Kamar No.11B

Kamar No.11B
Part. 150


__ADS_3

"Tikaaaaaaaaa!" aku teriak memanggil Tika.


Ia melambung ke atas langit. Terkena tembakan yang sangat kuat dari Mbak Wati. Sosok Tika hilang tak terlihat, terhalang gumulan awan.


"Demit brengsek. Musnah kaaaaauuuuu!!", amarahku kian memuncak.


Wungg. Tanganku bersinar makin silau.


"Bismillahi Allaaaahu Akbar!!"


DUUUUAAAARRRR.


Kutembakkan cahaya biru dari tanganku. Cahayanya melesat menyerang Mbak Wati dengan cepat.


DAAAARRRR!!


Tubuh Mbak Wati terkena cahaya biru dan terdorong semakin menukik ke bawah.


Wuuuuuusssssshhhh.


Namun, serangan tak terduga di lancarkan oleh Mbak Wati. Dalam keadaan terdesak, ia masih sempat menembakkan cahaya merah dari dalam mulutnya.


DARRR!


Lengan kiriku terkena tembakan. Aku terbang oleng. Terasa sangat sakit dan panas. Aku jatuh menukik berputar-putar. Tenagaku habis. Aku lemah. Dalam jatuh, samar kulihat tubuh Mbak Wati pun jatuh menukik.


Dan..


BAMMM.


Kulihat tubuh Mbak Wati jatuh menghantam tanah dengan kuat.


Tak lama kemudian..


BAMMM.


Aku pun mendarat di tanah dengan kuat. Pandanganku buram. Semua terlihat samar dan blur. Sesaat kemudian semua gelap.


* * *


"Di. Adi. Bangun Di."


"Adi. Woi, Adi."


Tubuhku terasa diguncang dengan pelan.


Kelopak mataku berat. Sangat berat untuk kubuka. Perlahan tapi pasti, kugerakkan kelopak mataku. Silau. Sangat silau.


"Di. Lo kenapa Di?"


Suara Mas Gun?


Kubuka mataku dengan lebar. Pandanganku masih kabur dan samar. Hanya siluet tubuh seseorang yang kulihat.


"Adi. Di. Bangun Di."


Pandanganku perlahan jelas. Siluet tubuh lama-lama semakin terlihat. Wajah Mas Gun. Raut wajahnya menunjukkan kekhawatiran.


"Adi. Lo kenapa Di?" tanya Mas Gun.


"Mas. Mas Gun."


"Iya Di."


Kugerakkan tanganku menyentuh wajah Mas Gun.


"I-ini Mas Gun kan?" tanyaku seraya memegang janggut Mas Gun.

__ADS_1


Plakk. Mas Gun menampar tanganku.


"Heh! Lo pikir ini siapa? Lagian ngapain sih pakai pegang-pegang segala." ujar Mas Gun.


Aku bangun dari rebah, langsung kupeluk Mas Gun dengan erat. Tangisku pecah.


"Heh, kenapa lo Di? Adi. Lo kenapa nangis?" Mas Gun bertanya dengan nada khawatir.


Air mataku berderai tak henti-hentinya. Sampai basah pipiku. Pelukanku semakin erat. Mas Gun menenangkanku.


"Udah Di. Udah." ucap Mas Gun.


Aku melepas pelukan. Menyeka air mata dan mencoba mengendalikan diriku.


Mas Gun menepuk-nepuk lenganku pelan. Ia mencoba menenangkanku.


"Udah tenang?" tanya Mas Gun.


Aku mengangguk pelan. Kuhela nafas panjang.


"Udah bisa cerita?" Mas Gun bertanya kembali.


Aku mengangguk lagi.


"Coba cerita, kenapa lo sampai nangis sesenggukan gitu?"


"Mas, lo baik-baik aja kan?" tanyaku sambil melihat sekeliling. Memastikan keberadaanku.


Benar, aku berada di ruang depan kamarku.


"Gue? Gue baik-baik aja. Kenapa sih Di?"


Aku bernafas lega.


"Mas, semalam itu adalah malam terberat yang pernah gue rasakan. Malam terpanjang yang pernah gue alami." ujarku.


"Hah? Maksudnya gimana?" tanya Mas Gun.


"Tanya apa?"


"Semalam, apa yang lo rasakan?" tanyaku.


"Apa yang gue rasakan? Semalam gue tidur. Tidur gue nyenyak banget. Belum pernah gue rasakan tidur senyenyak tadi malam. Eh, tapi gue heran. Begitu bangun, kenapa gue tidur di halaman kost." jawab Mas Gun.


Aku diam sembari berpikir. Mas Gun hanya merasa tidur.


"Yakin lo cuma tidur? Nggak ada gangguan apapun?" tanyaku memastikan.


"Iya. Gue tidur Di. Memang ada apa sih?"


Astaga, Tika!


Aku bangun, lalu bergegas menuju kamar Tika. Mas Gun kaget dan memanggilku.


Tok tok tok tok. Kuketuk pintu kamar Tika.


"Tika. Tika. Assalamualaikum. Tika." panggilku dari luar.


Mas Gun menghampiriku.


"Di, ada apa sama Tika?" tanya Mas Gun.


"Tika. Tik. Buka pintu Tik. Tika." aku memanggil Tika sambil terus mengetuk pintu kamar.


Ceklekk. Kunci pintu terdengar diputar dari dalam.


Lalu pintu terbuka sedikit.

__ADS_1


Tika. Wajahnya terlihat setengah dari luar.


"Tika. Lo nggak apa-apa?" tanyaku dengan was-was.


Tika membuka pintu kamarnya dengan lebar. Mas Gun tampak kebingungan. Kemudian Tika keluar dan duduk di teras depan kamar. Aku duduk di hadapannya, diikuti Mas Gun.


"Eh, sebenarnya ada apaan sih? Cerita dong ke gue!" tukas Mas Gun.


"Mas, lo sehat kan? Lo nggak apa-apa kan?" tanya Tika.


"Sehat. Gue nggak apa-apa. Lo tanya kabar, Adi juga tanya kabar. Ini ada apa sih?" ujar Mas Gun.


"Mas, semalam itu gue sama Tika di serang oleh demit. Mereka ingin mencelakai kita semua." jawabku.


"Apa? Kalian diserang demit? Di, lo nggak ngarang cerita kan? Tika, yang Adi bilang memang benar?" Mas Gun nampak tak percaya.


Tika mengangguk pelan.


Mas Gun menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Mas?" tanyaku.


"Gue nggak percaya sebetulnya. Tapi wajah kalian berdua tampak meyakinkan. Adi, apa benar yang lo bilang?" ujar Mas Gun.


Aku menghela nafas.


"Mas,"


"Untuk apa gue sama Tika bohong? Yang gue katakan benar. Kita berdua semalam habis-habisan bertempur dengan empat demit. Semalam nyawa kita semua terancam. Gue, Tika, maupun lo Mas." jelasku.


"Iya mas. Yang dikatakan Adi benar. Semalam kita semua hampir tewas. Syukur kita masih diberi kekuatan." sambut Tika.


Mas Gun diam. Ia seolah masih belum sepenuhnya percaya dengan apa yang kukatakan maupun Tika jelaskan.


"Coba ceritain, gimana awal mulanya." pinta Mas Gun.


Aku bercerita dari awal Mas Gun bertingkah aneh. Sampai ia mencekikku setelah aku melaksanakan shalat tahajud. Mas Gun tampak terkejut mendengar ceritaku.


"Nggak mungkin Di. Nggak mungkin gue ngelakuin hal itu." sanggah Mas Gun.


"Memang nggak mungkin Mas. Tapi semalam itu bukan lo. Lo dirasuki demit. Jadi apapun bisa mungkin terjadi." ujarku.


Kulanjutkan cerita sampai aku berjibaku dengan demit Pak Rahmat, dan Tika bertempur dengan demit Mbak Wati. Dan sampai dimana demit Mbak Wati berkelahi dengan Kubil.


"Semalam gue lihat lo terkapar di halaman kost. Saat itu, apa yang lo rasakan Mas?" tanyaku.


"Sumpah Di. Gue nggak ngerasain apa-apa. Gue hanya tidur." jawab Mas Gun penuh yakin.


"Apa lo mimpi sesuatu Mas?" tanya Tika.


"Gue sama sekali nggak mimpi apa-apa Tika. Gue udah bilang sama Adi, semalam itu adalah tidur ternyenyak dan terenak gue. Udah itu aja. Gue nggak mendusin. Gue nggak kebelet pipis. Gue nggak ngerasain apa-apa." jelas Mas Gun.


Aku dan Tika diam. Kalau Mas Gun tidak merasakan hal apapun, lalu kenapa demit Mbak Wati bilang kalau Mas Gun tak akan selamat?


"Tik, apa semalam lo berhasil mengalahkan Bang Oji?" tanyaku penasaran.


Tika menghela nafas.


"Gue hampir mati melawan demit itu Di. Alhamdulillah gue berhasil menang, dan demit itu musnah." jawab Tika.


Tika menceritakan kalau demit Bang Oji sangat kuat. Beberapa kali Tika terkena serangannya. Namun pada akhirnya Tika mengerahkan seluruh tenaganya untuk memusnahkan Bang Oji.


"Alhamdulillah." ucapku.


"Lalu Mas, reaksi lo apa ketika bangun tidur di halaman kost?" tanyaku.


"Jelas kaget. Tapi gue sama sekali nggak merasa dingin atau apa. Gue merasa normal aja. Layaknya orang bangun tidur di kasur." ujar Mas Gun.

__ADS_1


Hmmm..


Kusimpulkan, kalau perilaku aneh Mas Gun belakangan ini mungkin karena pengaruh dari keempat demit itu. Karena mereka musnah, pada akhirnya pengaruhnya pun hilang. Dan tentunya Mas Gun sudah kembali normal. Syukurlah.


__ADS_2