
Pukul 23:15.
Aku terbangun karena perutku terasa sangat lapar. Aku mencari-cari makanan yang sekiranya masih kusimpan, nihil. Tak ada sama sekali makanan, bahkan sebungkus mie instant pun tak ada. Yang hanya ada beberapa bungkus kopi. Sial, keadaan ini sungguh sangat mengganggu dan tak membuat nyaman.
Mas Gun sudah tidur sejak tadi, ia bertelanjang dada. Tubuhnya yang besar membuat kelenjar keringat di tubuhnya selalu saja mengeluarkan keringat yang berlebih. Tak heran jika ia tidur di atas lantai tanpa alas dan menghidupkan kipas angin dengan volume paling besar.
Kubuat secangkir kopi, aku duduk di ruang depan kamar. Mataku tertuju pada layar ponsel. Ah, tak ada yang menarik.
Tring. Sebuah pesan masuk? Tika? Ada apa malam-malam begini Tika mengirim pesan.
Kubaca.
- Di, udah tidur belum? -
Kubalas.
- Belum nih Tik. Gue lagi kelaperan ;D -
Tring. Tika membalas lagi.
- Sini keluar! Gue ada mie instant nih, mau? -
Kubalas lagi pesan dari Tika.
- Mau mau mau mauuuu :') -
Alhamdulillah, rejeki memang nggak akan pergi kemana-mana. Aku pun keluar kamar, tak lama Tika pun keluar, tangannya menggenggam dua bungkus mie instant.
"Kelaperan kenapa lo?" tanya Tika. "Nih!" Tika menyerahkan dua bungkus mie instant padaku.
"Tadi sore nggak sempet makan Tik. Hehehehehe. Eh makasih banyak ya." balasku.
Tika tak langsung masuk ke dalam kamar, ia duduk di teras depan kamarnya. Wajahnya menyiratkan ada sesuatu yang ia sembunyikan dan ia tahan untuk tak menceritakannya.
"Lo nggak bisa tidur?" tanyaku.
Tika menggeleng.
"Sebentar ya, gue seduh mie dulu. Nanti gue temenin ngobrol." ucapku.
Aku ke dalam kamar, kubuka sebungkus mie instant. Kuseduh mie instant dengan air panas. Lalu kembali keluar dan duduk di teras depan kamarku.
__ADS_1
"Kenapa nggak bisa tidur Tik? Ada yang lagi di pikirin?" tanyaku.
"Haaahhh." Tika menghela nafas panjang. "Nggak tahu nih, gue aja bingung sedang mikirin apa." jawab Tika.
"Lho? Kok gitu, nggak mungkin nggak ada yang di pikirin Tik, pasti dalam hati kecil ada jawabannya dan cuma lo yang tahu." sahutku.
Tika menatapku. Ia tersenyum.
"Kalau ternyata gue mikirin lo gimana Di?" tanya Tika.
Aku terhenyak.
"Mikirin gue? Hahahahahahaha." aku terbahak.
"Kenapa ketawa? Emang lucu?" tanya Tika.
Aku menyeka air mata di pipiku.
"Nggak lucu sih, tapi gue heran aja. Apa yang bikin lo sampai mikirin gue? Hehehehehe." ungkapku.
Aku menuang mie instant yang telah matang ke dalam mangkuk. Membuka bumbu dan menuang minyaknya. Kuaduk mie instant perlahan. Asapnya mengepul tipis, aromanya nikmat menggugah selera.
"Makanya gue bingung, apa yang bikin gue sampai mikirin lo. Sejak saat itu Di.." ucap Tika.
"Sejak kita bareng ke alam itu untuk nyelamatin Yuda, sejak lo beberapa kali selamatin nyawa gue. Sejak lo bukan Adi yang lemah seperti dulu." jawab Tika.
Aku diam. Tika pun diam.
Suara jangkrik terdengar di antara kebisuanku dan Tika. Angin malam yang menggoyang dahan pepohonan mengantarkan kami ke dalam diam tak berujung. Entah apa yang harus kukatakan, entah dengan cara apa aku menanggapinya.
"Terus?" ucapku.
Tika menatap dalam ke mataku.
"Maaf Di, gue nggak bisa sembunyiin perasaan gue." ucap Tika.
"Maksudnya?" aku bertanya kembali. Mie instant masih tampak panas. Aku belum menyuapnya barang sekali.
"Gue suka sama lo Di." ucap Tika.
Deg deg deg deg deg. Jantungku berdegup cepat. Tak pernah seumur hidupku seorang perempuan mengungkapkan perasaannya padaku. Aku membeku. Bibirku rapat. Lidahku kelu. Aku kembali dalam diam. Tika tak meneruskan kata-katanya.
__ADS_1
"Apa maksudnya Tik?" kuberanikan diri untuk bertanya pada Tika. Jantungku masih berdebar.
Tika tak menjawab, wajahnya mendongak ke atas, melihat langit hitam yang di hiasi bintang bertebaran. Bulan terlihat hanya setengah, sinarnya sayup menampakkan keindahan.
"Gue nggak berharap jawaban dari lo Di. Gue hanya mengungkapkan perasaan gue, perasaan yang akhir-akhir ini terasa mengganjal dan bikin gue nggak nyaman. Gue nggak berharap kita jadian atau pacaran. Karena gue tahu, lo lebih suka Kemala. Iya kan?" ujar Tika.
Aku tak langsung menanggapi. Memang, dalam hati kecilku aku masih berharap dengan Kemala. Tapi lagi-lagi aku sadar, aku bukan siapa-siapa di mata Kemala.
"Udah, lupain aja Di. Anggap gue nggak pernah ngomong seperti barusan. Gue masuk duluan ya. Makasih udah temenin gue ngobrol." ucap Tika seraya masuk ke dalam kamar dan mengunci pintu.
Aku masih diam tak berkata. Mendadak laparku hilang. ***** makanku seketika sirna. Aku bingung, apa yang harus kukatakan pada Tika. Aku harus jawab apa? Mie instant sudah dingin, penampakannya tak lagi menggugah selera. Aroma sedapnya sudah hilang.
Aku pun masuk ke dalam kamar, membawa semangkok mie instant yang tak jadi kumakan. Aku duduk di ruang depan. Kopi yang kubuat tadi pun sudah dingin, sedingin sikapku pada Tika barusan.
Kurebahkan badanku di atas kasur. Kupaksa mataku terpejam dan berharap kantuk segera menyerangku.
* * *
Alarm subuh di ponselku berdering. Aku bangun dan melaksanakan shalat subuh. Eh, seperti ada yang hilang rasanya. Tapi apa ya? Selesai shalat subuh dan zikir sebentar, aku masih duduk di atas sajadah. Memikirkan sesuatu yang hilang itu. Apa ya? Apa yang terasa hilang?
"Pinjem sajadah Di." Mas Gun hendak melaksanakan shalat subuh. Kuberi ia sajadah yang sedang kududuki.
Pikiranku terasa gamang, entah apa yang kurasakan. Bukan, bukan karena omongan Tika tadi malam. Ini berbeda, tapi aku belum menemukan jawabannya, gerangan apa yang hilang itu.
Astaga, benar saja. Malam ini tak ada gangguan jam tiga malam. Pantas aku merasa ada yang hilang. Biasanya, tepat jam tiga malam selalu saja ada gangguan yang membuatku terbangun dari tidur. Tak ada suara tangis bayi, tak ada mimpi aneh, atau pun penampakan demit di kamarku. Malam ini terasa berbeda.
"Itu mie siapa Di?" tanya Mas Gun begitu salam.
"Zikir dulu mas, kelar salam malah langsung tanya mie." sahutku. "Itu mie gue, semalam gue nggak jadi makan karena keburu ngantuk." lanjutku.
"Hooooaaaaammm! Lanjut tidur lagi aaahh. Di, nanti bangunin gue jam tujuh ya." ucap Mas Gun seraya merebahkan tubuh besarnya.
Aku tak menjawab permintaan Mas Gun. Aku hanya duduk di ruang depan, kunikmati udara pagi yang sejuk karena pintu kamar kubuka dengan lebar.
Ceklek klek. Kudengar suara kunci pintu di putar. Apa itu dari kamar Tika?
Aku lihat sosok Tika berjalan keluar, ke arah garasi. Ia membawa tas tak terlalu besar. Rambutnya di ikat kuncir kuda, ia mengenakan jaket berwarna krem dan celana jeans. Wajahnya tertunduk dengan langkah kaki cepat.
"Tika! Tik, mau kemana Tik? Tikaaa!" panggilku dengan suara keras dan lantang.
Namun Tika tak menoleh sedikit pun, jangankan menoleh, menghentikan langkahnya saja tidak. Aku berdiri, melihat sosoknya hilang setelah garasi. Hendak kemana ia pagi buta seperti ini? Apa aku berbuat salah padanya? Apa karena tak ada tanggapan dariku tadi malam? Ada ganjalan di hatiku, ada rasa kehilangan melihat Tika pergi tanpa pamit padaku. Walaupun aku belum tahu kemana ia pergi, tapi rasanya aku tak ingin jauh dari Tika.
__ADS_1
Langit pagi masih gelap, suara burung bahkan belum terdengar. Kabut masih terlihat dengan lebatnya, mengaburkan pandangan. Udara pagi ini cukup dingin, mungkin sudah masuk ke musim penghujan, angin yang berhembus pun terasa lebih dingin dari biasanya.