
Tangis kedua orang tua Yuda pecah, hingga mereka saling berpelukan. Lebih dahsyat tangis ibu Yuda, ia menangis meraung-raung seraya memanggil nama Yuda. Seolah tak ikhlas anak semata wayangnya harus bernasib seperti ini.
Aku menghampiri Kakek Badrun.
"Kek, apa ada cara lain untuk membawa Yuda kembali?" tanyaku berbisik.
Kakek Badrun menepuk-nepuk bahuku.
"Nak Adi, resikonya terlalu besar. Kecil kemungkinannya untuk bisa membawa Yuda kembali. Pilihannya ada dua." ujar Kakek Badrun.
"Ada dua pilihan? Apa itu kek?" tanyaku penasaran.
"Pertama, hanya akan ada satu korban. Atau kedua.." Kakek Badrun menghentikan perkataannya. "Akan ada dua korban." lanjutnya.
"Dua korban? Apa maksudnya kek?" aku makin penasaran.
"Pertama, satu korban. Kita hanya cukup merelakan Yuda yang menjadi korbannya dan menerima dengan lapang dada atas apa yang telah ia perbuat." jelas Kakek Badrun.
Aku tertegun.
"Dan yang kedua, akan ada dua korban. Karena kemungkinan berhasilnya sangat kecil untuk membawa kembali jiwa temanmu, lalu jika aku memaksakan untuk tetap menolong temanmu, maka aku yang akan menjadi korban, sekaligus temanmu juga akan menjadi korban. Itu memberi keuntungan yang sangat besar untuk Badriyah dan kuntilanak itu. Mereka akan semakin kuat, karena mendapat dua jiwa sekaligus." terang Kakek Badrun.
Astaga, bagaimana ini? Aku tak ingin kehilangan Yuda, dan aku juga tak mau Kakek Badrun menjadi korban.
Ibu Yuda tiba-tiba merangkak ke arah Kakek Badrun. Ibu Yuda memegang kaki Kakek Badrun sambil menunduk seolah bersujud.
"Kek, tolong anak saya. Saya atas nama ibu yang melahirkannya meminta maaf atas perbuatan anak saya. Saya tidak ingin kehilangan anak saya. Tolong kami kek. Kasihani kami." ucap ibu Yuda sambil bersujud merengek ke Kakek Badrun.
Kakek Badrun membantu mengangkat tubuh ibu Yuda.
"Bu bu, bangun bu. Jangan seperti ini bu. Ayo bangun."
"Tolong anak sayaaa. Tolong anak saya keeekk." ibu Yuda merengek terus sambil menangis.
"Ibu, ibu tenang yaa. Sudah sudah. Saya akan bantu semampu saya. Ibu tenang dulu ya." balas Kakek Badrun.
Tangis ibu Yuda perlahan mulai menurun. Ibu Yuda tampak lebih tenang sekarang, ia menghela nafas mencoba mengendalikan dirinya.
Kakek Badrun menghampiriku. Ia menarikku menjauh dari kerumunan.
"Nak Adi, boleh kakek bicara sebentar."
Kami bercakap di depan kamar Yuda.
"Ada apa kek?" tanyaku.
"Apa Nak Adi masih pegang cincin pemberian kakek buyutnya?" tanya Kakek Badrun.
"Masih kek. Memang kenapa kek?" tanyaku.
"Nak, saya akan pinjam cincin milik Nak Adi. Saya akan menggunakan kekuatan yang tersimpan dalam cincin itu. Tapi terlebih dulu saya harus meminta restu dulu dari sang pemiliknya, yaitu kamu Nak Adi." jelas Kakek Badrun.
"Baik kek, bagaimana cara saya merestui kakek untuk memakai cincin saya?" tanyaku.
__ADS_1
"Sebelumnya, kau ambil dan kau pakai cincin itu dulu. Nanti akan kubuka mata bathinmu. Selanjutnya, biar kekuatan yang tersimpan dalam cincin itu yang nantinya akan memandumu." terang Kakek Badrun.
"Baik kek." aku segera mengambil cincin itu di dalam tas, kemudian langsung kupakai di jari manis tangan kananku. Lalu kuhampiri kembali Kakek Badrun.
Ibu dan ayah Yuda tampak duduk di samping Yuda yang terbaring tak sadarkan diri, sambil mengusap-usap dahi Yuda. Air mata tak berhenti berlinang. Sedangkan Kemala dan Tika duduk di sofa depan kamar Yuda.
"Sudah saya pakai kek. Terus gimana selanjutnya?"
Kakek Badrun duduk di tengah ruangan, ia menyuruhku untuk duduk di hadapannya.
"Nak Adi, kamu pejamkan matamu. Lalu kosongkan pikiranmu. Fokus dengan cincin yang kamu pakai. Selanjutnya nanti kakek yang akan meneruskannya." ujarnya.
"Sudah siap?" tanya Kakek Badrun.
Jantungku berdebar-debar.
"Tenangkan dirimu nak. Jangan tegang."
Aku menghela nafas panjang. Dan kupejamkan mataku. Aku mencoba fokus. Kucoba kosongkan pikiranku. Kuatur nafasku dengan seksama.
Wuusshh.
Wajahku terasa di terpa angin. Namun terasa hangat. Dan seketika hawa panas terasa dari tengkuk belakangku, menjalar ke bahu belakang, lalu terus turun. Seketika hawa panas menyebar ke seluruh tubuhku. Hawa panas menyelimuti dari ujung kepala hinggak ke ujung kaki. Mataku masih terpejam. Namun tiba-tiba saja jari manisku tempat kusematkan cincin pemberian Kakek Badrun mendadak terasa dingin. Ya, hanya di tempat kusematkan cincin itu saja yang terasa dingin. Selebihnya tubuhku masih terasa panas.
Telingaku kemudian menangkap suara-suara aneh. Bising dan memekakkan. Serta suara bisikan-bisikan yang secara terus menerus terdengar, seperti banyak orang yang saling berbisik pelan namun terasa penuh.
Telingaku pengang, tubuhku terasa panas, jari manisku ada hawa dingin. Semuanya menyatu membuat diriku tak nyaman. Lalu terpaan angin kembali menabrak wajahku.
Seketika hening.
"Buka matamu nak!" ucap Kakek Badrun.
Aku pun membuka mataku. Aneh, ada perasaan yang sangat berbeda. Tubuhku terasa hangat. Dan..
Dan penglihatanku menjadi lebih terang. Semua lebih jelas dan tampak sedikit bercahaya. Aku lihat cincin yang kupakai memancarkan sinar kebiruan, menyilaukan.
"Apa yang kau rasakan?" tanya Kakek Badrun.
"Aneh kek. Semua yang saya lihat lebih terang. Termasuk wajah Kek Badrun, tampak lebih bercahaya." jawabku.
Kakek Badrun hanya tersenyum.
"Tapi saya merasa tubuh saya hangat kek. Sekujur tubuh saya terasa hangat, dari kepala sampai ujung kaki." lanjutku.
"Kini mata bathinmu sudah terbuka nak, auramu sudah terpancar. Kau bisa gunakan cincin itu sebagai senjata, ataupun sebagai tameng penolak segala bala." ujar Kakek Badrun.
"Senjata? Bagaimana caranya kek?" tanyaku.
"Cukuplah kau baca ayat kursi dalam hatimu, di tambah ucapakan 'Laa hawlaa walaa quwwata illaa billaahil aliyyul adziim', maka kekuatan cincin itu akan membantumu." terang Kakek Badrun.
Aku mengangguk.
"Lalu sekarang bagaimana kek?" tanyaku.
__ADS_1
Kakek Badrun tersenyum lagi.
"Tika, kemarin nak!" Kakek Badrun memangg Tika. Tika menghampiri kami.
"Tika, kita tidak berdua lagi. Sekarang Adi sudah bisa ikut membantu kita. Apa kau siap membawa pulang Yuda?" tanya Kakek Badrun pada Tika.
"Siap kek!" ucap Tika dengan yakin.
Kakek Badrun menoleh ke arahku.
"Nak Adi, apa kau siap membawa pulang Yuda?" tanya Kakek Badrun padaku.
"Saya siap kek!" kujawab dengan penuh keyakinan.
"Bagus. Ayo masuk ke dalam kamar." ajak Kakek Badrun.
Kami bertiga pun masuk ke dalam kamar. Baru saja masuk, aku kaget dengan penampakan di atas ranjang Yuda. Ada sekitar belasan roh yang terlihat, beterbangan. Saling berebut ingin masuk ke dalam tubuh Yuda. Apa ini efek dari ritual yang di lakukan Kakek Badrun tadi?
"Jangan heran nak, sekarang kau bisa melihat segala sesuatu yang berhubungan dengan hal gaib. Kau harus membiasakan dirimu mulai saat ini. Tak perlu takut, mereka makhluk lemah." ucap Kakek Badrun menenangkan diriku.
Aku menatap Kakek Badrun, kemudian mengangguk dengan pasti.
Ayah dan ibu Yuda masih duduk di ranjang, tepat di samping tubuh Yuda.
"Bapak dan ibu, saya minta tolong agar bapak dan ibu keluar dari kamar." pinta Kakek Badrun.
"Baik kek, tolong selamatkan anak saya kek. Saya mohon pada kakek." ibu Yuda kembali memohon, tangisnya tak berhenti sejak tadi.
"Insya Allah bu. Tolong bapak, ibu, dan semua penghuni rumah ini agar ikut membantu di depan kamar Nak Yuda." ujar Kakek Badrun.
"Bagaimana cara kami membantu kek?" ayah Yuda bertanya.
"Bacalah Surah Yasin, jangan putus sampai kami membuka pintu kamar ini. Mengerti?"
Ayah dan ibu Yuda mengangguk, juga Kemala yang masih setia membantu hingga malam ini. Lalu, ayah dan ibu Yuda pun keluar kamar. Kakek Badrun menutup pintu. Tinggal kami bertiga dan Yuda yang masih terbaring di atas ranjang. Belasan roh terlihat seperti asap tipis dengan rupa yang bermacam-macam masih saja beterbangan di atas ranjang.
Kakek Badrun menyuruh kami untuk duduk bersila membuat lingkaran kecil.
"Nak Adi, kita akan melepas raga secara bersamaan. Nantinya roh kita akan keluar dari jasad. Namun nantinya kita akan tetap bisa berkomunikasi satu sama lain seperti biasa. Dan ingat! Tujuan kita hanyalah membawa jiwa Yuda kembali. Ada banyak gangguan yang nantinya akan kita hadapi." jelas Kakek Badrun.
Aku mendengarkan instruksi Kakek Badrun dengan seksama, Tika pun begitu.
"Kakek berpesan agar jangan sampai lengah, karena yang kita hadapi bukan jin atau demit kelas rendahan, mereka punya ribuan cara untuk menggagalkan tujuan kita. Tetap ikuti arahan dari kakek. Mengerti?" lanjut Kakek Badrun.
"Mengerti kek!" ucapku dan Tika berbarengan.
"Satu lagi, untuk kamu Nak Adi. Ini adalah pengalaman baru untukmu, jangan sampai kamu tergoda oleh hal-hal yang bukan tujuan utama kita. Ingat, kita hanya menyelamatkan Yuda, tak ada tujuan lain. Mengerti?"
"Mengerti kek." jawabku lantang.
Aku melihat jam dinding, pukul 22:10. Jantungku berdebar. Keringat membasahi dahi. Entah apa yang nantinya akan kuhadapi begitu melepas raga. Aku penasaran sekaligus ada sedikit ketakutan. Aku harus kuat, aku harus bisa menyelamatkan Yuda. Aku tak ingin kehilangan sahabat lagi. Aku punya cincin ini, cincin ini bisa menjadi senjata sekaligus tameng. Akan kuikuti semua perintah Kakek Badrun.
"Bismillahirrahmanirrahim" ucapku dalam hati.
__ADS_1