Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 121


__ADS_3

Selesai melaksanakan shalat maghrib dan di lanjutkan dengan membaca beberapa ayat quran, aku duduk di teras depan kost. Sosok bocah kecil yang tadi kulihat sudah tak nampak. Di kejauhan kudengar suara perempuan saling bersenda gurau, arahnya tepat dari garasi.


Dini dan Ela.


Dua perempuan yang lama tak kulihat. Mereka semakin mendekat.


"Lho, ini Bang Adi kan?" Ela berhenti tepat di depan teras kamarku. Ia menunjukku dengan wajah heran.


"Hehehehehe. Emang siapa lagi La?" sahutku.


"Bang Adi kok berubah sih mukanya? Iya kan Din?" Ela meminta pendapat Dini.


"Ini beneran Bang Adi? Ya ampun kita berdua sampai nggak kenalin. Kok berubah jadi lebiiihh. Hehehehehe." Dini tertawa sembari menutup mulutnya.


"Iya ya, jadi lebih cakep kelihatannya." sambung Ela.


Lebih cakep? Ah, masa iya wajahku berubah?


"Bang Adi perawatan ya?" tanya Dini.


"Iya niiih, perawatan yaa? Pasti mahal ya bang ya?" Ela menambahkan.


"Eh, perawatan? Hahahahahaha. Uang dari mana saya buat perawatan, mending buat bayar kost atau untuk makan uangnya." sahutku.


"Aaahh Bang Adi nih, suka ngerendah aja sih." tepis Ela.


"Yasudah bang, kita ke kamar dulu yaa. Bang Adi udah makan belum?" tanya Dini.


"Kebetulan belum makan nih." jawabku cepat.


"Pas banget, kita juga belum makan nih. Makan bareng yuk bang, kita keluar kost. Dini dapat tempat makan enak lho dekat jalan raya sana. Yuk!" ajak Dini.


Eh, Dini mengajakku makan keluar?


"Eh, em, nggak usah Din. Makasih. Saya lagi nunggu temen, nanti saja makannya." tolakku lembut.


"Temen apa temen? Pacar ya?" Ela menebak.


"Beneran temen. Sumpah deh." jawabku.


Akhirnya Dini dan Ela pun undur diri. Aku masih bertanya-tanya soal pernyataan dua perempuan tadi, mereka mengatakan aku berubah menjadi lebih cakep. Astaga, apa benar yang mereka katakan? Membuat jantungku berdegup. Berubah apanya? Hahahaha. Mereka bilang aku perawatan? Hahahahahaha. Perawatan apa? Yang ada aku hampir musnah beberapa hari lalu di alam lain.


Adzan isya berkumandang, tapi Mas Gun juga belum kembali. Kemana si gembrot ini? Ponselnya tertinggal, tak sengaja di bawa atau memang sengaja ia tinggal. Aku masih duduk di teras depan kamar kost. Mataku panjang, menanti sosok Mas Gun.


Eh, anak kecil?


Sosok anak kecil kembali kulihat dekat tumpukan karung-karung bekas di garasi. Ia berjongkok persis di samping sebuah karung. Bocah lelaki. Wajahnya kadang mendongak melihat ke arahku. Tubuhnya tertutup daun tanaman, sehingga tak terlalu jelas terlihat.


"Hei, bocah!" aku meneriakinya.


Srett. Ia seperti bersembunyi, menghindar dari penglihatanku.


Aku beranjak bangun, aku berjalan mendekat ke arah garasi. Kucari sosok bocah lelaki yang mengumpat dekat tumpukan karung-karung besar. Lho? Kok tak ada. Kemana perginya bocah tadi? Aaahh, sepertinya ia bukan bocah pada umumnya. Ia pasti demit.

__ADS_1


Aku pun kembali ke kamar. Tapi baru saja kuberbalik badan hendak beranjak ke kamar, tiba-tiba sosok bocah kecil itu terlihat di dekat makam Mbak Wati. Tubuhnya membungkuk bersembunyi di balik kayu nisan. Aku diam, kupandangi sosok bocah lelaki dekat makam Mbak Wati. Ia nampak ketakutan, beberapa kali bocah itu mengintip. Aku tak jelas melihat wajahnya, yang terlihat hanya kedua bola matanya yang bersinar.


"Heh! Sini kau bocah!" aku berteriak memanggil bocah yang mengumpat di balik kayu nisan Mbak Wati.


Ia muncul perlahan dari balik kayu nisan. Tubuhnya kecil setinggi dengkul, kulitnya hitam legam, hidungnya kecil mirip buah ceri, tapi dua bola matanya besar hampir menutup seluruh wajahnya, kepalanya plontos tak berambut. Ia berjalan pelan sambil menundukkan wajahnya. Demit apa ini?


"Mau apa kau di sini?" tanyaku.


"Huhuhuhuhuhuhu." bocah demit tiba-tiba menangis.


Ceklek ceklek. Tika membuka pintu kamarnya.


"Ada apa Di?" tanya Tika. Ia kemudian melihat sosok bocah demit di hadapanku.


"Heh! Mau apa kau bocah?" sergah Tika dengan wajah penuh amarah.


"Tik sabar Tik." aku menenangkan Tika.


Aku pun berjongkok.


"Sini kau!" aku menyuruh bocah demit mendekat ke arahku.


Bocah demit berjalan terhuyung, ia masih menangis, wajahnya tertunduk.


"Kau siapa? Ada perlu apa datang kesini?" tanyaku dengan suara pelan.


"Huhuhuhuhu. Ma-maaf Tuan. A-aku cuma mau minta perlindungan." ucap bocah demit.


"Perlindungan? Minta perlindungan pada siapa?" tanyaku lagi.


"Dari Tuan Adi? Siapa yang menyuruhmu?" tanya Tika tegas.


Bocah demit itu lagi-lagi menangis.


Aku bangun dan mendekat ke Tika.


"Tik, jangan terlalu keras. Ini seperti Kubil, demit yang merasuki Yuda waktu itu, ingat kan?" aku berbisik ke Tika. Tika balas dengan mengangguk.


Aku berjongkok kembali.


"Kamu siapa?" tanyaku.


"A-aku Ku-Kubil tuan." jawabnya.


Hah? Kubil? Demit yang pernah masuk ke dalam tubuh Yuda.


"Kubil? Kamu Kubil yang tempo hari masuk ke dalam tubuh teman saya?" tanyaku.


"I-iya Tuan Adi." jawabnya.


"Kenapa kamu minta perlindungan ke saya? Memang dimana pemimpin kamu?" tanyaku lagi.


Wajahnya tampak gelisah, menyiratkan ketakutan. Seketika tubuhnya pun menggigil.

__ADS_1


"Sa-saya takut tuan. Sa-saya takut di pukul." ucapnya. "Pe-pemimpin kami sedang sekarat, ia menyuruh kami untuk mencari jiwa-jiwa yang ingin bersekutu, agar kelak akan di jadikan budak. Saat ini, di loteng itu di pimpin oleh wanita kucing. Sa-saya takut tuan." terang Kubil.


"Wanita kucing? Siapa wanita kucing?" tanya Tika.


"Wa-wanita demit dengan peliharaan kucing yang sangat banyak. Ia kejam dan mengerikan. Salah satu anak buahnya musnah tadi sore oleh Tuan Adi." jawab Kubil.


Jangan-jangan demit yang kumusnahkan tadi sore di rumah Nek Iyah adalah yang di maksud oleh Kubil.


"Apa di loteng itu masih banyak demit yang bersarang?" tanyaku.


"Masih banyak tuan. Wanita kucing yang kembali mendirikan istananya di sana. Karena junjungan kami kuntilanak merah sedang sekarat dan bertapa. Jadi, wanita kucing itu yang berkuasa." jelas Kubil.


Aku menoleh ke Tika.


"Kau ingin perlindungan dariku kan?"


"I-iya tuan."


"Baiklah. Mulai malam ini, kau jadi anak buahku. Ada syarat tentunya, apa kau siap?" aku bertanya.


"A-apa syaratnya tuan?" tanya Kubil.


"Kau tak boleh menjadi pengikut kuntilanak merah itu atau pun si wanita kucing itu. Apa kau sanggup?"


"Sa-sanggup tuan." jawabnya cepat.


"Satu syarat lagi dariku. Kau tak boleh menggoda manusia dan kau hanya boleh ikuti perintahku saja, tak boleh ikut perintah selain dariku. Paham?"


"Paham tuan."


"Bagus. Mulai malam ini, kau tak usah kembali ke loteng itu lagi. Malam ini kau tinggal di loteng kamarku. Akan kuberi kau makan."


"Te-terima kasih tuan." ucap Kubil seraya membungkuk.


"Yasudah, sana naik ke loteng kamarku. Kalau aku butuh, akan kupanggil kau." suruhku.


"Ba-baik Tuan Adi." jawab Kubil.


Wuss. Kubil tiba-tiba menghilang.


"Di, lo yakin mau jadiin demit itu anak buah lo?" tanya Tika.


"Memang kenapa Tik?" tanyaku.


"Apa menurut lo aman? Siapa tahu dia hanya mencari informasi tentang kelemahan lo dan kelemahan cincin mustika yang lo simpan." terang Tika.


Aku berpikir sejenak. Tika ada benarnya, aku memang tak boleh terlalu percaya dengan demit macam Kubil. Tapi sisi baiknya jika ia loyal denganku, maka semua informasi mengenai kuntilanak merah akan dengan mudah kudapatkan. Dan belum apa-apa, Kubil sudah memberikan informasi soal istana di atas loteng rumah depan yang kini di pimpin wanita kucing.


"Kita lihat saja nanti Tik. Tapi informasi darinya tadi sangat berguna, di loteng itu kini di pimpin wanita kucing kan." ujarku.


Tika hanya senyum.


"Lo siap bertarung lagi Tik?" tanyaku.

__ADS_1


"Ayo! Atur waktunya aja, nanti kita serang pelan-pelan istana setan itu." balas Tika dengan wajah beringas.


__ADS_2