
"Di, malam minggu nih. Nginep di rumah gue yuk!" ajak Yuda.
"Tumben, ada apa nih?" tanyaku.
"Nggak apa-apa. Bete aja sendirian di rumah. Bokap nyokap lagi ke Bandung tadi pagi." ujarnya.
Wajar kalau Yuda kesepian, ia anak semata wayang. Tinggal di rumah besar dengan fasilitas lengkap. Tapi, pikiranku tak lepas dari Bagas.
Triiing triiing triiing
Baru saja terpikir Bagas, tiba-tiba ponsel Bagas berdering. Mamah, terlihat nama di layar ponsel.
"Da, gimana nih Da? Nyokap Bagas telpon nih." ucapku.
"Aduh, gimana ya? Jawab aja Di."
"Iya jawab apa kalau di tanya kemana Bagas?" aku panik.
"Udah sini gue yang jawab." Yuda mengambil ponsel Bagas, lalu menjawab telpon Mamah.
"Assalamualaikum tante," ucapnya.
"Saya Yuda teman kelasnya Bagas tante,"
"Iya, Bagas nggak tahu kemana. Ini hape sama tas di titip di kost Adi, teman kelas juga. Memang malam itu kita nginep di sini tante, cuma kata ibu kost di sini, Bagas keluar tengah malam"
"Iya, aku sama Adi nggak tahu dia pergi kemana."
"Aku sama Adi juga udah cari kemana-mana, tapi nggak ada yang tahu,"
"Iya tante, baik. Iya, siap,"
"Iya tante, sama-sama." lalu Yuda menutup telpon.
"Da, apa kata nyokapnya Bagas?" aku penasaran.
__ADS_1
"Intinya hari senin besok, nyokapnya mau kesini. Mau ambil barang-barangnya Bagas." tutur Yuda.
"Terus?"
"Nyokapnya tanya, kemana perginya sampai nggak bawa hape. Terus ya gitu, senin besok mau datang ke sini." jelas Yuda.
"Da, kok lo bisa se-santai itu sih?" tanyaku.
"Lho, terus gue harus gimana Di?"
"Ya, maksud gue lo nggak ngerasa kehilangan? Atau minimal kepikiran?"
"Ya kepikiran Di, cuma mau gimana?"
Kusergap bungkus rokok Yuda, kuambil sebatang, lalu kubakar.
"Eh, lo ngerokok juga?" tanya Yuda.
Aku diam.
"Tenang Di, senin besok gue temenin ketemu nyokapnya Bagas." Yuda mencoba menenangkanku.
"Pokoknya senin, lo harus temenin gue Da. Awas aja kalau sampai enggak." ancamku.
Yuda tertawa terkekeh.
"Iya Di." jawabnya.
"Tapi, malam ini lo temenin gue di rumah ya. Oke!" Yuda memberi syarat.
"Oke deh. Mau jalan jam berapa ke rumah lo?" tanyaku.
"Right now! Kuy!" ajak Yuda, lalu ia bangun dari duduknya.
"Kopi lo kan masih penuh. Habisin dulu lah, mubazir." gumamku.
__ADS_1
"Udah, nanti lanjut ngopi di rumah gue aja. Kopinya lebih enak. Yuk!" Yuda memaksa.
Setelah aku menyiapkan baju, kami pun berangkat menuju rumah Yuda. Kami berjalan melewati garasi, lalu melewati halaman. Aku membuka gerbang. Kulirik rumah depan, seketika bulu kudukku merinding.
Yuda menepuk pundakku pelan.
"Udah, jangan di lihatin."
"Yuk, buruan!" Yuda mengajakku bergegas menuju mobilnya yang terparkir persis di samping rumah.
Alhamdulillah, aku dan Yuda tak melihat sosok mbak penghuni rumah yang kemarin tersenyum menyapa Yuda. Yuda menginjak pedal gas, dan kami pun melesat pergi.
Jalanan cukup padat, lalu lintas sore memang seperti biasa macet. Apalagi jalan di kota besar. Bising klakson saling bersahutan. Asap knalpot kendaraan mengepul memenuhi langit Jakarta.
Setelah menempuh setengah jam lebih perjalanan, kami pun sampai. Seorang satpam membuka gerbang besar berwarna hitam, mobil Yuda pun masuk.
Aku sedikit tercengang melihat rumah sebesar ini. Rumah besar dengan cat putih bersih tanpa noda. Ada dua buah pilar besar di teras. Pot tanaman seukuran jumbo di depan pilar.
"Yuk Di!" ajak Yuda. Aku pun keluar dari mobil.
Rumah dengan dua lantai, halaman luas dan tertata dengan rapi dan cantik. Di sudut halaman ada taman dengan air terjun dan kolam ikan, serta macam-macam bunga yang bermekaran. Ada jalan setapak dari batu kerikil berbentuk bulat berwarna putih menuju kolam ikan.
Aku sempat terdiam memperhatikan sekeliling halaman rumah Yuda. Hingga Yuda mengajakku masuk ke dalam rumahnya.
"Di, ayo masuk! Ngapain celingak celinguk di situ. Yuk!"
Kami masuk ke dalam melewati garasi mobil. Tercengangku belum usai rupanya, di garasi berjejer lima mobil. Merk Jepang hingga Eropa, semuanya terlihat kinclong dan menawan.
Sampailah kami di ruang keluarga. Dan aku hanya bisa menelan ludah. Sofa besar berwarna abu, serta meja kaca. Dan tv besar menempel di tembok berukuran jumbo.
"Da, ini rumah lo?" aku sambil terus memperhatikan sekeliling ruangan.
"Bukan, rumah bokap gue. Yuk naik! Kamar gue di atas." ajaknya.
Di ujung tangga ada dua buah vas berukuran besar motif burung merak corak keemasan. Tangga ke lantai atas setengah melingkar, dengan karpet berwarna merah marun di tengahnya.
__ADS_1
Lantai atas ini beralaskan kayu, sungguh sejuk. Ada sepasang sofa di tengah ruangan dan meja kecil dengan ukiran sangat indah. Ada pintu besar dengan kaca di tengahnya yang tertutup tirai putih tembus pandang, nampak pemandangan luar terlihat. Aroma tiap ruangan berbeda, mulai dari garasi, ruang keluarga, hingga lantai atas.
Yuda membuka pintu kamarnya. Aku pun masuk.