
"Terus habis Nek Iyah bilang itu, apa yang lo lakuin Da?" tanyaku.
Yuda diam, ia menuang kopi dari botol ke dalam gelas kecil. Menghirup aromanya dan menyerutputnya.
"Aaaaahhh, nikmaaat." ucapnya setelah menyeruput kopi, kemudian ia menyedot rokoknya.
Aku pun menyingkirkan wadah ampas kopi yang di letakkan di atas gelas. Mengaduknya perlahan, sari pati kopi bercampur dengan susu kental manis, warnanya coklat, aromanya kuat. Asap tipis putih mengepul sedikit. Aku pun menyeruputnya sedikit, rasanya manis di ikuti rasa pahit di akhirnya. Sungguh nikmat.
Suasana siang di jalan samping kampus masih ramai. Ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang datang ke kedai Satu Arah, mereka duduk di dalam. Lalu dua orang karyawan perkantoran dengan kemeja dan id card yang menggantung di leher datang menyusul, mereka duduk di luar. Bang Dede menyapa mereka dengan ramah dan terlihat akrab.
Yuda melanjutkan ceritanya, "Habis itu gue nego dengan ibu kost lo, akan gue tambah lima juta lagi kalau beliau bersedia menyerahkan kalung itu. Tapi beliau tetap keukeuh dengan pendiriannya, uang gue tak laku. Gue kesal banget saat itu Di, gue pamit pulang dengan perasaan dongkol. Ibu kost lo cuma senyum kecut."
"Di, sebelum gue lanjutin cerita, gue boleh tanya sesuatu nggak?" ucap Yuda.
"Boleh dong. Mau tanya apa?" balasku.
"Sebetulnya itu kalung apa sih? Sampai-sampai ibu kost lo rela menolak uang sepuluh juta, dan lo juga menolak uang pemberian gue. Gue bingung Di." tanya Yuda.
Aku diam, kemudian menghela nafas panjang.
Kujawab, "Da, perlu lo tahu. Gue marah sama lo waktu itu bukan tanpa sebab. Kalung itu pemberian Kakek Badrun, alasan beliau memberikan kalung itu hanya untuk melindungi gue dari kekuatan jahat para penghuni kost Nek Iyah. Keselamatan gue sedang terancam Da. Pada akhirnya keselamatan orang terdekat gue juga terancam, contohnya lo."
"Astaga, kok sampai segitunya Di? Memang apa sih yang mengancam keselamatan kita semua? Secara gue juga kan orang terdekat lo, gue jadi takut nih." tanya Yuda kembali.
Aku diam, kutatap dalam mata Yuda. Yuda menunggu jawaban dariku.
"Kuntilanak merah." jawabku.
"Apa? Kuntilanak merah? Ah, yang bener Di?" Yuda seolah tak yakin. "Masa kuntilanak merah?" tanya Yuda lagi.
"Iya benar Da. Sudah banyak korban pesugihan yang Nek Iyah berikan untuk kuntilanak merah. Salah satunya kawan kita, Bagas." ungkapku.
Yuda tampak terkejut.
__ADS_1
"Sekarang, lanjutin dulu cerita lo. Nanti akan gue ceritain semua yang berkaitan dengan kuntilanak merah dan korban yang sudah menjadi tumbal." pintaku pada Yuda.
Yuda menyeruput kopinya, rokok yang di hisapnya sudah habis. Ia kembali mengambil sebatang dan membakarnya. Raut wajahnya tampak tak mengenakkan. Aku yakin dia jadi memikirkan keselamatannya, ada rasa takut yang terpancar dari wajahnya siang ini.
Kemudian Yuda melanjutkan ceritanya, "Gue pulang akhirnya, tapi nggak pulang kerumah. Gue pergi ke tempat nongkrong kawan-kawan gue yang bisa di bilang preman lah. Anak-anak begajulan yang hobi bikin onar. Gue ketemu sama Bang Tomi, pemimpin dari kumpulan geng itu. Iming-iming uang menjadi senjata andalan gue. Gue cuma minta tolong untuk membuat onar di rumah ibu kost lo, membuat beliau nggak nyaman, sehingga beliau bisa menyerahkan kalung itu ke gue. Gue sama sekali nggak ada niat untuk mengancam beliau, apalagi sampai menyakiti beliau."
Aku mendengarkan cerita Yuda dengan serius, sesekali menyeruput kopi. Telinga kupasang dengan hati-hati, tak ingin terlewat satu kata pun.
"Terus?" tanyaku meminta Yuda melanjutkan ceritanya.
"Gue sampai di rumah ibu kost lo sekitar jam sebelas malam, suasana tampak sepi. Sebelumnya kami membeli beberapa botol minuman keras dan sempat minum di jalan. Gue yang sudah terpengaruh efek alkohol datang ke rumah ibu kost, gue gedor pintunya kuat-kuat. Gue ingat betul, gue teriak-teriak meminta kalung itu di kembalikan. Dua orang anak buah Bang Tomi kembali minum di teras rumah ibu kost. Satu orang lainnya mengacak-acak tanaman yang ada di halaman. Malam itu, intinya kami membuat onar rumah ibu kost."
Aku hanya menggelengkan kepala, tak percaya Yuda sampai berbuat seperti itu. Apalagi meminta bantuan dari anak-anak begajulan.
"Terus, apa ibu kost gue keluar?" tanyaku.
"Beliau sama sekali nggak keluar rumah, bersuara pun enggak. Saat itu gue yakin, kalau ibu kost lo takut dengan keonaran yang sedang gue buat. Gue pikir, sebentar lagi beliau bakal keluar dan menyerahkan kalung itu." jelas Yuda.
"Ternyata?" tanyaku.
"Berapa lama kalian bikin onar di rumah ibu kost?" tanyaku.
"Emmm, gue lupa Di. Pokoknya gue balik dengan anak buah Bang Tomi sekitar jam dua malam. Karena nggak berhasil malam itu, gue pun memutuskan besok bakal balik lagi dengan membawa serta Bang Tomi. Dia terkenal garang dan nggak ada belas kasihan sama sekali. Pokoknya dengan cara apa pun, gue akan ambil kembali kalung itu dari ibu kost lo." terang Yuda.
"Terus habis itu?" tanyaku.
"Gue pulang dengan tiga anak buah Bang Tomi. Gue antar mereka ke base camp, lalu gue balik ke rumah. Nah, sampai di rumah ada hal ganjil yang gue alamin Di." ujar Yuda.
"Hal ganjil apa?" tanyaku penasaran.
"Gue merasa sepulang gue dari rumah ibu kost lo, ada seseorang yang mengikuti gue sampai rumah. Perasaan gue tuh ada orang di belakang gue, tapi nggak ada. Contohnya ketika gue buka pintu rumah, seolah-olah pintu itu diam dulu dan nggak langsung tertutup. Tertutupnya ketika gue udah jalan menjauh dari pintu itu. Pas gue cuci muka di kamar mandi, seperti ada yang memperhatikan gue dari belakang. Dan anehnya lagi, waktu gue rebahan di kasur, tiba-tiba di samping gue seperti ada yang ikut rebahan juga, kelihatan di bantalnya seperti ada yang meniduri gitu Di." cerita Yuda.
"Hiiiyy, kok gue merinding dengar cerita lo ya." sahutku. "Terus akhirnya gimana Da?" tanyaku yang masih penasaran dengan kelanjutan cerita Yuda.
__ADS_1
"Gue nggak bisa tidur Di. Perasaan gue nggak enak malam itu. Gue mikir, sepertinya yang gue lakuin itu salah banget. Nggak seharusnya gue bikin onar di rumah orang. Saat itu gue menyesal banget sih." ujar Yuda.
"Satu jam gue golar-goler cari posisi yang pas buat tidur, tapi tetap nggak bisa tidur. Dan ada kejadian yang gue alamin lagi waktu itu."
"Kejadian apa lagi Da?" tanyaku antusias.
"Saat gue udah mau pules nih, udah capek, kepala juga udah pening karena minuman. Tiba-tiba ada yang berbisik di telinga gue, suara cewek lembut dan pelan." ujar Yuda.
"Apa yang di bisikin suara itu Da?" tanyaku.
"Suara itu bilang, 'kau akan menerima akibatnya', lalu ada suara tawa cekikikan. Hiiiyyy serem banget deh ketawanya Di." terang Yuda.
"Terus lo gimana?" aku bertanya kembali.
"Sontak gue bangun. Mata gue segar, ngantuk juga hilang secara tiba-tiba. Gue deg-degan Di. Suaranya jelas banget gue dengar. Tapi di kamar itu cuma gue sendiri, nggak ada orang lain. Jangankan orang ya, cicak aja nggak ada di kamar gue. Tapi suara bisikan cewek itu gue dengar sangat jelas, sejelas-jelasnya." sambung Yuda.
Aku tetap mendengarkan cerita Yuda dengan antusias.
"Akhirnya gue dengar adzan subuh berkumandang, perasaan gue tenang banget. Gue pikir sudah lewat kengerian yang gue alami malam itu. Mata pun udah mulai ngantuk. Dan akhirnya setelah adzan selesai, gue pun tertidur." lanjut Yuda.
"Harusnya lo shalat dulu Da, baru tidur." sahutku.
"Kan gue habis mabuk Di, nggak mungkin gue shalat." balas Yuda.
"Itu salah lo! Kenapa lo mabuk." ucapku. "Terus, gimana ceritanya sampai jiwa lo bisa di sekap oleh demit-demit itu Da?" tanyaku.
Yuda bergidik merinding, bulu di tangannya bangun. Wajahnya menyiratkan ketakutan yang teramat sangat. Bibirnya gemetar. Tangannya pun bergetar ketika mengambil gelas kopi. Ada kisah mengerikan yang ia alami hari itu. Ia kembali mengambil sebatang rokok, membakarnya, kemudian menghisapnya dalam. Yuda diam, ia tak langsung menceritakan kisah selanjutnya. Aku tahu ia sedang mengumpulkan keberaniannya untuk bercerita padaku.
Di sela-sela itu, Bang Dede datang ke meja kami. Ia membawa sepiring kentang goreng dan dua botol saus, saus sambal dan saus tomat.
"Nih bonus buat lo, udah lama kan nggak ke sini." ucap Bang Dede seraya menaruh sepiring kentang goreng di meja.
"Apa nih maksudnya?" tanyaku.
__ADS_1
"Sogokan, biar lo sering ngopi ke sini." jawabnya sembari berlalu menuju ke dalam.
Kunikmati sepiring kentang goreng bersama Yuda. Kuberi waktu pada Yuda untuk rehat sejenak, sebelum ia menceritakan kembali kisahnya. Cerita tentang jiwanya yang di bawa ke alam lain oleh demit.