Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 41


__ADS_3

Selesai ku bersihkan jejak kaki dan cairan hitam di ruang tengah, aku membuat kopi. Sial, niat ingin bersantai seharian malah bersih-bersih. Cukup letih, beberapa kali aku bolak-balik ke kamar mandi untuk mengganti air, cairan hitam itu benar-benar berbau busuk. Hampir seluruh isi perutku keluar.


Aku duduk di teras depan kamarku, memegang secangkir kopi menunggu Kang Ujang. Akan ku tanyakan perihal cairan hitam yang keluar dari lantai ruang tengah kamarku. Apa mungkin ada pipa pembuangan yang bocor di bawah lantai kamarku? Entahlah, aku tak mengerti.


"Kang, sini ngopi kang!" panggilku, Kang Ujang sedang membereskan kardus-kardus, mungkin kardus bekas perabotan baru Nek Iyah.


Kang Ujang senyum lalu menjawab, "Iya sebentar dek. Nanti saya ke situ."


Aku sudah menyiapkan beberapa pertanyaan yang harus ku dapatkan jawabannya dari Kang Ujang. Apa lagi selain soal kost ini. Ah sial, cukup lama aku menunggu Kang Ujang. Kopi di cangkirku sampai hangat, sedikit tak nikmat lagi menyeruputnya.


Cukup lama ku tunggu Kang Ujang, akhirnya ia pun datang. Kang Ujang memakai celana pendek se-lutut motif loreng dan mengenakan kaus abu muda agak belel.


"Naah, akhirnya datang juga nih. Duduk kang!" ucapku menyambut Kang Ujang.


"Kenapa atuh dek?" tanya Kang Ujang seraya duduk di lantai teras.


"Pengen ngobrol aja kang, bete sendirian. Mau kopi apa nih? Kopi hitam apa kopi susu?" aku menawarkan.


"Kopi hitam saja dek." ucap Kang Ujang sambil membakar sebatang rokoknya.


Aku membuat secangkir kopi hitam, kopi kemasan paling laku bergambar perahu air. Aku menyodorkan cangkir kopi ke Kang Ujang.


"Mangga kang." ucapku.


"Iya makasih dek. Saya minum ya." balas Kang Ujang.


"Sok atuh kang. Lagi banyak kerjaan di rumah Nek Iyah kang?" tanyaku membuka obrolan.


"Biasa dek, di bilang banyak ya ada saja, di bilang sedikit ya ada terus kerjaannya. Hehehehe."


"Kang, ceritain kost ini lah. Tentang almarhum Pak Thamrin gitu misalnya." pintaku.


"Hah? Almarhum Pak Thamrin. Kenapa mau tahu dek? Memang kenapa?" tanya Kang Ujang.


"Ya mau tahu aja kang." jawabku singkat.


Kang Ujang diam, nampak keraguan tergambar dari wajahnya.


"Cerita yang lain saja atuh dek." ucapnya.


Lho, kenapa ia tak mau cerita soal Pak Thamrin?


"Eh, Kang Ujang udah tahu belum kamar 11d kemarin malam kesurupan?" sergahku.


"Hah, kesurupan."


"Iya kang. Yang namanya Ela kesurupan. Saya benar-benar baru pertama kali lihat orang kesurupan. Ternyata kayak gitu ya." jelasku.


"Terus, gimana ceritanya?"

__ADS_1


Ku ceritakan awal kejadian sampai Nek Iyah datang membawa segelas air dan menyembur wajah Ela. Kang Ujang memperhatikan dengan seksama, tiap detil kata yang ku lontarkan.


"Merah? Siapa Merah?" tanya Kang Ujang.


"Saya juga nggak tahu kang. Akhirnya, setelah semua selesai saya balik ke kamar dan tidur. Jam tiga saya bangun dengar suara bayi nangis lagi kang." ceritaku.


"Hah, bayi nangis lagi?" wajah Kang Ujang nampak keheranan.


"Iya kang, bayi nangis. Kan tempo hari saya tanya soal bayi nangis sama Kang Ujang. Ada apa sebenarnya?"


"Gimana ya bilangnya?" ucap Kang Ujang sedikit gugup.


"Kenapa kang?" tanyaku heran.


"Dek, saya minta maaf ini ya. Minta maaf banget."


Aku makin heran dan penasaran.


"Minta maaf apa sih kang?" tanyaku.


"Dek Adi coba mulai besok atau kapan-kapan, cari kost baru deh. Di sini suasananya lagi nggak bersahabat." jelas Kang Ujang.


"Eh, gimana maksudnya?" aku bertanya kembali.


"Lebih baik Dek Adi pindah saja." ucap Kang Ujang dengan sedikit berbisik.


"Hah, pindah? Kok, Kang Ujang malah suruh saya pindah sih?" tanyaku dengan sedikit dongkol.


Kang Ujang diam.


"Saya nggak mau pindah kang. Saya nyaman kost di sini." lanjutku.


"Iya maaf dek, saya cuma kasih saran aja. Kalau Dek Adi betah di sini, ya bagus atuh." ucap Kang Ujang.


Aku diam sembari mengingat pertanyaan apa yang hendak ku sampaikan ke Kang Ujang.


"Oh iya kang, semalam saya mimpi aneh banget."


"Mimpi apa dek?" tanya Kang Ujang seraya menyeruput kopinya.


Aku kembali bercerita, kali soal mimpi aneh sepasang tangan keriput dengan kuku-kuku panjang dan hitam menusuk perutku. Lagi-lagi Kang Ujang hanya diam menyimak ceritaku, sambil sesekali menghisap rokoknya.


"Ih aneh pisan eta mah dek. Baru saya dengar mimpi kayak gitu." tanggap Kang Ujang.


"Iya kang. Eh kang, yang lebih aneh lagi. Ini nih kang!" aku menyingkap sedikit kausku, ingin memberi tahu ke Kang Ujang mengenai luka di perutku.


"Nih kang! Lah, kok hilang?" luka yang membuatku kesakitan hilang. Aneh. Perasaan, setelah makan luka itu kumat dan mengeluarkan darah. Kok bisa tiba-tiba hilang?


"Apa dek?" Kang Ujang pun nampak bingung.

__ADS_1


Aku diam.


"Ada apa dek?" tanya Kang Ujang.


"Ujaaaanngg!" suara Nek Iyah dari arah pintu belakang rumah memanggil Kang Ujang.


"Iya nek."


"Sini!" panggil Nek Iyah.


"Dek, saya di panggil sebentar ya. Nanti saya balik lagi." Kang Ujang undur diri. Ku balas dengan anggukan.


Aku masih bingung dengan luka di perutku yang tiba-tiba hilang. Kenapa bisa secepat itu? Aku amat penasaran, ku singkap kembali kausku. Eh, benar-benar sudah tidak ada. Senang campur penasaran. Biarlah, kalau sudah hilang ya sudah.


Seharian ponsel tak ku hidupkan. Kira-kira aku dapat pesan dari siapa saja ya? Kemala? Apa iya dia masih berani menghubungiku? Halaah, paling hanya Yuda. Akhirnya ponsel ku hidupkan. Berbagai macam pemberitahuan muncul di layar ponselku. Ku buka aplikasi chat, wah banyak juga yang menghubungiku. Kemala, bahkan Kemala pun ada. Yuda sudah tentu ada. Akhirnya ku balas chat dari Yuda.


Brooomm brooomm


Suara knalpot siapa itu? Bisingnya sampai terdengar ke kamarku. Suaranya terdengar dari garasi, aku melihat ke arah garasi. Muncul sebuah motor besar, seorang lelaki di atasnya. Wajahnya tertutup helm. Ia berhenti tepat di depan kamarku, di depanku.


Si lelaki mematikan mesin motornya. Ia turun, dan membuka helm-nya. Halaah, Yuda.


"Salamlikuuuumm." ucapnya berlagak manis.


"Waalaikumsalam. Gue kirain siapa." sahutku.


"Hape lo kenapa? Nggak aktif dari pagi." tanya Yuda, ia duduk di sebelahku sambil membuka jaketnya.


"Nggak apa-apa Da."


"Itu pipi lo kenapa? Berantem sama Kemala ya?" Yuda kembali bertanya.


"Mana? Oh ini, semalam kepentok pintu." jawabku asal.


"Cih, kepentok pintu? Adi Adi, masih mau bohong sama gue. Siapa yang mukul lo?" tanya Yuda.


"Sok tahu deh! Bener gue kepentok pintu."


"Yaudah iya iya. Ngopi dong! Ini bekas kopi siapa Di? Lo kedatangan tamu?" tanya Yuda.


"Ini bekas Kang Ujang, tadi dia gue ajak ngopi di sini. Lo mau ngopi Da?" tanyaku sambil masuk ke dalam kamar menaruh gelas kopi Kang Ujang.


"Iya dong!" jawabnya.


Aku kembali ke teras.


"Ngopi di samping kampus aja yuk! Ada kedai kopi tuh di sana." ajakku.


"Kedai kopi? Mahal nggak?" tanya Yuda.

__ADS_1


"Astaga, anak orang rektorat masih tanya harga mahal." sungutku.


"Becanda gue. Duit gue banyak Di. Ayo, gue bayarin deh lo mau ngopi berapa gelas pun." Yuda terpancing. Aku hanya mesem-mesem. Berhasil.


__ADS_2