
Aku berlari menuju lift. Tanpa kusadari, aku menabrak beberapa mahasiswa di selasar lantai lima. Mereka menatapku dengan tatapan aneh. Dan wajahnya...
Wajah mereka persis seperti kuntilanak merah itu. Aku lari tunggang langgang. Sampai di depan lift, kutekan tombol untuk turun yang ada di dinding dengan cepat. Berharap lift segera terbuka.
Tingg. Lift terbuka. Aku merangsek masuk.
Kutekan tombol untuk menutup pintu dengan cepat. Seketika pintu bergerak menutup. Namun tiba-tiba kembali terbuka. Dua mahasiswi masuk dengan tawa mengikik. Mereka melihat ke arahku, dengan tatapan aneh pula. Juga wajah yang mirip kuntilanak merah. Aku terhenyak.
Aku berlari keluar dari lift. Mengapa wajah semua orang nampak seperti kuntilanak merah itu? Dan mengapa tawa khasnya selalu saja terngiang di telingaku?
Aku berlari menuruni anak tangga dengan cepat. Nafasku tersengal tak kurasakan. Dadaku sesak tak kugubris. Keringat sudah banjir, membasahi dahi dan seluruh tubuhku.
Di lantai dasar, banyak mahasiswa yang kutemui. Lagi-lagi wajah mereka terlihat seperti kuntilanak merah. Tatapan aneh dengan senyum menyeringai serta tawa mengikik yang membuatku ketakutan.
Tujuanku hanya satu, masjid kampus. Aku berlari menuju masjid kampus. Berada di masjid mungkin aku bisa lebih tenang. Kubuka sepatu, lalu menuju tempat wudhu. Aku berwudhu. Setelahnya aku mencoba menenangkan diriku. Kutarik nafas dalam, lalu kuhembuskan perlahan. Begitu kuulangi sampai beberapa kali.
Alhamdulillah, suara tawa tak lagi terdengar. Aku mulai bisa mengendalikan diriku. Jantungku tak lagi berdegup cepat. Aku melangkah masuk ke dalam masjid. Kulihat ada beberapa mahasiswa yang sedang shalat, ada juga yang hanya duduk dan berbaring. Terasa adem dan tenang.
Kulaksanakan shalat tahiyatul masjid dua rakaat, dilanjutkan dengan shalat hajat. Setelahnya aku berdoa pada Yang Maha Kuasa.
Memohon perlindungan dalam menghadapi segala macam godaan. Meminta petunjuk bahwa apa yang kulakukan adalah benar. Mengemis agar aku diberi kekuatan dalam menghadapi kekuatan jahat yang sedang mengancamku dan teman-temanku. Aku sepenuhnya percaya, bahwa kebenaran akan selalu menang. Walaupun pahit menjalaninya.
Setelah berdoa, aku duduk menenangkan diri. Duduk bersandar pada dinding masjid. Kaki kuselonjirkan ke depan. Aaahhh, nikmatnya.
Tak berapa lama, gema adzan Zuhur berkumandang. Perlahan masjid pun penuh oleh mahasiswa dan mahasiswi yang ingin melaksanakan shalat Zuhur. Siang ini, aku shalat Zuhur berjamaah di masjid kampus. Sungguh tenang dan nikmat.
Aku duduk bersila setelah shalat, sembari berzikir dan memejamkan mata.
"Nak Adi." suara Kakek Badrun memanggilku, membuatku terkejut.
"Kek Badrun," sahutku.
"Benar apa yang telah kau lakukan Nak. Makanan dari mustika itu memang shalat dan zikir. Kini kekuatan mustika itu bisa kau gunakan kembali untuk melawan kebathilan." ujar Kakek Badrun.
"Alhamdulillah. Kek, ada yang ingin saya sampaikan." ucapku.
"Apa itu Nak?" tanya Kakek Badrun.
"Tika sudah menerawang Mas Gun dengan mata bathinnya. Ada kekuatan yang besar tersembunyi dalam jiwa Mas Gun. Namun kami tak dapat mengaktifkannya Kek." jelasku.
"Apa Kakek bisa membantu untuk mengaktifkan kekuatan dalam jiwa Mas Gun?" tanyaku.
Kakek Badrun terkekeh pelan.
"Syukurlah. Akan ada bantuan lebih untukmu melawan kuntilanak merah itu. Nanti malam temui aku di tengah lapangan jam dua belas malam." balas Kakek Badrun.
"Akan kubantu temanmu." lanjut Kakek Badrun.
"Terima kasih Kek." ucapku.
"Iya Nak Adi." balas Kakek Badrun.
Lalu terdengar kembali riuh ramai suasana masjid. Aku membuka mata. Selesai komunikasiku dengan Kakek Badrun. Syukurlah, jika kekuatan Mas Gun aktif. Maka akan ada bantuan yang bisa meringankan aku dan Tika.
* * *
Setelah shalat ashar berjamaah di masjid kampus. Aku pun memutuskan untuk pulang. Semoga tak ada gangguan lagi. Semoga penglihatanku kembali normal.
Bismillahirrahmanirrahiem. Aku membatin.
Langkahku meninggalkan masjid kampus. Aku berpapasan dengan sekelompok mahasiswi di depan masjid. Aaahh syukurlah, wajah mereka terlihat normal. Penglihatanku kembali seperti semula. Senangnya aku, bisa melihat wajah manis mereka. Aku pun pulang ke kost.
Sesampainya di depan gerbang, aku diam sembari melihat sekeliling. Mencari sosok Nek Iyah.
Ah, rupanya suasana rumah Nek Iyah terlihat sepi. Segera kubuka gerbang kost dengan cepat. Setelah kututup kembali, aku melangkah dengan tergesa. Aku berjalan melewati halaman menuju garasi. Baru saja melangkah masuk garasi, tiba-tiba..
__ADS_1
"Dek Adi."
Suara Nek Iyah memanggilku.
Langkahku terhenti. Aku berbalik badan. Kulihat Nek Iyah sudah berdiri di teras rumah.
"A-ada apa Nek?" tanyaku.
"Boleh saya bicara sebentar." ucapnya.
"Bo-boleh Nek." jawabku.
Aku berjalan menuju teras rumah Nek Iyah. Ia mempersilakanku duduk. Lalu Nek Iyah berlalu masuk ke dalam rumah. Tak lama Nek Iyah kembali keluar membawa segelas teh.
"Silakan diminum Dek," ucapnya sembari menaruh gelas teh di meja.
"Iya Nek."
Nek Iyah duduk di hadapanku. Tatapannya sayup. Air mukanya terlihat tak enak, seperti memendam sesuatu.
"Emm, kalau boleh tahu. Apa yang mau Nenek bicarakan sama saya?" tanyaku.
"Anu. Emm. Saya bingung mau mulai dari mana." sahut Nek Iyah.
Bingung?
Aku diam menunggu Nek Iyah melanjutkan pembicaraannya.
"Dek, saya tahu apa yang kamu rasakan belakangan ini. Saya yakin kamu merasa takut, bingung, was-was, dan merasa terancam." ujar Nek Iyah.
Aku tak berkata.
"Tapi saya yakin, kamu adalah anak yang kuat." lanjut Nek Iyah.
"Ma-maksudnya apa Nek?" tanyaku pura-pura tak mengerti.
Nek Iyah menatapku. Ia merapatkan posisi duduknya ke dekat meja.
"Berhati-hatilah untuk malam ini dan malam-malam selanjutnya." ucap Nek Iyah pelan dengan wajah datar tanpa ekspresi.
Deg deg deg deg. Jantungku berdegup cepat.
"A-pa, apa maksudnya Nek?" tanyaku gugup.
Nek Iyah hanya diam tanpa menyiratkan ekspresi apapun di wajahnya.
"Silakan di minum Dek." suruh Nek Iyah.
Aku menatap gelas teh di depanku. Perlahan tanganku meraih gelas teh.
Bismillahirrahmanirrahiem. Ucapku dalam hati sebelum menyeruput teh hangat yang disuguhkan Nek Iyah.
Tiba-tiba air teh dalam gelas berubah warna menjadi hitam dan berbau busuk. Aku terkejut seraya menaruh kembali gelas di atas meja, airnya tumpah sedikit. Nek Iyah hanya menatapku, lagi-lagi tak ada ekspresi.
"Sa-saya permisi Nek." ucapku.
Aku bangun dari duduk dan bergegas meninggalkan rumah Nek Iyah. Gila, apa yang ia taruh di dalam teh itu. Sinting. Dasar Nenek sinting, ia ingin meracuniku dengan sesuatu yang tak bisa dilihat oleh kasat mata. Memang pembunuh berdarah dingin.
Sampai di halaman kost, kulihat motor Yuda sudah terparkir di depan kamarku.
"Assalamualaikum." ucapku seraya masuk kamar setelah melepas sepatu.
Yuda sedang duduk dan mengobrol dengan Mas Gun di ruang depan.
"Naahh, ini anaknya." kata Mas Gun.
__ADS_1
"Udah lama lo Da?" tanyaku.
"Baru sekitar lima belas menitan deh. Lo kabur kemana Di? Gue telepon nggak jawab-jawab sih." sahut Yuda.
"Kabur? Hehehehe. Gue nggak kabur, gue di masjid kampus." jawabku.
"Eh Di, lo tadi kenapa di kelas? Yuda bilang kelakuan lo aneh. Ada apa sih?" tanya Mas Gun.
"Iya. Lo kenapa sih? Dapat gangguan ya? Gue sampai takut lihatnya." Yuda ikut bertanya.
Aku duduk bersandar pada dinding. Kubuka kancing kemejaku satu persatu. Tas kulemparkan ke pojok.
"Nggak bisa ditahan dulu pertanyaan kalian? Biarin gue minum dulu kek, ngopi dulu kek. Ini baru sampai udah diberondong pertanyaan." keluhku.
"Hahahahaha iya ya. Kasihan anak orang, baru datang udah dikasih pertanyaan. Lo mau ngopi apa? Hitam? Apa kopi susu?" Mas Gun menawarkan.
"Kopi susu aja." jawabku.
Yuda hanya senyam-senyum sambil menghisap rokoknya. Kulihat Mas Gun sedang mengaduk kopi, lalu menyerahkan cangkir kopi padaku.
"Makasih Mas." ucapku seraya menyeruput kopi sedikit.
Aku mengambil sebatang rokok milik Yuda. Kubakar, kemudian kuhisap. Hembusan asap kuarahkan ke langit-langit kamar.
"Jadi?" ucap Yuda.
"Ntar dulu." sergahku.
Yuda jadi diam sambil senyum.
"Gue mau, lo duluan cerita. Lo bilang saat di telepon ada yang mau lo ceritain ke gue. Apa itu?" ungkapku.
"Aaahhh iya iya. Hampir aja lupa. Bener Di, gue duluan ya yang cerita ke kalian." sahut Yuda sambil menepuk lututnya.
"Jadi gini, mobil yang gue beli sama ibu kost lo itu sudah rapi dan sudah bisa dipakai. Tapi ada beberapa kejadian aneh selama proses perbaikan di bengkel Om Panji. Cerita ini gue dapat dari montir yang bertanggung jawab langsung dengan perbaikan mobil itu." Yuda membuka cerita.
"Kejadian aneh? Kejadian aneh apa Da?" tanyaku.
"Sebentar sebentar." sanggah Mas Gun.
"Memang lo beli mobil ibu kost Da?" tanya Mas Gun.
"Iya Mas." jawab Yuda.
"Kok gue nggak tahu ceritanya. Ceritain dulu ke gue, baru lo lanjut cerita aneh lo. Cepet!" pinta Mas Gun.
"Udah, gue aja yang ceritain." tukasku.
Kuceritakan pada Mas Gun kalau Yuda dan keluarganya penyuka mobil antik. Kebetulan mobil almarhum Pak Thamrin adalah jenis mobil yang bisa dibilang lumayan langka. Yuda akhirnya membeli mobil itu, dan memperbaikinya di bengkel milik Om Panji.
"Jelas ceritanya?" tanyaku.
"Naaahh, kalau gini kan gue bisa nyambung sama cerita selanjutnya. Oke Da, silakan lanjutin cerita lo! Hehehehe." suruh Mas Gun.
"Sebentar, sebelum gue ceritakan cerita ini. Gue mau tanya dulu ke Adi. Di, apa mobil yang gue beli ada kaitannya dengan hal-hal mistis yang lo alami? Maksud gue hal yang berkaitan dengan kuntilanak merah itu." ujar Yuda.
"Emmm, kalau lo tanya ada kaitannya atau enggak. Gue nggak tahu jelasnya Da. Tapi menurut gue, karena itu mobil almarhum Pak Thamrin jadi mungkin aja ada kaitannya. Secara Pak Thamrin suami Nek Iyah. Memang kenapa Da?" jawabku sekenanya.
"Soalnya, ini menyinggung hal mistis yang terjadi pada mobil itu. Kira-kira bisa lo tanya nggak ke Kang Ujang soal cerita mobil itu? Barangkali dia sedikit tahu informasi mengenai mobil itu Di." pinta Yuda.
"Oke, nanti gue coba tanya dan minta ceritain soal mobil itu sama Kang Ujang. Tapi jujur, gue nggak habis pikir sih kalau memang ada kejadian mistis di mobil itu. Hubungannya apa mobil dengan kuntilanak merah? Iya kan?" balasku.
"Yaudah yaudah, lanjutin cerita lo Da. Gue nungguin lho ini. Pada kebanyakan pendapat lo berdua, kayak wakil rakyat. Buruan lanjutin cerita lo Da!" suruh Mas Gun.
Kami pun tertawa melihat Mas Gun rada kesal menunggu cerita Yuda.
__ADS_1