
Hujan di sertai angin membuat malam ini terasa makin berat, di tambah gemuruh petir yang sesekali menderu-deru. Aku, Kang Ujang, dan Arya masih berdiri menatap kantung jenazah Bang Oji. Untuk beberapa saat kami bingung hendak melakukan apa, seolah tanggung jawab ada di pundak kami.
"Yuk, kita angkat." Kang Ujang buka suara.
Aku menatap Kang Ujang dan Arya.
"Bismillahirrahmanirrahiiiimm." Arya berucap dengan kuat.
Kami pun mengangkat kantung jenazah. Kang Ujang menggotong bagian depan, Arya di tengah, aku di belakang. Entah aku mengangkat bagian tubuh apa, tapi terasa lembek.
"Pak, saya pamit pak!" teriak si petugas.
Kami berjalan memasuki halaman rumah, angin seolah bertiup makin kencang. Tetesan air hujan menerpa wajah kami. Mataku terasa perih, aku tak bisa memandang lebih jauh.
"Kang, ini jenazahnya mau di taruh di mana?" tanyaku.
Kang Ujang menghentikan langkahnya. Ia menoleh ke arahku dan Arya.
"Kita kuburkan sekarang." ucap Kang Ujang.
Aku dan Arya saling pandang, kemudian mengangguk. Kami pun kembali berjalan, menuju liang lahat yang telah di buat persis di samping makam Mbak Wati. Petir masih saja bergemuruh.
Kantung jenazah kami letakkan di atas tanah, tepat di bibir liang kubur.
"Siapa yang mau turun ke bawah?" tanya Kang Ujang padaku dan Arya. Aku cepat menggelengkan kepala.
"Yasudah, saya sama Arya aja yang turun ke bawah. Dek Adi di atas ya." teriak Kang Ujang, gemuruh angin membuat suara tak terdengar.
Air menggenangi dasar lubang makam, mengalir dari atas.
"Kang, ini di kubur dengan kantung jenazahnya sekalian?" tanyaku.
"Apa?" suaraku tak terdengar oleh Kang Ujang nampaknya.
"Ini mau di kubur sama kantungnya sekalian?" aku teriak dengan kuat.
Kami saling pandang. Sambaran petir membuat suasana makin mencekam.
"Harusnya nggak pakai kantung!" sahut Arya.
"Yasudah, ayo keluarin jenazahnya dari kantungnya. Tolong dek!" pinta Kang Ujang yang sudah turun ke liang lahat bersama Arya.
Jantungku berdegup cepat. Ini pengalaman pertamaku mengurus pemakaman seseorang, mungkin juga yang terakhir. Aku membaca basmalah dalam hati. Kubuka perlahan resleting kantung jenazah. Serr. Seketika bau busuk menyeruak menusuk hidungku. Aku menahan muntah. Kusingkap ujung kantung jenazah.
Jreng!
__ADS_1
Kafan putih sudah berubah warna menjadi merah kehitaman akibat di guyur hujan. Kapas yang menutup wajah Bang Oji sudah basah. Kuberanikan diri mengangkat tengkuk jenazah Bang Oji dengan tangan kiriku, sedangkan tangan kanan mengangkat bagian paha. Berat. Amat berat. Jantungku berpacu, darahku mengalir deras.
Karena guyuran hujan yang sangat lebat, kapas yang menutup wajah jenazah Bang Oji pun tersapu air dan jatuh.
"Waaaaaaaaa!" aku teriak sangat kuat, hampir saja kulemparkan jenazah Bang Oji dari genggamanku. Untungnya tidak sampai terjadi.
Astaghfirullah, pemandangan mengerikan nampak dari wajah Bang Oji. Wajahnya hancur tak berbentuk, kulit dan daging di pipinya bercampur, gigi-giginya hilang entah kemana, kedua bola matanya tak ada, hidungnya sudah tak terlihat bentuknya. Sangat menyeramkan.
Perlahan aku memberikan jenazah Bang Oji ke Kang Ujang dan Arya. Lalu mereka menaruh jenazah di dasar lubang, kemudian Arya mengazankan. Aku bersiap mencangkul tanah dari atas. Sebelumnya, jenazah di tutup oleh beberapa papan kayu.
"Ayo dek, di pacul tanahnya." dengan cepat kucangkul tanah, Kang Ujang dan Arya menginjak dan memadatkan tanah.
Hujan masih saja turun dengan derasnya, tak berkurang sedikitpun. Tanah menjadi lembek dan berlumpur. Kang Ujang dan Arya nampak kesulitan. Berkali-kali papan untuk menutup jenazah Bang Oji mengapung.
Akhirnya dengan segala kendala dan kesulitan, pemakaman Bang Oji pun selesai. Aku merebahkan tubuhku di atas tanah karena kelelahan. Kang Ujang duduk di sebelah makam Bang Oji, begitu pun Arya ia melonjorkan kakinya dan duduk di atas tanah. Hujan masih saja turun dengan derasnya, tapi angin sudah tak bertiup sekencang tadi.
Kami berhasil melaksanakan pemakaman Bang Oji. Jika di tunda sampai besok pagi, mungkin saja jenazah Bang Oji sudah semakin bau dan membusuk.
"Kang, Ya, istirahat di kamar saya saja yuk." ajakku dengan nafas terengah.
Mereka pun setuju. Aku meminjamkan kaus dan kain sarung untuk Arya dan Kang Ujang. Kami mandi bergantian. Arya dengan inisiatif membuat tiga gelas kopi, sebagai penghangat tubuh kami.
Sudah pukul 03:10, Di luar hujan masih turun. Pintu kamar kututup rapat, hanya jendela dan gordyn yang kubuka lebar. Arya memutuskan untuk tidur lebih dulu, sementara aku dan Kang Ujang masih duduk di ruang depan menghabiskan kopi sambil merokok.
"Terima kasih ya dek, sudah membantu banyak." ucap Kang Ujang.
"Saya heran dek, kenapa banyak sekali kendala ya. Dosa apa yang sudah di perbuat Oji." tutur Kang Ujang.
"Sudah kang, jangan kita ungkit masa lalu almarhum. Tidak baik, biarlah Yang Maha Kuasa yang akan membalas semua kebaikan dan kejahatan yang pernah di lakukan almarhum." tambahku. "Kang, saya mau tanya deh." sambungku bertanya.
"Tanya apa dek?"
"Dari mana Kang Ujang tahu kalau Kakek Badrun memberi mustika berbentuk kalung ke saya?"
Kang Ujang diam. Lalu berkata, "Lebih baik saya lanjutkan cerita saya yang sempat terpotong kemarin. Karena semuanya saling berkaitan." jawab Kang Ujang.
"Boleh kang." sahutku.
"Jadi waktu itu..."
-------
Sudah seminggu Nyai Asih hanya duduk termenung di kursi goyang kesayangannya. Nafsu makannya kembali hilang, begitu pun semangat hidupnya, seolah luntur. Nyai Asih mengalami keguguran di kehamilan pertamanya. Hari ke hari di isi dengan diam dan menangisi jabang bayinya yang telah tiada. Nyai tak menyangka semua ini terjadi. Nyai bingung, apa yang harus ia katakan kepada suaminya tentang bayi mereka.
Bi Tati, ibu, dan juga ayah selalu mengkhawatirkan tentang kesehatan nyai. Setelah keguguran, tubuh nyai menjadi lemah dan kurus, wajahnya pucat seputih kapas, aura kecantikannya memudar.
__ADS_1
Rupanya, penyebab utama kandungan nyai keguguran adalah karena jamu penambah nafsu makan yang nyai minum mengandung tumbuhan herbal yang tak baik untuk ibu hamil. Di tambah lagi, seringnya mengkonsumsi kopi setelah makan. Mantri tak tahu kalau jamu yang di pesan itu untuk ibu hamil, jika mantri tahu bahwa jamu yang di buatnya untuk ibu hamil maka ia tak akan mencampurkan beberapa tumbuhan herbal yang pantang di konsumsi ibu hamil. Itulah sanggahan dari mantri yang beberapa hari lalu di protes oleh Bi Tati.
Beberapa hari lagi, Pak Thamrin akan pulang. Pak Thamrin sudah mengirim surat bahwa tugasnya sebentar lagi selesai, dan akan segera pulang. Nyai tak kuasa menahan kesedihannya, ia bingung harus mengatakan apa. Bi Tati, ibu, dan ayah pun khawatir akan kena marah oleh juragannya. Terlebih lagi Bi Tati, ia lah yang pertama kali mengusulkan untuk meminta jamu penambah nafsu makan pada mantri kepercayaannya.
***
Hari yang di tunggu pun tiba. Hari ini Pak Thamrin akan pulang kerumah. Ayah sudah jalan dari pagi ke kantor Pak Thamrin untuk menjemputnya. Suasana di rumah menjadi tegang, murung, dan masam. Semua jantung berdebar takut. Takut akan murka Pak Thamrin saat tahu kalau bayi yang di kandung Nyai Asih telah tiada.
Bi Tati dan ibu menunggu kedatangan juragan mereka dengan was was, Nyai Asih hanya bisa pasrah. Ia duduk di kursi goyang hanya diam memandang keluar rumah, tatapannya kosong.
Siang hari, Pak Thamrin tiba di rumah. Ayah mengambil segala macam bungkusan yang di beli oleh Pak Thamrin dari luar kota di dalam bagasi mobil. Pak Thamrin langsung melesat masuk ke dalam rumah dengan wajah gembira. Ia sangat rindu dengan istrinya, ia rindu ingin mengelus perut istrinya.
"Ada apa ini? Mengapa semua tak menampakkan wajah senang saat aku kembali." ucap Pak Thamrin.
Bi Tati dan ibu hanya berdiri mematung di belakang kursi goyang nyai.
"Nyai, ada apa nyai? Apa kau tak rindu denganku nyai?" tanya Pak Thamrin. Ia bersimpuh memeluk perut nyai.
Nyai Asih tiba-tiba menangis.
"Ada apa ini? Apa yang kalian sembunyikan dariku?" Pak Thamrin mulai kesal. Nada bicaranya meninggi.
Bi Tati dan ibu menundukkan wajah, ketakutan.
"Kanda," nyai memanggil Pak Thamrin dengan suara lirih. "Maafkan aku kanda." ucap Nyai Asih.
"Maaf apa nyai? Maaf soal apa?" Pak Thamrin bertanya.
"Ma-maafkan aku kanda." nyai berucap sambil terisak. "Maafkan aku karena tak bisa menjaga bayi kita." lanjut nyai, kemudian tangisnya pecah.
"Apa maksudmu nyai?" tanya Pak Thamrin.
Nyai Asih hanya menangis, ia tak menjawab pertanyaan Pak Thamrin.
"Tati! Ada apa ini?" Bi Tati terkaget. "Cepat katakan!" Pak Thamrin membentak.
"Nya-nyai, ke-keguguran juragan." ucap Bi Tati dengan gagap.
Wajah Pak Thamrin memerah. Ia menendang kursi yang ada di sampingnya hingga kursi terpental. Pak Thamrin kalap, ia pecahkan semua perabotan di ruang tamu. Nyai Asih hanya bisa menangis, Bi Tati diam menunduk, ibu pun sama.
"Kenapa nyai bisa keguguran? Jawab Tati! Jawab saya!" bentak Pak Thamrin.
Bi Tati pun menceritakan seluruh kebiasaan nyai selama juragan pergi bertugas ke luar kota. Ia menceritakan soal jamu penambah nafsu makan. Dan menceritakan saat malam nyai mengeluarkan darah dari organ kewanitaannya.
Pak Thamrin marah besar. Ia menendang pintu dengan kuat dan keluar dari rumah. Nyai Asih masih terus menangis. Bi Tati dan ibu menenangkan.
__ADS_1
Suara mesin mobil menderu-deru, Pak Thamrin pergi entah kemana. Hari itu menjadi hari kelabu bagi keluarga Pak Thamrin.