Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 81


__ADS_3

Aku membonceng di motor Yuda sampai depan gang, setelah itu aku jalan menuju rumah Pak Rahmat untuk tahlil. Agak telat aku datang, warga sudah ramai. Kang Ujang ada di barisan kursi paling depan. Kebetulan kursi bagian belakang kosong, aku duduk berbarengan dengan beberapa bocah tanggung.


"Eh, kemaren gua nge-rank kalah anjir. Kesel bat dah gua, temennya pada tolol njir. Pada nob semua." ucap seorang bocah.


"Lu yang nob kali." sahut bocah di sebelahnya.


"Anjaaayy, bay wan dah lu ama gua anjir. Siapa yang nob, lu apa gua." bocah pertama menarik urat.


"Ayo, abis ini ya." tantang bocah sebelahnya.


Kuingin acuhkan tapi obrolan mereka terdengar. Obrolan anak sekarang memang tak jauh dari game, dan tiktok.


Selama tahlil berlangsung aku mendengar obrolan bocah, pembahasan mereka seputar skin, game, perempuan manis samping rumah, sampai chanel Youmute idola mereka. Aku tak paham yang mereka bicarakan.


Tahlil pun selesai, syukurlah aku ingin segera pindah dari tempat duduk ini. Obrolan bocah membuat kepalaku pening. Aku pun menghampiri Kang Ujang.


"Eh Dek Adi, saya kira nggak datang." ucap Kang Ujang saat melihatku mendekatinya.


"Datang dong, kan ini malam terakhir. Em kang, mahasiswi yang tadi lihat kamar jadi nggak kost di sana?" tanyaku.


"Saya nggak tahu dek, mereka saya suruh ngobrol dengan Nek Iyah. Tapi sih mereka naksir banget sama kamar itu, cuma kelihatannya takut karena dekat dengan makam Mbak Wati." jelas Kang Ujang.


"Iya kang, apa lagi mereka cewek semua. Wajar sih." sambutku.


"Eh dek, memang Dek Adi sering mengalami kejadian mistis di kost itu?" tanya Kang Ujang.


"Beberapa kali sih kang. Memang kenapa?" tanyaku.


"M-maaf ya dek, apa Dek Adi nggak ada niatan untuk pindah dari sana gitu? Maaf saya bukan mengusir lho." sergah Kang Ujang.


"Sempat ada niat pindah kang. Ingat nggak yang kita ketemu sore-sore, saat saya bawa tas besar?"


"Em iya ingat."


"Pagi itu saya sudah niat pindah, saya sudah kemas-kemas baju saya di dalam tas besar itu. Karena malamnya, saya lihat penampakan kuntilanak merah di ruang depan kamar saya kang." terangku.


"Apa? Kuntilanak merah?" Kang Ujang terperanjat.


"Iya kang."


"Lalu kalau sudah niat pindah kenapa Dek Adi balik lagi?" Kang Ujang bertanya.


"Kang, saya sangat ingin pindah dari sana. Tapi ada hal lain yang bikin saya tetap bertahan di kost itu." jelasku.


"Apa dek? Apa yang membuat Dek Adi tetap di sana?" tanya Kang Ujang.


"Ucapan Kakek Badrun."


"Kakek Badrun?" Kang Ujang terperangah saat kusebut namanya.


"Saya kan sudah pernah tanya ke Kang Ujang, apa Kang Ujang kenal dengan Kakek Badrun, lalu Kang Ujang mengangguk. Ingat kan?"


"Iya saya ingat kamu sebut nama Kakek Badrun. Apa beliau sehat dek?" tanya Kang Ujang.


"Sehat kang. Beliau sudah tak pernah menampakkan dirinya lagi. Beliau hanya menitipkan sesuatu ke saya." jawabku.


Kang Ujang mengelus dagunya. Ia nampak berpikir.


"Menitipkan sesuatu? Apa bentuknya seperti kalung?" tanya Kang Ujang.


Astaga, kenapa ia bisa menebak dengan benar soal mustika yang di berikan oleh Kakek Badrun. Memang bentuknya kalung dengan liontin batu yang di bungkus kain hitam. Sebenarnya apa misteri di balik mustika itu?

__ADS_1


"Lho, kok Kang Ujang tahu yang di titipkan Kakek Badrun ke saya kalung?" tanyaku.


Kang Ujang tak menjawab.


"Kalung itu milik seorang sakti yang berpura-pura tak tahu apa-apa. Semua yang saya ceritakan ke Dek Adi, nantinya akan saling berkaitan dan bermuara ke dua orang kakak beradik." jelas Kang Ujang.


Kakak beradik? Aku tak bertanya siapa kakak beradik yang Kang Ujang maksud, aku ingin Kang Ujang sendiri yang menyebutkan siapa.


"Mereka dua orang yang telah merenggut semua kebahagiaan keluarga Pak Thamrin." sambung Kang Ujang.


Hendra mendekat ke arahku dan Kang Ujang. Ah sial, mengganggu saja anak ini.


"Kang Ujang, Bang Adi, makasih udah datang lagi ya." ucapnya.


"Sama-sama Dra." balas Kang Ujang. "Sama-sama bang." jawabku.


"Eh Kang Ujang sama Bang Adi, nanti jangan pulang dulu ya." pinta Hendra.


"Memang ada apa Dra?" tanya Kang Ujang.


Aku diam tak bertanya.


"Pokoknya jangan pulang dulu. Nanti ya, nunggu warga pada pulang semua baru saya kasih tahu." jawab Hendra dengan suara pelan.


Ah sial, aku penasaran. Sebelumnya di buat penasaran dengan Kang Ujang yang belum menyebutkan dua orang kakak beradik. Dan sekarang Hendra, aku dan Kang Ujang di minta untuk tidak pulang.


"Sekarang kita ngopi dulu, nanti baru saya kasih tahu ya." lanjut Hendra.


Hendra memanggil seorang remaja, ia meminta tiga gelas kopi untukku, Kang Ujang, dan untuk Hendra sendiri. Kopi pun datang bersama dua piring camilan, kami mengobrol santai. Tak membicarakan ritual pria Cirebon. tak membahas kuntilanak merah, dan tak membahas hal mistis lainnya. Sampai sedikit demi sedikit warga pun berpamitan.


Rumah almarhum Pak Rahmat tak terlalu ramai, hampir semua warga sekitar sudah pulang. Tinggallah keluarga dan sanak saudara, itu pun tak terlalu banyak. Namun Hendra belum juga memberi tahu alasan agar aku dan Kang Ujang tidak buru-buru pulang.


"Assalamualaikum." aku menoleh, Arya?


"Lho Ya, kok baru datang?" tanya Kang Ujang.


"Iya nih kang, di suruh Hendra datang kalau sudah agak sepi." jawabnya.


"Sebenarnya ada apa sih Dra?" tanya Kang Ujang ke Hendra.


"Nanti saja kang. Santai saja dulu." jawab Hendra. " Ya, mau ngopi nggak?" Hendra bertanya ke Arya.


"Boleh boleh." jawab Arya.


Hendra kembali memanggil seorang remaja tadi dan meminta tolong di buatkan segelas kopi untuk Arya. Kopi datang bersama sepiring bolu kukus. Kami kembali mengobrol, Arya sempat bercerita soal kejadian kemarin malam. Hendra yang tidak tahu kejadiannya, mendengarkan dengan serius.


Sudah pukul 23:50, rumah almarhum Pak Rahmat pun sudah sepi. Hanya tinggal tiga orang remaja, saudara dari Hendra.


"Sebentar saya ke dalam dulu." Hendra undur diri.


"Ya, sebenarnya ada apa sih? Saya sama Dek Adi nggak boleh pulang, sampai semua warga pulang." tanya Kang Ujang ke Arya.


Arya tak langsung menjawab.


"Kang Ujang, Bang Adi, sini! Ya, sini Ya." Hendra memanggil dari teras rumah.


Kami bertiga menuju teras rumah, lalu duduk bersila di atas tikar yang di gelar. Tak lama, tiga orang pria Cirebon keluar dari dalam rumah Hendra. Aduh, apa maksudnya ini? Ketiga pria itu pun duduk bergabung bersama kami. Kami duduk melingkar, Hendra pun ikut bergabung. Aku dan Kang Ujang tak berkata sedikit pun.


"Assalamualaikum semuanya." ucap Hendra.


Kami menjawab serentak salam Hendra, "Waalaikumsalam."

__ADS_1


"Sebelumnya maaf untuk Kang Ujang dan Bang Adi, karena di ikut sertakan dalam ritual malam ini?" kata Hendra.


Apa? Aku dan Kang Ujang di ikut sertakan dalam ritual? Ah sial, ritual apa lagi ini? Ini nggak beres.


"Dra, maksudnya apa ya? Kok saya dan Dek Adi ikut serta dalam ritual?" tanya Kang Ujang. Bagus kang, untung Kang Ujang bertanya.


"Maksud saya bukan ikut ritualnya kang, ikut menyaksikan saja. Karena Kang Ujang dan Bang Adi adalah bagian dari seseorang yang telah membuat almarhum bapak saya menjadi seperti itu." terang Hendra.


"Maksudnya?" aku angkat suara.


"Nek Iyah." Hendra menjawab.


"Hah? Enggak! Saya nggak mau ikut-ikutan Dra. Saya nggak mau jadi saksi." Kang Ujang bangun dari duduknya, suaranya lantang.


Aku bingung.


"Saya pamit!" ucap Kang Ujang.


"Kang, Kang Ujang." Hendra pun bangun, mencoba menahan agar Kang Ujang tidak pergi.


"Apa?" Kang Ujang bertanya ke Hendra.


"Saya nggak ada hubungannya dengan kejadian ini ya, saya nggak ada kaitannya dengan Nek Iyah." Kang Ujang sungut-sungut.


Aku masih duduk diam menyaksikan Kang Ujang kalap.


"Iya kang, saya minta maaf. Bukan maksud saya seperti itu." ucap Hendra.


Arya dan ketiga pria Cirebon hanya melihat tanpa berkata.


"Enggak! Pokoknya saya pulang." ucap Kang Ujang. "Dek Adi, ayo pulang! Kita nggak ada urusan di sini." ajak Kang Ujang.


Aku pun bergegas bangun dari duduk. Lalu kami pergi meninggalkan rumah Pak Rahmat.


"Lho, Kang Ujang kenapa jalan ikut saya? Kan rumah Kang Ujang kesana." tanyaku.


"Nggak apa-apa, sekalian habisini rokok." jawabnya.


"Kang, kenapa Kang Ujang marah sama Hendra?"


"Jelas saya marah dek, kita ini orang luar Nek Iyah. Nggak ada sangkut pautnya sama kejadian itu, kita hanya kebetulan bersinggungan dengan Nek Iyah. Dek Adi kost di sana, sedangkan saya kerja di sana. Udah cuma itu saja." terangnya.


"Kalau ternyata ritual itu sampai menyebabkan kematian seseorang baik di pihak Hendra atau pun Nek Iyah sendiri dan kita ada di sana, kita bakal kena juga sama polisi. Bener nggak?" lanjutnya.


Masuk akal. Tak kusangka Kang Ujang sampai berpikir jauh kedepan.


"Karena hal-hal mistis seperti itu kita nggak paham dek. Bahaya atau enggak, aman atau enggak." sambungnya.


Kami mengobrol di depan gang, Kang Ujang masih menghisap rokoknya.


"Terus gimana kang?" tanyaku.


"Biarin saja mereka melakukan ritualnya, yang penting kita nggak ada di sana. Mau berhasil atau enggak itu urusan mereka." jawab Kang Ujang.


"Dek, maaf ya. Dek Adi sampai ikut terseret sampai sejauh ini." ucap Kang Ujang.


"Ah nggak apa-apa kang." jawabku.


"Yasudah, saya pulang ya dek. Dek Adi berani sendirian ke kost?" tanya Kang Ujang.


"Berani kang. Hehehe." jawabku.

__ADS_1


Kami pun berpisah. Di jalan menuju kost, aku berpikir soal omongan Kang Ujang. Ada benarnya aku dan Kang Ujang tak ikut serta dalam ritual itu. Karena hal-hal mistis dan gaib seperti itu tidak bisa kita lihat, hanya orang tertentu saja. Bisa jadi mereka mau mengkambing hitamkan aku dan Kang Ujang untuk hasrat balas dendam mereka. Secara, aku dan Kang Ujang buta dengan hal-hal berbau supranatural macam itu. Entahlah.


__ADS_2