Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 124


__ADS_3

"Mas, bangun mas! Udah jam tujuh nih." aku membangunkan Mas Gun. Mas Gun hanya merubah posisi tidurnya, lalu kembali terlelap.


Heran, padahal ia tidur lebih dulu daripada aku, tapi susah sekali bangunnya.


"Mas! Udah jam tujuh mas. Lo mau ke kampus jam berapa? Woi, bangun mas!" kugoyang-goyangkan tubuhnya yang besar. Mas Gun merenggangkan badannya sambil menguap, mulutnya lebar.


Akhirnya Mas Gun bangun, ia duduk dengan mata masih terpejam. Jemari tangan kanannya menggaruk pipinya yang gembul, sambil sesekali menguap.


"Mas, bangun mas! Ngampus nggak?" tanyaku.


"Iya iyaa." jawabnya singkat.


Mas Gun pun beranjak dari duduknya, ia mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar banjuran air dengan kerasnya.


Tak berapa lama, Mas Gun keluar dari kamar mandi berbalut handuk lusuhnya yang berwarna biru dongker. Aku duduk sambil merokok sebatang, sudah kubuat dua cangkir kopi untukku dan Mas Gun.


"Mantaaapp. Gue selesai udah ada kopi. Hehehehehe." ucap Mas Gun sambil terkekeh.


Kami menghabiskan kopi sebelum berangkat ke kampus. Pagi ini sungguh cerah, matahari bersinar sangat terang. Burung terdengar riang mencicit terbang kesana-kemari.


Setelah kopi habis, aku dan Mas Gun pun berangkat ke kampus. Kulihat pintu kamar Tika masih tertutup rapat, entah Tika dan Yuli sudah berangkat ke kampus atau masih di dalam kamar.


Di halaman rumah Nek Iyah, kami bertemu Kang Ujang. Ia menyapaku dan Mas Gun. Tak lama kami bertegur sapa, lalu aku dan Mas Gun kembali menuju kampus. Aku membonceng di motor Mas Gun, suara knalpot cemprengnya mengiringi kami berangkat menuntut ilmu.


* * *


Aku menunggu lift di lantai satu, banyak mahasiswa dan mahasiswi sudah mengantri di depan lift. Sudah dua hari aku tak masuk kuliah, entah sudah berapa mata kuliah yang tertinggal. Biarlah, nanti aku akan meminjam catatan dari Rahmat dan menyalinnya. Ya Rahmat, bocah paling rajin di kelasku. Mahasiswa paling aktif dan pintar. Semua teman mengakui keenceran otaknya dalam menerima pelajaran. Bukan hanya hebat dalam pelajaran, Rahmat kerap kali di panggil oleh tim futsal fakultas sebagai pemain inti. Dengan tinggi badan 172 cm dan tubuh kurus, ia menjadi andalan dan kepercayaan tim futsal fakultas sebagai penjaga gawang.


Lift tiba di lantai satu, pintu lift terbuka perlahan. Aku merangsek masuk dengan cepat, mahasiswa dan mahasiswi lain pun masuk bergumul saling senggol. Aku menekan lantai lima. Setelah lift penuh sesak, pintu lift pun tertutup. Lift berhenti di lantai tiga dan empat, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang keluar. Tinggallah aku berdua dengan seorang mahasiswi menuju lantai lima. Mahasiswi itu berdiri tepat di depan pintu lift. Kerudungnya merah, mengenakan kemeja merah lengan panjang, rok panjang berwarna merah marun, dan sepatu merah. Wajahnya tertunduk, ia diam.


"Hihihihihihihi." mahasiswi itu tertawa pelan. Suara tawanya terdengar seperti berbisik.


Aku memandangnya penuh curiga.


"Kau sudah semakin.. kuat.. rupanya. Hihihihihi." ucap mahasiswi itu dengan suara pelan diakhiri dengan tawa terkekeh.


"Eh? Apaan kak?" tanyaku.


"Hihihihihihi." mahasiswi itu kembali tertawa.


Deg deg deg deg deg deg.


Jantungku berdebar. Suara tawanya tak asing. Dan, dan, dan ia mengenakan pakaian serba merah. Jangan-jangan mahasiswi itu!


"Hihihihihihihi." ia kembali tertawa.


Permukaan dahiku mulai mengeluarkan keringat. Jantungku masih berdebar tak keruan. Sial, kenapa lantai lima tak kunjung sampai!


Ting. Lantai lima!!


Aku menekan tombol pintu terbuka dengan cepat.


Sreeeeggg. Pintu lift terbuka.


Aku berlari keluar lift dengan tergesa. Aku sempat menengok ke arah lift sebelum pintu lift tertutup. Tampak jelas wajah mahasiswi itu, ia tersenyum menyeringai, matanya melotot melihatku, wajahnya pucat bagai kapas. Sungguh menyeramkan. Pertanda apa itu?


Nafasku tersengal, aku berjalan cepat menuju ruang kelas. Sambil sesekali menoleh ke arah lift yang sudah tak terlihat.


Brukk!


"Kyaaaa!"


Aku jatuh terduduk.


"Adi!"


Eh, Kemala!


"Iiiihh, jalan kok nggak lihat-lihat sih." ucap Kemala.


Aku buru-buru bangun dan membantu Kemala bangun.


"Ma-maaf La. Gue buru-buru soalnya." balasku.


"Aduuuhh sakit tahuu." ujar Kemala.


"Iya iya maaf La. Eh, gue duluan ya!" ungkapku, seraya berlalu meninggalkan Kemala dengan cepat.


Aku tak menoleh lagi ke arah Kemala, yang kupikirkan hanya cepat sampai di kelas. Sempat terdengar Kemala memanggilku beberapa kali, namun kuacuhkan dan aku tetap berlari.


Aku masuk kelas, sudah ramai rupanya. Dan, ada Yuda di kursi belakang. Yuda melambaikan tangannya ke arahku. Aku senang melihatnya. Segera kuhampiri Yuda dan duduk di sebelahnya.


"Udah sehat lo?" tanyaku sambil menyodorkan tangan mengajak tos.


Kami tos, aku memeluknya dengan senang.


Aku duduk di kursi sebelah Yuda.


"Di, nyokap bokap gue titip salam buat lo, Tika, dan Kakek Badrun. Mereka ngucapin banyak-banyak terima kasih sama kalian." Yuda berkata.


Aku senyum.


"Iya, sama-sama Da. Nyokap bokap lo sehat kan?" tanyaku.


"Alhamdulillah sehat semua. Mbak dan pak satpam juga sehat. Hehehehehe." jawab Yuda.


"Eh Di, gue belum dengar cerita lo dari awal. Lo janji mau ceritain semuanya ke gue." Yuda menagih.


"Emang ya? Hehehehehe." sahutku bercanda.


Bukk! Yuda memukul lenganku.


"Rese lo!" kata Yuda.


"Iya iya. Kapan kita cerita-cerita nih?" tanyaku.


"Hari ini aja selesai kuliah. Hari ini kan kuliah cuma sampai jam sebelas, habis itu kita ke Satu Arah yuk! Gue kangen pengen ngopi di sana." ajak Yuda.


"Hmmmm. Gimana ya?" aku berpikir sambil memandang langit-langit ruang kelas.


"Jangan sok sibuk lo! Emang ada acara apa lo? Pakai sok mikir segala. Hehehehehe." tutur Yuda.

__ADS_1


"Hahahahahaha. Kok lo tahu gue cuma akting?" sahutku.


"Adiiii Adi, gue kenal lo nggak sehari dua hari. Mana bisa lo akting di depan gue! Nggak ada bakat lo jadi artis, akting lo jelek!" kata Yuda.


"Hahahahahahaha. Oke oke, kelar kuliah kita ke Satu Arah." balasku.


"Di!" Rahmat Sang Bocah Pintar memanggilku.


"Yaa. Ada apa Mat?" tanyaku.


"Mata kuliah Pengantar Ekonomi Syariah lo sekelompok sama gue. Kita presentasi minggu depan." Rahmat berucap.


"Ooh gitu. Kita berdua doang nih?" tanyaku lagi.


"Enggak. Kita berempat, sama Eti dan Siska." jawab Rahmat.


"Oke deh. Mat, tugas gue apa nih?" tanyaku.


"Lo sama Siska tugas ngetik sama photo copy aja ya. Bikin makalah biar gue aja sama Eti." jawab Rahmat.


"Siap bos!" aku berdiri seraya memberi hormat pada Rahmat.


Ah, pucuk di cinta ulam pun tiba. Kebetulan sekali aku sekelompok dengan Rahmat, aku bisa sekalian meminjam catatan mata kuliah yang sempat tertinggal beberapa hari kemarin.


Yuda menyenggol lenganku dengan sikutnya, "Enak kalau sekelompok sama Rahmat. Lo tinggal terima beres aja. Nanti begitu waktu presentasi, pasti dia yang bakal lebih aktif. Udah pasti nilai lo A kalau sekelompok sama dia. Hehehehehehe."


"Sok tahu lo! Emang lo dosen yang tentuin nilai?" sahutku.


"Eh, gue emang bukan dosen Di. Tapi catatan dosen gue bisa tahu." balas Yuda.


"Ooh iya ya. Bokap lo kan orang rektorat. Hehehehehe."


"Rahmat itu anak pinter Di. Namanya harum banget di kampus, prestasinya banyak. Padahal kita baru semester awal, tapi Rahmat udah banyak mewakili lomba antar kampus." terang Yuda.


"Masa sih? Kok gue baru tahu Da!" ucapku.


"Gue aja baru tahu dari bokap. Info terbaru nih, tim inti futsal kampus sebentar lagi bakal panggil dia buat seleksi Pekan Olah Raga Universitas Nasional." sambung Yuda.


"Wuih, keren amat. Otak pinter, ekskul juga jago! Cewek mana yang nggak ngelirik dia Da!" balasku.


"Hahahahahaha. Sejak kapan pikiran lo ke cewek. Bergaul sama siapa lo? Hahahahaha." ledek Yuda.


"Lo bergaul sama dia aja kalau mau lancar di kampus." Yuda memberi saran.


"Kok lo bisa nyaranin gitu ke gue? Nah, lo sendiri aja nggak bergaul sama dia." balasku.


"Ngapain gue bergaul sama dia kalau ada bokap gue di rektorat." ujar Yuda.


Lagi-lagi Yuda membahas jabatan ayahnya di rektorat. Jelas aku kalah jauh dengannya. Hidup Yuda di kampus terasa mudah karena peran ayahnya.


"Aaahhh iya. Gue lupa lagi kalau bokap lo orang rektorat ya. Hehehehehe. Lo musuhan sama Rahmat juga nggak ada pengaruh ya?" sahutku.


Yuda hanya terkekeh dengan wajah angkuhnya. Ia seolah tak memiliki beban soal perkuliahannya. Tak memikirkan nilai, tak peduli soal tugas kuliah. Mulus.


Berbeda jauh denganku. Aku harus repot bikin tugas, lelah mencari bahan untuk presentasi, bergadang membuat makalah demi mengincar dua huruf di tiap mata kuliah. Ya, cuma dua huruf penanda lulus mata kuliah tersebut atau tidak. Kami sebagai mahasiswa hanya mengincar huruf A atau B.


"Mas, bangun mas! Udah jam tujuh nih." aku membangunkan Mas Gun. Mas Gun hanya merubah posisi tidurnya, lalu kembali terlelap.


Heran, padahal ia tidur lebih dulu daripada aku, tapi susah sekali bangunnya.


"Mas! Udah jam tujuh mas. Lo mau ke kampus jam berapa? Woi, bangun mas!" kugoyang-goyangkan tubuhnya yang besar. Mas Gun merenggangkan badannya sambil menguap, mulutnya lebar.


Akhirnya Mas Gun bangun, ia duduk dengan mata masih terpejam. Jemari tangan kanannya menggaruk pipinya yang gembul, sambil sesekali menguap.


"Mas, bangun mas! Ngampus nggak?" tanyaku.


"Iya iyaa." jawabnya singkat.


Mas Gun pun beranjak dari duduknya, ia mengambil handuk lalu masuk ke dalam kamar mandi. Terdengar banjuran air dengan kerasnya.


Tak berapa lama, Mas Gun keluar dari kamar mandi berbalut handuk lusuhnya yang berwarna biru dongker. Aku duduk sambil merokok sebatang, sudah kubuat dua cangkir kopi untukku dan Mas Gun.


"Mantaaapp. Gue selesai udah ada kopi. Hehehehehe." ucap Mas Gun sambil terkekeh.


Kami menghabiskan kopi sebelum berangkat ke kampus. Pagi ini sungguh cerah, matahari bersinar sangat terang. Burung terdengar riang mencicit terbang kesana-kemari.


Setelah kopi habis, aku dan Mas Gun pun berangkat ke kampus. Kulihat pintu kamar Tika masih tertutup rapat, entah Tika dan Yuli sudah berangkat ke kampus atau masih di dalam kamar.


Di halaman rumah Nek Iyah, kami bertemu Kang Ujang. Ia menyapaku dan Mas Gun. Tak lama kami bertegur sapa, lalu aku dan Mas Gun kembali menuju kampus. Aku membonceng di motor Mas Gun, suara knalpot cemprengnya mengiringi kami berangkat menuntut ilmu.


* * *


Aku menunggu lift di lantai satu, banyak mahasiswa dan mahasiswi sudah mengantri di depan lift. Sudah dua hari aku tak masuk kuliah, entah sudah berapa mata kuliah yang tertinggal. Biarlah, nanti aku akan meminjam catatan dari Rahmat dan menyalinnya. Ya Rahmat, bocah paling rajin di kelasku. Mahasiswa paling aktif dan pintar. Semua teman mengakui keenceran otaknya dalam menerima pelajaran. Bukan hanya hebat dalam pelajaran, Rahmat kerap kali di panggil oleh tim futsal fakultas sebagai pemain inti. Dengan tinggi badan 172 cm dan tubuh kurus, ia menjadi andalan dan kepercayaan tim futsal fakultas sebagai penjaga gawang.


Lift tiba di lantai satu, pintu lift terbuka perlahan. Aku merangsek masuk dengan cepat, mahasiswa dan mahasiswi lain pun masuk bergumul saling senggol. Aku menekan lantai lima. Setelah lift penuh sesak, pintu lift pun tertutup. Lift berhenti di lantai tiga dan empat, banyak mahasiswa dan mahasiswi yang keluar. Tinggallah aku berdua dengan seorang mahasiswi menuju lantai lima. Mahasiswi itu berdiri tepat di depan pintu lift. Kerudungnya merah, mengenakan kemeja merah lengan panjang, rok panjang berwarna merah marun, dan sepatu merah. Wajahnya tertunduk, ia diam.


"Hihihihihihihi." mahasiswi itu tertawa pelan. Suara tawanya terdengar seperti berbisik.


Aku memandangnya penuh curiga.


"Kau sudah semakin.. kuat.. rupanya. Hihihihihi." ucap mahasiswi itu dengan suara pelan diakhiri dengan tawa terkekeh.


"Eh? Apaan kak?" tanyaku.


"Hihihihihihi." mahasiswi itu kembali tertawa.


Deg deg deg deg deg deg.


Jantungku berdebar. Suara tawanya tak asing. Dan, dan, dan ia mengenakan pakaian serba merah. Jangan-jangan mahasiswi itu!


"Hihihihihihihi." ia kembali tertawa.


Permukaan dahiku mulai mengeluarkan keringat. Jantungku masih berdebar tak keruan. Sial, kenapa lantai lima tak kunjung sampai!


Ting. Lantai lima!!


Aku menekan tombol pintu terbuka dengan cepat.


Sreeeeggg. Pintu lift terbuka.


Aku berlari keluar lift dengan tergesa. Aku sempat menengok ke arah lift sebelum pintu lift tertutup. Tampak jelas wajah mahasiswi itu, ia tersenyum menyeringai, matanya melotot melihatku, wajahnya pucat bagai kapas. Sungguh menyeramkan. Pertanda apa itu?

__ADS_1


Nafasku tersengal, aku berjalan cepat menuju ruang kelas. Sambil sesekali menoleh ke arah lift yang sudah tak terlihat.


Brukk!


"Kyaaaa!"


Aku jatuh terduduk.


"Adi!"


Eh, Kemala!


"Iiiihh, jalan kok nggak lihat-lihat sih." ucap Kemala.


Aku buru-buru bangun dan membantu Kemala bangun.


"Ma-maaf La. Gue buru-buru soalnya." balasku.


"Aduuuhh sakit tahuu." ujar Kemala.


"Iya iya maaf La. Eh, gue duluan ya!" ungkapku, seraya berlalu meninggalkan Kemala dengan cepat.


Aku tak menoleh lagi ke arah Kemala, yang kupikirkan hanya cepat sampai di kelas. Sempat terdengar Kemala memanggilku beberapa kali, namun kuacuhkan dan aku tetap berlari.


Aku masuk kelas, sudah ramai rupanya. Dan, ada Yuda di kursi belakang. Yuda melambaikan tangannya ke arahku. Aku senang melihatnya. Segera kuhampiri Yuda dan duduk di sebelahnya.


"Udah sehat lo?" tanyaku sambil menyodorkan tangan mengajak tos.


Kami tos, aku memeluknya dengan senang.


Aku duduk di kursi sebelah Yuda.


"Di, nyokap bokap gue titip salam buat lo, Tika, dan Kakek Badrun. Mereka ngucapin banyak-banyak terima kasih sama kalian." Yuda berkata.


Aku senyum.


"Iya, sama-sama Da. Nyokap bokap lo sehat kan?" tanyaku.


"Alhamdulillah sehat semua. Mbak dan pak satpam juga sehat. Hehehehehe." jawab Yuda.


"Eh Di, gue belum dengar cerita lo dari awal. Lo janji mau ceritain semuanya ke gue." Yuda menagih.


"Emang ya? Hehehehehe." sahutku bercanda.


Bukk! Yuda memukul lenganku.


"Rese lo!" kata Yuda.


"Iya iya. Kapan kita cerita-cerita nih?" tanyaku.


"Hari ini aja selesai kuliah. Hari ini kan kuliah cuma sampai jam sebelas, habis itu kita ke Satu Arah yuk! Gue kangen pengen ngopi di sana." ajak Yuda.


"Hmmmm. Gimana ya?" aku berpikir sambil memandang langit-langit ruang kelas.


"Jangan sok sibuk lo! Emang ada acara apa lo? Pakai sok mikir segala. Hehehehehe." tutur Yuda.


"Hahahahahaha. Kok lo tahu gue cuma akting?" sahutku.


"Adiiii Adi, gue kenal lo nggak sehari dua hari. Mana bisa lo akting di depan gue! Nggak ada bakat lo jadi artis, akting lo jelek!" kata Yuda.


"Hahahahahahaha. Oke oke, kelar kuliah kita ke Satu Arah." balasku.


"Di!" Rahmat Sang Bocah Pintar memanggilku.


"Yaa. Ada apa Mat?" tanyaku.


"Mata kuliah Pengantar Ekonomi Syariah lo sekelompok sama gue. Kita presentasi minggu depan." Rahmat berucap.


"Ooh gitu. Kita berdua doang nih?" tanyaku lagi.


"Enggak. Kita berempat, sama Eti dan Siska." jawab Rahmat.


"Oke deh. Mat, tugas gue apa nih?" tanyaku.


"Lo sama Siska tugas ngetik sama photo copy aja ya. Bikin makalah biar gue aja sama Eti." jawab Rahmat.


"Siap bos!" aku berdiri seraya memberi hormat pada Rahmat.


Ah, pucuk di cinta ulam pun tiba. Kebetulan sekali aku sekelompok dengan Rahmat, aku bisa sekalian meminjam catatan mata kuliah yang sempat tertinggal beberapa hari kemarin.


Yuda menyenggol lenganku dengan sikutnya, "Enak kalau sekelompok sama Rahmat. Lo tinggal terima beres aja. Nanti begitu waktu presentasi, pasti dia yang bakal lebih aktif. Udah pasti nilai lo A kalau sekelompok sama dia. Hehehehehehe."


"Sok tahu lo! Emang lo dosen yang tentuin nilai?" sahutku.


"Eh, gue emang bukan dosen Di. Tapi catatan dosen gue bisa tahu." balas Yuda.


"Ooh iya ya. Bokap lo kan orang rektorat. Hehehehehe."


"Rahmat itu anak pinter Di. Namanya harum banget di kampus, prestasinya banyak. Padahal kita baru semester awal, tapi Rahmat udah banyak mewakili lomba antar kampus." terang Yuda.


"Masa sih? Kok gue baru tahu Da!" ucapku.


"Gue aja baru tahu dari bokap. Info terbaru nih, tim inti futsal kampus sebentar lagi bakal panggil dia buat seleksi Pekan Olah Raga Universitas Nasional." sambung Yuda.


"Wuih, keren amat. Otak pinter, ekskul juga jago! Cewek mana yang nggak ngelirik dia Da!" balasku.


"Hahahahahaha. Sejak kapan pikiran lo ke cewek. Bergaul sama siapa lo? Hahahahaha." ledek Yuda.


"Lo bergaul sama dia aja kalau mau lancar di kampus." Yuda memberi saran.


"Kok lo bisa nyaranin gitu ke gue? Nah, lo sendiri aja nggak bergaul sama dia." balasku.


"Ngapain gue bergaul sama dia kalau ada bokap gue di rektorat." ujar Yuda.


Lagi-lagi Yuda membahas jabatan ayahnya di rektorat. Jelas aku kalah jauh dengannya. Hidup Yuda di kampus terasa mudah karena peran ayahnya.


"Aaahhh iya. Gue lupa lagi kalau bokap lo orang rektorat ya. Hehehehehe. Lo musuhan sama Rahmat juga nggak ada pengaruh ya?" sahutku.


Yuda hanya terkekeh dengan wajah angkuhnya. Ia seolah tak memiliki beban soal perkuliahannya. Tak memikirkan nilai, tak peduli soal tugas kuliah. Mulus.


Berbeda jauh denganku. Aku harus repot bikin tugas, lelah mencari bahan untuk presentasi, bergadang membuat makalah demi mengincar dua huruf di tiap mata kuliah. Ya, cuma dua huruf penanda lulus mata kuliah tersebut atau tidak. Kami sebagai mahasiswa hanya mengincar huruf A atau B.

__ADS_1


__ADS_2