
"Saya ketoprak ya mas, pedes banget. Kalau nggak pedes, saya nggak mau bayar. Hehehehe." ucap Kemala ke mas penjual ketoprak.
"Si kakak tega banget deh. Iya, saya bikin pedes deh pokoknya. Kalau kakaknya pesan apa?" tanya si penjual padaku.
"Saya gado-gado lontong, cabenya satu aja ya mas." ucapku.
"Oke siap." balas si penjual.
Aku dan Kemala duduk berhadapan, siang ini kami makan di samping kampus. Tenda penjual makanan berjejer memanjang, banyak pilihan jika makan di sini. Mau apa pun tersedia, harganya pun terjangkau. Makanan tradisional dalam negri lengkap, mulai dari soto mie bogor, soto ayam lamongan, nasi gulai, nasi rames, mie ayam, pecel lele, ayam penyet, bakso, gado-gado, siomay bandung, pokoknya lengkap. Mau yang internasional pun bisa di pilih, burger, spaghetti, hot dog, kebab turki, sushi, takoyaki, fried chicken, ramen, dan masih banyak yang lainnya.
Untungnya, aku dan Kemala sampai di tenda makanan tepat pukul 11 siang. Jika tidak, di jamin tak bakal dapat tempat duduk. Karena, kampusku ini berdekatan dengan kawasan perkantoran di pinggiran Ibu Kota. Banyak juga karyawan kantor yang makan siang di sini. Otomatis jika jam makan siang, karyawan dan mahasiswa berebut untuk mendapatkan tempat duduk.
"Kak, mau minum apa?" tanya seorang penjual minuman dingin, intonasinya cepat.
"Adanya apa mas?" tanya Kemala.
"Banyak kak. Air mineral dingin, es teh manis, es jeruk, es campur, es teler, es pisang ijo, es goyobod. Jus juga ada, jus alpukat, mangga, melon, semangka, stoberi, tomat, wortel, pisang, terong belanda. Mau yang mana?" ucap si penjual minuman dengan cepat.
Saking cepatnya, aku dan Kemala sampai tak dengar apa yang ia katakan.
"Mas, emang harus cepet gitu ya ngomongnya?" tanya Kemala.
"Hehehehehe. Pelan juga boleh kakak." balas si abang penjual minuman sambil terkekeh.
"Es teh manis aja deh." sambarku cepat.
"Saya juga deh, es teh manis. Tapi jangan terlalu manis ya, soalnya yang manis cuma saya. Yang lain nggak boleh." ujar Kemala.
"Hahahaha. Apaan sih lo, garing banget dah." ucapku.
"Biarin. Kan emang gue manis, bener nggak Di?" balas Kemala.
Iya Kemala, kamu memang perempuan termanis yang aku temui, yang lain cuma manis-manis jambu, gumamku dalam hati.
"Iya deh iyaa. Lo doang yang manis La." sahutku.
Kurang dari sepuluh menit, pesanan ketoprak Kemala pun datang, begitu pula gado-gado pesananku. Es teh manis pun di antar. Kami makan dengan lahapnya, sambil sesekali bercengkrama membahas segala hal, mulai dari film yang baru liris, restoran harga miring yang viral di instagram. Tak terasa, bangku sudah terisi peniluh oleh karyawan dan mahasiswa. Banyak pula yang antre berdiri untuk makan di sini.
"La, ini sih nggak bakal bisa kalau cerita di sini, lo lihat deh, udah banyak yang antre mau makan." ucapku sambil mengumpulkan sendokan terakhir gado-gado di piringku.
__ADS_1
Kemala menengok ke belakang.
"Iya ya, yang ada nanti kita malah di demo. Lo tahu kan kalau orang lapar itu lebih beringas dari anjing rabies! Hahahahaha." balas Kemala dengan canda.
"Hahahahaha. Ya kali orang lapar di samain dengan anjing rabies. Itu sih kelewatan La." sahutku.
Sepiring gado-gado lontong telah bersarang dalam perutku, di tambah segelas es teh manis. Kemala pun telah selesai menghabiskan ketoprak ekstra pedas dan segelas es teh manis juga. Setelah membayar, kami memutuskan untuk mengobrol di taman fakultas. Di sanalah tempat ngobrol bebas tanpa di wajibkan jajan.
Kami duduk di bangku besi, taman fakultas saat siang begini memang menjadi tempat favorit mahasiswa di fakultas kami. Hijau pepohonan membuat mata lebih segar, tanaman dan bunga-bunga menjadikan taman lebih indah, dan yang paling penting adalah tempatnya teduh, rindangnya pepohonan membuat taman fakultas lagi-lagi menjadi tujuan istirahat para mahasiswa di fakultasku.
"Jadi, Tuan Adi mau cerita apa nih?" tanya Kemala membuka obrolan sambil menyedot minuman yang di beli sebelum menuju taman.
"Cerita tentang kita. Hahahahaha." aku bercanda.
"Hahahahahaha. Lucu lo, gue udah serius lo bercanda. Mau di sembur pakai thai tea boba nggak?" balas Kemala.
"Hahahahaha. Iya iya, giliran gue bercanda aja sampai mau di sembur boba." sahutku.
"Jadi lo mau cerita apa?" tanya Kemala lagi.
"Gini La.."
"Eh, tunggu tunggu! Cerita lo ini ada unsur mistisnya ya?" tanya Kemala memotong.
"Aduuuhh. Males deh gue. Tapi yaudahlah, lanjut!" pinta Kemala.
"Yaaahh kok males sih?" gumamku.
"Yaudah yaudah, lanjut. Nggak apa-apa kok." suruh Kemala.
Aku pun mulai menceritakan kejadian-kejadian yang ku alami selama kost di kamar 11b. Mulai dari mendengar bayi menangis tengah malam, melihat tetangga kost yang kerasukan, bertemu dengan Kakek Badrun dan di beri mustika, di jebak llham yang ternyata mengincar mustika, sampai yang terakhir melihat kursi roda almarhumah Mbak Wati bergerak tepat di samping makamnya.
"Kost lo itu sarang demit kali Di! Heran gue, udah tahu gitu masih betah aja di sana. Pindah Di, secepatnya." saran Kemala.
Sarannya sama dengan yang lain, menyuruhku segera angkat kaki dari kost itu.
"La, gue bukannya nggak mau pindah. Tapi memang keinginan buat pindah itu sama sekali nggak ada." terangku.
"Terus, maksud lo cerita ke gue apa?" tanya Kemala.
__ADS_1
Aku diam. Kemala memandangku, menunggu jawaban.
"Gue mau ketemu nyokap lo boleh?"
Kemala nampak tak tertarik dengan yang ku sampaikan.
"Buat apa Di?" tanya Kemala.
"La, gue nggak kenal dengan orang sakti, orang pinter, atau dukun sekalipun di sini. Gue cuma mau minta penjelasan dari sisi supranatural, bukan dari sisi kasat mata. Kalau saran lo untuk pindah, itu dari sisi kasat mata. Cuma mungkin ada hal lain yang gue nggak tahu." jelasku.
Kemala terdiam. Wajahnya hanya tertunduk.
"La.."
Kemala masih diam.
"Di, sejujurnya. Gue males banget berurusan dengan nyokap gue, apa lagi dalam urusan gaib-gaib gini. Gue takut, gue trauma." ujar Kemala.
Aku jadi diam. Memang tak baik memaksa. Sudahlah, kalau memang Kemala tak mengizinkan aku untuk sekedar mengobrol dengan ibunya, tak apalah.
"Yau.."
"Sekali! Sekali aja gue tolongin lo buat ketemu nyokap." ucap Kemala memotong omonganku.
Wajahku sumringah.
"Beneran nih?" tanyaku meyakinkan.
"Iya! Cuma satu kali. Oke!" ancam Kemala.
"Iya, sekali aja. Gue cuma butuh sekali aja ketemu nyokap lo. Kalau semua terjawab, udah beres." sahutku.
"Inget ya sekali!" Kemala menunjuk hidungku.
"Iya sekali. Eh, dua kali deh. Hehehehe." tuturku.
"Yeeee, malah ngelunjak ini anak!" damprat Kemala.
"Hahahahaha. Yang sekali lagi nanti, saat ngelamar lo. Hahahahaha." ucapku.
__ADS_1
"Hahahahahaha." Kemala mencubit pinggangku, terasa nyeri namun aku bahagia.
Sore ini sepulang kuliah, aku akan silaturahmi dengan ibunya Kemala. Harus ku manfaatkan momen ini untuk bertanya sebanyak-banyaknya, tak boleh ku sia-siakan. Momen ini tak terulang lagi. Semoga ibu Kemala dapat menjawab semua pertanyaanku, apa lagi sampai bisa menolongku dari gangguan yang ku alami belakangan ini.