
192.
"HIHIHIHIHIHIHI. Pintar juga wanita itu. Merelakan dirinya hanya untuk menyerangku. Bagus sekali, sampai membuatku terluka. Hihihihihihihi." ucap kuntilanak merah.
Kuntilanak merah terbang melayang. Ia memegangi perutnya yang terhantam serangan dari Bi Yana. Dari lukanya mengepul asap hitam.
"YAAAHH, BERKURANG LAGI BALA BANTUANMU BOCAH. HIHIHIHIHIHI. KALAU SUDAH SEPERTI INI, APA YANG INGIN KAU LAKUKAN?" tanya kuntilanak merah.
"KURASA MENYERAH ADALAH JALAN KELUAR PALING BAIK BAGIMU DAN TEMAN-TEMANMU." tambah kuntilanak merah.
Aku dan Mas Gun bangkit berdiri. Tak lama Tika pun berdiri. Kami berjalan pelan, lebih mendekat ke kuntilanak merah. Jaraknya tak jauh, hanya beberapa meter saja ia di depan kami.
Nek Iyah berjalan di tuntun oleh Kakek Badrun. Mereka menghampiri dan bergabung bersama kami.
"HIHIHIHIHIHIHI. DITAMBAH LAGI PARA MANULA YANG ADA DI BELAKANG KALIAN. MEREKA AKAN MENJADI BANGKAI SEBENTAR LAGI." tunjuk kuntilanak merah pada Kakek Halim, Nek Iyah, dan Kakek Badrun.
Kakek Halim duduk sambil memegang dadanya. Ia seolah sudah kehabisan tenaga. Kekuatannya sudah hilang banyak, karena harimau putih sudah tewas di tangan kuntilanak merah itu.
Nek Iyah pun terluka. Di pinggangnya tampak luka yang cukup besar. Berwarna hitam dan mengeluarkan asap hitam tipis. Sampai berjalan saja Nek Iyah harus dibantu oleh Kakek Badrun.
Sedangkan Kakek Badrun, walaupun tampak baik-baik saja. Namun sebenarnya setengah ilmu kanuragannya telah hilang. Sejak ia bertarung dengan Nek Iyah di puncak Gunung Komang dulu.
"Tika, tolong sembuhin Nek Iyah. Biar gue sama Mas Gun yang akan menghadapi kuntilanak merah itu." ucapku.
Tika mengangguk.
"Nak Adi," panggil Kakek Badrun.
"Apa kalian yakin?" tanyanya.
Aku diam. Mas Gun pun terdiam.
"Kalau memang ini takdir saya, saya yakin Kek." jawabku.
Kakek Badrun melepas rangkulannya pada Nek Iyah, Tika yang menggantikannya memegang Nek Iyah. Lalu Kakek Badrun menghampiriku dan Mas Gun.
"Ayo, kubantu kau memusnahkan iblis itu Nak. Belum puas rasanya tadi." ucap Kakek Badrun.
"HIHIHIHIHIHIHI. MAJU KALIAN SEMUA!" teriak kuntilanak merah.
Aku melesat terbang, diikuti Kakek Badrun dan Mas Gun.
Tanganku memendarkan cahaya biru keputihan. Tangan Mas Gun berwarna kuning, dan tangan Kakek Badrun bersinar berwarna kuning keemasan.
"HIYAAAAAAAAA!!" teriakku kencang.
BUUMMM. Kutembakkan sinar biru ke arah kuntilanak merah.
Ia tersenyum menyeringai.
BUFFF. Kuntilanak merah berubah menjadi asap hitam.
SYUUTT. Sinar biru yang kutembakkan mentah, hanya menembus kepulan asap hitam.
"Hati-hati! Ia bisa muncul dimana saja!" ucap Kakek Badrun.
Belum sampai lima detik Kakek Badrun berucap. Tiba-tiba..
DUAKKK. Pukulan kuntilanak merah mendarat telak di punggung Mas Gun.
Mas Gun terlempar jatuh ke tanah.
Aku dan Kakek Badrun menoleh terkejut. Mendadak kuntilanak merah sudah ada tepat di belakangku.
SRAATT. Ia menghunuskan kukunya yang tajam, hendak mencakarku.
Beruntung aku bisa menghindar dengan cepat.
DAKK. Kakek Badrun melayangkan tendangan, tapi berhasil ditepisnya.
Kesempatan!
WUUSSHH. Kulayangkan pukulan ke wajah kuntilanak merah.
Ia menatapku tajam sambil tersenyum menyeringai. Seketika aku merinding menatap ke dalam matanya.
TEP. Kepalan tanganku berhasil ditangkap oleh kuntilanak merah.
"Hihihihihihihihi." ia terkekeh.
Dan..
DUUAAKK. Sebuah pukulan telak mendarat di pipiku.
Seketika pandanganku berkunang-kunang. Semua yang kulihat terasa berputar.
BUGG. Tubuhku mendarat di tanah.
Aku kembali bangkit berdiri, walaupun kepalaku masih terasa pening. Kulihat Mas Gun sudah kembali ke dalam pertarungan.
Aku melesat terbang.
Bagaimana bisa tatapan matanya masih membuatku bergidik? Tak habis pikir rasanya, seolah tatapan matanya mengandung sihir yang bisa membuatku merasa ketakutan.
Wuuuunnggg. Tanganku bersinar biru keputihan.
"AYO SERANG AKU!" teriaknya sambil menangkis serangan dari Mas Gun dan Kakek Badrun.
"BOCAH GENDUT BANYAK TINGKAH. TERIMA INI!"
Kuntilanak melayangkan serangan, dari tangannya menembakkan bola bersinar merah kehitaman. Sinar itu melesat dengan cepat ke arah Mas Gun.
"AWAS MAAAAASSS!" teriakku.
DUEEENNGGGG. Serangan kuntilanak merah behasil di tepis oleh Mas Gun dengan perisainya.
Aku terbang di balik tubuh Mas Gun. Aku berlindung dibalik tubuh besarnya.
SYUT.
SYUT.
SYUT.
Kuntilanak merah kembali melancarkan serangannya ke Mas Gun.
"Tahan Mas! Begitu ada momen, gue akan serang!" ucapku.
DANG.
DANG.
DANG.
Perisai Mas Gun berhasil menepis serangan kuntilanak merah. Serangannya tak satu pun yang mengenai Mas Gun. Perisai milik Mas Gun sangat luar biasa.
BUAKK. Kakek Badrun melancarkan pukulan bertenaga. Namun berhasil ditangkis.
YA! INI MOMENNYA!
Aku menembakkan sinar biru dari tanganku ke arah kuntilanak merah.
DUAARRRR. Seranganku berhasil mengenainya. Namun ia kembali berubah menjadi asap hitam.
Kemana dia?
Aku melayang bersama Mas Gun. Sembari melihat sekeliling. Mencari keberadaan kuntilanak merah yang tadi berubah menjadi asap hitam dan tiba-tiba menghilang.
BUFFF.
"KEJUTAAN!"
BUGGG. Pukulannya mengenai perutku. Mendadak ia muncul tepat di hadapanku. Mengagetkanku dan melancarkan pukulan.
__ADS_1
BUFFF. Ia kembali berubah menjadi asap hitam.
Pukulannya sangat kuat. Membuat dadaku sesak dan nyeri di sekujur tubuhku.
BUFFF.
"KEJUTAAANN!"
DUAKK. Kini kuntilanak merah itu menghantam wajah Mas Gun dengan pukulannya. Ia mendadak muncul di hadapan Mas Gun. Setelah memukul, ia kembali menghilang meninggalkan kepulan asap hitam.
"HATI-HATI NAK!" teriak Kakek Badrun.
BUFFF.
"KEJUTAN LAGIII!"
DUAKK. Kuntilanak merah melayangkan pukulan ke wajah Kakek Badrun.
Kemudian ia kembali berubah menjadi asap hitam dan hilang.
Kakek Badrun memberi isyarat padaku dan Mas Gun untuk turun.
Kami turun dan berdiri dengan punggung saling menempel. Melihat ke sekeliling. Memindai keberadaan kuntilanak merah.
BUFFF.
"KEJUTAN LAGIII!"
DUAKK. Kuntilanak merah melancarkan serangan pada Tika. Dan hilang lagi.
"Kek, bagaimana cara menghadapinya kalau iblis itu menggunakan cara licik macam ini?" tanyaku.
"Aku tidak tahu Nak. Yang jelas kita harus lebih waspada." jawab Kakek Badrun.
Bagaimana ini?
BUFFF.
"INI KEJUTAN UNTUKMU!"
DUAKK. Serangan dilayangkan untuk Nek Iyah. Kuntilanak merah itu menghilang lagi.
"Tika! Ajak Nek Iyah dan Kakek Halim kesini!" pintaku.
"Untuk apa?" tanya Tika.
"Sudah ikuti saja. Cepet!" suruhku.
Tika menuntun Nek Iyah dan Kakek Halim dengan langkah tergopoh.
Tiba-tiba..
BUFFF.
"INI UNTUKMU!"
DUAKK. Kakek Halim menerima pukulan cukup keras dari kuntilanak merah. Dan lagi-lagi ia hilang di balik kepulan asap hitam.
Tika, Nek Iyah, dan Kakek Halim bergabung bersama kami. Wajah Tika tampak was-was.
"Apa yang mau kau lakukan Nak?" tanya Kakek Badrun.
"Mas, buat perisai di sekeliling kita. Cepet!" suruhku ke Mas Gun.
Kakek Badrun mengangguk.
"Kek, begitu dia muncul dengan asap hitamnya segera saja serang dengan kekuatan masing-masing. Semoga saja cara ini efektif." ujarku.
"Tika, lo juga ya." lanjutku.
Tika mengangguk.
SYUUUUTTT. Mas Gun membuat perisai di sekeliling kami.
Mas Gun mengangguk.
Aku mendekat ke Kakek Badrun.
"Kek, begitu kuntilanak merah itu menampakkan wujudnya. Kita keluar dari perisai ini dan serang dia." ucapku berbisik.
"Bagaimana kalau iblis itu berubah lagi menjadi asap hitam?" tanya Kakek Badrun.
"Dia tidak akan muncul tanpa adanya target. Dari tadi, ia muncul ketika melihat target. Targetnya ya kita-kita ini. Nah, kita berdua harus memancingnya keluar. Begitu iblis itu keluar dimana pun, dan menyerang siapa pun. Maka diantara kita harus siap melancarkan serangan ke arahnya. Bukan hanya kita, Tika dan Mas Gun juga harus ikut menyerangnya. Mengerti Kek?" jelasku.
"Lalu?" tanya Kakek Badrun.
"Setidaknya jika kita gerak cepat melancarkan serangan yang ditujukan padanya, minimal ia terluka dan semoga saja sedikit melemah." terangku.
Kakek Badrun mengangguk.
"Lalu, untuk apa perisai yang dibuat oleh Guntur?" tanya Kakek Badrun.
"Untuk melindungi Nek Iyah dan Kakek Halim." jawabku.
Kakek Badrun menepuk pundakku.
"Cerdas kau Nak." ucapnya.
"Siap Kek?" tanyaku.
Kakek Badrun mengangguk.
"Mas Gun, Tika. Lo siap disini aja, begitu kuntilanak itu muncul dimana pun, serang dengan cepat dengan kekuatan kalian. Mengerti?" ujarku.
"Lo mau kemana Di?" tanya Mas Gun.
"Mancing." jawabku singkat.
Wajah Mas Gun tampak bingung.
"Mancing?" Mas Gun heran.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHIHIHI." tawa kuntilanak merah menggema. Tak terlihat rupa dan keberadaannya.
"UNTUK APA KALIAN MEMBUAT SARANG? HIHIHIHIHIHI. INGIN BERTELUR DISANA?" suara kuntilanak merah itu kembali menggema.
Kami melihat ke sekeliling. Kuntilanak merah itu memang tak menampakkan dirinya. Hanya terdengar suaranya yang menggema.
"Kek," panggilku ke Kakek Badrun.
Kakek Badrun menoleh ke arahku.
"Ayo!" ajakku.
Kakek Badrun mengangguk.
Aku berdiri berdampingan dengan Kakek Badrun.
Tiba-tiba..
BUFFF.
DUENGGGG. Kuntilanak merah mencoba menghantam perisai yang dibuat oleh Mas Gun. Namun perisai itu sangat kuat. Perisai tak bergerak sedikit pun.
BUFFF. Ia kembali menghilang menjadi asap hitam.
Hehehehehehe. Sana kau hantam perisai itu. Terpancing juga kau demit jelek. Aku membatin.
"Tika. Mas Gun. Siap ya!"
"Oke Di." jawab Mas Gun.
Tika mengangguk.
__ADS_1
SYUUUTTT. Aku dan Kakek Badrun terbang keluar dari perisai. Kami melayang tepat di atas perisai.
Aku dan Kakek Badrun saling membelakangi. Sambil terus menatap ke sekeliling, mencari keberadaan kuntilanak merah itu.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHI." tawanya lagi-lagi membuatku muak.
"APA YANG SEBENARNYA KALIAN RENCANAKAN, HAH? KITA LIHAT, SIAPA YANG LEBIH CERDIK. HIHIHIHIHIHIHIHI." ujarnya.
"Nak, waspada Nak. Jangan lengah sedikit pun. Semoga rencanamu berhasil." bisik Kakek Badrun.
Aku mengangguk.
Tanganku bersinar, mengilaukan sinar biru keputihan. Tangan Kakek Badrun bersinar berwarna kuning keemasan. Tak sejengkal pun sudut kebun yang luput dari pandanganku.
Eh. Apa itu?
Kupicingkan mataku.
Kulihat kembali sesuatu yang menggangguku.
.
.
.
.
Itu,
.
.
.
Itu asap hitam.
.
.
Apa mungkin itu tanda keberadaanya?
Asap hitam mengepul sangat tipis. Bagai asap rokok yang terbakar. Melayang-layang. Terbang mengitari kebun kosong.
Kupaku mataku pada asap itu. Mungkin itu sebuah petunjuk.
Tiba-tiba..
BUFFF.
DUEENNGGGG. Dari asap tipis berwarna hitam itu, muncul kepulan asap tebal dan disana mucullah kuntilanak merah. Ia lagi-lagi menyerang perisai yang dibuat oleh Mas Gun.
YAAAAA! KENA KAU B*JINGAN.
Asap tipis itu terbang berputar-putar.
Perlahan mendekat ke arah Kakek Badrun.
YA!
BUFFF.
"KEJUT.."
SYUUUTTT. Kutembakkan sinar biru dari tanganku ke arah kuntilanak merah.
DUAAARRRR. Sinar biru meledak tepat di hadapan kuntilanak merah. Entah mengenainya atau tidak.
Ia kembali hilang di balik asap hitam.
"Wah, Kakek sampai kaget." ucap Kakek Badrun.
"Bismillah. Kita pasti bisa mengalahkan iblis itu Kek." balasku.
Kupasang mataku tajam. Kucari keberadaan asap tipis itu. Dimana keberadaanya?
Sssshhhh. Suara apa itu?
Hmmmm.
Eh, itu dia! Itu asap tipisnya. Terlihat terbang mengelilingiku dan Kakek Badrun.
Lalu perlahan mendekat ke arahku.
Tiba-tiba..
BUFFF.
"DI DEPAN GUEEEE!!" teriakku.
SYUUUUTTTT.
DUUUAAAARRRRR. Sinar kuning meledak tepat di depan kuntilanak merah. Lagi-lagi ia hilang di balik kepulan asap hitam.
Cih. Ayo tunjukkan wajahmu demit sialan! Strategi apa lagi yang akan kau lakukan. Aku membatin.
"HIHIHIHIHIHIHIHIHI." terdengar tawanya yang mengikik.
"LUMAYAN JUGA RENCANA KALIAN. TAPI BELUM BISA MEMUSNAHKANKU. HIHIHIHIHIHI."
"TUNJUKKAN RUPAMU DEMIT SIALAN!" teriakku.
.
.
Hening.
.
.
"HIHIHIHIHIHIHI. BERNYALI JUGA BOCAH SOK SAKTI INI."
Tiba-tiba kuntilanak merah muncul jauh di hadapanku. Ia muncul dari balik kepulan asap hitam yang menggulung bagai ombak.
Di perutnya ada sebuah lubang yang mengeluarkan asap hitam.
"Hihihihihihi. Rencana kalian bagus juga. Mambuatku terluka adalah kemajuan yang sangat pesat. Hihihihihihi." ucapnya.
Aku dan Kakek Badrun masih menghadapnya. Kami masih melayang di atas perisai yang dibuat Mas Gun.
Angin malam ini membuat dingin. Tiupannya menyapu dedaunan kering yang berserakan. Malam ini semua harus disudahi. Harus dihentikan. Tak boleh ada kata esok hari. Tak ada kata nanti. Harus malam ini.
Awan berarak menutupi rembulan. Entah dimana letak bulan malam ini. Namun yang terlihat hanya kilatan petir di ujung sana yang menyambar-nyambar. Membuat suasana pertempuran malam ini semakin menegangkan.
..._______________...
...izin besok libur update ya kawan2...
...karena ada pekerjaan yg lumayan banyak...
...jangan lupa...
...LIKE, KOMEN, FAVORIT...
...kirim HADIAH & VOTE boleh yaa...
...makasih bagi yg setia nunggu dan baca...
...aku tanpa kalian, apa atuh...
__ADS_1
...makasih...