
Secangkir kopi pesananku datang, Kak Nia yang mengantarnya. Lalu ikut gabung duduk bersamaku, Yuda, juga Bang Dede.
"Wahyu kemana? Izin?" tanyaku.
Kak Nia menjawab, "Izin, katanya ada masalah keluarga. Nggak tahu apaan, nanti mau cerita pas masuk lagi."
"Bang, si Adi ini lagi ada masalah bang. Tolong di kasih wejangan!" ucap Yuda ke Bang Dede.
"Masalah apa nih?" tanya Bang Dede.
"Anak kuliah apaan sih masalahnya, nggak jauh, paling soal asmara. Ya kan?" sahut Kak Nia.
"Naaahh, itu kak! Masalah asmara Adi lagi goyang nih." sambar Yuda.
"Sama cewek yang sering lo ajak ke sini Di?" tanya Kak Nia.
Aku diam, tak menjawab juga tak menggubris. Ku aduk pelan kopiku.
"Diam, berarti benar nih. Siapa nama cewek itu? Komala ya? Eh, siapa sih?" Bang Dede angkat suara.
"Kemala bang." Yuda menimpali.
Siang itu kami mengobrol panjang lebar. Bang Dede sempat meninggalkan meja karena membuat pesanan untuk pelanggan yang baru saja datang dan memesan.
Tiba-tiba Yuda menjawab telepon. Ia berdiri dan menjauh dari meja kami. Tak lama ia berbicara di telepon, lalu kembali bergabung. Ia menenggak habis kopinya dengan tergesa.
"Di, gue cabut duluan ya, ada sesuatu yang penting. Soal duit niiihh." ucapnya.
"Nih, nanti bayarin kopi gue ya." lanjut Yuda seraya menaruh selembar uang pecahan seratus ribu rupiah di atas meja, kemudian pamit pulang.
Aku mengobrol bersama Kak Nia, aku bertanya soal pekerjaannya sebelum membuka usaha kopi dengan Bang Dede. Kak Nia bercerita kalau dulu ia seorang agen asuransi yang sukses, pendapatan sebulan bisa mencapai puluhan juta rupiah dari berjualan asuransi. Semua menjadi tak berarti ketika permasalahan keluarga menimpanya. Ia tak menceritakan detil duduk permasalahan yang di hadapinya, aku pun tak memaksa Kak Nia untuk cerita. Aku cukup menjadi seorang pendengar yang baik.
Kedai mulai ramai, Kak Nia pun sibuk membantu Bang Dede membuat pesanan pelanggan, aku duduk sendiri. Aku masih memikirkan omongan ibu Kemala. Apa aku harus kembali ke kost itu?
Ah biarlah, jika memang ini jalannya seperti yang ibu Kemala bilang, bahwa aku lah orang yang akan menghentikan semua kejahatan, ku putuskan aku akan kembali sore ini ke kost. Bismillah, aku berdoa meminta perlindungan pada Yang Maha Kuasa.
"Kak, bang, gue balik ya. Makasih buat kopinya, udah bikin mood gue bangkit lagi. " aku pamit setelah membayar.
__ADS_1
"Oke Di. Makasih yaa." balas Bang Dede.
Aku berjalan menuju kost, di pikiranku hanya terngiang kata-kata ibu Kemala saat di telepon tadi. Apa aku harus percaya padanya? Dari mana ku tahu kalau ia melindungiku dari rumahnya? Apa sesimpel itu hal supranatural? Melindungi seseorang menggunakan kekuatan dari jarak jauh, entahlah. Logikaku tak sampai memikirkannya.
Dan kenapa sosok Kakek Badrun tak pernah lagi ku lihat? Apa dengan memberi mustika itu, masalah telah selesai? Ia seolah tak mau ambil pusing, bilangnya ingin membantuku, apa dengan menyerahkan mustika itu padaku semua masalah beres? Dasar kakek tua sialan. Jadilah aku yang selalu kepikiran, tambah lagi aku di hantui kuntilanak merah tadi malam.
Aku berjalan masuk ke dalam gang, suasana teduh dan angin bertiup sepoi. Jalan masuk gang memang adem, rimbunan pohon seolah menjadi atapnya. Tak sengaja aku melirik ke sebelah kanan jalan, ada sosok yang tak asing bagiku. Ia berdiri di bawah pohon besar di tengah kebun sembari menatapku. Kakek Badrun! Panjang umurnya, baru saja aku menggerutu karenanya, dan sekarang ia muncul.
"Keeekk!" panggilku. Ia diam masih menatapku.
Aku melangkah ke dalam kebun ingin menghampirinya, tapi begitu ku lihat ke tempat ia berdiri, sosoknya telah hilang. Ah sial, apa hanya perasaanku saja. Aku melihat seluruh sisi kebun, dan sosoknya tak ada.
"Nak Adi."
Astaga, suara Kakek Badrun mengagetkanku. Tiba-tiba ia sudah berdiri tepat di belakangku.
"Kek, kemana aja kek? Saya bingung campur takut kek." ucapku.
"Tenang nak, kamu tak seharusnya takut. Benar kata wanita yang menghubungimu, ia akan membantu melindungimu dari jauh." ujar Kakek Badrun.
"Maaf nak, kakek tak bisa selalu datang. Nanti saatnya tiba mustika itu akan berguna untukmu." lanjut Kakek Badrun.
"Wanita itu dan seorang abdi dalam." ucap Kakek Badrun.
Wanita itu? Siapa dia? Apa dia ibu Kemala? Lalu siapa abdi dalam?
"Jangan kau tinggalkan kebiasaan ibadahmu nak. Karena itu yang akan menguatkanmu. Iblis itu menjadi semakin kuat, sejak mendapatkan jiwa yang terakhir. Tapi tenang nak, aku ada di belakangmu."
Aku masih mencerna perkataan Kakek Badrun.
"Dek Adiiii." suara Kang Ujang memanggil, aku menoleh ke arah Kang Ujang.
Eh, Kakek Badrun sudah hilang. Kemana ia pergi? Tadi sosoknya ada di depanku. Aku menoleh ke arah Kang Ujang lagi, ia berjalan mendekatiku.
"Ngapain di sini? Kok saya lihat Dek Adi ngomong sendiri." ucap Kang Ujang.
"Eh, ngomong sendiri? Memang Kang Ujang nggak lihat ada orang selain saya di sini?" tanyaku.
__ADS_1
"Enggak, saya lihat dari jauh Dek Adi ngoceh-ngoceh sendiri. Lagi latihan buat main drama ya? Hehehehe." balas Kang Ujang.
Berarti siapa Kakek Badrun itu? Manusia atau demit yang menjelma menjadi manusia?
"Baru pulang kuliah?" tanya Kang Ujang lagi.
"Iya kang."
Kami mengobrol sambil berjalan menuju kost. Malam ini Kang Ujang mengajakku untuk ikut tahlil di rumah Pak Rahmat, dan aku pun mengiyakan. Kami sampai di depan gerbang, Kang Ujang membuka gerbang. Kami pun masuk ke pekarangan rumah Nek Iyah. Berjalan menuju garasi, Kang Ujang pergi untuk membereskan beberapa barang-barang bekas. Aku menuju kamar, dan ku lihat Nek Iyah sedang berdiri di tengah-tengah halaman kost. Tenda untuk acara tahlil nampak sudah di bongkar.
Ia diam, tangannya ke belakang. Wajahnya mendangak ke atas, matanya terpejam.
"Nek," sapaku.
Nek Iyah membuka mata, lalu menoleh pelan ke arahku. Ia tersenyum.
"Kamu balik lagi dek." ucapnya singkat, senyumnya buas, tatapan matanya berbeda.
"I..iya nek. Permisi nek, saya masuk kamar dulu." aku berlalu, membuka pintu dan masuk ke dalam kamar.
Saat di dalam kamar, aku sempat kembali melirik Nek Iyah, ia melihat ke arah kamarku dengan senyumnya yang jahat. Ini sudah tak beres, Nek Iyah terlihat beda. Sama dengan Bang Oji.
Kriiiiinnnggg.
Aku terperanjat, ponselku berdering. Yuda? Mau apa dia menghubungiku?
Ku jawab, "Yaa, kenapa Da?"
"Di, gimana soal mobil? Gue udah dapat pembeli nih, doi berani beli dengan harga tinggi. Cepetlah tanyain!"
tutur Yuda.
"Iya iya, malam ini gue coba tanya ke ibu kost."
"Oke, gue tunggu kabar baiknya yaa. Oke brader. Daaahh."
Yuda mengakhiri panggilan.
__ADS_1
Ternyata hendak ia jual lagi mobil itu jika berhasil di beli dari Nek Iyah. Oke, malam ini aku harus bicara ke Nek Iyah soal mobil yang di inginkan Yuda.
Langit sore nampak semakin menghitam, sedari siang memang sudah terlihat mendung. Hanya tinggal menunggu awan menumpahkan titik-titik airnya. Gemuruh petir di kejauhan sudah terdengar. Ya, sebentar lagi hujan.