit yang kurasakan. Rasa sakit yang teramat sangat.


*Wungg.


Wungg.


Wungg.


Wungg*.


Tiba-tiba cahaya kuning berbentuk bulat menembak-nembak dari bawah.

__ADS_1


Mbak Wati menghindar dengan lincahnya sambil terus mencengkram leherku.


"Hiyaaaaaaaaaaaaa!"


Terdengar teriakan dari bawah. Suara Tika? Itu suara Tika. Benar, itu suara Tika.


*Wungg.


Wungg.


Wungg.


Wungg.


Wungg*.


Cahaya kuning berbentuk bulat terus-menerus menembak dari arah bawah.


Itu pasti Tika. Cahaya kuning itu pasti berasal dari Tika.


Mbak Wati lagi-lagi menghindar.


*Wungg.


Wungg.


Wungg.


Wungg*.


DARRR.


Sebuah cahaya kuning berhasil mengenai lengan Mbak Wati. Cengkraman tangan Mbak Wati di leherku mengendur.


"Hyaaaaaaaaaa!!"


Kulayangkan tendangan secara beruntun ke tubuh Mbak Wati. Mbak Wati terdorong ke belakang. Cekikan di leherku terlepas.


Wuuuuussshhh. Tika terbang mendekat ke arah Mbak Wati.


Tika terus melancarkan serangannya. Cahaya kuning berbentuk bulat terus di tembakkan dari tangannya. Wajah Tika tampak bengis.


DARRR!


DARRR!


DARRR!


Tiga cahaya kuning berhasil mengenai Mbak Wati. Mbak Wati melayang tak tentu arah. Seperti layangan putus.


Aku terbang mendekat ke Mbak Wati.


BUGGHH.


BUAAGGHH.


DUAAGGHH.


Dengan cepat kulayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Mbak Wati. Amarahku semakin menggila. Kulihat tanganku sudah bersinar berwarna biru.


Tika bergabung bersamaku. Ia ikut melancarkan pukulan secara bertubi-tubi ke Mbak Wati.


Musnah kau demit jahanam!


Aku membatin.


Tubuh Mbak Wati jatuh menukik menuju tanah. Aku dan Tika terus saja melancarkan serangan dengan kalap, teriakan kami tak ada henti-hentinya. Mbak Wati tak bisa berbuat apa-apa.


"Grrrrooaaaaaaa!" Mbak Wati teriak dengan keras. Mulutnya menganga.


BLAAARRRRR!


Dari mulutnya mengeluarkan cahaya merah.


DUARRR!


Tika terkena tembakan cahaya merah. Ia terpental kembali ke atas langit.

__ADS_1


"Tikaaaaaaaaa!"


__ADS_2