Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 172


__ADS_3

"Apa benar yang Dek Adi katakan?" tanya Ibu Kemala.


"Benar Bu. Kuntilanak merah itu mengirim sesosok demit yang rencana awalnya untuk mengambil jiwa teman saya, Yuda. Tapi takdir berkata lain. Teman saya selamat dan demit itu pun mengincar orang lain." jelasku.


"Astaghfirullah. Semakin kuat saja iblis itu." gumam Ibu Kemala.


"Memang bagaimana ceritanya sampai kuntilanak merah itu mendapatkan tumbal Dek?" tanya Ibu Kemala.


Akhirnya, kuceritakan soal kesepakatan jual-beli mobil antik antara Yuda dengan Mas Steve. Sampai Mas Steve dan seorang wanita menjadi tumbal.


"Ya Allah. Rupanya sekarang iblis itu tak segan-segan mencari korban dari luar." tutur Ibu Kemala.


Kuceritakan pula dari awal kulihat sosok demit yang membonceng di motor Yuda. Beruntungnya Yuda tak langsung pulang ke rumah, ia terlebih dulu mampir ke bengkel milik Om Galih. Lalu kuceritakan juga tentang Tarjo, montir yang kini menjadi kurang waras.


Ibu Kemala terdiam.


"Bu, kuntilanak merah itu kini semakin kuat. Jika hanya saya dan Tika yang melawan demit itu, saya tak yakin bisa mengalahkannya." ucapku.


Ibu Kemala masih terdiam.


"Bu. Apa Ibu bersedia membantu kami sampai akhir?" tanyaku.


Ibu Kemala tersenyum.


"Dek, Ibu tidak yakin bisa membantu kamu dan Tika lagi. Ibu rasa, Ibu sudah tak sanggup lagi jika harus melawan demit dan kuntilanak merah itu. Tenaga Ibu sudah habis terkuras, ketika kalian melawan demit perempuan di lapangan tempo hari." balas Ibu Kemala.


Aku hanya diam.


"Tapi Dek Adi tenang saja. Tika kini sudah jauh lebih kuat. Ia beberapa kali menghubungi saya dan meminta saran untuk meningkatkan kekuatan mustika pemberian Kanjeng Ratu Sekar. Insyaallah kalian bisa menghadapi kuntilanak merah dan para pengikutnya." tambah Ibu Kemala.


"Insyaallah Bu. Saya cuma minta tolong sama Ibu, agar bantu doakan kami. Cepat atau lambat, mereka akan mulai melancarkan serangan." sahutku.


"Ibu akan bantu doa untukmu dan juga Tika." balas Ibu Kemala.


Setelah tak ada lagi yang dibicarakan. Aku pun pamit pulang. Ibu Kemala berpesan padaku, agar aku tak lupa selalu memberi makan mustika itu dimana pun dan dalam kondisi apa pun.


"Sekali lagi saya berterima kasih pada Ibu." ucapku.


"Sama-sama Dek Adi. Saya yakin kamu mampu menghentikan kejahatan itu." balas Ibu Kemala.


"Insyaallah Bu. Saya permisi. Assalamualaikum"


"Waalaikumsalam."


Motor melaju meninggalkan rumah Ibu Kemala. Dalam benakku kini memikirkan bagaimana cara melawan kuntilanak merah itu, rencana apa yang harus kubuat? Kalau ia sudah menyiapkan bala tentaranya untuk menyerang kami, lalu apa yang harus kupersiapkan?


Tiiiiinn tiiiiinn.


"ADI!"


Kemala?


Aku menghentikan motor. Kami berpapasan di jalan.


Kemala membuka helm dan maskernya.


"Eh, Mala."


Ia menyandarkan motornya, lalu menghampiriku.


"Dari mana Di?" tanya Kemala.


"Dari rumah lo."


"Lho, ngapain?"


"Ketemu nyokap lo. Ada yang dibicarain sedikit."

__ADS_1


"Soal hal-hal gaib ya?" tanya Kemala.


Aku mengangguk seraya melempar senyum.


"Gue kirain apa. Mampir lagi yuk ke rumah!" ajak Kemala.


"Eh, mampir lagi? Aduh, gimana ya?"


"Ayolah. Masa ngobrol sama nyokap gue doang, ngobrol sama gue belum." rayu Kemala.


"Emmm, bukannya nggak mau. Tapi gimana ya." aku bingung.


"Ayo Di. Kita kan udah lama nggak ketemu. Udah lama nggak ngobrol-ngobrol." Kemala kembali merayu.


Aku bingung. Di satu sisi aku sangat ingin mengobrol lebih lama dengan Kemala. Tapi di sisi lain aku harus segera pulang.


"Yuk. Kelamaan mikirnya nih Adi."


"Sorry deh La. Gue kayaknya nggak bisa kalau harus balik lagi ke rumah lo. Sudah ada janji soalnya." jawabku.


Seketika raut wajah Kemala berubah.


"Oh gitu. Oke deh." balasnya.


Kemala kembali ke motornya, memakai helmnya kembali. Dan menyalakan motornya.


"Gue balik ya." ucap Kemala lalu motornya melaju.


Aku pun berangkat.


Aku berkendara santai. Menikmati sore yang menjelang. Terik matahari masih terasa. Namun tak seterik dan sepanas tadi siang. Dibeberapa titik terjadi kemacetan, ini biasa terjadi jika sore hari. Klakson kendaraan saling bersahutan, ini sudah tak mengherankan.


Drrrttt drrrttt. Eh. Ponselku bergetar.


Siapa lagi yang menghubungiku?


Mas Gun mungkin.


Yuda? Ada apa ia menghubungiku?


"Oii. Kenapa Da?" jawabku.


"Di. Ada kabar buruk Di." ucap Yuda.


"Kabar buruk apaan sih? Lo jangan bikin gue deg-degan Da." balasku.


"Tarjo meninggal Di."


Apa? Tarjo? Tarjo si montir handal itu meninggal dunia?


"Ah, jangan ngaco lo Da. Yang bener? Lo dapat kabar dari mana?" tanyaku membabi buta.


"Dari Om Galih, memang dari siapa lagi. Bahaya Di. Ini bahaya." ujar Yuda.


"Bahaya apaan Da?"


"Kondisi jenazah Tarjo sama seperti jenazah Mas Steve." jawab Yuda.


Deg deg deg deg deg deg. Jantungku berdegup sangat kencang.


"Lo serius Da?" tanyaku meyakinkan.


"Ya ampun Adi. Ngapain gue bohong. Nanti gue kirim foto kondisi jenazah Tarjo. Lo lihat sendiri ya."


"Iya Da."


"Setelah lo lihat fotonya. Segera hubungi gue. Oke."

__ADS_1


"Iya iya."


Yuda menutup pembicaraan.


Astaga. Tarjo meninggal dengan kondisi jenazah sama seperti Mas Steve. Gila. Ini semakin gila.


Tring. Pesan dari Yuda masuk.


Kubuka pesan dari Yuda.


Deg deg deg deg deg deg deg.


Benar yang Yuda bilang. Kondisi jenazah Tarjo sama persis dengan jenazah Mas Steve. Itu artinya, bertambah lagi demit yang akan menjadi pengikut kuntilanak merah. Ia benar nggak main-main, ia benar-benar mempersiapkan bala tentara untuk menyerangku. Gila.


Total sudah tiga korban tumbal yang ia dapatkan. Kuntilanak merah itu kini menjadi semakin kuat. Apa yang harus kulakukan? Sedangkan kami hanya berempat. Aku, Tika, Mas Gun, dan Kakek Badrun. Apa bisa kami mengalahkan kuntilanak merah berikut pengikutnya?


Ini akan menjadi pertempuran yang tak seimbang. Empat melawan puluhan demit. Jelas tak seimbang. Tak masuk akal. Curang.


Aku kembali menghubungi Yuda.


"Gimana menurut lo?" tanya Yuda.


Aku menghela napas.


"Benar kata lo. Ini semakin bahaya Da. Kuntilanak merah itu jelas nggak main-main. Ia sudah dapat tiga tumbal sekarang."


"Apa ia jadi semakin kuat Di?" tanya Yuda.


"Jelas Da." jawabku singkat.


"Di, apa yang bisa gue lakukan buat menolong kalian?"


"Apa Da? Gue nggak tahu. Doa mungkin. Lo cukup bantu doa aja." jawabku.


"Di, lo jangan pasrah gitu dong. Dari nada bicara lo tadi, seolah-olah lo pasrah. Lo nggak boleh gitu Di. Kan lo pernah bilang, nggak ada sejarahnya kebathilan menang melawan kebenaran. Ingat nggak lo?"


Aku tersenyum, menatap langit yang mulai menguning.


"Iya gue ingat." jawabku.


"Gue akan bantu doa semampu gue Di."


"Eh Di, apa shalat tahajud bisa membantu juga?" Yuda bertanya lagi.


"Insyaallah bisa Da."


"Oke. Insyaallah nanti malam gue akan tahajud, mungkin dengan cara itu gue bisa membantu lo dan Tika."


"Amiiiiiin. Makasih ya Da."


Pembicaraan pun selesai.


Aku melanjutkan perjalanan pulang ke kost. Masih ada beberapa pertanyaan yang belum terjawab dan mengganggu isi kepalaku.


Satu diantaranya adalah soal Nek Iyah. Mengapa Nek Iyah terlihat tak sehat? Padahal ia sudah mendapatkan dua tumbal kemarin. Apa perjanjian dengan kuntilanak merah itu telah usai? Sehingga berapa pun banyaknya tumbal yang di korbankan, tak akan berpengaruh untuk Nek Iyah. Entahlah, itu sebuah misteri.


Suara benturan di dinding tadi malam. Itu pun masih menggangguku. Suara benturan yang berasal dari kamar 11d. Kamar tempat Ela dan Dini tinggal. Apa yang sebenarnya terjadi di dalam kamar itu? Apa Ela dan Dini termasuk ke dalam golongan kaki tangan Nek Iyah? Apa Kang Ujang juga termasuk kaki tangan Nek Iyah?


Dan yang terakhir, yaitu orang terdekatku yang ingin mencelakaiku. Kakek Halim berkata demikian pada mimpi malam itu. Siapa gerangan orang yang di maksud? Sampai saat ini, orang terdekatku hanya Mas Gun, Tika, dan Yuda. Mungkin juga Kang Ujang. Siapa musuh dalam selimut? Diantara nama yang kusebutkan, tak ada satupun yang berpotensi mengkhianatiku. Atau sebaliknya, semua bisa berpotensi mengkhianatiku dalam keadaan dan kondisi apapun. Karena hati manusia mudah sekali berubah dalam sekejap.


Gila. Adi Adi, masa mudamu sudah diisi dengan ancaman, ketakutan, dan pembunuhan. Disaat anak muda sebayamu berkutat dengan pendidikan, disibukkan mencari jadi diri, bahkan ada yang berjuang memperbaiki ekonomi keluarganya. Kau malah harus bertahan hidup dari ancaman sesosok iblis. Luar biasa kau Adi.


Jika nantinya kau selamat dan berhasil mengalahkan kuntilanak merah itu, kisah hidupmu ini patut dijadikan sebuah cerita novel.


...____________...


...jangan lupa tinggalin jejak ya kawan....

__ADS_1


...like, komen, favorit, boleh juga kirim gift....


......makasih.......


__ADS_2