Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 77


__ADS_3

Arya menarik kuat tangan Ela, di bantu Dini. Kang Ujang berlari kembali ke dalam kamar, membantu Arya melepaskan cekikan Ela dari leherku. Tenaganya kuat, aku terbatuk dan nafasku sesak, dadaku panas. Arya mengambil gelas berisi air putih yang di berikan oleh Nek Iyah, meneguk sedikit dan menyemburkan ke wajah Ela. Ela mengerang, tangannya terlepas dari leherku. Aku roboh terlentang sambil terbatuk, tubuhku seketika lemas.


Arya membaca ayat-ayat quran, menempelkan tangannya di dahi Ela. Ela berteriak, sekali tertawa cekikikan. Sungguh menyeramkan.


"Akuuhh bunuh.. kalianhh.. semuaahhh. Hihihihihihihi." ucapnya keras di iringi tawa melengking. Lalu Ela pun pingsan kembali.


Aku masih terlentang, tak dapat berbuat apa-apa. Kang Ujang menghampiriku, memberiku segelas air.


"Dek, minum dek." Kang Ujang membantuku minum, ia membangunkan badanku.


"Uhukk uhukk." aku terbatuk.


"Pelan-pelan dek." ucap Kang Ujang.


Aku duduk bersandar pada dinding. Ela tertidur pulas di selimuti, kondisinya tak akan kerasukan lagi, ujar Arya. Dini duduk tepat di sebelahnya.


"Bang Adi, Kang Ujang, nanti kalau Ela kerasukan lagi gimana? Dini takut." kata Dini.


"Insya Allah enggak, saya sudah pagari." sambut Arya. "Tapi memang tergantung dari si mbaknya, kalau dia kuat pagarnya akan berfungsi lama, tapi kalau mbaknya lemah kemungkinan bakal ada yang masuk lagi." sambung Arya.


"Tuh kan, Dini takut kang." Dini berujar, di sudut matanya sudah menggenang air mata, tinggal menunggu tumpah.


Aku lemas, tenagaku seperti habis tersedot. Aku tak dapat berpikir jernih.


"Atau Kang Ujang sama Bang Adi tidur di ruang depan aja kayak kemarin. Bang Adi mau ya!" Dini meminta dengan wajah penuh pengharapan.


Aku tak menimpali ucapan Dini. Akhirnya di putuskan, malam ini Kang Ujang menginap di rumahku sampai adzan subuh berkumandang. Kami berjaga dari kamarku, jika memang Ela kembali kerasukan aku dan Kang Ujang bisa langsung lari menuju kamar Dini untuk membantunya. Sementara, Arya pamit undur diri.


Aku menggelar selimut untuk Kang Ujang.


"Sudah jangan repot-repot dek, saya tidur di lantai juga nggak apa-apa." ujarnya dari teras depan kost. Kubuatkan secangkir kopi untuk Kang Ujang sebagai teman merokok.


"Repot apa sih kang. Nggak repot kok, santai aja." sahutku. "Kang, mau pakai sarung nggak buat tidur?" aku menawarkan.


"Ah nggak usah atuh dek. Nanti subuh kan saya harus pulang." kata Kang Ujang.


"Ya tapi subuh kan masih lama kang. Ini aja baru jam dua belas." sahutku. "Ini pakai aja, buat apa kek!" aku menyerahkan selembar kain sarung ke Kang Ujang.


Aku duduk di hadapannya.


"Gimana, sudah nggak lemas kan?" tanya Kang Ujang.


"Alhamdulillah enggak kang. Eh kang, si Arya itu siapa kang?" tanyaku.


"Arya, dia warga sekitar sini juga sebetulnya. Cuma memang jarang kelihatan, karena kerja di kota. Kebetulan dia lagi libur dan hadir juga tadi di rumah Pak Rahmat. Memang kenapa dek?"


"Arya itu orang pintar ya?" tanyaku lagi.


"Ya pintar atuh dek, kalau nggak pintar mah mana mungkin dapat kerja sebagai asisten bosnya. Hehehehe." timpal Kang Ujang.


"Hahahahaha. Bukan pintar itu maksud saya. Ya Kang Ujang pasti pahamlah."


Kang Ujang senyum, menyedot rokoknya dalam.


"Iya dek, dia memang bisa. Dia memang sengaja berguru dan mendalami hal-hal semacam itulah. Kalau kata orang-orang mah nuntut ilmu gitu." jelas Kang Ujang.


"Buat apa ya? Kadang saya heran sama orang nuntut ilmu-ilmu macam itu, apa masih ada gunanya di zaman sekarang?"


"Ya pasti ada dek, contohnya kejadian kerasukan si Ela. Kalau orang biasa seperti saya dan Dek Adi di hadapkan dengan kejadian tadi, pasti bingung mau ngelakuin apa. Iya kan?" Kang Ujang memberi perumpamaan.


"Iya juga sih."


"Tapi mungkin kegunaannya nggak cuma itu saja sih, mungkin ada hal lain yang nggak kita tahu. Dan cuma mereka yang mengerti." sambung Kang Ujang.


"Em, dek."

__ADS_1


"Ya. Kenapa kang?" sahutku.


"Dek Adi masih sering dengar suara tangis bayi?" tanya Kang Ujang pelan.


Aku kaget Kang Ujang bertanya soal tangis bayi. Dulu saat kutanya ia berkelit.


"Memang kenapa kang?" tanyaku.


"Ah nggak apa-apa sih, sekedar tanya aja." jawab Kang Ujang.


"Apa ada hubungannya dengan seluruh kejadian yang saya alami di sini? Atau ada hubungannya dengan Nek Iyah?" aku bertanya kembali.


Kang Ujang diam tak menjawab.


"Kenapa kang? Kang Ujang takut kalau cerita ke saya akan bisa mengancam keselamatan Kang Ujang?"


Kang Ujang tetap diam.


"Rumah ini menyimpan banyak kisah dek, sejak dulu. Semua berawal dari Nyai Asih.."


Kang Ujang pun melanjutkan ceritanya yang sempat tertunda.


 


Hari itu kami semua berbahagia, ketika Nyai Asih dapat kembali menjalani hidup normal saat menjalani masa awal kehamilannya. Setelah meminum jamu yang di bawa Bi Tati, kondisi Nyai Asih nampak segar. Senyumnya kembali merekah, dan kecantikan parasnya semakin jelas terlihat.


Nyai Asih kembali berkegiatan di halaman, merawat tenaman kesayangannya, memberi makan kucing peliharaan, bahkan kadang ikut Bi Tati ke pasar sekedar berbelanja sayur mayur.


Ibu dan ayah sempat melarang Nyai Asih untuk berkegiatan, mereka ingin Nyai Asih istirahat cukup dan makan makanan sehat yang di masak oleh Bi Tati, tapi Nyai Asih menolak.


"Saya sehat kok Mang. Mang Engkus tenang saja." ujarnya di sertai senyum manis.


Bahkan Nyai Asih meminta Bi Tati untuk pergi kembali ke mantri guna membeli jamu penambah nafsu makan itu, karena setelah meminum jamu itu Nyai Asih menjadi lebih bugar.


"Teh Tati, besok beli jamu ini lagi ya ke mantri. Beli yang banyak sekalian, untuk persediaan selama sebulan. Saya merasa sehat kalau meminum jamu itu." ucap Nyai Asih ke Bi Tati.


"Mang Engkus! Mang!" Nyai memanggil ayah.


Ayah bergegas mendatangi Nyai Asih yang sedang duduk di ruang tamu. Nyai duduk di kursi goyang kesayangannya.


"Saya nyai."


"Mang, saya minta tolong Mang Engkus ke pasar."


"Baik nyai. Memang nyai mau apa?" tanya ayah.


"Tolong belikan saya buah-buahan mang. Saya pingin yang segar-segar."


"Buah apa nyai?" ayah bertanya.


Nyai berpikir sejenak.


"Semangka sepertinya enak." ucap Nyai, lalu ia berpikir kembali. "Kelapa muda sama anggur boleh mang." lanjutnya.


"Itu saja nyai?" tanya ayah.


"Iya, itu saja. Terima kasih mang." ucap Nyai Asih. Ayah pun berangkat ke pasar membeli buah pesanan nyai.


Sekitar pukul 9, Bi Tati pulang. Ia membawa sekantung plastik cukup besar berisi jamu penambah nafsu makan untuk Nyai Asih.


"Ini jamunya nyai. Kata mantri, ini cukup untuk persediaan selama satu bulan. Di minum sebelum makan." Bi Tati memamerkan kantung kresek hitam.


Sesaat sebelum makan siang, Bi Tati membuatkan jamu untuk di minum nyai. Lauk pauk sudah di hidangkan di atas meja makan. Buah-buahan yang di beli ayah pun sudah di sediakan di meja makan. Nyai menenggak habis jamu buatan mantri kepercayaan Bi Tati. Terbukti memang, saat makan nyai begitu lahap. Ayah, ibu, dan Bi Tati yang menyaksikan nyai makan dengan lahap sangat senang.


Sore hari, nyai bersamaku memberi makan kucing-kucing peliharaannya. Ia sempat bermain bersama kucing kesayangannya tak lama. Sampai ia mengeluh badannya terasa lemas dan tulang sendinya terasa linu.

__ADS_1


"Teh Tati!" nyai memanggil Bi Tati.


"Saya nyai. Nyai perlu apa?" tanya Bi Tati.


"Badan saya lemas teh. Tolong buatkan saya kopi, saya ingin minum kopi." pinta nyai.


"Maaf nyai, bukannya kopi tidak baik untuk wanita yang sedang mengandung?" ucap Bi Tati.


"Tidak apa-apa, kan saya tidak sering minum kopi. Tolong ya teh."


Bi Tati tak bisa menolak permintaan nyai, lantaran ia sangat sayang kepada majikannya itu.


Hari yang di tunggu pun tiba, hari ini genap Pak Thamrin sebulan bertugas dan ia akan pulang ke rumah hari ini. Sedari pagi ayah, ibu, dan Bi Tati sibuk membersihkan rumah. Ayah mencuci mobil kesayangan juragannya, Bi Tati memasak makanan kesukaan Pak Thamrin. Ibu menganti sprei di kasur Pak Thamrin, rumah nampak berbeda. Semua menunggu kedatangan juragan mereka yang baik hati. Nyai Asih gelisah sejak pagi, beberapa kali mondar-mandir melihat ke luar rumah. Menunggu suami tercinta pulang. Nyai ingin, begitu suaminya sampai rumah, sosok nyailah yang pertama di lihat. Bukan orang lain.


"Mang Engkus, memang mau jam berapa jemput juragan?" tanya Nyai Asih.


"Sebentar saya mandi dulu nyai. Badan saya bau, habis cuci mobil juragan." jawab ayah.


"Sudah nggak usah mandi, saya takut juragan sudah menunggu Mang Engkus di kantornya. Ganti baju saja mang." balas nyai.


"Oh begitu, baik nyai. Sebentar saya ganti baju dulu." ayah mengiyakan, ayah tahu betul perasaan rindu nyai yang begitu besar pada juragan.


Ayah bergegas memacu mobil menuju kantor Pak Thamrin, saat itu pukul 10 pagi. Belum terlalu siang, tapi ayah sangat khawatir datang terlambat menjemput juragannya. Tadi sebelum berangkat, nyai berpesan kepada ayah agar hati-hati dalam menyetir, tak perlu terburu-buru apa lagi sampai mengebut. Nyai akan marah jika sampai ayah mengebut. Karena keselamatan sangat berharga untuk Nyai Asih.


Ayah telah sampai di area parkir kantor Pak Thamrin. Ayah menunggu di dalam mobil sambil terus menatap pintu kantor. Matanya mengawasi tiap pintu itu terbuka, mencermati wajah tiap orang yang keluar dari balik pintu. Tak bisa di pungkiri, ayah pun rindu dengan juragannya.


Siang hari, Pak Thamrin belum juga muncul. Ayah masih setia menunggu, lapar di perutnya ia tahan. Ia takut jika pergi makan keluar, Pak Thamrin datang. Biarlah lapar ini di tahan, demi juragan kesayangannya.


Sampai sore menjelang Pak Thamrin belum juga muncul dari balik pintu kantornya. Perut ayah terasa perih. Karyawan di kantor itu pun sudah banyak yang pulang. Ayah cemas, secemas menunggu ibu melahirkanku dulu.


"Permisi pak." seorang pria berseragam mendekati dan menyapa ayah.


"Iya pak."


"Saya lihat, bapak dari pagi di sini, sampai sore pun masih di sini. Kalau boleh tahu, ada kepentingan apa pak?" tanya pria tersebut.


"Begini pak, saya datang untuk menjemput juragan saya. Menurut kabar, beliau hari ini pulang bertugas dari luar kota. Makanya saya menunggu di sini." jelas ayah.


"Kalau boleh tahu, nama juragan bapak siapa?"


"Muhamad Thamrin pak."


"Ooh Mas Thamrin. Saya kenal betul dengan Mas Thamrin. Kalau begitu tunggu sebentar, saya coba tanya ke dalam ya pak." ucap pria tersebut.


Syukurlah ada yang membantu. Cukup lama pria tersebut di dalam gedung. Ayah menunggu lagi-lagi dengan cemas. Pria itu pun keluar dari gedung, kembali menghampiri ayah.


"Pak, rombongan yang bertugas dari luar kota belum pulang. Menurut informasi dari karyawan piket di dalam, Mas Thamrin hanya menitipkan surat ini saja." pria tersebut menyerahkan selembar amplop putih, ayah menerimanya dan mengucapkan terima kasih.


"Jadi, juragan saya memang tidak ada di dalam pak?" tanya ayah.


"Iya pak, tidak ada."


Ayah pun pamit undur diri dan mengucapkan terima kasih kepada pria itu untuk kedua kalinya. Ayah bergegas pulang. Langit hampir gelap, sebentar lagi maghrib. Nyai Asih pasti cemas menunggunya, sedari pagi sampai sore begini ayah belum kembali. Ayah kembali hanya membawa sepucuk surat untuk nyai Asih dari juragannya. Kenapa juragan belum kembali dari tugas?


Sesampainya ayah di rumah, Nyai Asih bersama ibu dan Bi Tati sudah menunggu di teras rumah, mereka duduk berkumpul. Nyai Asih bangun dari duduk ketika melihat mobil kesayangan suami tersayang tiba. Tapi nyai terkejut ketika mendapati hanya ayah seorang yang keluar dari dalam mobil.


"Mang, juragan mana mang?" tanya Nyai dengan cemas. Wajah Bi Tati dan ibu pun ikut terlihat cemas.


Ayah menghampiri nyai, membawa sepucuk surat dalam amplop. Lalu menyerahkan amplop itu ke nyai.


"Apa ini mang?" tanya nyai.


"Maaf nyai, saya dapat kabar dari karyawan piket kalau rombongan yang bertugas di luar kota belum pulang, lalu katanya juragan hanya menitipkan ini saja." jelas ayah.


"Mang Engkus yakin juragan tidak ada di kantornya?" tanya Nyai Asih.

__ADS_1


"Saya tidak berani masuk ke dalam nyai, saya di bantu sama seorang pria yang bekerja di sana, menanyakan juragan. Dan dia menyerahkan amplop ini saja." terang ayah.


Nyai Asih menangis, rindunya pupus. Harapan memeluk suami tercinta musnah, ia hanya memeluk sepucuk surat dari Pak Thamrin. Bi Tati dan ibu menenangkan nyai. Ayah pun tertunduk lesu. Semua bentuk penyambutan untuk juragan yang sedari pagi telah di persiapkan sia-sia.


__ADS_2