Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 38


__ADS_3

Aku mengantar Kemala sampai halte bus depan kampus. Di halte ramai orang, kebetulan kampusku memang dekat dengan kawasan perkantoran yang cukup padat, wajar kalau pemandangan halte sore hari dipenuhi orang.


"Lo balik naik apa?" tanyaku.


"Paling ojol. Lo mau anterin gue?" balas Kemala.


"Anterin naik ojol sampai rumah lo? Tumpuk tiga gitu? Hehehehe." sahutku.


"Hehehehehe, ya kali tumpuk tiga. Lo duduk di mana? Masa di pangku sama abangnya."


"Enggak gue becanda Di. Lo temenin gue sampai abang ojolnya datang ya." pinta Kemala.


"Iya, gue temenin. Walaupun si abang ojol datang jemput lo habis maghrib, gue pasti temenin lo kok."


"Yeee nggak gitu juga Bambaanngg." Kemala mendorong lenganku.


Matahari hampir terbenam, cahayanya berwarna kejinggaan. Aku masih menemani Kemala menunggu si abang ojol. Di halte masih penuh orang.


"Kok lama ya?" keluh Kemala.


"Lagi jam sibuk nih, jam orang-orang pulang kantor. Mungkin servernya sibuk juga kali." ucapku.


"Bisa jadi, tapi biasanya nggak selama ini kok Di."


"Sabar aja. Udah di hububungi belum abang ojolnya?" tanyaku.


"Udah gue chat, dia balas oke. Tapi gambar motor di map-nya nggak gerak-gerak Di. Tuh lihat deh." jelas Kemala sambil menunjukkan gambar di layar ponselnya. Wajahnya terlihat suntuk.


Ponsel Kemala berdering.


"Aduuh, nyokap telpon lagi nih. Kena omel deh gue." ucapnya.


Kemala menjawab panggilan dari ibu. Raut wajahnya nampak panik campur takut. Entah apa yang di bicarakan, aku hanya mendengar Kemala menjawab iya, iya, dan iya. Lalu memberi penjelasan soal abang ojol yang tak kunjung datang.


Andai saja aku punya motor, tak perlu lah kau pesan ojol yang tak jelas itu Kemala, akan ku antar kau kemana pun kau mau, aku bergumam dalam hati. Aku hanya bisa memandang wajah Kemala yang masih terlihat suntuk.


"Cokk!"


Aku melihat ke arah suara. Mas Gun.


"Eh mas. Sampeyan mau kemana?" tanyaku.


Mas Gun duduk di atas motor memakai helm, nampak rapi. Ia pun mematikan mesin motornya, lalu menghampiriku.


"Sombong banget lo Di, nggak pernah main ke kontrakan gue." kalimat pertama yang keluar dari mulut Mas Gun.


Kami pun bersalaman.


"Sombong apa sih mas. Eh mas, kenalin ini kawan gue." aku menunjuk Kemala.


"Kemala."


"Guntur." mereka pun bersalaman.


"Lo mau kemana Di? Sore-sore di halte." tanya Mas Gun.


"Ini gue temenin Kemala nunggu ojol, cuma lama banget dari tadi nggak datang." jelasku.

__ADS_1


"Oh lama, di batalin aja pesanannya. Nanti pesan ulang." saran Mas Gun.


"Udah mas. Sekarang malah nggak dapat nih." balas Kemala.


"Di, nih lo pakai motor gue aja. Anterin Kemala sana, udah mau maghrib ini. Nanti kasihan di tunggu orang rumah." Mas Gun menyodorkan kunci motornya.


"Eh. Lho, nanti lo balik gimana mas?" tanyaku.


"Gue sih gampang. Udah sana antar, buruan!" Mas Gun mendorong-dorong tubuhku.


"Mas, bener nggak apa-apa nih?" tanyaku kembali. Kemala hanya diam.


"Ih ini orang lambat ya. Udah sana anter Kemala!"


Aku pun mengajak Kemala untuk naik ke atas motor. Sebelumnya Kemala mengucapkan terima kasih ke Mas Gun. Aku pun berangkat mengantar Kemala pulang. Mas Gun memang yang terbaik.


Kemala mengarahkan jalan, kami banyak mengobrol selama perjalanan. Kemala bercerita, kalau ibunya cukup tegas mengenai waktu dan tak ada toleransi.


Sekitar lima belas menit lebih, akhirnya kami pun sampai di rumah Kemala. Aku mengantar sampai ke depan rumah Kemala. Adzan maghrib sudah berkumandang sejak tadi, langit pun sudah gelap. Kemala turun dari motor. Wajahnya nampak sedikit lesu.


"Di, makasih ya udah anter gue sampai rumah." ucapnya.


"Iya sama-sama. Eh, gue minta maaf ya, gara-gara kelamaan ngobrol di kedai kopi, lo jadi telat pulang." balasku.


"Hehehehe. Santai aja, kapan-kapan kita nongkrong di sana lagi ya. Gue tahu lo mau ketemu sama kakak yang di kasir kan?" ledek Kemala.


"Hahahahaha. Mulai deh rese." sahutku.


"Malaaaa! Masuk!" teriak ibu Kemala dari teras rumah. Ia kemudian menghampiri kami, masih mengenakan mukena. Aku sempat terkaget dengan teriakan ibu Kemala.


"Heh kamu, kalau bawa anak saya ingat waktu. Masa maghrib baru pulang, kuliah apa sampai jam segini?" ibu Kemala membentakku. Kemala hanya diam.


"Nama kamu siapa?" tanya ibu Kemala.


"Saya Adi bu."


"Besok jangan main sama anak saya. Mala mau fokus kuliah. Udah sana pulang! Mala, masuk!" lanjut ibu Kemala.


"Iya bu, maaf bu. Saya pamit. Assalamualaikum."


Kemala masuk duluan ke dalam rumah dengan wajah tertunduk. Ibu Kemala tak menjawab salamku, aku menghidupkan motor, lalu pergi. Ternyata kesialanku belum usai sampai sore ini, omelan ibu Kemala menambah daftar.


Ada yang mengganjal di hatiku saat ini. Terngiang-ngiang larangan ibu Kemala tadi, untuk tidak main dengan Kemala. Rasanya sakit mendengar kalimat itu. Sudahlah, aku juga sadar aku ini siapa.


Aku melamun sepanjang jalan menuju kontrakan Mas Gun.


Tiiiiiiinnnn.


"Wooii, gila lo! Bawa motor jangan bengong!" sungut seorang pengendara.


Aku diam dan berhenti sejenak di pinggir jalan.


Lalu kembali melanjutkan perjalanan.


Tak lama, aku pun sampai di kontrakan Mas Gun. Ku parkir motor tepat di depan kamar Mas Gun. Tubuhku lesu, tak bersemangat rasanya.


"Assalamualaikum."

__ADS_1


"Hoi, kumsalam." jawab Mas Gun, ia sedang merebahkan tubuhnya sambil bermain game di ponselnya.


Aku duduk di depan pintu, bersandar, memandang langit-langit kamar, diam tak berkata.


"Ciyeee siapa tuh Kemala? Hehehehe." Mas Gun meledekku.


Aku diam tak menanggapinya.


"Udah jadian belum?" sambung Mas Gun.


Aku masih diam.


"Pajak jadiannya doongg, makan-makan aja." lanjut Mas Gun, matanya tetap fokus ke layar ponsel.


Aku tak berkata.


"Pecel ayam langganan aja deh gue mah, nggak mahal-mahal. Yuk, kapan nih?" Mas Gun masih meledekku.


Aku tak menghiraukan.


"Ciyee ciyee, kawan gue punya pacar niiihh." Mas Gun terus menggodaku.


Aku tak bergeming.


"Di, Adi." panggil Mas Gun.


Aku menoleh ke arahnya.


"Apa mas?" tanyaku singkat.


"Dari tadi gue ngoceh nggak di tanggapin. Nggak ngomong apa-apa. Kenapa lo?" ujar Mas Gun, ia bangun dari peraduannya.


Aku diam, lalu senyum.


"Nggak apa-apa mas." ucapku tak banyak.


"Muka lo nggak enak banget Di. Lo di tolak sama Kemala?" tanya Mas Gun.


Aku menggeleng pelan, tanpa berkata.


"Kenapa sih Di? Ada masalah?" Mas Gun terus mendesakku.


"Mas, makasih ya motornya. Gue nggak kenapa-kenapa mas. Santai aja." tuturku sembari senyum ke Mas Gun.


Pedih. Perih. Sakit. Dadaku sesak ketika ku ingat kembali bentakan ibu Kemala. Aku tak sanggup rasanya jika harus cerita ke Mas Gun.


"Mas, gue balik ya. Makasih motornya ya." aku bangun dari duduk setelah memberikan kunci motor ke Mas Gun.


"Lho, kok balik Di. Ngopi dulu lah." sergah Mas Gun.


"Besok aja ya, kita ngopi di kedai kopi langganan gue." balasku.


"Ayo gue anter ke kost lo Di."


"Nggak usah mas, santai aja. Gue mau jalan aja, udah lama nggak olah raga nih. Hehehehe."


"Ada apa sih Di?" Mas Gun masih terus bertanya.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa mas. Wes aku muleh yo, suwun mas." aku pergi berlalu meninggalkan Mas Gun, ia mungkin penasaran kenapa raut wajahku tak seperti biasanya.


Tak pernah ada rasa sedih jika ada Mas Gun. Ia selalu saja bisa membuatku tertawa dengan guyonan dan ocehannya. Maaf mas, lain kali aku pasti cerita. Aku berjalan pelan menuju kost. Semoga kesialanku hari ini tak berlanjut sampai esok hari. Dan, semoga malam ini aku bisa tidur nyenyak. Amin.


__ADS_2