Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 143


__ADS_3

Tapak kakiku terasa menancap di lantai. Aku hanya menatap dengan bibir bergetar dan air mata yang menetes dari ujung mata.


Aaaaaahhhh. Apa ini? Perutku terasa nyeri.


Serrr. Bekas luka di perutku kembali mengeluarkan darah. Segar berwarna merah.


Darah mengalir membasahi baju hingga celanaku. Perutku makin terasa nyeri.


"Hihihihihihihihihihihi." Kuntilanak merah tertawa terkekeh. Sorot matanya tajam menatapku buas.


Angin masih terus saja bertiup masuk ke kamarku. Dingin menusuk ke tulang sumsum. Seketika angin berhenti dan..


Buakkk. Pintu tertutup dengan keras.


Pandanganku berkunang-kunang, lalu gelap seketika.


* * *


"Di. Adi. Bangun Di,"


Kubuka mataku pelan.


"Adi. Lo ngapain tidur di lantai? Adi. Di." Mas Gun menepuk pipiku.


Aku bangun dari rebah. Aaahhh. Perutku masih terasa nyeri. Kuingat kejadian tadi malam. Tubuhku bergidik merinding.


"Di, lo kenapa ini? Kok berdarah?" Mas Gun kembali bertanya.


"Di. Lo kenapa Di?" Mas Gun bertanya lantang.


"Ma-mas, gue ta-takut mas." ucapku dengan nada merintih. Lalu kupeluk Mas Gun erat. Tangisku meledak. Apa yang harus kulakukan?


Mas Gun menepuk-nepuk pundakku dengan pelan, ia menenangkanku. Dan bicara seolah semua akan baik-baik saja. Padahal kutahu ia juga sering mendapat gangguan. Kami melepas pelukan.


"Santai aja. Kalau memang pergi dari sini nggak menyelesaikan masalah. Yasudah, kita hadapi aja. Oke." ujarnya sembari nyengir, dua gigi taringnya terlihat.


"Gimana cara hadapinnya Mas?" tanyaku.


Mas Gun hanya mengangkat bahunya.


"Pasti ada caranya. Nggak mungkin nggak ada. Ingat, kebathilan pasti selalu kalah dengan kebajikan." tuturnya.


"Udah sana mandi, terus kuliah!" suruh Mas Gun.


Aku pun bergegas mandi dan bersiap untuk kuliah.


Sudah beberapa hari ini Mas Gun tidak masuk kuliah. Ia bilang setiap hari badannya terasa lemas. Kusarankan untuk berobat ke klinik kampus, ia menolaknya. Mas Gun bilang, ia hanya kurang enak badan nanti juga sembuh sendiri. Dan sejak tinggal bersamaku di Kos Pak Thamrin ini, sudah tak pernah ada lagi kawan-kawannya yang datang untuk menemuinya.


Kadang aku merasa sedikit bersalah, mengapa Mas Gun kuizinkan untuk tinggal bersamaku disini. Padahal kutahu betul Mas Gun, ia hobi nongkrong dan berkumpul bersama teman-temannya.


"Di," panggil Mas Gun sesaat sebelum aku berangkat kuliah.


"Ya. Kenapa Mas?"


"Nanti kalau pulang kuliah gue titip gado-gado lontong ya. Tiba-tiba pengin makan gado-gado."


"Ooh. Oke Mas. Ada lagi titipannya?" tanyaku.


"Emm, bilang sama penjualnya nggak usah pakai pare. Kalau bisa pare-nya diganti lontong aja. Hehehehe." gumam Mas Gun.


"Oalaah. Memang bisa?"


"Hahahahahaha. Coba aja tanya, kalau bisa kan lumayan dapat tambahan lontong."


Aku berangkat kuliah. Kutengok kamar Tika, masih tertutup. Sudah berangkat kuliah mungkin, atau masih santai di dalam kamar. Entahlah.


Triingg. Pesan masuk.


Kulihat ponselku. Tika?


- Nanti siang kita harus ketemu. Ada yang mau gue bicarain. Penting. -


Tika mengajak bertemu, apa yang mau ia bicarakan? Ah sial, aku jadi penasaran. Bukan. Bukan penasaran, aku jadi degdegan. Apa mungkin ia ingin mengutarakan perasaannya lagi? Hehehehe. Sial, kok aku jadi tak tenang seperti ini. Aku berangkat kampus dengan senyum lebar terukir di bibirku.


"Kenapa muka lo cerah gini Di?" tanya Yuda begitu sampai di kelas.


"Kenapa lo? Jadian sama Kemala?"


"Hehehehe. What Kemala? I'm sorry who is that?" sahutku.


Bugg. Yuda meninju lenganku.


"Gaya amat ni bocah. Dulu galau gara-gara Kemala, sekarang berlagak. Eh, lagi kenapa sih lo?"


"I'm okay. Hehehehe. Nggak ada apa-apa Da. Emang kenapa kalau muka gue cerah?" balasku.


"Nggak biasa-biasanya aja."


Dosen datang, dan perkuliahan pun dimulai.


Perkuliahan pagi ini selesai jam sepuluh, dan akan kembali dimulai sekitar pukul dua. Aku dan Yuda menuju kantin fakultas. Sebenarnya ingin ngopi di kedai Satu Arah, tapi sepertinya agak malas untuk jalan kesana.


"Eh Di, semalam gue mimpi aneh banget." Yuda membuka obrolan begitu keluar kelas.


"Mimpi apa?"


Kami jalan pelan di selasar lantai lima.


"Gue mimpi Mas Gun. Mas Gun Di."


"Mimpi Mas Gun doang? Terus anehnya dimana Yudaaaa?" tanyaku.


"Ya aneh aja. Gue kan nggak akrab banget sama Mas Gun, kok bisa-bisanya gue mimpiin dia." jawaban aneh Yuda terlontar.


"Justru lo yang aneh Da. Memang mimpi bisa request. Dasar aneh lo!"

__ADS_1


"Ini belum selesai ceritanya. Boleh gue lanjutin nggak nih?"


Aku mengangguk. Kami berdiri di depan lift.


"Yang bikin anehnya, gue lihat ada penampakan seram Di." lanjut Yuda.


"Apa? Penampakan seram? Kayak gimana penampakannya?" tanyaku.


Ting. Lift berbunyi. Pintu terbuka.


Kami masuk berduyun-duyun ke lift bersama sekumpulan mahasiswa lainnya. Yuda tak melanjutkan cerita mimpinya.


Ting. Pintu lift terbuka, di lantai satu.


Kami keluar lift dan melanjutkan jalan menuju kantin fakultas.


"Lanjut dong," pintaku.


"Penampakan seram kayak setan gitu Di. Hiiiyyy." ucap Yuda.


Yuda mendekatkan wajahnya ke telingaku, dan berbisik.


"Mirip seperti kuntilanak merah yang kita lihat di alam lain itu."


Deg deg deg deg deg deg.


Jantungku berdegup kencang. Hanya mendengar namanya saja membuat tubuhku tak keruan. Bulu kudukku meremang. Kupegang luka di perut yang semalam berdarah karena melihat kuntilanak merah. Masih terasa perih dan nyeri.


"Serius lo Da? Lo nggak ngarang kan?" tanyaku memastikan.


"Buat apa gue ngarang cerita mimpi ketemu Mas Gun dan lihat setan. Mending gue ngarang cerita kencan sama Pevita Pearce." balas Yuda.


Aku diam.


Suasana kantin fakultas ramai. Hampir semua bangku terisi. Suara dentingan sendok membentur piring sahut menyahut terdengar. Riuh ocehan dan gelak tawa memenuhi ruangan besar. Aku dan Yuda menuju etalase penjual minuman.


"Kopi susu satu mas. Lo mau apa Di?" tanya Yuda.


"Es jeruk." jawabku singkat.


Pikiranku tak lepas dari cerita mimpi Yuda soal kuntilanak merah dan Mas Gun. Apa hubungannya?


Yuda mengambil dua bungkus roti coklat. Memasukkan dua gorengan tempe dan tahu ke plastik kresek bening. Minuman pesanan kami jadi. Setelah membayar, kami mencari tempat duduk.


"Terus gimana lagi kelanjutannya Da?" tanyaku.


Kami duduk di lantai teras depan kantin, karena kursi sudah terisi penuh.


"Awalnya gue lihat kuntilanak merah di depan gue. Ia berdiri membelakangi gue. Lalu, tiba-tiba kuntilanak merah menoleh ke belakang dan melihat gue. Gue gemeteran Di. Mau nangis rasanya. Dan gue kaget begitu lihat Mas Gun berdiri di depan kuntilanak merah itu, bahunya dipegang sama kuntilanak itu Di. Hiiiyyy. Amit-amit deh, nggak mau lagi gue mimpi kayak gitu lagi." cerita Yuda.


Pikiranku soal Tika buyar. Dalam benakku hanya cerita dari mimpi Yuda. Aku takut ini menjadi pertanda, kalau Mas Gun sedang diincar.


Kuambil ponselku. Segera kuhubungi Mas Gun.


"Gimana badan lo Mas? Udah enakan?"


"Masih lemas aja nih. Lo kelar kuliah jam berapa?"


"Jam tigaan Mas. Kelamaan ya gado-gadonya kalau lo nunggu gue balik kuliah?" tanyaku lagi.


"Iya, lama banget kalau jam segitu."


"Pesan makan lewat ojek online aja mas. Takutnya lo kelamaan nunggu gue, keburu kelaperan lagi."


"Oke deh."


Mas Gun menutup pembicaraan.


"Di, Mas Gun memang sakit apa?" tanya Yuda.


Aku menghela nafas.


"Gue nggak tahu Da. Awalnya serem banget. Mas Gun tiba-tiba nggak ada di kamar tengah malam, persis kayak kasus Bagas." ujarku.


"Hah? Serius lo? Terus gimana?" tanya Yuda terkejut.


Kuceritakan kejadian malam saat Mas Gun hilang. Kuperiksa rumah kosong depan gerbang dan nyatanya Mas Gun tak ada disana. Sampai kuceritakan Mas Gun ketemu di atas pohon.


"Gila sih, lo mending buru-buru pindah dari sana Di. Udah nggak beres itu kost. Banyak kejadian aneh yang lo alami." saran Yuda, ia sembari mengunyah roti coklat.


Lo nggak tahu yang sebenarnya Yuda. Dalam hati kecilku, sudah lama rasanya aku ingin minggat dari sana. Cuma takdir berkata lain. Aku sudah ditandai, pergi dari sana nggak menyelesaikan masalah. Aku tetap akan diincar.


"Eh makan tuh roti! Gue sengaja beli dua." suruh Yuda.


Aku membuka mungkus roti, kemudian melahapnya. Pikiranku makin ruwet rasanya. Aku memikirkan keselamatan Mas Gun.


Tringg.


Kulihat ponselku. Pesan dari Tika.


- Lo lagi nggak ada kelas kan? -


Hah, darimana Tika tahu?


Tringg.


- Temui gue di belakang fakultas ekonomi. Sekarang! -


Apa-apaan Tika? Kenapa ia mendesakku untuk segera menemuinya sekarang. Ada hal penting apa sih?


Tringg. Tika mengirim pesan lagi?


- S E K A R A N G ! ! ! ! -


Kubalas.

__ADS_1


- O K E. -


"Da, gue tinggl sebentar ya."


"Eh, mau kemana lo?" tanya Yuda.


"Tika ngajak ketemuan di fakultas ekonomi." jawabku.


"Ciyeeeee. Oke deh. Semangat Diii. Kalau jadian traktir yaaa," ledek Yuda.


Aku berlalu meninggalkan Yuda. Melangkah dengan cepat menuju Fakultas Ekonomi. Sebenarnya apa yang ingin dibicarakan Tika? Aku tak mau mikir macam-macam.


Belakang Fakultas Ekonomi adaalah tanah lapang tak terlalu besar. Biasanya disana tempat pembuangan puing-puing bangunan. Sangat jarang ada orang yang kesana. Petugas kebersihan pun kadang enggan, apalagi mahasiswa. Karena letaknya paling pojok dan tersembunyi, juga jauh dari keramaian. Lalu kenapa Tika mengajakku bertemu disana?


Tringg. Pesan masuk? Pasti dari Tika.


Benar saja.


- Lama banget sih. -


Ada apa dengan Tika? Kenapa aku disuruh buru-buru sekali sih.


Kubalas.


- Iya bawel. Ini otw. -


Aku tiba di belakang Fakultas Ekonomi. Tika sudah menungguku, ia duduk di bawah pohon beralaskan bata. Raut wajahnya serius. Aku menghampirinya.


"Kenapa ketemuan disini Tik? Nggak mau ke tempat lain?" tanyaku.


Tika bangun dari duduknya.


"Nggak ada waktu." jawabnya singkat.


"Mau bicara hal penting apa sih Tik? Sampai kita ketemuan disini." tanyaku.


"Apa semalam lo didatangi sama kuntilanak merah itu?" tanya Tika.


Aku terkejut mendengar pertanyaan Tika.


"Jawab Adi. Didatangi atau enggak?" paksa Tika.


"I-iya. Gue nggak tahu semalam itu mimpi atau bukan." jawabku.


Tika menghela nafas panjang.


"Sepertinya sebentar lagi Di," ucap Tika.


"Sebentar lagi? Apa maksudnya Tik?" tanyaku heran.


Tika kembali duduk di bata, ia memandang jauh entah kemana dan entah apa yang ia tatap.


"Sebentar lagi mereka akan menyerang kita." jawab Tika.


Mendadak jantungku berdegup cepat. Aku jongkok di depan Tika.


"Tika. Lo serius?" tanyaku.


Tika diam. Aku menelan ludah.


"Gue yakin sebentar lagi mereka akan menyerang kita. Sudah lama kuntilanak itu nggak dapat tumbal. Mungkin ini saat yang tepat untuk menyerang kita." jawab Tika seraya menunduk lesu.


"Te-terus apa yang harus kita lakuin Tik? Kakek Badrun saja sudah lama nggak menampakkan wujudnya." tanyaku.


"Persiapkan diri lo."


Apa-apaan Tika? Persiapkan diri bagaimana? Apa yang harus kusiapkan? Mustika Dawan saja tak tahu bagaimana cara memberi makan.


Kami terdiam.


Tiba-tiba Tika menggulung lengan kemejanya, ia menunjukkan bekas luka di lengannya. Ya, bekas luka yang sama persis denganku. Tika juga sudah ditandai. Kami sudah ditandai oleh kuntilanak merah itu.


"Semalam kuntilanak merah itu juga mendatangi gue. Luka ini kembali berdarah dan gue pingsan. Yuli cuma bisa menangis melihat bekas darah di lengan gue tadi pagi." jelas Tika.


Setelah itu kami kembali dalam diam. Yang dialami Tika tadi malam, sama juga denganku.


"Eh Di, apa Kakek Badrun pernah menyuruh sesuatu ke lo?" tanya Tika mengagetkanku.


"Suruh sesuatu apa ya? Rasa-rasanya banyak deh." jawabku sembari berpikir.


"Coba ingat-ingat lagi Di! Barangkali perintah Kakek Badrun itu cara memberi makan mustika Dawana." ujar Tika.


Aku mencoba mengingat-ingat perintah Kakek Badrun.


"Paling gue disuruh tahajud, terus doa minta perlindungan sama Allah. Itu aja sih yang gue ingat." jawabku.


Tika berpikir. Kemudian ia menjentikkan jarinya.


"Nah, mungkin itu cara memberi makan mustika Dawana. Dengan shalat tahajud. Gimana menurut lo?"


"Itu kan mungkin Tik. Belum tentu benar." balasku.


"Udah, mulai nanti malam lo tahajud. Gue juga akan melaksanakannya. Ayo kita bareng-bareng. Siapa tahu memang itu cara memberi makan mustika Dawana." usul Tika.


Aku mengiyakan.


"Hei! Ngapain kalian disitu?" teriak seorang petugas mengagetkan kami.


"Transaksi narkoba ya?" tanyanya lagi.


"Bu-bukan Pak. Kita cuma ngobrol aja." jawabku.


"Banyak tempat enak buat ngobrol di kampus, kenapa pilih ngobrol disini? Udah sana pergi, jangan ngobrol disini." suruh petugas.


Kami pun meninggalkan area belakang Fakultas Ekonomi.

__ADS_1


__ADS_2